
Tidak selalu baik akan setiap awal akan hal yang baru. Tidak mesti tertata seperti dengan apa yang diharapkan. Hanya saja tampak menjadi serius, gugup dan menegangkan. Bagaimana tidak? Berada ditempat baru dengan segala hal asing yang berada didalamnya. Juga dengan banyak hal yang berada menjadi dugaan memenuhi isi kepala sekedar menerka dengan apa dan seperti apa nantinya.
Nara kembali bergegas cepat setelah hampir sedari tadi bel masuk berbunyi sedangkan tempat ruang guru Nara belum tau dimana.
Harus bertanya dengan siapa jika lorong-lorong kelas dan tangga yang dinaikinya sudah menjadi sepi dengan seluruh siswa yang sudah berada memenuhi kelasnya masing-masing.
Setelah cukup lama menyusuri sekedar mencari ruang guru, Nara bertemu dengan petugas yang sedang membersihkan halaman. Nara berlari kencang setelah tau keberadaan ruang guru dari sekolah barunya yang sangat besar dan luas.
"Misi bu ada bu Anita?"
Lanjut Nara dengan nafasnya yang tidak beraturan. Tanpa lebih dulu mengetuk pintu Nara menerobos masuk begitu saja. Membuat beberapa guru yang berada diruangan menjadi tertuju kepadanya.
"Bu Anita? Kenapa memang nya?"
Tanya salah satu guru yang berada tidak jauh dari Nara, tengah memperhatikannya, bu Ayu.
"Saya enggak pernah liat kamu."
Lanjut salah seorang lainnya yang memperhatikan Nara dengan tatapan asing, bu Martha.
"Saya siswa baru bu, sudah di tetapkan untuk menjadi salah satu siswa dari bu Anita walikelas Ipa 1."
Jelas Nara dengan hal-hal yang sudah diterangkan kepada kepala sekolah dengan pembantunya yang waktu itu mengurus semua pendaftarannya.
"Siswa baru? Jam segini baru dateng?"
Cetus bu Martha yang berada menatap asing Nara sedari tadi.
"Bukan baru dateng bu, udah dateng dari tadi cuman tadi sempet ada masalah."
Perjelas Nara.
"Sudah-sudah, bu Anita belum lama pergi ke kelas kamu susul saja. Kelasnya ada diruangan pertama lantai 4."
Ucap bu Ayu yang pertama kali melontarkan pertanyaan kepada Nara. Terlihat bijaksana dari tatapan juga cara bicaranya.
Nara tersenyum mengangguki.
"Terimakasih bu."
Nara kembali keluar sebelum menuju ke kelas IPA 1 yang nantinya akan menjadi kelasnya, Nara terdiam menyandarkan tubuhnya di depan ruang guru. Dirasa hari pertama benar-benar menjadi kesan yang tidak menyenangkan. Setelah beberapa kali naik turun tangga untuk mencari ruang guru sekarang harus kembali naik ke lantai 4 untuk menuju kelasnya, yang itu artinya harus menaiki dua tangga lagi.
"Kenapa harus dibuat olahraga sih pagi-pagi gini? Mana belom sarapan."
Gretu Nara dengan lemasnya juga dengan tangan yang memegangi perutnya yang lapar.
"Enggak mau masuk kelas? Kenapa masih disini?"
Tegas bu Martha, keluar dari ruang guru dan malah didapati keberadaan Nara yang tengah menyandarkan tubuhnya.
"Ini mau langsung ke kelas ko bu."
Jelas Nara tersenyum sebelum kembali berlari menaiki tangga dengan kaki nya yang dirasa sudah sangat lemas.
Nara menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan, mengendalikan pernafasannya yang dirasa sesak dan tidak beraturan juga mengendalikan diri. Terselinap rasa gugup, juga sedikit ketakutan di antara rasa percaya dirinya.
"Tok, tok.."
Nara mengetuk pintu kelas, pintu yang terbuka memperlihatkan perempuan yang tengah menerangkan materi pembelajaran.
Perempuan itu menghentikan penjelasan yang tengah disampaikan setelah didengar seseorang mengetuk pintu.
"Permisi bu saya Nara siswa baru yang di jadwalkan untuk masuk hari ini."
Jelas Nara berdiri di pintu menjelaskan keberadaannya.
"Silahkan masuk."
Perempuan itu mempersilahkan Nara untuk masuk. Seluruh tatapan siswa dikelas teralihkan menatap Nara.
"Kamu tau jam berapa sekarang? Dan kamu tau jam berapa bel sekolah berbunyi?"
Tanya detail atas keterlambatan Nara dikelasnya saat ini.
Nara menarik kedua sudut bibirnya dengan mengangguki dengan apa yang di tanyakan seseorang yang berada di hadapannya.
"Saya tau bu, saya minta maaf. Kalo memang ibu tidak memperkenankan saya masuk saya bisa langsung keluar ko bu."
Jelas Nara, pasrah lebih tepatnya mempersingkat agar tidak lama ditatap dan dibuat tidak nyaman seperti sekarang.
"Kamu tidak ingin menjelaskan kenapa kamu datang terlambat?"
Masih dengan memperhatikan Nara yang masih menjadi asing yang berada di hadapan dalam tatapannya.
Nara merekah tersenyum dengan ramahnya.
"Saya kira kesalahan tetap kesalahan dengan seperti apapun penjelasannya."
Sama seperti sebelumnya, penjelasan hanya akan memperkeruh suasana. Nara tidak ingin bersikeras mencari pembenaran atau sekedar membela diri.
"Saya Anita walikelas IPA 1."
Jelas bu Anita seseorang yang sudah hampir sedari tadi berada di hadapan Nara. Apa yang dikatakan Nara seolah memberikan sentuhan kepada perasaannya. Menjadi berbeda dari kebanyakan siswa yang berada dihadapannya.
"Sebenarnya saya sudah sedari tadi datang hanya saja sempat ada masalah sedikit bu."
Jelas Nara dengan bu Anita yang dirasa akan mengerti dengan pembelaan diri yang dikatakannya. Tiba-tiba tanpa sadar tatapannya teralihkan dengan keberadaan seseorang yang berada duduk dibarisan belakang, Afka. Seseorang yang sebelumnya terlibat kejadian yang Nara lakukan karna kecerobohannya.
Afka memperhatikan Nara, seseorang yang dengan mudahnya tersenyum dan tersenyum. Tampak menjadi berbeda keberadaan Nara dalam pandangan nya, unik.
"ENGGAK PENTING!"
Ketus seseorang dari tempat duduknya.
"Jangan kelamaan ke bu, buang-buang waktu tau enggak."
Nara memperhatikannya saat setelah cetusan tidak menyenangkan didengar. Seseorang berambut panjang dan ikal, dengan wajah naturalnya, Lula.
"Oke minta perhatiannya sebentar!"
Tegas bu Anita, tidak ingin memakan lebih banyak waktu yang dapat mengganggu siswa lainnya dan membuatnya merasa tidak nyaman.
Semua siswa tertuju kepada bu Anita, memperhatikan dan siap mendengarkan.
"Kalian kedatangan siswa baru, dia akan bergabung dengan IPA 1."
Lanjut bu Anita menjelaskan kepada semua siswa yang sudah memperhatikannya.
"Silahkan."
Lanjut bu Anita untuk Nara memperkenalkan dirinya.
Banyak tatapan kembali teralihkan dengan keberadaan Nara di samping bu Anita.
Nara tersenyum mengangguki, melangkah maju untuk berada sedikit di depan.
"Hai."
Tersenyum dengan canggungnya dengan sebuah kata yang baru di ucapkan Nara.
Berada diantara banyak mata yang memandang dan memperhatikannya ada yang menjadi menyenangkan untuk Nara. Keberadaan yang dirasa menjadi benar adanya, meski sekedar ada dalam padangan yang sekedar berada hanya sebentar.
"Saya Nara, Nara Clarissa."
Lanjut Nara dengan banyak telinga yang mendengarkannya. Nara melebarkan senyumannya dengan tatapan hangat juga dengan perasaan senang.
"Saya harap keberadaan saya dapat diterima dengan baik dikelas ini."
Lanjut Nara.
"Kalo gitu silahkan duduk lain kali jangan terlambat lagi ya."
Jelas bu Anita dengan ramah, setelah Nara selesai dengan perkenalan singkat yang disampaikannya.
Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya sembari mengangguki.
Nara tersenyum mengangguki, beranjak ketempatan duduk yang diarahkan kepada bu Anita.
Tersisa beberapa jarak sebelum benar-benar sampai di tempat duduknya, langkahnya terhenti dengan seseorang yang saat ini berada duduk tepat di belakang tempat duduknya. Beberapa laki-laki dari empat laki-laki yang sebelumnya ditemui di depan gerbang sekolah beberapa waktu yang lalu, Afka, Aditya dan Brian.
Tatapan Nara tertuju sempurna akan keberadaan Afka, meski sesaat sempat teralihkan dengan dua laki-laki yang berada duduk di dekatnya.
Dalam pandangan Nara saat ini akan sosok Afka terlihat ada yang menjadi berbeda, dengan sendirinya menarik Nara untuk tertuju akan keberadaannya. Sesekali terlihat uraian senyum bahkan helain tawa yang memberikan kesan untuk menonjolkan ketampanan nya berkali-kali lipat.
"Tuh kan bener cewe yang tadi ketemu di depan."
Seru Brian kepada Afka dan Aditya, Brian bangun dari duduknya dengan Nara yang tengah menghampiri.
"Hai?"
Seru Nara tersenyum dengan ramahnya.
Dua laki-laki itu Aditya dan Brian lebih dulu menoleh setelah sapaan hangat didengarnya, bahkan Brian sudah lebih dulu berada tertuju kepada Nara sedari tadi.
Tersenyum dengan keberadaan Nara, perempuan cantik yang tiba-iba menghampiri.
"Hai."
Sapa Brian dengan gaya tengil ala so coll nya, dengan permen karet yang selalu berada di kunyahnya.
"Hai."
Lanjut Aditya tersenyum ramah, ikut bangun dari duduknya menyapa akan keberadaan Nara.
Baru lah beberapa saat seseorang yang di tuju oleh sapaan Nara itu ikut menoleh, Afka.
Nara tersenyum sudah berada di hadapan tiga laki-laki yang sudah tertuju kepadanya.
"Gua minta maaf ya soal kejadian tadi."
Nara tertuju dengan Afka yang menatapnya.
Ketiganya menjadi diam memperhatikan Nara. Afka hanya diam menatap Nara tanpa ekspresi.
"Nara? Silahkan duduk."
Seru bu Anita yang akan melanjutkan pembelajaran tetapi dilihatnya Nara yang masih berdiri membelakangi.
Nara berbalik membawa tatapannya juga dengan rasa tidak menyenangkan setelah diabaikan keberadaannya dan permintaan maafnya kepada Afka. Laki-laki asing yang membuat Nara terus dengan rasa bersalah dengan permintaan maafnya yang terus saja diabaikan.
Nara mengangguki dan segera menduduki tempat duduk yang berada di hadapan Afka.
"Brian, Aditya! Kembali ketempat duduk kalian."
Perintah bu Anita dengan keberadaan Brian dan Aditya yang menarik kursinya untuk deket dengan Afka.
"Ini udah duduk di kursi saya bu."
Ucap Brian.
"Brian!"
Sentak bu Anita pelan. Yang mengartikan Brian untuk tidak bercanda dengannya.
"Iya iya bu, otw balik nih."
Brian kembali menarik kursinya untuk berada kembali kemejanya.