I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 31



Clara menjalani hari-harinya dengan lembaran baru. Kini Ansel jadi sering pulang ke rumah Clara, sebab mereka juga sedang mempersiapkan keperluan untuk pernikahan mereka dalam waktu dekat. Hari ini Clara pulang lebih dulu daripada Ansel.


"Apakah Ansel sudah pulang?" tanya Clara saat masuk ke dapur untuk mengambil minum.


"Belum Nona, mungkin sebentar lagi," sahut pelayan.


"Kalau begitu biar aku saja yang nanti menyiapkan maka malam untuk Ansel, kalian bisa istirahat lebih awal," tutur Clara.


"Apakah tidak apa-apa, Nona?" tanya pelayan itu ragu-ragu.


"Tak apa, aku tahu kalian seharian ini banyak mengerjakan pekerjaan rumah, jadi ambilah waktu untuk santai dan istirahat sejenak," sahut Clara sambil tersenyum.


Clara mengambil ponselnya dan untuk menghubungi Ansel. Ia ingin memastikan apakah hari ini Ansel akan pulang ke rumahnya atau ke rumah Clara.


Tut…Tut…Tut…


"Halo," terdengar suara Ansel dari seberang telepon.


"Halo, apakah hari ini kamu akan pulang ke rumahku lagi?" tanya Clara.


"Kamu sudah merindukan aku ya?" ujar Ansel justru menggoda Clara.


"Ayolah, aku bertanya serius padamu, jika kamu pulang ke rumahku hari ini aku akan memasak makan malam untukmu," sahut Clara.


"Baiklah, aku akan pulang saja ke rumahmu malam ini, lagipula aku sudah sangat merindukanmu," ucap Ansel.


"Berhenti menggodaku, Ansel!" celetuk Clara yang sebenarnya malu.


Ansel hanya tertawa mendengar ucapan Clara, padahal hubungan mereka sudah berjalan sejauh ini tapi entah kenapa Clara masih malu-malu. Akhirnya Clara menutup teleponnya dan segera menyiapkan makan malam untuk Ansel.


Waktu terus berputar, tak terasa sinar mentari mulai tenggelam di ufuk barat. Entah mengapa rasanya Clara tak sabar menunggu kepulangan Ansel. Berulang kali ia melirik jam dinding sambil mengintip melalui kaca jendela untuk memastikan mobil Ansel apakah sudah tiba. Hingga akhirnya beberapa saat kemudian terdengar suara deru mobil Ansel yang terparkir di halaman rumahnya.


"Ah! Itu dia akhirnya Ansel pulang juga," gumam Clara dengan semangat sambil berjalan untuk membuka pintu.


"Kau sudah menungguku bukan?" ujar Ansel yang tiba-tiba sudah berada di depan pintu.


"Astaga! Kamu membuatku terkejut!" tutur Clara.


"Tumben kamu memasak sebanyak ini?" tanya Ansel penasaran.


"Memang aku sengaja memasak makanan kesukaanmu," jawab Clara.


Ansel dan Clara menikmati makan malam mereka dengan suasana yang begitu hangat. Ansel mulai membahas persiapan untuk pernikahan mereka yang sudah hampir 75% selesai. Terlihat raut wajah bahagia dari keduanya.


"Aku sudah tidak sabar menunggu hari bahagia itu tiba, bagaimana denganmu?" tanya Clara dengan antusias.


"Tentu saja, aku juga sudah menunggu. Ah, iya bagaimana dengan vendor yang kita pesan untuk acara pernikahan kita?" tanya Ansel.


"Aku baru saja mengkonfirmasi pada mereka, dan ya semua sudah lengkap tinggal 25% lagi, sungguh lega sekali rasanya," jawab Clara.


Selama Ansel menginap di rumah Clara, ia mengira tidak ada yang mempermasalahkan hal tersebut. Terlebih sejak Delia pergi dari kehidupan mereka berdua. Namun ternyata salah, para tetangga Clara justru menyoroti tindakan Ansel sebagai hal yang buruk. Tanpa Ansel dan Clara sadari, mereka ternyata menjadi bahan pembicaraan di lingkungan kompleks Clara.


Meski sudah berkurang orang yang menghujatnya, tetapi tak jarang masih ada saja yang menghujat Clara. Seperti saat Clara bertemu dengan tetangganya pagi ini. Clara baru saja jogging pagi dan ia dikejutkan dengan ucapan seorang tetangganya yang cukup membuatnya terganggu.


"Oh ini, ternyata yang katanya perempuan baik-baik ternyata suka kumpul kebo," tutur seorang wanita paruh baya.


"Maaf, apa maksud ibu bicara seperti itu ya?" tanya Clara yang merasa tersinggung.


"Pura-pura tidak tahu, kamu itu memang perempuan murahan tak tahu diri, bagaimana bisa tinggal serumah dengan seorang pria tanpa ada ikatan perkawinan yang sah," ujar wanita itu dengan sinis.


"Anda jangan seenaknya berkata seperti itu tentang saya! Saya bisa menuntut Anda dengan pasal pencemaran nama baik!" jawab Clara yang sudah terpancing emosi.


Saat Clara sedang beradu argumen dengan tetangganya itu, rupanya Ansel mendengarnya. Ia segera keluar dari rumah karena mendengar suara Clara. Ansel berusaha untuk memisahkan mereka berdua.


"Dasar wanita murahan, mengakunya punya hubungan keluarga ternyata memang berkedok kumpul kebo! Sudah seharusnya kamu diusir dari kompleks ini," ucap wanita itu semakin tak terkendali.


"Jaga ucapan Anda ya!" bentak Clara.


"Hei, sudah-sudah ada apa ini ribut-ribut begini?" ujar Ansel yang berusaha menengahi.


"Oh ini, ternyata pasangan kumpul kebonya? Kamu tidak usah berlagak tidak tahu ya! Dasar tukang zina!" celetuk wanita itu.