I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 19



“Om Ansel, apakah aku boleh masuk?”


Mendengar suara Clara yang terdengar begitu lembut di telinganya, Ansel pun bungkam. Pria itu memejamkan matanya, kemudian berusaha mengatur napasnya. Amarah yang awalnya memenuhi relung hati Ansel perlahan padam, digantikan oleh angin sejuk yang menenangkan hati.


Pria itu melempar botol minuman kerasnya ke tong sampah, lalu berdiri. Dengan tubuh sempoyongan, ia berjalan ke arah pintu. Ansel tak tahu apa yang harus dia lakukan di depan Clara nanti, situasi canggung di antara mereka berdua membuatnya bingung harus bereaksi seperti apa di depan Clara. Akan tetapi, satu hal yang ia tahu, ia ingin menemui Clara.


Klek!


Begitu pintu terbuka, Ansel memerhatikan gadis yang berdiri di depannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Saat ini, Clara mengenakan tank top yang tertutup cardigan dan celana training. Karena terburu-buru, Clara tak sempat mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih rapi. Gadis itu tadi terlalu khawatir dengan keadaan Ansel sampai tak sempat berganti pakaian.


Tatapan Ansel kembali jatuh pada para pelayan dan penjaga rumah yang masih berdiri di sana. Ia menatap mereka dengan tatapan tak suka. “Untuk apa kalian masih ada di sini? Cepat pergi!” perintahnya dengan tegas.


Para pelayan dan penjaga rumah pun berlari terbirit-birit karena ketakutan, meninggalkan Clara seorang diri di depan kamar Ansel.


“Ayo, masuk,” ucap Ansel sambil menyingkir dari pintu, memberikan jalan untuk Clara masuk ke kamarnya.


Meski awalnya ragu, Clara akhirnya melangkah masuk ke kamar Ansel. Pemandangan sebuah kamar yang berantakan menyambut kedatangan Clara. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Ingin merasa heran karena Ansel biasanya sangat rapi. Tapi, mengingat Ansel yang sedang mabuk membuatnya merasa maklum saat melihat kondisi kamar pria tersebut.


“Kamarmu sangat berantakan,” komentar Clara.


“Tidak hanya kamarku yang berantakan, tapi hidupku juga, Clara,” ujar Ansel.


Begitu Clara masuk ke dalam kamarnya, Ansel langsung menutup pintu dan mendorong tubuh Clara ke arah dinding. Pria itu dengan rakus lantas meraup bibir Clara dan mencium bibir mungil tersebut.


Clara membelalakkan matanya, bingung. Memang benar jika ciuman ini adalah sesuatu yang Clara idam-idamkan dari dulu. Akan tetapi, saat dia mengingat jika Ansel saat ini sedang mabuk, entah kenapa dia jadi berpikir kalau Ansel tidak sadar saat melakukan ini semua.


Clara ingin marah, gadis itu berusaha untuk mendorong tubuh Ansel untuk lepas dari ciuman pria itu.


“Om, aku ... tidak seharusnya kita—”


“Clara, aku mencintaimu,” ujar Ansel, memotong ucapan Clara lalu kembali membungkam bibir Clara dengan bibirnya.


Aroma alkohol yang menguar menyatu dengan ciuman Ansel, membuat Clara ikut merasakan sensasi yang membakar tubuhnya. Mendengar kata cinta terlontar dari bibir Ansel perlahan membuat Clara membalas ciuman dari Ansel.


Ciuman mereka semakin memanas. Ansel yang dikuasai gairah yang membara lantas mengangkat tubuh Clara. Tanpa melepaskan ciuman mereka satu detik pun, pria itu membawa Clara ke arah ranjangnya. Secara perlahan Ansel meletakkan tubuh Clara di atas tempat tidur, lalu dia mengungkung tubuh Clara di bawahnya.


Perlahan Ansel menanggalkan pakaian yang menutupi tubuh Clara, menyisakan pakaian dalam gadis itu saja. Sambil terus mencium bibir Clara, tak lupa dia juga memainkan titik-titik sensitif tubuh Clara, menggoda gadis itu hingga gairahnya tak bisa dibendung lagi.


Jantung Clara berpacu dengan begitu cepat saat dia melihat tubuh polos Ansel. Gadis itu menelan salivanya ketika Ansel bersiap untuk melakukan penyatuan di antara mereka.


“Ini mungkin akan sedikit sakit. Tapi, aku janji aku akan memberikan kenikmatan untukmu,” ucap Ansel dengan napas memburu.


Dalam sekali sentakan, tubuh Ansel dan Clara pun menyatu. Clara memegang punggung Ansel dengan erat seraya menahan rasa sakit yang menguasainya. Untuk beberapa detik Ansel hanya diam,  membiarkan tubuh Clara terbiasa. Setelahnya, baru dia memulai permainan panasnya.


Kamar Ansel dipenuhi oleh suara lenguhan dan *******. Dua sejoli itu memadu kasih seolah tak akan ada hari esok. Tubuh mereka terus beradu, hingga mereka akhirnya mencapai puncaknya.


Setelah mendapatkan pelepasannya, Ansel terbaring lemas di samping Clara. Pria itu langsung memejamkan matanya karena kelelahan.


Sementara Clara masih tersadar. Gadis itu melirik ke arah Ansel yang sudah tidur pulas, lalu memandang langit-langit kamar Ansel.


‘Bodoh! Apa yang sudah aku lakukan? Kenapa semuanya jadi seperti ini?’ gerutu Clara, merutuki kebodohannya karena telah membiarkan Ansel menyetubuhinya.


‘Bagaimana jika nanti Om Ansel marah setelah sadar?’ tanya Clara dalam hati. Gadis itu sedikit menyesali perbuatan mereka. Namun, dia juga merasa senang karena Ansel mencintainya.


‘Ck! Kenapa aku malah senang telah bercinta dengan Om Ansel? Bukankah seharusnya aku berusaha untuk melupakan dia?’ omel Clara pada dirinya sendiri.


Clara pun memutuskan untuk membersihkan diri dan memakai pakaiannya kembali. Ia berjalan tertatih-tatih ke kamar mandi, ingin membersihkan sisa-sisa percintaan mereka yang melekat di tubuhnya. Setelah selesai, dia tak lupa juga membantu Ansel memakai celananya kembali. Ia ingin membuat keadaan tampak seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka.


Keesokan harinya, Ansel terbangun dari tidurnya. Pria tersebut langsung meraba-raba ke samping, mencari keberadaan Clara namun tak bisa menemukan Clara. Ia pun memandang ke sekeliling kamar dan mendapati Clara tidur di atas sofa.


‘Kenapa Clara tidur di sana? Bukankah tadi malam aku dan dia bercinta? Apakah semuanya hanya khayalanku saja?’ pikir Ansel.


Ia menghela napas panjang. Merutuki karena telah terlalu banyak minum hingga berhalusinasi jika dia dan Clara telah bercinta.


Sambil memegangi kepalanya yang terasa pusing, Ansel bangun dari tidurnya, kemudian duduk di tepi ranjang. Pria itu membuka laci kemudian meraih ibuprofen dan menegaknya untuk menghilangkan rasa pusing akibat alkohol yang dikonsumsinya tadi malam.


Ansel pun turun dari ranjang, berjalan menghampiri Clara. Ia berjongkok di depan sofa, lalu membelai wajah Clara. Ansel tersenyum kecut, menyadari betapa pengecutnya dirinya sendiri karena dari dulu selalu menyia-nyiakan Clara. Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri karena terlambat untuk menyadari perasaannya dan terlambat untuk memperjuangkan cintanya.


Ansel yang berniat untuk memindahkan Clara ke tempat tidur mengurungkan niatnya saat dia melihat bercak-bercak merah yang terlihat jelas di bagian dada Clara yang sedikit terbuka. Ansel menyipitkan matanya, ingin memastikan apakah dugaannya benar atau tidak.


Saat menyadari jika bercak-bercak merah di dada Clara merupakan bekas kecupan, Ansel pun tersenyum. Dia mulai menyadari jika percintaan mereka tadi malam bukanlah halusinasinya dan Clara mencoba untuk menutupi itu semua.


Ansel yang sudah tidak bisa menahan rasa cintanya kepada Clara sama sekali tidak menyesali apa yang sudah mereka lakukan.