
Setelah panggilan tersebut berakhir, Ansel kembali menyalakan mesin mobilnya. Pria itu memutuskan untuk memutar arah untuk pergi ke makam kakaknya yaitu ibu Clara.
Setibanya di makam ibu Clara, Ansel berjongkok di samping makam tersebut lalu menaburinya dengan bunga yang tadi sengaja ia beli di depan makam. Setelah selesai, tak lupa dia juga memanjatkan doa untuk saudaranya tersebut.
“Kak Nia, aku benar-benar minta maaf karena aku sudah gagal untuk menjaga Clara, Kak,” ucap Ansel, kemudian menarik napasnya dalam-dalam.
Pria itu memejamkan matanya. Selain Nia, tidak ada lagi saudara yang dia miliki. Dulu, Nia selalu bisa menenangkan hati Ansel setiap kali Ansel mendapatkan masalah. Tapi sekarang, Ansel hanya berharap jika bercerita pada Nia akan sedikit meringankan beban pikirannya.
“Kak Nia dulu memintaku untuk menjaga Clara dan memintaku untuk menganggap Clara seperti keponakan kandungku sendiri. Tapi ... aku justru jatuh cinta pada Clara.”
Ansel tertawa parau, sadar betul dengan kebodohan yang sudah dia lakukan selama beberapa tahun belakangan ini.
“Aku sudah berusaha untuk melupakan Clara, Kak. Aku bahkan mengirim Clara untuk kuliah di luar negeri supaya aku bisa melupakan Clara. Tapi, semuanya justru rasanya sangat sulit. Bahkan setelah Clara kembali, aku malah semakin yakin kalau aku benar-benar mencintai dia, Kak.”
Ansel mengusap batu nisan kakaknya, lalu menghembuskan napas lelah. Dia merasa gagal menjalankan tugasnya karena telah jatuh cinta pada Clara. Namun, Ansel pun juga sadar kalau dia tidak bisa mengatur perasaannya. Karena Tuhan lah yang telah memberikan perasaan itu kepadanya.
“Kak, aku janji aku akan terus menjaga Clara. Hanya saja, aku tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku mencintai Clara.” Ansel tersenyum tipis. “Maaf, Kak. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa aku bisa begini. Maaf juga karena aku sudah mencintai putrimu.”
Ansel menghela napasnya, kemudian berdiri.
“Tapi, kalau memang aku tidak bisa melupakan Clara, bolehkah aku memilikinya, Kak?” tanyanya pada jiwa yang sudah tidak bisa menjawab pertanyaannya.
Satu bulan kemudian ....
Ansel baru saja keluar dari ruang rapat ketika salah satu pegawainya berjalan menghampiri. Pria itu mengerutkan dahinya saat melihat sebuah kotak makanan yang dibawa oleh pegawai tersebut.
“Selamat siang, Pak. Ada kiriman makanan untuk Bapak,” ucap pegawai tersebut sambil menyerahkan kotak makan yang ia bawa.
Ansel menerima kotak makan itu sambil mengerutkan dahinya. “Dari siapa?” tanyanya bingung.
“Saya kurang tahu, Pak. Karena tadi yang mengirimkan makanan ini adalah kurir,” ucap pegawai itu lalu permisi dari hadapan Ansel.
Meski bingung, Ansel tetap membawa kotak makanan tersebut ke ruang kerjanya. Pria itu sempat berharap kalau yang mengirim kotak makanan itu adalah Clara. Tapi, dia menepis pikiran itu jauh-jauh sebab Clara tidak mungkin secara tiba-tiba mengiriminya makanan. Terlebih lagi setelah apa yang terjadi satu bulan lalu.
Ya, satu bulan telah berlalu. Selama itu pula Ansel tidak bertemu dengan Clara. Bahkan untuk masalah pekerjaan pun Clara selalu mengirim pegawai lain jika sedang ada rapat di kantor pusat yang tak lain adalah kantor yang dikepalai oleh Ansel. Namun, meskipun tidak pernah lagi bertemu dengan Clara, anehnya perasaan Ansel kepada Clara justru tumbuh semakin besar.
Baru saja hendak membuka dokumen, sebuah panggilan diterima oleh Ansel. Melihat siapa yang meneleponnya, Ansel pun menghela napasnya.
“Halo, Delia?” sapanya dengan suara datar.
“Apakah kamu sudah menerima makanan yang aku kirim?” tanya Delia dengan nada ceria. Gadis itu terdengar begitu semangat, berbeda sekali dengan Ansel yang justru jadi tak berselera makan setelah tahu kalau yang mengirim makanan tersebut adalah Delia.
“Oh, jadi kamu yang mengirim makanan? Iya, aku sudah menerimanya,” jawab Ansel, berusaha untuk tetap bersikap baik kepada Delia.
“Kamu tidak suka makanannya, ya?” tebak Delia berdasarkan nada suara Ansel.
“Ah, bukan begitu. Aku belum mencicipinya karena aku baru saja menerimanya. Setelah ini aku akan memakannya, kok,” jawab Ansel.
“Baiklah. Aku harap kamu menyukai makanan yang aku buat spesial untukmu!” seru Delia.
“Terima kasih makanannya, Delia. Aku pasti akan menghabiskannya.”
“Sama-sama. Kalau begitu teleponnya aku tutup dulu,” ucap Delia lalu memutus panggilan tersebut.
Begitu panggilan terputus, Ansel menghela napas panjang. Pria itu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil memandang pada kotak makanan yang dikirimkan oleh Delia.
Beberapa waktu belakangan, Ansel memang kerap kali mengabaikan Delia. Dia bahkan sempat berpikir untuk mengakhiri hubungan mereka. Bagaimana tidak? Hubungan tanpa rasa cinta itu perlahan mulai menyiksa Ansel. Ansel yang awalnya memacari Delia karena dia ingin Clara menjauh darinya seolah mendapat bumerang atas perbuatannya. Kini, dia harus tersiksa karena pura-pura mencintai Delia. Memang betul kehadiran Delia berhasil membuat Clara pergi dari Ansel. Tapi, Ansel justru merindukan Clara dan menyesali keputusannya untuk memacari Delia.
Di tengah-tengah lamunan Ansel, seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.
“Masuk,” ucap Ansel.
Pintu terbuka dan memperlihatkan Ridwan yang datang sambil membawa satu tumpuk dokumen.
“Ini data-data yang kamu minta. Data hasil perkebunan selama satu tahun belakangan dan juga data dari finance,” jelas Ridwan sambil meletakkan dokumen-dokumen itu di atas meja kerja Ansel.
Ansel mengangguk. “Terima kasih, Ridwan.”