I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 16



Delia terdiam sejenak, tapi kemudian memutuskan untuk menceritakan sedikit mengenai masalahnya kepada sang bartender.


“Apakah kamu melihat pria yang duduk di ujung sana? Dia adalah seorang mata-mata bayaran. Kalau kamu mau mencari tahu tentang keberadaan gadis itu, minta saja bantuan pria itu,” ucap sang bartender.


Delia tersenyum miring, setuju dengan ucapan sang bartender. Setelah mengucapkan terima kasih kepada bartender, Delia pun langsung menghampiri pria yang dimaksudkan oleh bartender kemudian menjelaskan apa yang dia inginkan.


“Jadi, kamu ingin aku mencari gadis bernama Clara Antonio?” tanya pria itu.


Delia mengangguk. “Ya. Aku ingin tahu di mana dia saat ini karena aku harus segera menemuinya,” ucap Delia dengan tegas.


“Tapi, semua itu tidak gratis,” ucap pria tadi.


Delia memutar bola matanya, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.


“Ini baru DP, kalau pekerjaanmu bagus dan kamu berhasil menemukan gadis itu, aku akan memberikanmu uang lagi,” ujar Delia.


Pria itu tersenyum, kemudian menerima uang yang diberikan oleh Delia. “Deal. Kamu tidak perlu khawatir, mencari seseorang bukanlah hal yang sulit untukku. Sebentar lagi kamu juga pasti akan menemukan dia,” katanya dengan penuh percaya diri kemudian menegak minumannya.


Delia tersenyum puas, dia sudah tidak sabar untuk bisa menemui Clara. Dia tidak terima karena diputuskan oleh Ansel. Dia akan melakukan segala cara supaya Clara dan Ansel tidak bisa bersatu.


Setelah meminta seseorang untuk mencari tahu di mana keberadaan Clara, tak lupa Delia juga memposting sesuatu di sosial medianya. Yaitu sebuah gambar kosong yang bertuliskan “Hubungan bisa hancur karena orang-orang terdekat yang bahkan tidak pernah terpikirkan.”.


Senandung merdu terdengar mengisi salah satu kamar di sebuah rumah mewah yang terletak di pinggiran kota. Seorang gadis baru saja selesai mandi dan tengah mengeringkan rambutnya sambil bersenandung kecil untuk mengisi kekosongan rumah tersebut. Rumah tersebut hanya ditinggali oleh dua orang, yaitu dirinya dan seorang pelayan. Terkadang, untuk membuat suasana tak terasa terlalu sepi, Clara akan memutar lagu dengan kencang dan dia akan menyanyi sesuai dengan lagu yang terputar.


Akan tetapi, hari ini sudah malam. Dia tidak mungkin menyalakan musik dengan kencang malam-malam seperti ini. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika gadis itu keluar dari kamar mandi. Tadi, saat sedang berendam di bathtub, dia ketiduran hingga tidak sadar jika hari sudah semakin malam.


Ketika sedang sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk, tiba-tiba saja ponselnya berdering. Clara pun meraih ponselnya yang terletak di atas nakas samping tempat tidur, kemudian tersenyum saat melihat siapa yang meneleponnya.


“Halo, Mira. Kapan kamu akan main ke rumahku lagi?” sapa Clara bahkan sebelum Mira sempat membalas sapaannya.


“Halo, Clara. Maaf, aku akhir-akhir ini sedang banyak sekali pekerjaan. Aku bahkan tidak punya banyak waktu untuk beristirahat,” balas Mira kemudian menghela napasnya.


Clara ikut menghela napasnya. Menjadi dewasa benar-benar berbeda dengan saat mereka masih remaja dulu. Dulu, mereka bisa bebas bertemu kapan pun mereka mau karena mereka tidak memiliki tanggung jawab. Sekarang, pekerjaan adalah hal yang cukup menghalangi mereka untuk bertemu. Yah, meskipun sebetulnya mereka setidaknya satu Minggu sekali masih bertemu. Hanya saja, Clara merasa kalau itu belum cukup.


“Baiklah, aku mengerti. Aku pun cukup sibuk di perkebunan sekarang ini. Tapi, jujur saja, aku merasa sangat kesepian. Andai saja kamu bisa tinggal di sini. Pasti rumahku tidak akan terasa sepi lagi,” keluh Clara.


“Ih! Kamu tahu sendiri, ‘kan, bagaimana hubunganku dengan Om Ansel?” gerutu Clara dengan kesal. “Dia ingin aku melupakannya dan sekarang aku sedang mencoba untuk melupakan dia. Lagi pula ... Om Ansel sudah punya kekasih. Aku tidak mau melihat kemesraan mereka kalau aku tinggal di sana.”


Tawa renyah Mira terdengar menyembur keluar. Hal tersebut tentu semakin membuat Clara merasa kesal. Clara tahu betul kalau kisah percintaan konyolnya dengan Ansel adalah hiburan tersendiri untuk Mira. Orang lain pun jika tahu tentang apa yang terjadi antara Clara dan Ansel juga pasti akan menertawakan perasaan bodoh itu.


“Ngomong-ngomong soal kekasih, apakah kamu sudah melihat gambar yang aku kirimkan padamu?” tanya Mira setelah menghentikan tawanya.


“Gambar apa?” tanya Clara. “Aku baru saja selesai mandi dan belum sempat memeriksa pesan singkat apa pun.”


“Kalau begitu, cepat kamu lihat,” ucap Mira.


“Baiklah, baiklah,” balas Clara. Gadis itu pun menjauhkan ponsel dari telinganya, kemudian memeriksa pesan singkat yang dikirimkan oleh Mira.


Mata Clara membulat saat dia melihat gambar yang dikirimkan oleh Mira. Mira mengiriminya sebuah tangkapan layar dari postingan Delia di sosial media. Sebuah postingan yang berisi sindiran untuk ... dirinya?


Clara buru-buru kembali menempelkan ponsel ke telinganya.


“Mira, apakah itu artinya ....”


“Ya, aku rasa mereka sudah putus,” balas Mira, menyambung kalimat Clara yang terputus.


“Tapi, bagaimana bisa?” tanya Clara.


“Entahlah. Tapi, kalau dilihat dari postingan itu, sih, sepertinya mereka putus karena dirimu,” ucap Mira.


Malam itu, setelah mengakhiri percakapannya dengan Mira, Clara sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang. Gadis itu terus memikirkan tentang hubungan Delia dan Ansel. Entah kenapa, Clara merasa jika sesuatu yang buruk akan segera datang kepadanya.


Insting Clara memang tidak pernah salah.


Keesokan harinya, ketika Clara baru saja tiba di rumah setelah bekerja, gadis itu dikejutkan dengan kehadiran Delia. Clara memarkirkan mobilnya sambil mengerutkan dahi saat dia melihat Delia berdiri di ambang pintu rumahnya sambil menatap ke arah mobilnya sambil melipat tangan di depan dada.


“Apa yang Delia lakukan di sini? Dari mana juga dia tahu tentang alamat rumahku?” gumam Clara lalu mengambil tasnya dan keluar dari mobil.