I Love You, Uncle

I Love You, Uncle
Bab 17



“Hai, Delia. Apakah kamu sudah lama di sini?” sapa Clara, mencoba untuk tetap bersikap ramah meskipun dia sendiri jujur saja tidak begitu menyukai Delia.


Delia yang waktu itu tampak sangat ramah kepada Clara berubah menjadi sinis. Bahkan Delia dengan memasang wajah angkuhnya enggan untuk menjawab pertanyaan basa-basi dari Clara.


“Bisakah kita bicara, Clara?” tanya Delia dengan tegas.


Sorot mata Delia memancarkan kebencian. Semenjak dia tahu kalau Ansel menyimpan perasaan untuk Clara dan karena hal itu Ansel meninggalkannya, Delia jadi membenci Clara. Dia merasa kalau Clara hanyalah benalu dalam hubungannya dengan Ansel.


“Ya, silakan masuk,” ucap Clara. Meskipun bingung, dia tetap mempersilakan Delia masuk ke dalam rumahnya. Dia bahkan juga mempersilakan Delia untuk duduk di kursi ruang tamu. “Apakah kamu mau minum sesuatu? Aku akan meminta Bibi untuk membuatkan minuman untukmu.”


“Tidak perlu. Aku ke sini hanya untuk membicarakan sesuatu padamu,” ucap Delia.


Clara mengangguk-anggukkan kepalanya secara perlahan. “Oke. Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanyanya tak mengerti.


“Aku dan Ansel putus.”


Pernyataan Delia tidak betul-betul membuat Clara terkejut.  Hal ini persis seperti dugaannya dengan Mira tadi malam. Akan tetapi, pernyataan Delia yang selanjutnya membuat Clara terkejut bukan main.


“Ansel memutuskan hubungan denganku karena dirimu,” ujar Delia.


Clara membulatkan matanya. “Hah? Kenapa karena aku?” tanyanya bingung bukan main. Clara pikir, Delia dan Ansel putus karena ada orang ketiga. Tanpa Clara tahu, bagi Delia, dialah si orang ketiga.


“Tidak usah pura-pura bodoh, Clara. Aku tahu apa yang kamu lakukan kepada Ansel,” cibir Delia dengan sinis. “Kamu benar-benar perempuan tidak tahu malu. Bisa-bisanya kamu menggoda pamanmu padahal kamu tahu persis kalau dia memiliki kekasih!”


“Tunggu, tunggu. Aku tidak mengerti. Kenapa jadi aku yang salah?” tanya Clara, tidak terima karena Delia menyebutnya telah menggoda Ansel. Padahal pada kenyataannya, Clara justru tengah menjauh dari Ansel.


“Karena kamu sudah berniat menggoda Ansel!”


“Menggoda apanya? Hubunganku dan Om Ansel hanyalah hubungan keponakan dan paman, tidak lebih!” bantah Clara tak terima.


“Halah, tidak usah munafik. Kita ini sama-sama perempuan, aku tahu kalau kamu berniat menggoda Ansel,” sindir Delia sambil mengibaskan tangannya di depan dada. “Aku juga tahu kalau kamu dan Ansel tidak memiliki hubungan darah.”


Begitulah kata Delia sebelum gadis itu pergi dari rumah Clara, meninggalkan Clara yang terdiam diselimuti kebingungan di sana.


Dua orang sahabat sedang duduk di meja dekat jendela salah satu restoran. Tadi, setelah Delia pergi dari rumahnya, Clara langsung menelepon Mira dan mengajak Mira bertemu di sana. Ia tidak bisa membicarakan masalah tersebut melalui telepon. Ia harus bertemu dengan Mira dan menceritakan semuanya secara langsung supaya dia bisa merasa lega.


“Jadi, apa yang ingin kamu ceritakan? Aku sudah sangat penasaran asal kamu tahu saja,” gerutu Mira sambil meletakkan segelas cokelat hangat di atas meja.


Clara yang sedari tadi hanya diam sambil mengaduk-aduk minumannya menoleh ke arah Mira, kemudian mengedikkan bahunya.


“Tadi, Delia datang ke rumahku,” ucapnya.


Mendengar hal tersebut, Mira mengerutkan kening. “Ada apa dia ke rumahmu? Apakah dia ingin meminta bantuanmu untuk bisa kembali kepada Ansel?” cibir Mira.


Clara menggeleng.


“Tidak? Mana mungkin? Aku sudah mendengar cerita dari Ridwan kalau Ansel memang memutuskan hubungannya dengan Delia karena dia tidak memiliki perasaan kepada Delia,” jelas Mira yang sudah diberitahu oleh kakak iparnya tersebut.


“Tapi, dia memang tidak datang untuk memintaku membantunya atau apa, Mir. Dia datang karena hal lain,” balas Clara lalu menghela napasnya.


“Hal lain apa?” tanya Mira bingung.


“Dia datang marah-marah kepadaku karena dia pikir aku adalah penyebab kehancuran hubungan mereka. Dia bahkan juga menuduhku telah menggoda Om Ansel,” terang Clara.


“Dia menuduhmu seperti itu?” tanya Mira, kesal saat mengetahui apa yang dilakukan Delia kepada Clara. “Kalau saja aku ada di sana waktu dia datang, dia pasti tidak akan berani memarahimu lagi karena aku akan menendangnya pergi dari rumahmu.”


Clara terkekeh geli saat mendengar pernyataan Mira. “Tidak usah berlebihan seperti itu, Mir.”


“Berlebihan apanya? Jelas-jelas dia yang tidak tahu diri. Bukannya berkaca dan berintrospeksi diri, malah menyalahkan orang lain,” cibir Mira. “Lagi pula, kamu tidak ada hubungannya dengan kenapa Ansel memutuskan hubungan mereka.”


Clara menghela napasnya. “Entah, aku juga bingung. Tapi, sebelum dia pergi dia mengatakan jika dia tidak akan membiarkan aku dan Om Ansel bersama,” balas Clara.