
Sudah berada didalam mobil setelah keduanya Nara dan Afka mampir sebentar ke butik sekedar membelikan Nara seragam yang baru.
Sesampainya di sekolah, Nara turun berada berjalan berdampingan menuju kelas bersama Afka.
"Kalo lo mau istirahat, lo bisa istirahat di UKS, biar gua yang ijin"
Seru Afka setelah memperhatikan Nara yang terlihat masih murung dengan tatapan yang berada kosong dilihat nya.
Nara tersenyum menatap Afka dengan menggelengkan kepalanya.
"Gua udah ngga papa ko"
"Mmm, sorry buat, ucapan gua"
Seru Afka dengan nada bicaranya yang canggung.
"Ucapan yang mana?"
Tanya Nara tidak memahami dengan ucapan apa yang membuat Afka sampai meminta maaf kepada nya.
"Soal gua yang spontan bilang kalo lo pacar gua"
Lanjut Afka menjelaskan dengan maksud ucapan nya. Berada terngiang ngiang dikepala dengan apa yang berada di ucapkan nya tanpa berfikir panjang.
Nara tersenyum dengan sorot matanya yang kembali hangat.
"Ngga masalah sama sekali, malah seharusnya gua berterimakasih untuk itu. Setelah ini mungkin aja Yudi ngga akan berani ganggu gua lagi"
"Sebaliknya, dia malah akan lebih terobsesi buat bales dendam sama apa yang udah kita lakuin ke dia"
Lanjut Afka, tau dan paham dengan seperti apa Yudi berada di lihat nya, meski hanya sekedar mengenal nama tapi Afka sudah dapat tau dengan karakter dan pribadi Yudi dari Afka yang menatap dan menjadi tau dengan itu.
Nara melebarkan tatapan nya menjadi terkejud dan khawatir.
Khawatir dengan keberadaan Afka jika benar apa yang dikatakan Afka barusan. Itu artinya sewaktu waktu Afka bisa menjadi terluka karna dirinya.
"Kalo lo tau akan kaya gini, kenapa lo masih ngelibatin diri lo. Kalo nanti terjadi apa apa sama lo, gimana?"
Crocos Nara dengan kesal, dengan perasaan khawatir yang menjadikan kemarahan nya tidak dapat ditahan nya.
"Kenapa lo masih bisa mikirin orang lain, diri lo sendiri gimana?"
Dibalikan Afka kata kata yang Nara ucapkan.
"Hhhhhh...."
Nara menghelai nafas, mengendalikan dirinya.
"Gua cuman khawatir sama lo, kalo nanti lo jadi terluka atau kenapa napa karna gua, gua akan merasa sangat bersalah"
Seru Nara, harus kembali menahan kacaan air mata yang sudah berada menggenang penuh di matanya.
Afka tersenyum tipis, memahami dengan Nara yang sampai menjadi marah. Kemarahan nya semata mata bukan menyalahkan dengan apa yang Afka lakukan tapi dengan rasa khatir dan rasa bersalah jika nantinya ada hal hal yang terjadi kepadanya.
Afka mengulurkan tangan nya memegangi satu lengan Nara.
"Kita hadapin sama sama, lo kan udah jadi bagian dari kita. Semua akan baik baik aja"
Nara terpaku menatap indah nya kedua bola mata yang Afka miliki, tersenyum dan mengangguki.
"Gua berhutang banyak sama lo"
Afka melepaskan tangan nya dari lengan Nara, dan melewati Nara meninggalkan nya begitu saja.
"Lo bisa lunasin dengan sesegera mungkin"
Seru Afka berada dengan langkah nya yang menjauh.
Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya, menggelengkan kepalanya dengan Afka yang kembali menjadi pribadi yang menjengkelkan.
Setelah berada masuk kedalam kelas, kelas masih kosong belum di dapati guru di kelas IPA 1.
"Ngga ada guru?"
Tanya Afka setelah menghampiri kedua sahabatnya, Aditya dan Brian.
"Ada, absen bentar terus abis itu keluar lagi karna ada tamu"
Jelas Aditya yang semula sibuk memainkan Handphone nya.
"Nara ko bisa berangkat kesiangan, sama Afka pula?"
Tanya Brian, yang semula duduk sampai bangun sekedar memperhatikan Nara untuk lebih dekat. Dengan pikiran yang berada penasaran dengan keduanya yang bisa datang kesiangan dan juga bersamaan.
"Iya, ko lo bisa barengan"
Lanjut Aditya menambahi, ikut dibuat tidak mengerti dengan Afka dan Nara yang berangkat bersama.
"Tadi ngga sengaja ketemu di jalan, pak Arto lagi ngga bisa anter, anak nya masuk rumah sakit soal nya"
Seru Nara menjelaskan dengan senyum dan ceria yang kembali berada memenuhi wajahnya.
Afka menatap dan memperhatikan Nara yang sangat pandai memainkan peran nya. Dalam seketika Nara dapat tersenyum selebar itu setelah dengan apa yang terjadi kepadanya.
Gumam Afka dalam hati, satu kata yang di peruntuk untuk menggambarkan Nara dalam pandangan nya.
Mengalah, Nara berada di balik topeng yang menutupi kebenaran akan dirinya.
Sekedar mengalah hanya karna dirinya merasa dunia tidak dapat memahami nya, dengan begitu Nara yang memilih untuk berada menyesuaikan dengan dunia nya tempat untuk nya berada tinggal.
"Kan kamu punya nomor aku, kenapa ngga telfon aku aja biar aku yang jemput"
Lanjut Brian.
"Ngga Brian, nanti malah ngerepotin"
"Ngerepotin gimana sih Nara, ngga akan ngerepotin sama sekali, malah aku bakalan seneng banget kalo kamu mau aku jemput"
Lanjut Brian, kembali dengan gaya tengil nya.
"His jangan mau Nara, mending sama aku aja, iya ngga?"
Lanjut Aditya bangun dari duduknya, merangkul Nara.
Nara menghelai tawa mengangguki nya.
"Ah recet aja"
Gretu Brian menarik tangan Aditya yang berada merangkul Nara.
Suasana kembali menyenangkan, menjadi obat untuk meredakan perasaan Nara yang terluka.
Dan Afka kembali berada memperhatikan Nara yang tertawa dengan lepasnya.
Berada menjadi lega melihat nya, sampai senyum lebar berada di uraikan nya.
Beberapa saat sebelum bel istirahat berbunyi Nara sudah lebih dulu keluar dari kelas untuk pergi ke toilet.
Setelah selesai membuang air kecil, Nara mencuci tangan nya pada Wastafel setelah nya Nara berada menatap dirinya pada gambaran cermin besar di hadapan nya. Setiap kali berada menatap dirinya, Nara selalu saja menjadi rapuh dengan mengasihani dirinya sendiri. Dirinya, fisik nya terlalu sempurna dan berada begitu indah di milikinya. Tapi tidak dengan takdir,mimpi dan hidup dalam dunia nyata, semua berada menjadi hal buruk yang melukai yang harus Nara jalani.
Nara menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, menjatuhkan air mata yang sudah tidak dapat ditahan nya, terlebih dengan suasana toilet yang sunyi dan sepi menjadikan Nara leluasa meluapkan kesedihan nya.
Lula berada masuk kedalam toilet, dilihat nya seseorang yang berada di depan cermin tengah tersedu sedu dalam tangisan dan dengan dua telapak tangan yang menutupi nya, dan Lula mengenali siapa orang nya, siswa baru Nara.
Berada berdiam diri tanpa suara, dan tanpa ekspresi yang berbeda sekedar tatapan yang berada tersorot cukup lama untuk memperhatikan keberadaan Nara dan dengan hal yang tengah dilakukan nya.
"Depresi"
Seru Lula dalam batinnya.
Setelah berada satu tahun menjadi pribadi yang cuek dan pendiam, tapi dengan melihat Nara dirinya seolah dibuat bercermin, menjadikan keberadaan Nara mengingatkan akan dirinya.
"Hhhh.."
Helai Lula dengan pelan dan singkat nya.
Lula menghampiri Nara untuk berada lebih dekat disampingnya.
Saat Nara membuka kedua tangan yang menutupi wajahnya Nara dibuat sangat terkejud dengan Lula yang sudah berada di samping.
"Astaga!"
Sontak Nara dengan degup jantung yang berdetak menjadi sangat kencang dengan rasa terkejud yang dirasakan nya.
Menyadari dengan wajahnya yang menjadi basah dengan tetesan air mata, Nara menoleh memalingkan wajah dan segera mencuci wajahnya.
"Mm, lo sajak kapan ada disini"
Tanya Nara memastikan dengan canggung nya.
"Lumayan lama"
Seru Lula dengan ekspresi datar nya.
"Ah gitu"
Tiap berada bertemu Lula selalu saja menjadikan adanya suasana canggung yang menegangkan yang pada akhirnya akan berada dengan hal yang memenuhi ruang kepala untuk Nara pikirkan sepanjang malam.
Lula terpaku memperhatikan Nara dengan ekspresi datar nya, ada perasaan terluka yang ada dirasakan nya kembali dengan sangat nyata setelah keberadaan Nara dalam pandangan nya.
"Kenapa?"
Tanya Nara, dengan Lula yang memperhatikan nya.
Bukan nya menjawab Lula malah berlalu masuk kedalam bilik kamar mandi, mengabaikan Nara begitu saja dengan perasaan tidak baik yang kembali dirasakan nya.
Begitu pun untuk Nara, berada terdiam dalam tundukan nya dengan semua yang ada seolah sudah berada melewati batas kemampuan untuk nya dapat menghadapi.
Dengan waktu yang bersamaan Nara dan Lula menghelai nafas dengan perasaan sesak yang berada di rasakan nya masing-masing, meski tidak berada berjajaran untuk keduanya.
Hidup pada dasarnya tidak akan selalu baik baik saja. Adakalanya setiap orang berada merasakan keterlukaan, atau bahkan keterpurukan.
Tapi untuk Nara dirasakan luka dan keterpurukan bukan sekedar adakalanya tapi ada setiap waktu nya.