
Mira mendadak ikut terkejut saat Clara berkata demikian. Ia mengira jika Clara memang benar-benar hamil karena telat datang bulan selama satu bulan. Mira kemudian menyuruh Clara untuk memastikan sekali lagi jika ia tak salah melihat kalender.
"Apa kamu tak salah melihat tanggal di kalender? Coba pastikan sekali lagi," ucap Mira.
"Aku sudah memastikan dan aku tak mungkin salah hitung," sahut Clara.
Akhirnya Mira menyuruh Clara untuk membeli testpack guna memastikan. Karena Clara tak ingin jika Clara mendadak hamil dan ia justru tidak mengetahuinya. Namun Clara justru menunda untuk membeli testpack karena ia yakin jika mungkin itu hanya telat datang bulan biasa.
"Lebih baik kamu cek menggunakan testpack sekarang, untuk memastikan," ujar Mira.
"Aku rasa ini hanya telat datang bulan biasa, aku sering mengalami hal yang serupa karena gaya hidupku yang kurang makan sayur," jawab Clara.
"Astaga Clara, kamu ini jangan menyepelekan begitu, aku khawatir jika kamu tiba-tiba hamil dan tidak bisa menjaga kandunganmu, Ansel pasti akan marah," tutur Mira.
Akhirnya Clara hanya mengiyakan ucapan Mira. Meskipun sebenarnya ia juga belum sepenuhnya yakin jika ia hamil. Saat sedang asyik mengobrol lewat sambungan telepon mendadak Mira harus melanjutkan kegiatan meeting nya bersama klien.
"Clara, aku harus lanjut Meeting dengan klien sekarang, kamu jaga diri baik-baik ya. Jika kamu butuh bantuan, segera hubungi aku," ucap Mira terburu-buru.
"Iya, kamu tenang saja," sahut Clara kemudian menutup teleponnya
Tiga hari berlalu sejak Clara dan Mira telepon dan membahas soal kehamilan itu. Malam ini entah kenapa Clara mendadak tak bisa tidur. Ia merasa ada yang salah dengan tubuhnya.
"Astaga, kenapa aku mendadak tak bisa tidur begini," gumam Clara yang mendadak tidak enak badan.
Clara melirik jam dinding yang ada di kamarnya dan waktu menunjukkan pukul 22.00. Clara berinisiatif untuk menelpon Ansel, ia ingin mengatakan jika ia sedang tak enak badan. Namun saat Ansel mengangkat teleponnya, mendadak Clara mengurungkan niat untuk bicara hal itu karena tak ingin Ansel khawatir padanya.
"Halo, sayang," ucap Ansel dari balik telepon.
"Ah, kamu belum tidur rupanya," ucap Clara.
"Aku baru saja tiba di hotel karena Meeting dengan klien baru saja selesai, tumben kamu jam segini belum tidur dan masih sempat meneleponku?" tanya Ansel penasaran.
"Emm, aku… Aku hanya ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja, jujur saja aku sudah sangat rindu. Kapan kamu pulang?" sahut Clara.
"Aku juga sangat rindu padamu, sayang. Aku baru bisa pulang empat hari lagi, itupun jika semua pekerjaanku telah selesai tepat waktu, jika tidak mungkin lima atau enam hari lagi aku baru bisa pulang," jawab Ansel.
Clara agak kecewa karena ia sebenarnya merasa kesepian. Dan entah kenapa suasana hati Clara mendadak jadi sensitif dan mudah terbawa suasana. Akhirnya ia memutuskan untuk mematikan telepon dan pamit pada Ansel untuk tidur.
"Ya sudah kalau begitu aku tidur duluan ya, rasanya mengantuk sekali," tutur Clara.
"Iya, selamat istirahat dan mimpi indah," sahut Ansel.
"Apa iya ini ciri-ciri orang hamil? Tapi apakah secepat itu aku hamil?" gumam Clara.
Malam ini juga ia keluar menggunakan mobilnya untuk menuju ke apotek 24 jam terdekat dari rumahnya. Clara berinisiatif untuk membeli testpack. Sesampainya di rumah, ia harus menunggu sampai besok pagi untuk bisa menggunakan testpack itu.
"Lebih baik aku gunakan besok pagi saja. Rasanya aku ingin tidur cepat malam ini, badanku mendadak sakit semua," ucap Clara sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Sinar matahari menembus kaca jendela kamar Clara. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya dan teringat untuk mencoba testpack yang ia beli semalam. Setelah beberapa saat menunggu, betapa terkejutnya Clara ternyata hasilnya positif.
"Astaga! Hasilnya positif, aku tak sabar ingin memberitahu Ansel, tapi lebih baik aku menunggu dia pulang dan memberitahunya secara langsung," gumam Clara senang.
Tiga hari kemudian Ansel pulang, Clara menyambut kedatangan Ansel dengan hangat. Ia juga sudah menyiapkan banyak menu makan malam kesukaan Ansel. Clara ingin memanfaatkan momen makan malam ini untuk memberitahu Ansel jika dia hamil.
"Ansel, aku punya sesuatu untukmu," ucap Clara sambil menyodorkan sebuah kotak dengan pita warna merah.
"Apa ini? Seingatku hari ulang tahunku masih tiga bulan lagi," ucap Ansel yang sontak membuat Clara tertawa.
"Hahaha…Buka saja, ini kejutan untukmu," sahut Clara.
Ansel terkejut saat melihat isi dari kotak itu ternyata adalah hasil testpack Clara yang positif. Raut wajah Ansel berubah menjadi bahagia seketika dan ia sontak memeluk Ansel.
"Sebentar lagi aku jadi Ayah?" tanya Ansel.
"Iya, dan aku akan jadi ibu," sahut Clara sambil meneteskan air mata karena terharu.
Setelah mengetahui jika Clara hamil, kini Ansel jadi lebih over protective pada Clara. Semua pekerjaan rumah dilimpahkan pada asisten rumah tangga yang baru saja ia pekerjaan di rumahnya sejak Clara hamil. Bahkan kini Ansel jauh lebih perhatian pada Clara.
"Biar aku saja yang ambilkan minum, aku tak mau kamu berjalan mondar-mandir naik turun tangga," ucap Ansel.
"Astaga, kamu terlalu berlebihan, Sayang," ujar Clara.
"Aku tak mau kamu terlalu banyak gerak dan kelelahan. Lihatlah perutmu semakin membesar," timpal Ansel.
Hari demi hari berlalu, tak terasa kehamilan Clara sudah memasuki bulan ke-9. Rasanya mereka sudah tidak sabar menanti kehadiran si buah hati. Ansel masih menjalani hari-harinya dengan berangkat ke kantor, ia kini sudah resmi pindah ke kantor baru yang ada di kotanya.
"Jika kamu butuh sesuatu segera hubungi aku," ucap Ansel memberi pesan sebelum berangkat kerja.
"Baiklah, tenang saja," sahut Clara.