
Ridwan menganggukkan kepalanya. Saat pria itu hendak pergi, dia tidak sengaja melihat kotak makanan. Perutnya yang keroncongan langsung tergoda ingin memakan makanan yang ada di sana.
“Wah, ada makanan,” ucap Ridwan, kemudian duduk di kursi seberang Ansel.
“Makanlah kalau kamu mau. Delia yang mengirimnya,” ucap Ansel.
“Memangnya tidak apa-apa kalau aku yang makan?”
Ansel mengedikkan bahunya.
“Ridwan, sepertinya aku tidak bisa melanjutkan hubunganku dengan Delia,” ucap Ansel, membuat Ridwan terkejut.
“Memangnya kenapa?” tanya Ridwan. “Bukankah selama ini kamu sangat yakin kalau kamu akan jatuh cinta dengan Delia dan bisa melupakan Clara?”
“Justru itu masalahnya. Semakin lama, aku malah semakin tidak bisa melupakan Clara. Perasaanku kepada Clara justru semakin besar,” jelas Ansel sambil menghela napas berat.
Ridwan menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dari awal aku sudah bisa menduga kalau kamu tidak mungkin bisa melupakan Clara begitu saja. Berpisah dari dia empat tahun saja tidak bisa membuatmu move on, apalagi sekarang Clara di sini?” cibir Ridwan.
Ansel berdecap. “Tapi, Clara adalah keponakanku. Tidak etis kalau aku menyukai dia.”
Ridwan memutar bola matanya. “Ansel, ingat, kamu dan Clara tidak memiliki hubungan darah. Tidak ada salahnya kalau kamu dan Clara bersama,” nasihat Ridwan. “Aku pasti akan mendukungmu kalau kamu ingin mengejar Clara.”
Ansel mengangguk-anggukkan kepalanya. Untuk pertama kalinya, akhirnya pria itu mau memperjuangkan perasaannya untuk Clara.
Malam harinya, Ansel mengajak Delia bertemu di sebuah taman yang tak terlalu jauh dari rumah Delia. Dia ingin mengakhiri hubungan mereka secara baik-baik. Selama ini tidak pernah ada masalah di antara mereka, jadi Ansel tidak mungkin meninggalkan Delia begitu saja.
“Ansel!” sapa Delia, membuat Ansel yang tengah duduk di kursi taman berdiri.
“Ansel, ada apa?” tanya Delia bingung.
“Kita duduk dulu. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan,” ucap Ansel.
Ansel dan Delia lantas duduk berdampingan di kursi taman sambil menatap ke arah satu sama lain.
“Delia, aku sangat berterima kasih kepada kamu karena selama ini kamu sudah menjadi wanita yang baik kepadaku. Kamu bahkan selalu memperlakukanku dengan manis. Aku benar-benar berterima kasih atas itu semua. Tapi ....”
Ansel menghentikan kalimatnya sejenak, membuat Delia semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya ingin Ansel bicarakan padanya. Karena entah kenapa, perasaannya tiba-tiba jadi tidak enak.
“Tapi, aku ingin hubungan kita sampai di sini saja.”
Tidak ada hujan tidak ada angin, pernyataan Ansel membuat hati Delia hancur. Gadis itu bahkan tidak bisa menahan tangisannya ketika dia mendengar kalimat itu keluar dari bibir Ansel.
“Ansel, apakah aku berbuat salah padamu?” tanya Delia sambil terisak-isak.
Ansel menggeleng. “Tidak, Delia. Kamu tidak salah. Yang salah adalah aku karena aku tidak bisa mencintaimu seperti kamu mencintaiku. Kamu perempuan yang baik, Delia. Kamu pantas mendapatkan laki-laki yang bisa mencintaimu dengan tulus. Maaf, tapi aku tidak bisa mencintaimu.”
Delia menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Ansel. Dia masih tidak menyangka jika Ansel ingin mengakhiri hubungan mereka yang baru seumur jagung.
“Apakah ini semua ada hubungannya dengan Clara? Apakah kamu tidak bisa mencintaiku karena Clara?” tanya Delia.
Pertanyaan tersebut membuat Ansel bungkam.