
Ansel kemudian teringat dengan pengacara keluarganya. Salah satu orang yang menjadi orang kepercayaan sekaligus penasehat bagi keluarganya. Tak berlama-lama lagi, Ansel segera mandi dan bersiap menuju ke kantor pengacara milik keluarganya.
Dalam hitungan menit mobil Ansel sudah membelah jalanan ibukota yang tak pernah sepi. Ia berusaha untuk bersikap tenang dan tak gegabah kali ini. Cukup sekali Ansel menyerah dengan perasaannya dan mengabaikan cinta Clara.
"Kali ini akul akan berjuang untuk mendapatkan cinta Clara sekalipun dunia menentangnya, tak akan aku biarkan satupun laki-laki bisa mendapatkan hatinya," gumam Ansel yang semakin memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Mobil Ansel berhenti di sebuah halaman parkir gedung yang cukup luas. Ia melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung yang bertuliskan Malik Tanosoedirja Law and Partners.
"Selamat siang Pak, ada yang bisa kami bantu," ujar seorang resepsionis berambut pendek.
"Saya ingin bertemu dengan Pak Malik," sahut Ansel.
"Apakah Anda sudah membuat janji lebih dulu dengan beliau?" tanya resepsionis.
"Belum, hanya saja saya ada keperluan mendadak sekarang. Katakan saja pada beliau jika Ansel Lazuardy sedang menunggunya di sini," tutur Ansel.
Tak berselang lama resepsionis itu mempersilahkan Ansel menuju ke ruangan Malik di lantai 3. Ansel menemui pengacara keluarganya dengan harapan pengacara itu bisa memberinya jalan keluar.
Ketika Ansel masuk ke dalam ruangan Malik, nampaknya pria berusia setengah abad itu terkejut dengan perubahan Ansel. Sudah lama Malik tak bertemu dengan Ansel membuatnya agak tak mengenali pria tampan itu.
"Ansel, sudah lama kita tak berjumpa," ucap Malik menyambut dengan hangat.
"Ya, aku terlalu sibuk mengurus bisnis keluargaku," sahut Ansel sambil memeluk Malik.
"Kau mau secangkir kopi?" tutur Malik menawarkan.
"Tentu saja," jawab Ansel.
"Apa yang membuatmu datang kemari?" tanya Malik.
Setelah beberapa saat mereka basa-basi, Ansel mengatakan tujuan utamanya datang kemari. Ia menceritakan tentang perasaanya dan masalahnya dengan Clara dan meminta saran dari pengacara tersebut yang merupakan kerabat ibunya.
"Aku sedang dekat dan terlibat hubungan dengan seorang perempuan, tapi dia adalah anak angkat dari kakak kandungmu. Apakah secara hukum sebenarnya hukuman kami ini dilarang?" tanya Ansel.
"Apakah posisi perempuan itu adalah anak angkat? Tidak ada hubungan darah sama sekali bukan?" tanya Malik.
"Ya dia hanyalah anak angkat, kakakku mengadopsinya dari sebuah panti asuhan," jawab Ansel.
Malik terdiam berpikir sejenak, sementara itu Ansel tak sabar menunggu jawaban yang keluar. Ia berharap jika apa yang keluar dari mulut Malik sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Berdasarkan hukum di negara ini, itu tidak masalah. Hubunganmu dengan wanita itu bukanlah hubungan terlarang sebab tidak ada hubungan darah karena Clara hanya anak angkat kakakmu," jawab Malik.
"Bahkan jika aku ada keinginan untuk menikahinya?" tanya Ansel kembali memastikan.
"Ya tentu saja, kau tak terikat apapun secara biologis dengan Clara. Baik dari segi agama, adat istiadat maupun hukum tertulis kau tetap di perbolehkan untuk menikahinya, karena kalian bukan saudara kandung," sahut Malik.
Ansel bisa bernafas lega karena ternyata secara hukum hubungan mereka tidak masuk dalam hubungan terlarang. Namun masih ada hal yang mengganjal pikiran Ansel. Yaitu bagaimana cara menjelaskan hal ini pada semua orang.
"Kau masih ragu?" tanya Malik menyadarkan Ansel dari lamunan.
"Ah…Aku masih bimbang untuk menunjukkan jika aku dan Clara punya hubungan spesial di hadapan publik, mereka pasti tak bisa mengerti soal ini," ucap Ansel.
"Kau tak perlu khawatir, selagi kalian berani menjelaskan pada publik tentang status kalian yang sebenarnya dan bagaimana jika ditinjau dari segi hukum, maka semua akan berjalan dengan baik seiring waktu," sahut Malik memberikan saran.
Ansel akhirnya meminta pengacara itu menyiapkan semua bukti-bukti tentang siapa Clara serta hubungan mereka. Tujuannya agar dikemudian hari bisa menjadi senjata untuk mereka jika ada yang menentang hubungan mereka.