
Sesampainya di dalam kamar, Clara tak langsung tidur. Ia malah berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di pagar balkon. Gadis itu berkata jika dia ingin beristirahat karena dia ingin menghindari Ansel saja sebab dia tahu kalau pamannya pasti akan menentang keputusannya untuk tinggal di rumah lama orang tuanya. Tapi, Clara tidak peduli tentang hal itu. Keputusannya sudah bulat dan dia tidak mau berubah pikiran.
Selain untuk menjaga mereka dari omongan negatif orang-orang, sebetulnya Clara melakukan itu semua karena dia ingin menjaga perasaannya. Dia tidak mau merasa terluka lagi karena dia yakin sekali kalau dia hanya akan makan hati kalau dia tetap tinggal bersama Ansel. Tak bisa Clara pungkiri jika empat tahun tidak bertemu dengan Ansel tidak membuat perasaannya hilang begitu saja. Justru perasaan itu bertumbuh semakin besar.
Tok ... Tok ... Tok ....
Mendengar suara kamarnya diketuk, Clara menghela napasnya kemudian melangkah menuju ke arah pintu kamarnya untuk membuka pintu. Sesuai dugaan Clara, orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah Ansel.
“Ada apa, Om?” tanya Clara.
Ansel mengerutkan keningnya, bingung karena Clara tidak mengizinkannya masuk ke dalam kamar gadis itu. Ansel semakin merasa kalau Clara benar-benar berubah dan menjaga jarak darinya.
“Kamu yakin ingin tinggal sendiri di rumah orang tuamu?” tanya Ansel sekali lagi, memastikan jika ucapan Clara di meja makan tadi hanyalah bercanda atau tidak.
“Tentu saja.”
“Clara, tidak baik seorang perempuan tinggal sendirian. Apalagi kamu masih memiliki Om. Bagaimana jika ada orang yang berniat jahat kepadamu?”
Clara mendengus keras. “Kenapa baru memikirkan tentang hal itu sekarang, Om? Kenapa Om tidak memikirkan hal itu juga saat Om mengirimku untuk kuliah di luar negeri? Om pikir aku akan selalu aman tinggal di negara yang aku tidak tahu budayanya. Bahkan aku tidak mengenal siapa-siapa saat aku baru pindah ke sana,” cibir Clara.
“Clara, Om melakukan itu semua demi kebaikan kamu. Om ingin kamu mendapat pendidikan yang bagus dan Om percaya kalau di sana jauh lebih aman dari pada di sini.” Ansel menghela napasnya. “Pokoknya Om tidak setuju kalau kamu tinggal sendiri. Memangnya apa yang membuat kamu berpikir kalau kita tidak boleh tinggal bersama?”
“Bukankah itu tujuan Om dari awal? Om mengirimku ke luar negeri dan bahkan mengenalkanku pada kekasih Om padahal Om tahu jelas-jelas kalau aku mencintai Om. Bukankah itu sudah cukup menjelaskan kalau Om tidak ingin aku berada di sini?” tanya Clara sambil tersenyum kecut.
“Clara, aku dan kamu tidak mungkin bisa memiliki hubungan apa-apa,” ucap Ansel.
“Maka dari itu, aku minta Om untuk berhenti mengatur-atur hidupku karena aku sudah dewasa,” ucap Clara lalu menutup pintu kamarnya.
Gadis itu lantas berlari ke kamar mandi, menangis sembari merutuki kebodohannya karena sudah jatuh cinta kepada pamannya sendiri.
Gadis itu perlahan membuka matanya yang sembab. Perlahan ia mengusap air mata yang mengering di pipinya. Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian bangkit duduk sambil menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Menangis cukup lama hingga tak sengaja tertidur membuat kepala gadis tersebut sedikit terasa pusing. Hidungnya pun memerah akibat menangis.
Clara tersenyum kecut sambil memandang ke sekelilingnya. Baru beberapa jam kembali ke kediaman lamanya, Clara sudah merasa tidak nyaman. Rumah yang dulu selalu menjadi tempatnya pulang, kini terasa begitu asing baginya. Entah Clara merasakan itu semua karena memang dia sudah lama tidak tinggal di tempat ini ... Atau karena hubungannya dengan Ansel yang membuat gadis itu berpikir demikian.
Clara pun berguling ke tepi tempat tidur, kemudian berdiri. Dia menarik kembali kopernya dari bawah tempat tidur. Tadi, karena tidak sempat membuka koper, Clara langsung mendorong kopernya masuk. Untung saja dia belum membongkar kopernya, jadi dia tidak perlu susah-susah kalau dia ingin pergi dari kediaman Ansel.
Clara mengambil beberapa barang pribadinya yang waktu itu tidak sempat dia bawa ke luar negeri, lalu memasukkannya ke dalam koper. Tak lupa dia juga membawa sebuah kamera yang dulu selalu dia gunakan untuk mengambil momen-momen penting dalam hidupnya.
Setelah selesai membereskan barang-barang yang akan dia bawa ke kediaman lama almarhum orang tuanya, Clara lalu melirik pada jam dinding yang bertengger manis di tengah-tengah kamarnya. Sekarang sudah pukul tiga pagi, itu artinya dia masih punya waktu untuk beristirahat sebentar sebelum akhirnya pergi.
Clara pun memutuskan untuk tidur sejenak. Dan tepat pukul lima pagi, dia bangun untuk bersiap-siap.
Gadis itu menyingkap tirai kamarnya. Sinar fajar perlahan tampak muncul di ufuk timur. Clara buru-buru mengambil ponselnya untuk menghubungi Mira, sahabatnya.
“Halo, Clara. Ada apa kamu menelepon pagi buta seperti ini? Bukankah kemarin aku sudah minta maaf karena tidak bisa menjemputmu di bandara?” tanya Mira dari seberang sana.
Clara terkekeh kecil. “Aku tidak ingin marah karena kamu tidak bisa menjemputku di bandara, Mira. Tapi, ada sesuatu yang ingin aku katakan,” balas Clara.
“Hm ... Ada apa?”
“Sepertinya aku tidak bisa tinggal di rumah Om Ansel.”
“Apa maksudmu?”
Mira yang tadinya belum sepenuhnya bangun langsung membuka matanya lebar-lebar saat mendengar ucapan sahabatnya itu.
Clara menggigit ujung jarinya. Bingung mau bercerita mulai dari mana. “Nanti aku akan menceritakan semuanya. Tolong temui aku di rumah lama orang tuaku. Kamu masih ingat alamatnya, ‘kan?”
“Iya, aku masih ingat.”
“Kalau begitu, aku akan menunggu kamu di sana. Sampai bertemu nanti, Mira.”
“Sampai bertemu nanti, Clara.”