I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
9



Saat menyenangkan untuk melupakan segala hal adalah hilang kesadaran. Seperti terlelap dalam tidur misalnya, seperti yang saat ini tengah dilakukan Nara. Begitu nyaman dan kelelahan sampai tidurnya membuat tempat tidur nya teracak acak berantakan.


Pukul 06:00.


"Tok.. tok.. tok.."


Ketuk seseorang membangunkan Nara.


"Non, bangun udah pagi. Non Nara bangun non nanti kesiangan lagi loh"


Seru seseorang dengan suara kencang nya, mbo Minah.


Menjeda suara dan ketukan nya, sekedar menempelkan telinganya pada pintu mencoba mendeteksi dengan kamar Nara yang masih begitu hening.


"Masih belum bangun juga"


Gretu mbo Minah menggorek pintu yang ternyata terkunci seperti pagi biasanya.


"Kring... Dretttttt....kring... Dretttttt"


Alaram Nara berbunyi dengan kencangnya.


Nara dengan masih terpejam rapat kedua matanya, meraba mencari keberadaan Alaram yang berada di letakan di atas meja, sekedar Nara mematikan nya dan melanjutkan tidurnya.


"Non?"


Seru mbo Minah memastikan setelah dengan Alaram yang berhenti berbunyi.


"Non Nara"


Seru sekali lagi, dengan kamar Nara yang kembali hening.


"Hhhhh..."


Helai mbo Minah menjadi gregetan.


"NON NARAAaaaaa..."


Teriak mbo Minah dengan suara lantang dengan suara khas nya yang cempreng.


"Brakk..."


Dengan Suara yang didengar begitu mengejutkan membuat Nara terkejud dan terjatuh dari tempat tidur nya.


Mbo Minah diam seketika, dengan tatapan penuh nya setelah didengar suara gebrakan dari dalam kamar Nara.


"A...aw.. aduh.."


Nara yang masih berada terbaring di lantai, kesakitan. Menatap tajam dan sinis nya kearah pintu.


Bangun dan membuka pintu dengan ekspresi yang berbeda menatap mbo Minah.


"Non baik baik aja"


Tanya mbo Minah memastikan dengan ekspresi Nara yang sudah berbeda menatap nya.


"Menurut mbo dibikin kaget sampe jatoh dari tempat tidur akan baik baik aja"


Tanya Nara dengan cemberut, membuat Nara tampak menjadi imut dan menggemaskan.


Mbo Minah tersenyum memperlihatkan deretan giginya, dengan rasa bersalah nya.


"Hhhe.. maaf ya non mbo gregetan lagian non di bangunin ngga bangun bangun, nanti kesiangan lagi kan"


"Hhhhhh.."


Nara menghelai nafas melepas rasa jengkel dan kesal nya kepada mbo Minah.


"Iya iya, Yaudah Nara siap siap dulu ya"


"Uuuuaaaaahhhh... "


Dengan Nara yang kembali menguap.


"Mau mbo siapin sarapan apa non?"


Tanya mbo Minah tersenyum ramah.


Nara menoleh melihat jam dinding, pukul 06:20.


"Ngga usah deh mbo, Nara sarapan disekolah aja ya"


"Kalo gitu mbo turun ya, maafin mbo udah bikin non jatoh"


Nara tersenyum dengan helain tawanya.


"Hhhe.. iya ngga papa mbo"


Nara mandi dan mengenakan pakaian nya, turun dengan mengenakan sendal jepit dengan tas yang ditenteng nya juga dengan rambut yang masih tergulung berantakan.


Mulut nya dengan sering kali terbuka lebar menguap dengan rasa ngantuk yang masih begitu dirasakan.


"Nara berangkat ma"


Pamit Nara kepada mama yang tengah berada di meja makan.


"Ngga sarapan dulu"


Tanya Mama memastikan.


"Nanti aja disekolah, Nara duluan ya ma"


Pamit Nara tersenyum tipis menatap mama.


Mama ikut tersenyum tipis mengangguki.


Dengan diantar mbo Minah sampai di depan rumah.


"Nara berangkat ya mbo"


Pamit Nara tersenyum dengan lebarnya.


"Iya non, yang tadi udah ngga papa kan non?"


Tanya mbo Minah, kembali memastikan tersenyum dengan rasa tidak enak.


"A, aduh, sakit "


Dengan Nara yang tiba tiba memegangi lengannya dengan ekspresi kesakitan.


"Yah non jangan gitu dong, mbo jadi ngrasa bersalah ini"


Mbo Minah yang menjadi ketakutan dengan rasa bersalah nya.


"Hhhehhe"


Nara tertawa menyaksikan mbo Minah dengan ekspresi nya.


"Nara bercanda ko mba, ini ngga kenapa napa, makan nya lain kali suara nya yang langka itu jangan di pamerin"


Ledek Nara kepada mbo Minah.


Nara dan Mbo Minah menjadi tertawa, di ikuti dengan pak Arto yang sudah berdiri memperhatikan.


"Iya non maaf"


"Hati hati ya non"


Nara tersenyum manis begitu hangat dengan mengangguki nya.


Pak Arto membukakan pintu mobil untuk majikan mudanya.


"Makasih ya pak"


Seru Nara setelah pintu mobil dibukakan untuknya.


Pak Arto hanya tersenyum tipis menatap Nara.


Di dalam mobil Nara menyadarkan kepala nya dan mulai terpejam.


"Nara mau tidur sebentar ya pak, nanti kalo udah sampe bapak bangunin Nara"


Nara yang kembali membuka matanya sekedar menatap Pak Arto.


"Baik Non"


Angguk pak Arto mengiyakan.


Nara tersenyum dan kembali memejamkan matanya.


Setelah sampai pak Arto menoleh kebelakang membangunkan Nara.


"Non, sudah sampai"


Seru pak Arto pelan untuk tidak mengagetkan Nara.


"Mmm?"


Seru Nara masih dengan matanya yang terpejam, sekedar mendengarkan suara pak Arto belum dengan kesadaran sepenuhnya.


"Sudah sampai di depan sekolah non Nara"


Perjelas pak Arto.


Nara melebarkan tatapan nya, menoleh sekedar memastikan nya.


"Ah iya pak, Nara siap siap dulu ya"


Dengan matanya yang dirasa masih begitu berat.


Pak Arto keluar menunggu Nara untuk bersiap siap.


Seperti sebelumnya, Nara selalu membawa tas kecil dalam tas sekolah nya yang berisikan makeup sederhana nya. Sunscreen, bb cram, bedak tabur, pensil alis dan lipstik warna bibir.


Setelah menata dan merias wajahnya, Nara merapihkan rambut dan mengenakan sepatunya, lengkap dengan parfum yang di semprotkan di baju dan rok nya.


Nara keluar dari mobil dengan pak Arto yang membukakan pintu nya.


"Makasih pak"


Ucap Nara selalu setiap kali pak Arto membukakan pintu mobil untuk nya.


"Nanti mau saya jemput non?"


Tersenyum tipis,memastikan.


"Kaya biasa aja ya pak, kalo saya belum kabarin bapak jangan jemput dulu"


"Baik non"


Seru pak Arto dengan menutup pintu.


"Kalo gitu saya duluan ya pak"


Pamit Nara sebelum meninggalkan pak Arto.


"Silahkan non"


Baru beberapa langkah menjauh dari pak Arto seseorang datang dan langsung merangkul Nara.


"Yudi!"


Seru Nara menghentikan langkahnya, menoleh dengan keberadaan seseorang yang saat ini berada merangkulnya.


"Pagi Nara yang cantik"


Sapa Yudi begitu manis diantara ekspresi nya yang tengil dengan mencolek dagu Nara dengan satu jarinya.


"Yudi lo apaan sih"


Menoleh dengan cepat, menghindari tangan Yudi yang akan menyentuhnya.


"Apaan apanya ? Emang lo ngga kangen apa sama gua? Gua kangen banget loh sama lo"


Jelas Yudi semakin mendekatkan wajahnya kepada Nara.


Nara menjauh wajah nya sekedar menghindari wajah nya Yudi yang dibuat menjadi begitu dekat dengan nya.


"YUDI!"


Hentak Nara melepaskan paksa tangan Yudi yang berada merangkulnya.


"Lo ngga tau ini sekolah, jaga sikap lo"


Pertegas Nara dengan tatapan tajam dan ekspresi untuk tetap tenang.


"Ahhh... jadi lo malu karna ini sekolah"


Yudi yang menjadi tersenyum sinis menatap Nara.


"Jadi perlu kita jalan dan cari tempat yang lebih menyenangkan"


Yudi kembali mendekatkan wajahnya sekedar untuk berbisik ditelinga Nara. Dengan tengil nya, dengan ekspresi yang dipenuhi senyuman di wajahnya.


Hal yang sangat tidak Nara sukai dari Yudi adalah cara Yudi yang menatap dan memperlakukan dirinya. Layak nya seseorang yang menatap mainan yang sekedar dimainkan untuk bersenang-senang.


"Yudi stop, brenti buat bersikap kurang ngajar sama gua, gimana pun juga gua udah jadi ade lo"


Nara yang mulai habis kesabaran.


"Hhhhhehe...Ade"


Yudi menjadi tertawa dengan apa yang dikatakan Nara.


"Tapi gua maunya lo bukan jadi ade gua, tapi jadi pacar gua, gimana?"


"Hhhhhhh.."


Nara menghelai nafas, dengan dadanya yang dirasa mulai sesak dirasakan. Menghadapi dan meladeni Yudi benar-benar menguji kesabaran nya.


Yudi kembali mendekatkan wajahnya kepada Nara dan kembali berbisik ditelinga nya.


"Sama sama bisa nikmatin kekayaan bokap gua kan"


Nara terpaku kaku, kedua tangan nya mencengkram erat rok nya. Apa yang dikatakan Yudi barusan benar benar sudah keterlaluan, sudah sangat menyakiti nya. Sayang nya Nara hanya dapat diam karna apa yang dikatakan Yudi adalah kebenaran, Yudi hanya sekedar memperjelas nya.


Tidak berarti apa apa rasa sakit, perih yang dirasakan hanya sekedar kenyataan yang menjadi benar adanya. Tampak bodoh, ketika seseorang menancap kan sebuah pedang namun hanya diam dan membiarkan. Terus seperti itu lantas akan dengan apa dan seperti apa luka luka yang sebelumnya dapat terobati.