
Setelah mematikan sambungan telepon, Clara menarik kopernya keluar dari kamar. Dengan berjalan mengendap-endap, Clara membawa dua koper besarnya keluar dari kamarnya. Sesekali dia menatap ke kanan dan ke kiri untuk memastikan jika Ansel tidak melihatnya pergi.
Clara memang sengaja tidak ingin berpamitan dengan Ansel pagi ini sebab dia tahu kalau Ansel pasti akan menentang keputusannya seperti apa yang dilakukan oleh pria itu tadi malam. Clara tak mau Ansel ikut campur dengan keputusannya yang satu ini sebab Ansel adalah alasan kenapa Clara memilih jalan yang seperti ini.
Ketika Clara tengah berjalan, tak sengaja dia mendengar suara tak asing yang berasal dari arah dapur. Gadis itu mengerutkan dahinya, berpikir jika mungkin dia salah dengar. Tapi, masalahnya suara itu terdengar semakin kencang dan membuat Clara semakin penasaran.
“Tidak mungkin, ‘kan, perempuan itu pagi-pagi ini sudah ada di sini?” gumam Clara pelan.
Clara berusaha untuk mengabaikan suara tersebut dan kembali melangkah. Namun, baru saja dia hendak mencapai ruang tamu, suara langkah kaki terdengar mendekat ke arahnya, membuat Clara sontak saja menoleh dan mengerutkan dahinya ketika melihat siapa yang datang dari arah dapur.
“Clara!” panggil seorang gadis yang tak lain adalah Delia.
‘Apa yang Delia lakukan pagi buta seperti ini di sini?’ tanya Clara dalam hati. Gadis itu yang awalnya sudah kesal dengan kehadiran Delia semakin kesal karena mendapati Delia pagi-pagi buta sudah sampai di rumah pamannya. Clara bahkan jadi tidak heran kalau memang Delia juga sering menghabiskan malam di rumah ini. Memikirkan tentang hal tersebut membuat tekad Clara untuk meninggalkan rumah ini semakin bulat.
“Kamu mau pergi ke mana?” tanya Delia bingung sambil menatap ke arah dua koper besar yang diseret oleh Clara. Baru kemarin Clara pulang, tidak mungkin, kan, kalau Clara ingin kembali ke luar negeri lagi?
“Aku ingin pergi ke rumah orang tuaku. Tidak pantas rasanya kalau aku tinggal di sini mengingat sekarang aku sudah bukan anak kecil lagi,” ucap Clara sambil tersenyum tipis, lalu kembali menarik kopernya ke arah pintu.
‘Bahkan Delia tahu kalau berapa lama Om Ansel mandi. Apakah hubungan mereka memang sudah sangat serius?’ Lagi-lagi Clara bertanya dalam hati. Hati gadis itu bergemuruh panas, namun dia mencoba untuk tetap bersikap tenang.
Clara memaksakan sebuah senyuman agar tersungging di bibirnya. “Tidak perlu, Delia. Kemarin aku sudah berpamitan dengan Om Ansel. Lagi pula, sekarang aku sedang buru-buru karena temanku sudah dalam perjalanan menuju ke rumah orang tuaku,” jelas Clara kemudian melangkah keluar dari kediaman Ansel.
Begitu sampai di luar, Clara meminta seorang satpam untuk mengeluarkan mobil orang tuanya dari garasi. Setelah mobil orang tuanya terparkir di depan teras rumah Ansel, Clara pun memasukkan dua kopernya ke dalam bagasi mobil.
“Clara, apakah kamu yakin kalau kamu tidak ingin menunggu Ansel?” tanya Delia lagi. Gadis itu bingung karena tadi saat dia bertemu Ansel, Ansel tidak bercerita apa-apa tentang hal ini. Ansel bahkan meminta pelayan untuk menyiapkan sarapan untuk Clara dengan makanan kesukaan Clara.
Clara menggeleng sembari tersenyum tipis. “Tidak perlu. Om Ansel juga sudah tahu kalau aku ingin tinggal di rumah orang tuaku. Sampaikan saja salamku kepada Om Ansel. Maaf, Delia. Aku benar-benar sedang buru-buru,” jelas Clara kemudian masuk ke dalam mobil.
Clara menghela napas panjang, memantapkan hatinya jika keputusan yang dia ambil kali ini adalah keputusan yang terbaik untuk dirinya dan juga untuk Ansel.
“Selamat tinggal, Om Ansel,” gumam Clara kemudian melajukan mobilnya keluar dari kediaman Ansel.
Meskipun hatinya terasa berat, Clara tetap memilih untuk pergi sebab dia tidak ingin hatinya tersiksa lagi.