
Yudi yang tersenyum mengangguki dan masuk kedalam mobil dan tersenyum manis kepada Nara. Memperhatikan Nara dengan ekspresi jengkel yang diperlihatkan kepada nya.
"Pagi Nara cantik"
Seru Yudi dengan sapaan manis dan dengan jemari nya yang mencolek dagu Nara seperti biasa.
"Yudi!"
Seru Nara dengan kebiasaan Yudi yang membuat nya merasa tidak nyaman dan sangat menyebalkan.
Yudi diam memperhatikan Nara dengan tatapan tajam nya, menjadi tidak senang dengan Nara yang menyeru dengan nada tinggi kepadanya.
"Kita langsung berangkat aja ya, oke"
Minta Nara dengan menahan dirinya, tidak ingin menjadikan Yudi tidak terkendali dengan perasaan tersinggung hanya sekedar gentakan nya barusan.
"Oke, kita berangkat tapi setelah gua liat senyum lo"
Yudi yang kembali normal, dengan pribadi tengil dan senyum tipis memperlihatkan tampang brengsek dari wajah tampan nya.
Seperti terperangkap, terkurung dalam sangkar, jika tidak ingin terluka ya harus patuh dengan yang berkuasa atau dengan tuan pemilik nya. Seperti ini lah kehidupan yang harus dijalani Nara.
"Mmm"
Nara tersenyum,menarik paksa kedua sudut bibirnya.
"Nah kalo senyum gitu kan cantik"
Seru Yudi tersenyum lebar, sebelum melaju kencang dengan mobil mewah nya.
Nara menghelai nafas dan menyandarkan kepalanya, berada bersama Yudi dan hal gila yang pernah Yudi lakukan kepada nya adalah mimpi buruk yang selalu berada menjadi nyata yang harus Nara jalani. Sedangkan berada menjadi saudara, adik tirinya dan memiliki ayah seperti Aron adalah takdir buruk yang harus dijalani Nara.
Kuat atau tidak, mau tidak mau, seperti ini adanya, segala yang tertata dan di tata Tuhan semua berada untuk hidup dan keberadaan Nara di bumi.
Nara melebarkan tatapan nya, menegakan posisi duduknya setelah disadari jalan yang dilewati berbeda dengan jalan yang biasa Nara lewati bersama pak Arto.
Jalanan panjang dipenuhi pepohonan dan rerumputan disisi sisi jalanan nya, jalanan yang saat ini berada di lalui Yudi dan Nara.
"Yud, Yudi, ini kenapa lewat sini?"
Nara yang menjadi panik dan ketakutan, dengan hal gila yang mungkin saja berada dipikirkan Yudi.
"Lewat sini emang sedikit lebih jauh, tapi ngga akan kena macet"
Jawab Yudi dengan tersenyum sinis melirik Nara.
"Hhhhh..."
Helai Nara dengan tubuhnya yang mulai gemetar ketakutan dengan prasangka nya.
"Lo ngga akan berulah kan, ngga akan nglakuin hal gila itu lagi kan Yud?"
Seru Nara dengan pertanyaan nya.
Dttt...
Yudi yang tiba tiba menginjak rem mobil nya, menjadi tertawa dengan apa yang dipertanyakan Nara, seolah ada yang menjadi lucu untuk nya.
Menoleh kepada Nara dengan mengulurkan tangan, mengusap rambut Nara dengan tawa dan senyum lebar nya dengan wajah nya yang berada dibuat semakin dekat dengan Nara.
"Hal gila itu, maksud kamu apa sayang?"
"Yudi"
Seru Nara menggelengkan gelengkan kepala nya, mengartikan Yudi untuk tidak lagi melakukan hal gila kepada nya.
"Husssss"
Pelan Yudi dengan meletakkan satu jari telunjuk nya untuk berada di bibir Nara, mengartikan Nara untuk diam.
Nara mencoba membuka pintu mobil, tetapi terkunci.
"Yudi buka pintu nya sekarang, gua mau turun!"
"Hisss, kenapa buru buru sih? Kita seneng seneng dulu ya disini"
Sudah berada dengan keinginan nya yang kotor, Yudi membelai rambut dan wajah Nara dengan lembut dan hasrat nya.
"Yudi jangan kaya gini gua mohon, gimana pun juga gua udah jadi adik lo apa yang lo lakuin ini salah, plis buka pintu nya dan biarin gua turun sekarang"
Nara memejamkan matanya, gematar ketakutan dengan rasa jijik dan muak dengan apa yang saat ini tengah Yudi lakukan kepadanya.
"Kan aku udah pernah bilang sama kamu Nara, aku itu ngga mau kamu jadi adik aku, maunya kamu jadi pacar aku"
Kali ini setelah dengan kata katanya, Yudi mengaitkan tangan nya untuk berada pada lehar Nara dan membawa Nara berada mendekat kepadanya.
"Brkk.."
Nara mendorong Yudi dengan kencang nya, mengulurkan tangan nya untuk mencapai tombol yang membuka pintu mobil. Setelah berhasil menekan nya Yudi mendorong Nara dengan kasarnya menahan nya untuk Yudi dapat mencium Nara. Tidak ingin menjadikan kesalahan yang sama terulang untuk kedua kalinya, Nara berusaha sekuat tenaga untuk menahan diri nya untuk tidak berada jatuh dalam kesalahan yang sama.
Mendapatkan perlawanan oleh Nara menjadikan Yudi semakin geram, menjadikan dirinya memperlakukan Nara dengan sangat kasar untuk dapat memenuhi keinginan nya.
Afka melaju dengan mengendarai mobilnya sendiri, mobil mewah warna hitam. Tidak menyukai kemacetan membuat Afka sering kali melewati jalan pintas, seperti sekarang ini. Jalan yang sering kali dilewati saat akan berangkat sekolah, meski sepi dan rawan begal tapi Afka masih tetap melewati nya.
Setelah melaju sampai dipertengahan jalan, mobil nya melambat dengan keberadaan mobil yang berhenti dipinggir jalan, mobil yang diketahui adalah milik Yudi.
Tidak ingin berada pusing memikirkan atau ikut campur dengan manusia bernama Yudi menjadikan Afka melaju dan melanjutkan perjalanan nya.
"Brtt.."
Dengan geram nya Yudi menarik seragam Nara dengan paksa menjadikan bagian dadanya terbuka dengan seragam nya yang menjadi robek dengan apa yang Yudi lakukan.
Nara tercengang, dengan apa yang Yudi lakukan saat ini, dengan telapak tangan nya Nara menutup begian dadanya yang terbuka.
"Ddggg..."
Melampiaskan kekesalan nya Nara mendorong Yudi lebih kencang dan bertenaga menjadikan Yudi berada terjedot kaca mobil disisi nya.
"Aw, his sial, cewek ngga tau di untung!"
Menatap Nara dengan tajam dan dengan kemarahan nya.
Nara membuka pintu dan berlari keluar, tapi Yudi mengejarnya, menarik tangan nya dengan begitu keras.
"Mau kemana sayang, hah? Jangan kaya gini, kalo kamu nurut aku ngga akan kasar"
Saat jarak nya sudah cukup jauh dari keberadaan Yudi, tiba tiba tatapan Afka berada melihat spion yang memperlihatkan dengan jelas seorang perempuan turun dari mobil Yudi, yang Afka lihat dengan jelas itu adalah Nara.
Melihat Yudi yang kemudian turun mengejar dan menarik tangan Nara dengan paksa, menjadikan Afka menginjak rem nya begitu saja. Menarik gas nya untuk melaju mundur dengan kencang.
"Yudi lepasin gua, lo gila, lo orang tergila yang pernah gua temuin! Gimana bisa gua bersodara dengan orang kaya lo? Dan bahkan nyokap gua bisa nikah dengan bokap lo yang ngga jelas dengan semua nya, pekerjaan nya, asal usul nya. Sama ngga jelas nya dengan lo!"
Gumam Nara dengan kalimat nya yang cukup panjang, mencurahkan rasa yang semula berada ditahan nya di waktu yang tidak sebentar.
"Heh, bilang apa lo? Ngga salah ngomong lo barusan? Lantas gimana dengan lo dan nyokap lo yang murahan dan mata duitan"
Balas Yudi dengan tatapan tajam dan emosi yang sudah berada memanas di puncak nya, siap meledak dan terlampiaskan dengan hebat.
"Jaga bicara lo, tau apa lo soal gua dan nyokap gua hah?"
Menjadi sakit dan begitu terluka dengan kata kata yang Yudi katakan, seolah benar menggambarkan dengan seperti apa Nara dan Kyra, mamanya. Tapi tetap saja Nara tidak menyukai dengan gambaran itu, dengan apa yang Yudi katakan, meski benar adanya, tetap salah untuk Nara. Menjadikan air mata Nara mulai berjatuhan, setelah dengan susah payah berada ditahan nya akhirnya jatuh juga hanya dengan pemaparan dari apa yang menjadi kenyataan. Nara terlalu malu dengan itu semua, dengan kenyataan yang ada dan dengan dirinya sendiri.
Keberadaan seseorang tiba tiba datang, menarik tangan Yudi dengan paksa untuk berada melepaskan tangan Nara.
"Afka"
Seru Nara dengan kedua mata yang berada terisi penuh dengan kacaan yang masih berada ramai menetes berjatuhan.
Afka menatap Nara yang berada kacau berantakan terlebih dengan seragam nya yang robek.
Tatapan nya teralihkan untuk menatap Yudi.
"Tadinya gua ngga mau ikut campur, tapi setelah tau dengan apa yang lagi lo perbuat bikin gua ngga bisa diem gitu aja"
Seru Afka berbasa basi dengan keberadaan nya yang datang tiba tiba.
"Hhhhhh.."
Helai Yudi dengan tawa yang mengikuti.
"Lo pikir lo siapa bisa campurin urusan orang gitu aja hah?"
Berada mengepal tangan nya dengan erat siap meninju Afka dengan kencang nya.
"Gua Afka, dan gua berhak atas apapun yang menurut gua perlu untuk gua ikut campur. Meski gua harus berhadapan dengan orang kaya lo"
Lanjut Afka dengan datar nya dan dengan tatapan tajam nya.
"Banyak bacot lo anjing!"
Yudi menyerang Afka dengan kepalan yang berada di arahkan di wajah nya.
Afka menghindari nya, menjadikan posisi nya menjadi sangat pas untuk mengayukan tendangan nya.
"Bggg..bggg..bgg..
Tendangan kuat pun mendarat beberapa kali dengan sangat kencang di perut Yudi.
"aaa.."
Gretu Yudi kesakitan, sudah berada terjatuh memegangi perutnya.
"Kalo masih ditakutin cuman karna uang jangan kebanyakan gaya, gini kan akibat nya"
Seru Afka berada dekat berbicara dihadapan Yudi.
Pria yang mengandalkan uang untuk menjadikan banyak orang untuk patuh dan takut kepadanya ya Yudi orang nya, dan seperti ini akibat nya.
Afka berada menghampiri Nara, melepaskan jaket yang dikenakan nya untuk menutupi dadanya yang terbuka.
Beranjak masuk kedalam mobil sekedar mengambilkan tas Nara yang masih berada didalam mobil.
Setelah keluar dengan tas yang ditentang nya Afka keluar merangkul Nara.
"Satu hal lagi, jangan coba coba buat gangguin Nara karna dia pacar gua, berani lo sentuh dia, lo akan dapetin hal yang lebih dari pada ini"
Menahan langkah nya sekedar memberikan peringatan kepada Yudi dengan tegasnya.
Apa yang didengar Nara barusan menjadikan keterkejutan nya berkali lipat, menatap Afka dengan tatapan yang berbeda.
"Pacar lo bilang, hhhhhh...."
Gumam Yudi dengan rasa sakitnya yang tengah ditahan nya.
"Kalo cuman buat seneng seneng lo bener milih dia, tapi kalo buat serius gua saranin jangan cwe kaya dia deh"
Lanjut Yudi dengan gumamnya dan dengan tawa yang masih dapat diperlihatkan dengan rasa sakit yang tengah dirasakan nya.
"Hhhhhh.."
Helai nafas Nara dengan sesak nya, dan dengan kacaan air mata yang kembali ramai berjatuhan.
"Ngga usah di dengerin, abaikan aja"
Seru Afka berada membawa Nara yang berada dalam rangkulan nya.