
Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah panti jompo Afka diikuti dengan Nara turun dan masuk ke bagian resepsionis.
"Selamat siang mas Afka"
Sapa seorang pegawai Perempuan dengan sopan dan ramah nya. Sudah tau dan mengenal Afka karna kunjungan Afka dengan sering kali.
"Siang, saya mau ketemu Omah"
Perjelas Afka dengan kedatangan nya.
"Saya pastikan dulu, mas Afka tunggu sebentar ya"
Pegawai resepsionis yang akan mengecek terlebih dulu dengan keadaan Omah nya Afka. Takut nya sedang dengan kondisi tidak baik atau tengah beristirahat.
Setelah dengan menelfon bagian petugas didalam,Afka di perbolehkan masuk di ikuti Nara. Berada menghampiri seorang nenek yang tengah duduk di kursi roda di halaman berbunga di depan kamar nomor 111.
Meski sudah tua dengan wajah yang dipenuhi kripiutan Omah nya Afka masih terlihat cantik dan beraura. Nara yang berada melihat nya pertama kali pun dibuat tersipu kagum melihat nya.
Berada tersenyum lebar memperhatikan Omah nya Afka dengan rambut yang sudah sepenuhnya putih dan dengan sorot mata yang tidak kalah indah nya dari Afka atau bahkan lebih indah Omah dibandingkan Afka.
"Omah"
Seru Afka memeluk Omah.
"Kamu dateng, Omah udah kangen sama kamu Afka"
Peluk Omah terhadap Afka dengan sangat erat nya.
Berada seperti orang yang semula kesepian dan tengah meluapakan dengan rindu nya.
"Maafin Afka Omah"
Sudah berada melepaskan pelukannya dengan kedua pipi yang saat ini berada dipegangi dengan kedua tangan Omah yang sedikit gemetar. Tangan nya yang kasar penuh keriputan dirasakan Afka hangat penuh kasih sayang didalam nya.
"Ngga papa Afka, kamu udah dateng sekarang Omah juga udah seneng ko"
Omah yang mengurai senyum di wajah cantik natural nya.
"Siapa Afka?"
Tanya Omah dengan tatapan yang berada menatap Nara yang tersenyum lebar kepadanya.
"Ini_"
Baru akan menjelaskan keberadaan Nara, tapi sudah lebih dulu di serobot untuk mengenalkan dirinya sendiri.
"Hallo Omah saya Nara teman satu sekolah dan satu kelas nya Afka"
Nara yang mengulurkan tangan nya untuk dapat menyalimi Omah.
"Saya Omah nya Afka"
Tersenyum Omah dengan lebarnya saat tangan nya berada di salimi Nara.
"Cantik sekali kamu, ada keturunan luar"
Lanjut Omah setelah berada jelas dengan jarak yang dekat untuk memperhatikan Nara.
"Terimakasih Omah, saya ngga tau karna mama dan ayah udah lama berpisah dan Nara belum pernah tau dan belum pernah ketemu"
Jelas Nara masih dengan senyum yang berada dengan lebarnya. Meski dengan menjelaskan ini sebenarnya menjadikan perasaan tidak baik dirasakan nya.
"Maaf ya,Omah ngga tau"
Rasa bersalah dengan pujian dan pertanyaan yang malah menjadi singgungan untuk gadis cantik di hadapan nya saat ini.
"Ngga papa Omah. Ini Afka tadi beliin ini buat Omah, Roti kesukaan Omah. Katanya Omah suka sama roti ini"
Sodor Nara dengan kantong berisikan roti yang sebelumnya di belikan Afka dan Nara. Berada dengan basa basi karna Nara yang merasa nyaman berada dan berbicara dengan Omah.
Omah tersenyum lebar dengan tatapan indah nya, sembari menerima sodoran Nara kepadanya.
"Kamu punya ketulusan dan kesedihan di dalam mata kamu, gadis cantik"
Seru Omah dengan gumanya setelah memperhatikan kedua mata Nara dengan senyum lebarnya.
Nara terpaku, terdiam dengan gumam yang berada benar dengan adanya.
"Omah bisa tau itu?"
Cetus Nara mempertanyakan hal tidak terduga yang Omah katakan akan apa yang banyak orang tidak mengetahui nya.
"Omah bisa liat itu dari tatapan kamu, senyum kamu, semua memperjelas nya"
Seru Omah memperjelas, tersenyum dengan sorotan mata yang begitu hangat.
Afka berada diam memperhatikan obrolan dan tatapan keduanya.
Nara tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya.
"Jadi Afka memiliki mata yang indah dan cara menatap seseorang dengan tatapan berbeda itu karna menurun dari Omah nya"
Cetus Nara dengan ungkapan nya, berada menatap Afka sesaat untuk kembali melihat indah kedua matanya.
"Mm, hanya Afka yang menuruni"
Omah yang mengangguki nya
"Jadi menurut lo gua punya mata yang indah?"
Seru Afka mempertanyakan nya.
Nara menoleh menatap Afka tersenyum dengan mengangguki nya.
Afka terpaku melunturkan senyumnya, menjadi canggung dengan Nara yang berada tersenyum dan mengangguki, mengiyakan dengan jujurnya.
"Omah ayo kita masuk, diluar udara nya lagi dingin"
Seru Afka mengalihkan, mendorong kursi roda Omah untuk berada masuk kedalam kamarnya.
Nara melebarkan tatapannya, memiringkan kepalanya menjadi terheran dengan Afka yang menjadi canggung dan bergelagat aneh.
"Kamu suka sama Nara"
Tanya Omah pelan dengan kursi roda yang tengah didorong Afka.
"Omah"
Seru Afka dengan lembut.
"Omah bisa liat cara kamu menatap nya"
Perjelas Omah setelah melihat tatapan Afka kepada Nara.
"Nara duduk sini sama Omah"
Omah menepuk kursi yang berada disebelah nya untuk Nara dapat berada duduk disamping nya.
Nara tersenyum mengangguki, beranjak duduk di sebelah Omah.
Omah menarik tangan Nara untuk dapat digenggamnya.
"Kamu tau apa itu perasaan?"
Tanya Omah kepada Nara.
"Mmmm.. Perasaan itu hal yang dirasakan didalam hati seseorang, Omah"
Jawab Nara dengan sepengetahuan nya.
"Hari ini Omah baru ketemu kamu, tapi Omah udah merasakan dalam hati Omah akan kenyamanan yang kamu ciptakan, cantik"
Perjelas Omah dengan mengusap rambut Nara dengan pelan nya, dengan tangan dan jari jemari yang sedikit gemetar.
"Tapi Nara bukan orang baik Omah, banyak cacat dan celah yang Nara miliki"
Perjelas Nara akan seperti apa dirinya, mengutarakan nya membuat kedua matanya menjadi berkaca.
Berada mendengar ucapan Nara menjadikan tatapan Afka kembali berbeda menatap nya. Setiap kali melihat atau mendengar sesuatu akan kesedihan yang Nara rasakan menjadikan Afka iba melihat nya.
"Tidak ada satu orang pun yang benar menjadi baik, tapi ada yang menjadikan kamu berbeda, ketulusan. Kamu punya itu gadis cantik"
Lanjut Omah dengan gumam penjelasan akan apa yang dilihat dan dirasakan nya dari keberadaan dan sosok Nara saat ini.
Nara berada diam tersenyum lebar dengan kacaan air mata, melepaskan tangan nya dari Omah dan memeluk nya.
"Makasih banyak, Omah"
Seru Nara dengan Omah yang berada dalam pelukan nya.
Setelah dengan melepaskan pelukannya, Nara membukakan sebungkus roti untuk disodorkan kepada Omah.
Omah tersenyum menerima sodoran roti yang sudah Nara bukakan untuk nya.
Merobek membagi dua, memberikan sebagian roti yang sudah dibagi dua kepada Nara.
"Buat Nara, Omah?"
Tanya Nara memastikan setelah berada meraih nya.
Omah tersenyum mengangguki nya.
"Makasih, Omah"
Seru Nara sebelum ikut memakan roti nya.
Afka tersenyum menatap Nara. Tau dengan perut Nara yang sebenarnya sudah begitu begah kekenyangan karna hampir menghabiskan roti roti yang sebelumnya sudah dibelikan nya. Tapi Nara masih menerima dan memakan roti yang Omah berikan, tanpa menolak ataupun berbasa basi untuk menolak nya.
Benar dengan yang Omah katakan akan ketulusan yang Nara miliki.
Tapi sayang nya ketulusan itu berada hanya dengan dirinya yang tau, orang lain hanya sekedar tau tanpa mengerti dengan ketulusan itu sendiri.
Sayang nya dia berada dimana orang-orang menatap nya bukan dengan Nara yang sebenarnya, tapi dengan Nara yang berada terbungkus didalam peran nya agar Nara dapat dipandang kuat dan baik baik saja.
Untuk Nara atau bahkan untuk beberapa orang yang sama dengan apa yang Nara lakukan, mereka melakukan itu bukan tanpa alasan. Mungkin saat berada terbuka dengan seperti apa dirinya, dia merasa takut atau malu. Atau bahkan saat seseorang berada mampu menjadi terbuka tidak ada orang yang mau mendengarkan, menatap atau bahkan memperdulikan nya.
Setelah menemani Omah seharian sampai menemani Omah tertidur Afka dan Nara baru beranjak keluar dari kamar dengan pelan nya agar tidak membangunkan Omah.
"Afka?"
Seru Nara menoleh memperhatikan Afka yang berada di sampingnya dalam langkah yang sama.
Afka menghentikan langkahnya menoleh mendengarkan dengan apa yang Nara akan katakan.
"Boleh tanya tanya soal Omah?"
Berbasa basi lebih dulu dengan keinginan Nara untuk menanyakan beberapa hal mengenai Omah. Lebih dulu memastikan tau dengan karakter Afka yang serius, takut jika nanti pertanyaan nya dapat menyinggung nya.
Afka mengangguki dengan ekspresi datar nya.
"Kenapa Omah di taro di panti Jompo?"
Nara dengan lontaran pertanyaan nya.
"Kalo lo ngga mau jawab ngga papa, gua ngerti ko ini kan masalah pribadi ngga seharusnya gua tanya ini"
Memperhatikan Afka yang diam tidak menjawab menjadikannya merasa tidak enak.
"Omah dianggap sebagai orang aneh dirumah"
Seru Afka menjawab, diam nya karna tengah menata dari mana akan menjelaskan nya dan dengan seperti apa menjelaskan nya.
"Dia berbeda, dia punya cara tersendiri untuk menatap dan menilai seseorang. Omah terlalu terbuka dengan itu, dia selalu berbicara dengan apa yang dilihat dan dinilai nya. Menjadikan orang-orang dirumah atau dikelilingi nya merasa tidak nyaman dan akhirnya menjadikan Omah sebagai orang aneh atau setengah gila"
Lanjut Afka menjelaskan dan menceritakan kepada Nara.
"Bukan nya itu hal yang jarang dimiliki orang lain, itu mukjizat. Lantas gimana bisa Omah disebut aneh"
Tutur Nara tidak memahami nya.
"Lo bisa bilang kaya gini karna dimata Omah lo orang baik, tapi untuk beberapa orang atau banyak orang yang dilihat dan di tatap Omah sebagai orang jahat dan menakutkan mereka yang tidak menerima itu akan menjadi marah dan menganggap Omah itu orang aneh"
Afka yang menjadi meninggikan nada suara nya. Apa yang diujarkan Nara sebenarnya sama dengan yang berada dipikirkan nya. Hanya saja Afka bersikeras menyalahkan pemikiran nya dan dengan apa yang Nara ujurkan kali ini. Dengan begitu Afka tidak perlu membenci kedua orang tuanya yang sudah membuang Omah ketempat ini.
"Gua tanya, apa lo juga menganggap Omah aneh hanya karna apa yang dia miliki?"
Tanya Nara dengan tatapan dan ekspresi nya yang menjadi serius setelah dengan Afka dan nada tinggi nya.
Afka terdiam tertunduk dalam tatapan nya, bingung dengan apa yang akan dikatakan nya.
"Sekalipun dimata Omah gua bukan orang baik dan dianggap jahat dan menakutkan sekalipun, gua ngga akan menganggap Omah aneh atau gila jika pada dasarnya apa yang Omah lihat itu seperti apa adanya"
Pertegas Nara dengan kata-kata nya.
Afka mengangkat pandangan nya dan menatap Nara. Kali pertama dengan seseorang yang mempertegaskan dengan apa yang sebenarnya berada sama dengan yang ada terkubur di hatinya.
"Jadi jangan lo mengakui kalo Omah adalah orang aneh, bahkan lo juga memiliki kemampuan itu, itu mukjizat, Afka"
Setelah terdiam beberapa saat, Afka tersenyum tipis mengangguki nya. Semua kata kata yang Nara katakan menjadikan Afka tau dengan seperti apa rasa nya dan dengan apa yang harus di lakukan nya.
"Makasih, Nara"
Nara tersenyum lebar mengangguki nya.