
Jarak antara rumah orang tua Clara dan rumah Ansel cukup jauh. Clara bahkan harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam untuk sampai di rumah orang tuanya yang terletak di pinggiran kota, berbeda sekali dengan rumah Ansel yang berada di tengah-tengah kota.
Sementara pelayan pergi membeli bahan-bahan makanan untuk membuat sarapan untuknya, Clara memilih untuk berjalan-jalan mengelilingi tiap sudut rumah orang tuanya. Dulu, rumah ini adalah tempat di mana kenyamanan dan kebahagiaan Clara tercipta bersama dengan orang tuanya. Dan kini, Clara berharap jika rumah ini akan kembali membuatnya merasakan kenyamanan dan kebahagiaan.
“Mama, Papa, terima kasih karena sudah menyayangiku. Aku janji kalau aku akan menjadi anak yang membanggakan,” ucap Clara sambil mengusap figura foto keluarganya. Tanpa sadar, air mata Clara turun saat dia menyadari betapa dia merindukan kasih sayang dari Nia dan Anton.
“Aku janji aku akan mengembangkan perkebunan kalian dan meneruskan usaha kalian,” gumamnya lagi.
Meskipun Clara hanyalah anak angkat, gadis itu adalah pewaris tunggal usaha perkebunan orang tuanya. Untuk itulah dia berjanji kalau dia akan membanggakan mereka karena hanya dengan cara inilah Clara dapat membalas segala kebaikan dan kasih sayang orang tua angkatnya.
Sementara itu, Mira yang baru saja tiba bingung saat mendapati Clara tengah menangis sambil memandangi foto kecilnya bersama orang tua angkatnya.
“Clara, kenapa kamu menangis?” tanya Mira kemudian duduk di samping Clara dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Tenanglah. Semuanya pasti akan baik-baik saja.”
“Mira, maaf kalau kamu harus melihatku dalam keadaan seperti ini,” ucap Clara sambil menangis di dalam pelukan Mira.
“Shh, tenanglah. Aku tidak keberatan jika harus menemanimu seperti ini,” ucap Mira sambil mengusap-usap punggung Clara supaya tangisan gadis itu dapat segera mereda.
“Mira, bolehkah aku meminta satu hal kepada kamu?”
“Memangnya apa yang kamu inginkan, Clara?”
Mira tersenyum hangat. “Tentu saja, Clara. Lagi pula, kamu tidak perlu berusaha keras karena Clara yang aku kenal adalah seorang gadis yang kuat. Kamu pasti akan segera berhasil melewati semua ini,” ucap Mira sambil mengeratkan pelukannya kepada Clara. “Hah, asal kamu tahu saja, aku benar-benar merindukan kamu.”
Clara terkekeh. “Aku juga sangat merindukanmu, Mira. Kau adalah sahabat terbaikku.”
Pria itu menatap nanar pada layar ponselnya. Saat ini, dia sedang berada di dalam ruang rapat dan membahas sebuah proyek perkebunan yang penting dengan beberapa petinggi di perusahaan. Namun, sudah tiga puluh menit rapat berlangsung tapi pria itu sama sekali tak memerhatikan apa yang dibicarakan oleh karyawan-karyawannya. Ia justru sibuk memandang ponselnya dan berkelana memikirkan tentang keponakan angkatnya.
Ini sudah satu minggu semenjak Clara diam-diam meninggalkan rumah. Dan sampai detik ini, Clara masih tak kunjung menghubungi Ansel. Ansel yang awalnya yakin jika Clara tidak akan bisa hidup mandiri tanpa dirinya pun kini mulai meragukan keyakinannya. Pria itu kini berpikir jika Clara benar-benar tidak mau hidup bergantung padanya lagi.
Empat tahun bukanlah waktu yang singkat. Seseorang bisa berubah dalam kurun waktu tersebut, termasuk Clara. Hanya saja Ansel masih tidak menyangka jika Clara akan benar-benar menjauh darinya. Dan kini ... Ansel dibuat pusing bukan kepayang oleh sikap keras kepala gadis itu.
“Bagaimana menurut Anda, Pak?” tanya salah seorang pegawai, membuyarkan lamunan Ansel.
Ansel tersentak lalu membenarkan posisi duduknya dan menoleh. “Ya, aku setuju,” ujar Ansel asal. “Rapat ini sampai di sini dulu, aku akan meminta follow-up dari kalian nanti setelah kita rapat dengan investor.”
Para karyawan Ansel memandang satu sama lain dengan bingung. Namun, mereka memilih untuk tidak menegur Ansel sebab mereka tidak berani. Satu per satu karyawan pun meninggalkan ruang rapat, meninggalkan Ansel dan Ridwan saja di sana.
“Apa yang mengganggu pikiranmu sampai-sampai kamu tidak konsentrasi sama sekali saat rapat tadi?” tanya Ridwan