I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
19



Berada membukakan pintu, dan membantu Nara untuk duduk kedalam mobil. Setelah nya membawa Nara melaju dengan kencang. Afka diam hanya memperhatikan dengan sesekali. Niat nya memberikan sedikit waktu untuk Nara dapat menenangkan dirinya.


Sedangkan Nara tengah terpaku diam dengan tatapan nya yang kosong.


Tengah berada menahan air mata yang bersorak ramai meminta untuk dikeluarkan agar dadanya merasa lega.


Disisi lain nya Nara juga tengah menahan diri dengan apa yang baru saja terjadi kepadanya. Jika kembali di ingat dengan apa yang Yudi akan lakukan kepadanya, dan dengan semua lontaran kalimat yang Yudi katakan benar benar membuat nya sangat hancur saat ini.


"Hhhhh...hhhh...hhhh.."


Nara menghelai nafas, menarik nafas panjang dan begitu untuk beberapa saat setelah dengan matanya yang sudah menjadi berkaca kaca.


Afka menghentikan mobilnya, bergegas turun sekedar membelikan sebotol air mineral untuk Nara.


"Lo minum dulu ya"


Setelah Afka kembali masuk, membukakan botol minuman yang sudah dibelinya dan menyodorkan nya kepada Nara.


Nara meraih nya, memegangi nya dengan tangan yang masih gemetar.


Afka memegang tangan Nara untuk membantu nya minum.


"Hhhhh... hhh..."


Setelah dengan beberapa tenggak air yang diminum nya, Nara kembali menghelai nafas untuk menahan dirinya.


Saat ini yang Nata ingin lakukan adalah berlari keluar mencari tempat dimana dirinya dapat sendiri seorang diri dan menangis menumpahkan dan meluapakan semuanya. Tapi masih harus berada ditahan nya mengingat dengan keberadaan Afka dan dengan dirinya yang masih berada di peran yang harus dimainkan nya.


Afka meletakkan botol nya, dan mengarahkan kedua matanya hanya untuk memperhatikan Nara. Saat ini Afka memahami Nara yang tengah syok dan ketakutan dengan apa yang baru saja di alami nya.


"Nangis aja jangan ditahan"


Seru Afka, tau dengan Nara yang berada menanahan dan tengah menyembunyikan air mata dan kesedihan nya.


Dengan kalimat singkat yang Afka katakan menjadikan pertahanan Nara buyar seketika. Merasa terhanyut dengan kalimat singkat yang seolah mewakili atas Afka yang memahami dirinya saat ini.


Dengan air mata yang mulai berjatuhan, dengan Nara yang sibuk menghapus setiap air mata yang berada jatuh dipipinya. Entah apa alasannya, mungkin ini kali pertama Nara berada menangis di hadapan seseorang.


"Hhhhh..."


Kali ini Afka yang berada dengan helain nafas nya dengan ekspresi pasrah nya, karna memperhatikan Nara seperti sekarang ini membuat nya berada memikirkan satu hal untuk menjadikan Nara lebih tenang, atau setidaknya membuat Nara dapat mencurahkan semua nya dengan lebih leluasa.


Afka menarik Nara untuk berada didalam pelukan nya.


Dan ini adalah kali pertama ada perempuan selain ibu dan nenek nya yang berada dalam pelukan nya. Rasanya benar benar canggung dan sangat tidak nyaman, tapi apa boleh buat Afka tidak dapat membiarkan Nara terus berada seperti ini terlalu lama.


Dalam dekapan Afka dan dengan tangan Afka yang menepuk pundak Nara dengan pelan menjadikan Nara meluapakan semua kesedihan nya, memberikan kebebasan untuk semua air mata berada keluar dari matanya.


Setelah cukup lama berada menangis dalam pelukan Afka, Nara melepaskan dirinya dan mengusap jejak jejak air mata.


"Gua minta maaf, ngga seharusnya gua memperlihatkan keadaan gua yang lagi kaya gini"


Seru Nara dalam tatapan nya yang tertunduk.


"Lo udah jauh lebih baik sekarang?"


Tanya Afka mengalihkan.


Nara mengangkat pandangan nya menatap Afka dengan tatapan yang berbeda.


Mengangguki tanpa ekspresi atas pertanyaan yang Afka pertanyakan.


"Gua boleh minta satu hal lagi?"


Tanya Nara dengan lirih.


Afka menatap Nara, dan mengangguki nya.


"Pliss, jangan bilang ke siapapun dengan kejadian ini, dan dengan apapun yang lo tau saat ini. Gua mohon.


Minta Nara dengan begitu berharap atas ketakutan yang saat ini berada ditakuti nya.


Afka mengangguk kembali, mengiyakan atas apa yang menjadi keinginan Nara.


"Kenapa lo bisa satu mobil sama Yudi, bukan nya lo udah tau gimana Yudi"


Nara teridiam berada dalam tatapan Afka, tidak tau harus mengatakan yang sebenarnya atau tetap diam dan membiarkan Afka beranggapan jika Nara perempuan murahan yang akan dengan gampang nya masuk komobil dan bersama seseorang, terlebih Yudi orang nya, seseorang yang sudah dikenal satu sekolah akan kebrengsekanya.


"Ngga papa kalo emang lo ngga mau cerita"


Seru Afka tidak memaksakan Nara untuk mengatakan yang sebenarnya, setelah melihat Nara yang diam dan malah menatap nya.


"Dia Kaka tiri gua!"


Seru Nara mengatakan yang sebenarnya. Ada yang tiba tiba berada menjadi keinginan Nara. Nara tidak ingin dirinya berada buruk dalam pandangan Afka atau sekedar dalam prasangka nya.


"Nyokap gua nikah dengan bokap nya Yudi. Gua ngga serumah sama dia, tapi hari ini supir gua pak Arto dia ngga masuk karna harus jagain anak nya dirumah sakit. Tanpa sepengetahuan gua nyokap gua telfon Yudi buat jemput gua. Karna gua ngga mau ribut sama nyokap gua akhirnya gua mau mengiyakan buat berangkat bareng sama Yudi"


Jelas Nara dengan detail nya, dengan tangisan yang kembali berada menjatuhkan air mata nya.


Aneh nya setelah dengan apa yang didengar dari cerita yang Nara katakan menjadikan Afka berada merasakan bagaimana sakit nya, menjadikan sudut matanya berkaca.


"Nyokap lo ngga tau, orang kaya apa Yudi?"


Tanya Afka memastikan nya.


Nara hanya menggelengkan kepalanya, menutup kedua matanya dengan satu telapak tangan.


Rasa penasaran dengan seperti apa Nara sebenarnya membawa Afka berada tau dengan ini semua. Hal hal yang saat ini menjadikan Afka memahami dan mengerti.


"Maaf lo harus liat apa yang seharusnya ngga lo liat dari gua"


Seru Nara ada yang disesali, dengan Afka yang harus tau dengan seperti apa keadaan Nara saat ini.


"Mmmm, ngga masalah"


Jawan Afka dengan mengangguki nya.


"Sesekali lo emang perlu buat terbuka, dan cerita dengan beberapa hal nya. Jangan menjadi seseorang yang menutup rapat akan banyak hal nya"


Lanjut Afka menasihati Nara dengan kalimat bijak nya.


Nara diam, sekedar mengangguki nya.


Bingung harus berkata seperti apa, jika kembali dijelaskan rasanya semua akan semakin panjang.


Afka tidak tau dengan Nara yang merasa dirinya yang seperti berada di asingkan di tempat keberadaan nya sendiri, lantas bagaimana mungkin dirinya dapat terbuka, dengan siapa mampu untuk bercerita, lantas siapa yang akan dapat memahami dan mengerti dirinya.


Afka melupakan satu hal, nasihat nya barusan. Afka sendiri pun menjadi pribadi kaku yang tertutup, lantas bagaimana mungkin kata kata itu bisa dikatakan nya begitu saja. Menjadikan Afka kali ini harus melebarkan tatapan nya dan menggelengkan kepalanya karna tidak dapat memahami dirinya sendiri.


"Terus lo mau gimana, lanjut sekolah atau mau gua anter balik?"


"Gua mau sekolah, tapi seragam gua gimana"


Berada pulang kerumah nanti nya malah jadi banyak pertanyaan, belum lagi jika nanti harus bertemu Aron, lebih baik memang kesekolah. Dengan apa yang Afka lakukan kepada Yudi mungkin saja menjadikan Yudi kapok untuk mengganggu Nara lagi.


"Kita mampir ke butik sebentar, nanti biar gua ijin ke walikelas buat kita bisa berangkat terlambat, gimana?"


Saran Afka dengan pendapat nya.


Nara kali ini bukan sekedar mengangguki tapi juga tersenyum menatap Afka.


"Makasih ya, Afka"


"Sama sama"


Afka yang ikut membalas senyuman Nara dengan senyum tipis nya.


Jadi seperti ini rasanya berada menjadi terbuka dan dapat bercerita kepada seseorang yang pada akhirnya dia memahami dan mengerti, rasa nya menjadi sangat lega. Luka yang semula dirasa begitu menyakitkan seketika saja terobati dengan baik.


Tapi ini hanya sekedar kebetulan, jadi Nara tidak diperbolehkan untuk mengharapkan hal yang sama seperti ini kembali didapat, kembali terjadi pada dirinya.


Lagi pula Nara sudah memutuskan untuk tidak bergantung kepada orang lain. Ini hidup nya, ini rasa dan luka nya jadi Nara harus tau cara nya menata dan mengobati nya sendiri.


Akan ini tetap saja Nara berhutang budi kepada Afka, dan dalam hatinya Nara bertekad untuk nanti akan membalas semua yang Afka lakukan kepada nya.