I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 6



Ansel yang mendapat tanggapan dingin dari Clara merasa kecewa. Dia tidak menyangka jika Clara masih akan bersikap dingin padanya padahal mereka sudah bertahun-tahun tidak bertemu. ‘Apakah kamu tidak merindukan aku, Clara?’ tanya Ansel dalam hati.


Meski kecewa, Ansel tetap bersikap tenang. Pria itu lantas mengajak gadis yang dia bawa masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil, tak lupa dia mengenalkan Clara pada gadis itu.


“Clara, perkenalkan. Ini adalah Delia, kekasihku,” ucapnya.


Clara menoleh dengan senyuman lebar. “Ah, senang bertemu denganmu, Delia. Aku harap hubungan kalian langgeng dan kalian cepat menikah. Aku senang karena akhirnya ada seorang wanita yang bisa membuat pamanku jatuh cinta,” ucap Clara dengan ramah.


Mendengar ucapan Clara, entah kenapa hati Ansel terasa sangat nyeri. Pria itu seolah ingin berteriak jika bukan hal ini yang dia inginkan. Entah kenapa dia tidak suka Clara menyetujui hubungannya dengan Delia.


“Clara, tidak apa-apa, 'kan, kalau aku mengantar Delia pulang dulu baru kita pulang ke rumah?” tanya Ansel seraya melirik Clara dari kaca spion mobilnya.


“Hm, tidak apa-apa,” jawab Clara singkat lalu kembali menatap ke luar jendela mobil.


Sedari tadi, Clara menolak untuk melihat ke depan sebab pemandangan di depannya benar-benar tidak mengenakkan yaitu pamannya yang membiarkan Delia terus bergelayut manja di lengannya. Ansel bahkan tak tampak keberatan jika dia agak kesulitan menyetir karena Delia terus saja menempel di lengannya. Hal tersebut tentu saja membuat Clara merasa kesal tapi dia memilih untuk tetap diam. Lagi pula, Clara tidak punya hak untuk marah, bukan?


“Clara, senang bertemu denganmu. Aku harap kita bisa bertemu lagi lain kali,” ucap Delia, kemudian turun dari mobil.


Setelah Delia masuk ke dalam rumahnya, Ansel melirik ke arah Clara. “Kamu tidak mau pindah duduk di depan?” tawar Ansel.


Clara menggeleng, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Melihat hal tersebut Ansel hanya bisa menghela napasnya kemudian kembali melajukan mobilnya menuju ke kediaman mereka yang berjarak tak terlalu jauh dari rumah Delia. Hanya butuh waktu tiga puluh menit untuk mereka akhirnya sampai di rumah.


Sebelum keluar dari mobil, Clara memandang ke arah luar. Gadis itu berkaca-kaca sebab dia merasa kalau dia sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di rumah ini namun tidak ada satu hal pun yang berubah selain warna cat rumah tersebut. Suasana di sekitar rumah tersebut bahkan masih asri seperti dulu. Bunga-bunga dan tanaman yang dulu dia tanam bersama Ansel pun juga tumbuh dengan subur di sana.


“Clara, ayo turun,” ucap Ansel sambil mengetuk-ngetuk jendela mobil. Pria itu memang sengaja lebih dulu turun untuk mengambil koper Clara dari bagasi.


Clara mengusap air matanya, kemudian turun dari mobil.


Clara tersenyum lembut dan berterima kasih atas sambutan yang diberikan oleh para pelayan dan juga satpam rumah mereka  Gadis itu lantas masuk ke dalam rumah setelah salah satu pelayan membantunya untuk membawa kopernya masuk.


“Clara, kamu istirahat dulu saja. Nanti kalau makan malam sudah siap salah satu pelayan akan memanggilmu,” ucap Ansel. Dia tahu kalau Clara pasti kelelahan setelah belasan jam melakukan perjalanan di udara.


Clara mengangguk, lalu pergi menuju ke kamarnya.


Waktu bergulir hingga jam makan malam pun tiba. Clara yang sudah beristirahat dan membersihkan diri kini sedang menikmati makan malam dengan Ansel. Suasana terasa begitu canggung sebab di antara mereka berdua tidak benar-benar ada percakapan. Bahkan jika Ansel mengajak Clara untuk berbicara, gadis itu hanya menjawabnya dengan jawaban yang singkat saja.


“Aku ingin tinggal sendiri di rumah orang tuaku setelah ini,” ucap Clara secara tiba-tiba, membuat Ansel menghentikan aktivitas mengunyahnya.


Pria itu menelan paksa makanannya seraya meletakkan peralatan makannya di meja. “Apa maksudmu, Clara? Bukankah selama ini kamu tinggal bersamaku di rumah ini?”


Clara mengangguk. “Justru karena itu. Aku sekarang sudah mandiri dan dewasa. Aku bisa melakukan semuanya sendiri tanpa harus bergantung kepada siapa pun termasuk kamu, Om.”


“Clara, Om tidak setuju.”


“Aku tidak meminta persetujuan dari Om. Aku hanya ingin menyampaikan keinginanku saja. Lagi pula, tidak baik jika kita tinggal bersama. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Orang-orang pasti akan membicarakan yang tidak-tidak kalau aku tinggal di rumah ini bersama dengan Om,” jelas Clara.


“Om tidak akan membiarkan kamu tinggal sendirian. Jangan membuat Om khawatir, Clara. Kalau terjadi apa-apa dengan kamu bagaimana?” tanya Ansel.


Clara mendengus. “Aku sudah dewasa. Om tidak bisa melarang-larangku lagi,” ucap Clara dengan tegas lalu meletakkan peralatan makannya.


“Kamu pikir—”


“Aku sudah kenyang. Aku lelah dan ingin istirahat,” ucap Clara kemudian bangkit berdiri dan pergi meninggalkan ruang makan tanpa mau mendengarkan lanjutan dari ucapan Ansel.