I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
13



Saat berada masuk kedalam kelas tatapan Nara berada menatap perempuan berambut ikal yang bernama Lula.


Nara bertanya tanya apa Lula akan menjadikan sekolah ini geger dengan kenyataan yang diketahui mengenai dirinya.


Dan Afka memperhatikan Nara yang terus memperhatikan keberadaan Lula.


Sudah berada di tampat duduk nya pun Nara masih memperhatinya.


Lula membalas menoleh menatap Nara saat disadari dirinya tengah di perhatikan.


Tetapan keduanya saling bertemu untuk waktu yang tidak sebentar.


Nara meluruskan pandangan nya, tidak lagi menatap dan memperhatikan Lula.


Nara meletakkan kepalanya di antara kedua lengan nya dengan memejamkan matanya.


"Beneran baik baik aja?"


Tanya Aditya menarik kursi nya untuk berada mendekati tempat duduk Nara. Setelah dilihat Aditya dan dilihat dua lain nya Afka dan Brian dengan Nara yang menggeletakan kepala dan memejamkan matanya.


Nara membuka matanya kembali mengangkat kepalanya.


"Beneran baik baik aja ko, ini gua cuman ngantuk aja, mumpung guru belom dateng jadi gua mau tidur sebentar"


Jelas Nara selalu tersenyum ramah.


"Mmm, Yaudah lanjutin, nanti ada guru gua bangunin"


Aditya yang ikut tersenyum menatap Nara.


"Makasih"


Seru Nara sebelum kembali menggeletakan kepala nya.


Benar dengan ngantuk yang dirasakan nya, tetapi pejaman nya tidak dapat menjadikan Nara benar benar terlelap tidur karna pikiran yang saat ini dipenuhi ketakutan dan begitu gugup.


Kenapa hal hal rumit, hari hari sulit selalu berada dekat, menjadikan kebisingan didalam kelas terlewati, sepi yang berada di rasakan.


"Oke, minta perhatian nya sebentar"


Seru Bu Anita setelah berada di depan kelas.


Mendengar suara Bu Anita, Nara membuka mata dan mengangkat kepalanya.


"Baru aja mau di bangunin"


Seru Aditya menghampiri Nara sebelum kembali ketempat duduknya.


Nara menoleh menatap Aditya dan tersenyum.


"Ngantuk sih, cuman ternyata ngga bisa tidur"


Jelas Nara.


"Kalo gitu gua ketempat duduk gua ya"


Seru Aditya ikut tersenyum membalas senyuman Nara sebelum beranjak ketempat duduknya.


Nara tersenyum mengangguki nya.


"Ngapain Bu?"


Cetus Lula dengan datarnya.


Menjadikan Nara kembali menoleh memperhatikan nya.


"Kenapa memang nya?"


Tanya Bu Anita dengan cletukan Lula.


"Bukan jam ibu kan?"


Lanjut Lula masih dengan datarnya.


Seperti tidak pernah menguraikan senyuman di wajah nya.


Bu Anita menarik kedua sudut bibirnya sembari mengangguki nya beberapa kali.


"Iya ibu cuman minta waktu kalian sebentar karna ada yang perlu ibu sampaikan"


"Kenapa Bu? Jam pelajaran mau di kosongin ya?"


Cetus Aditya dengan tersenyum.


Selalu ada sesuatu yang sejuk setiap kali seseorang berada menatap wajah tampan dan dewasa nya.


"Mau nya kamu itu mah. Kalo mau kelas kosong, belajar aja di toilet sana"


Balas Bu Anita dengan senyum yang berada di perlihatkan nya.


Guru IPA sekaligus wali kelas yang asik dan menyenangkan.


Balasan Bu Anita menjadikan siswa di kelas IPA 1 ramai dengan tawa.


"His.. Ibu cantik cantik ko nyebelin sih"


Lanjut Aditya dengan gombal nya, menjadikan kharisma nya terlihat begitu mempesona.


"Adityaaaa.."


Seru Bu Anita, mengartikan untuk Aditya tidak memberikan nya gombalan seperti itu.


"Udah kita serius ya sekarang. Satu Minggu lagi anak IPA akan ada perjalanan untuk pengamatan dan penanaman di alam terbuka. Dengan itu ibu mau untuk satu Minggu kedepan kelas IPA 1 membentuk beberapa kelompok untuk tim belajar, mempersiapkan bahan bahan pengamatan dan mempelajari nya sebelum di praktekan di alam terbuka. Dan ibu sudah mempersiapkan kelompok beserta nama namanya"


"Tapi untuk Nara belum ibu tentukan akan bergabung dengan kelompok siapa, karna ibu masih belum tau pribadi dan cara Nara belajar. Jadi untuk Nara kamu mau bergabung dengan tim siapa? Kamu yang tentukan sendiri, dengan siapa sekiranya nanti yang dapat membantu kamu"


Nara terpaku mendengarkan apa yang dijelaskan Bu Anita. Saat ditanya dirinya ingin dengan siapa, seseorang langsung berada dalam pikiran nya.


"Aditya Bu"


Seru Nara.


"Saya mau bergabung dengan Aditya, karna saya rasa Aditya dapat menjadi teman yang akan banyak membantu saya"


Jelas Nara.


Nara menoleh menatap Aditya memastikan reaksi nya setelah dengan nya yang ingin menjadi kelompok untuk dirinya bergabung.


Aditya tersenyum dengan mengedipkan satu matanya kepada Nara.


Nara pun ikut tersenyum membalas nya.


"Yasudah kalo gitu berarti Nara satu kelompok dengan Aditya juga dengan Lula dan Afka"


Perjelas Bu Anita membacakan nama nama yang saat ini berada satu kelompok.


Ada yang menjadi tidak nyaman seketika setelah didengar Lula berada di satu kelompok dengan nya. Bahkan untuk degupan jantungnya menjadi berbeda dirasakan nya.


"Saya juga dong Bu gabungin sama mereka"


"Ngga ada ya, kamu disatuin sama Aditya kacau nanti nya"


Tau dengan karakter Aditya dan Brian menjadikan Bu Anita memisahkan keduanya. Membentuk tim dengan menyesuaikan dengan orang orang yang berada di gabungkan, tidak sembarangan.


"Yah Bu plis ya, ya. Ngga akan aneh aneh deh janji"


Mohon Brian bersikeras dengan keinginan nya.


"Engga ada, titik. Udah sisa nya akan ibu pasang di papan kalian liat sendiri. Sampe disini ada yang mau ditanyakan?"


Brian menoleh menatap Aditya dengan tajam dan jengkel nya.


Aditya tersenyum melebarkan tatapannya dengan mengangkat kedua bahunya.


"Pulang pergi atau bermalam"


Tanya Afka dengan mengangkat tangan kanan nya, bertanya dengan ekspresi datar nya.


"Bukan sekedar bermalam, tapi 3 hari kita disana, setelah dengan tugas selesai kita seru seruan"


Lanjut Bu Anita merekah tawa memberikan jawaban atas pertanyaan Afka.


"Wuw.."


Seru serentak siswa yang berada dikelas menjadi kegirangan.


"Maka dari itu kita persiapkan semua nya dari sekarang, karna kita tidur pun tetap di alam terbuka, oke. Sampe sini cukup selebihnya bisa kita bahas nanti"


Lanjut Bu Anita menyelesaikan penjelasan nya sebelum menutup nya dan pergi keluar dari kelas.


"Ngga papa kan gua gabung sama kalian?"


Tanya Nara setelah Bu Anita keluar dari kelas, menghampiri Afka dan Aditya.


"Ngga papa dong, pilihan yang tepat"


Ujar Aditya tersenyum menatap Nara.


"Apa apaan coba gua di pisahin sama kalian"


Gretu Brian ikut menghampiri.


"Ngga terima karna ngga bisa sama kita atau ngga terima karna ngga bisa sama Nara?"


Cetus Aditya tersenyum tipis memperhatikan Brian dengan sikap nya.


"Iya, ya dua duanya"


Jelas Brian tersenyum dengan melirik Nara.


Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya, dengan tiba tiba tatapan nya kembali teralihkan menatap keberadaan Lula yang juga ikut menatap nya.


Afka menyadari dengan keduanya yang saat ini kembali berada saling menatap satu sama lain.


Bel pulang sekolah berbunyi Bu Ririn yang tengah menerangkan pelajaran matematika pun menyudahinya.


Serentak siswa dalam kelas bergegas membereskan buku dan tas nya.


"Kamu siswa baru"


Tunjuk Bu Ririn kepada Nara. Seseorang yang pernah ditemui Nara di ruang guru di hari pertama nya masuk. Seseorang yang mencetus kata kata dengan tidak menyenangkan kepada Nara saat keberadaan Nara mencari Bu Anita.


Seperti nya Bu Ririn menjadi sedikit sentimen atau bahkan memang tidak menyukai Nara terlihat dari cara Bu Ririn yang menatap Nara dengan berbeda.


"Saya Bu?"


Tanya Nara memastikan.


"Iya kamu, memang ada siswa baru lain selain kamu"


Cetus Bu Ririn.


"Iya, kenapa Bu?"


Lanjut Nara ikut menatap dengan datar nya. Jika diperlakukan ketus seperti ini Nara juga tidak akan senang.


"Bawakan dan kembalikan buku paket ini keperpustakaan"


Printah Bu Anita sebelum pergi keluar kelas, tidak membiarkan Nara untuk mengiyakan atau menolak nya.


"Nara, gua mau banget bantuin cuman gua juga harus ke toilet buat jalanin hukuman"


Ucap Aditya dengan Nara yang tengah menumpuk buku untuk ditimpuk lebih rapih.


"Ngga papa Aditya lo sama Brian pergi aja ngga papa, ini gua bisa sendiri ko"


Nara tersenyum manis dengan begitu ramah nya.


"Aku tinggal ya Nara"


Pamit Brian sebelum pergi.


Nara mengangkat tumpukan buku, namun kembali dijatuhkan nya dengan pergelangan tangan Nara yang dirasa benar benar sakit.


"Aw.."


Gretu lirih Nara dengan memegangi pergelangan tangan nya.


"Perlu bantuan"


Seru Afka menghampiri Nara yang baru saja beranjak dari tempat duduknya.


"Mmm.. ngga perlu Afka gua bisa sendiri ko"


Nara tersenyum menatap Afka. Dan kembali menumpuk buku untuk kembali tersusun dengan rapih.


Dengan memaksa dan menahan rasa sakit pada pergelangan tangan nya Nara menyangga tumpukan buku yang cukup berat berada dalam sanggaan kedua tangannya.


Afka merebut tumpukan buku dari sanggaan tangan Nara setelah dilihat jelas dengan Nara yang menahan rasa sakit di tangan nya.


"Kenapa masih maksain"


Seru Afka setelah dengan tumpukan buku yang berada dibawanya.


"Hah, Mmm cuman karna ngga mau ngerepotin aja"


Jelas Nara, tidak dengan senyum yang biasanya berada diperlihatkan.


"Kenapa ngga coba buat mikirin diri sendiri dulu?"


Cetus Afka sebelum beranjak lebih dulu.


Nara terdiam dengan apa yang dikatakan Afka kepada nya.


Seperti itu lah dirinya, entah memang selalu lupa dengan diri sendiri dengan apa yang dibutuhkan atau memang memaksa untuk mengabaikan nya.


Aneh nya Nara tetap saja bersikeras dengan apapun yang meminta atau memaksa nya melakukan sesuatu meski dirinya sendiri tidak menginginkan nya atau bahkan sudah seperti sekarang ini, menjadi terluka.