I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
21



Saat keluar dari toilet, Nara hampir saja bertabrakan dengan Iqbal. untungnya Nara dapat menahan diri sebelum dirinya menabrak Iqbal.


"Eh Iqbal, hampir aja nabrak lo, maaf ya"


Seru Nara yang saat ini berada saling berhadapan dengan Iqbal.


Iqbal tersenyum, dengan satu tangan yang membawa sebuah gitar.


"Eh iya, ngga papa Nara. Mata lo baik baik aja?"


Tanya Iqbal setelah melihat kedua mata Nara yang terlihat memerah dan sedikit sebam, seperti seseorang yang baru saja selesai menangis.


Nara tersenyum dengan lebarnya.


"Baik baik aja ko"


"Terus sekarang lo mau kemana?"


"Balik ke kelas"


Jawab Nara dengan senyum lebarnya.


Iqbal merogo Hp dan mengeluarkan dari kantong seragam nya, sekedar melihat jam pada layar Hp.


"Istirahat tinggal lima menit lagi Nara percuma ke kelas juga"


"Mm gitu ya, lo sendiri mau kemana?"


"Mau ke kantin, mau ikut gua aja?"


Tawar Iqbal mengajak Nara.


Nara tersenyum, mengangguki.


Saat Lula keluar dari toilet, Lula melihat  Nara yang pergi bersama Iqbal. Memperhatikan keduanya dengan ekspresi datar seperti biasa, tapi dengan tatapan yang berbeda.


Tatapan yang tersorot kesedihan didalam nya.


Setelah sampai di kantin yang masih begitu sepi hanya didapati beberapa meja yang diduduki siswa yang tengah makan atau sekedar mengobrol.


"Lo mau minum apa?"


Tanya Iqbal, setelah meletakkan gitar nya di atas meja, dan akan pergi memesan minuman.


"Mau minuman kaleng aja, Soda"


Iqbal tersenyum mengangguki nya.


Sudah dengan Nara dan Iqbal yang duduk saling berhadapan dengan sekaleng soda dan es teh yang berada di meja.


"Ini gitar punya lo?"


Tanya Nara saat Iqbal memeluk gitar siap memainkan nya.


"Iya Nara ini punya gua. Lo suka lagu apa?"


Iqbal kembali dengan pertanyaan nya, niatnya akan memainkan gitar dan menyanyikan lagu untuk Nara sesuai dengan yang disukai nya.


"Mm apa aja yang asik"


"Yang asik ya?"


Seru Iqbal menirukan kalimat yang Nara katakan, sembari memikirkan lagu apa yang akan di nyanyikan nya.


Jreng.... setelah tau dengan lagu apa yang akan di nyanyikan nya. Iqbal yang mulai memetik senar gitar, dan mulai menciptakan nada nada indah dari jari jemari yang memainkannya.


Nara tersenyum memperhatikan nya, menikmati mendengarkan indahnya permainan gitar yang berada masuk kedalam telinga dan perlahan masuk kedalam hatinya.


"Jangan tanyakan perasaanku


Jika kau pun tak bisa beralih


Dari masa lalu yang menghantuimu


Karena sungguh ini tidak adil"


Iqbal yang mulai mengucapakan, menyanyikan lirik selaras dengan permainan gitar nya, Fiersa Besari Waktu yang salah.


Sesekali memejamkan matanya, tersenyum menikmati permainan gitar dan lirik yang di nyanyikan Iqbal benar-benar indah.


Tau dan hafal dengan lagu ini menjadikan Nara ikut bernyanyi pada lirik berikutnya.


"Bukan maksudku menyakitimu


Namun tak mudah tuk melupakan


Cerita panjang yang pernah aku lalui


tolong yakinkan saja raguku"


Iqbal terdiam, membiarkan Nara menyelesaikan bagian lirik yang tengah di nyanyikan nya. Suara yang Nara miliki tidak kalah merdu dengan nya, menjadikan Iqbal menikmati kebersamaan nya dengan Nara yang menyenangkan seperti sekarang ini.


Nara membiarkan Iqbal untuk melanjutkan lirik berikutnya, Nara tersenyum tercengir malu dengan suara nya, dan tekad nya barusan.


Dan di bagian lirik berikutnya keduanya bernyanyi bersamaan.


Bel istirahat berbunyi, menjadikan kantin mulai ramai. Didapati keberadaan Afka,Adity dan Brian yang sudah berada memperhatikan dan mendengarkan dari beberapa jarak, dengan Nara dan Iqbal yang tengah berkolaborasi bernyanyi dengan suara keduanya yang sama sama merdu di tambahi dengan alunan gitar yang Iqbal mainkan, menambahi keindahan yang ada.


"Gua ngga sangka suara Nara sebagus ini"


Seru Aditya terpaku menikmati indah nya lirik yang dinyanyikan Nara.


"Mm, makin sempurna aja"


Lanjut Brian menambahi, tersenyum dengan tatapan yang tidak berkedip memperhatikan Nara.


Sedangkan Afka, dalam diam nya mengiyakan dengan ucapan kedua sahabatnya, membenarkan dengan Nara yang berada atas pujian kedua nya.


"Lo berdua seru seruan ngga ngajak ngajak kita"


Cetus Aditya lebih dulu menghampiri keduanya setelah dengan lagu yang habis di nyanyikan nya. Di ikuti Brian dan Afka.


"Tadi habis dari toilet ketemu Iqbal, terus di ajakin kesini"


Seru Nara menjelaskan.


"Suara kamu bagus banget, Nara"


Brian dengan terpaku tersenyum memperhatikan Nara.


"Hah?"


Sontak Nara terkejud, menjadi malu dengan ketiga nya yang ternyata mendengarkan suara nya.


"Mm, suara lo emang bagus Nara"


Sambung Iqbal mengomentari, setelah berduet dengan nya.


"Jangan gitu dong, gua jadi malu kan"


Seru Nara tersipu malu dengan pujian yang berada untuk nya.


"Emang bener ko, mau dong di nyanyiin satu lagu, kamu aja yang nyanyi Iqbal ngga usah ikutan biar Iqbal maenin gitar nya aja, yaaa?"


Minta Brian, memohon kepada Nara dengan permintaan nya.


Nara menjadi berbeda dengan ekspresi nya, rasanya akan sangat malu berada bernyanyi di perhatikan oleh ke empat nya.


"Mmm, "


"Iya Nara ngga papa, percaya diri suara lo beneran bagus lagi"


Lanjut Iqbal meyakinkan Nara, tau dengan Nara yang malu dan tidak percaya diri.


"Oke"


"Hhhhhh..."


Nara menarik nafas panjang dan menghembuskan.


"Khmm.. hmmm.."


Mendehem sekedar menyiapkan suaranya.


"Jabat tanganku mungkin untuk yang terakhir kali


Kita berbincang tentang memori di masa itu


Peluk tubuhku usapkan juga air mataku


Kita terharu seakan tidak bertemu lagi"


Nara mulai mengucapakan lirik dan menyanyikan nya, dengan Iqbal yang menyesuaikan petikan gitar nya dengan lagu yang tengah Nara nyanyikan, sheila on 7 kisah klasik.


Keempat nya menikmati suara Nara dengan sesekali memejamkan matanya, dengan Aditya dan Brian yang menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan kiri mengikuti irama melodi yang dinikmati nya. Sedangkan Afka menikmati dan memperhatikan Nara yang membawakan lagu nya dengan ketulusan yang ikut berada dalam setiap lirik yang diucapkan nya.


Banyak dari siswa di kantin yang mendengar Nara bernyanyi menjadi memperhatikan, dan ikut mendengarkan nya.


Nara terbawa suasana dan lirik lagu yang di nyanyikan nya sampai menjadikan dadanya ikut merasa sesak dan matanya yang mulai berkaca merasakan arti yang dalam dari lagi yang terlalu di hayatinya.


"Bersenang-senanglah


Karna hari ini yang kan kita rindukan


Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan


Bersenang-senanglah


Karna waktu ini yang kan kita banggakan di hari tua"


Nara kembali melanjutkan lirik berikutnya, dengan stetes air mata yang berada ikut jatuh dari kacaan matanya.


Ke empat nya berada memperhatikan Nara saat ini dengan tatapan penuh nya. Menjadi terheran dengan Nara yang sampai menangis dengan lagu yang dinyanyikan nya.


Berada meneteskan air mata bukan karna sekedar Nara yang terlalu menghayati lagu yang dinyanyikan nya. Tapi karna Nara juga menjadi berada tersentuh merasakan arti yang seolah sama seperti ungkapan dalam hati nya yang terdalam akan keberadaan nya diantara empat laki laki yang saat ini tengah memperhatikan nya.  Dengan lagu ini Nara seolah dapat mengungkapkan apa yang sebelumnya belum dapat di sampaikan nya.


"Udah cantik suara nya bagus"


"Bagus ya suaranya"


"Merinding deh denger dia nyanyi"


Dan masih banyak lain nya.


Seruan seruan yang digumamkan dari beberapa orang yang berada memperhatikan dan ikut mendengarkan Nara bernyanyi.


Ada Lula juga yang sudah sedari tadi berada di kantin, dan ikut memperhatikan Nara dan lagu yang dinyanyikan nya.


"Maaf ya, gua terhanyut dalam lagu nya"


Seru Nara mengusap air matanya setelah selesai dengan lagu yang di nyanyikan nya. Masih terlihat sendu dalam tatapan nya.


Brian menarik satu tangan Nara untuk berada di pegang nya. Brian laki laki tengil, pecicilan yang kadang suka tidak jelas dengan banyak halnya pun bisa ikut terhanyut merasakan Nara dengan ketulusan nya.


Nara melebarkan tatapannya menatap Brian dengan apa yang dilakukan kepadanya saat ini.


Brian mengarahkan Aditya, Afka dan Iqbal untuk ikut berada bertumpuk menjadi satu dalam satu tumpukan tangan. Dimulai dari Aditya, Iqbal dan kemudian terakhir, Afka. Tangan tangan yang terulurkan tertumpuk menjadi satu dan saat ini kelimanya menjadi tersenyum lebar dan bahkan menjadi tertawa.


"Nama tim kita sekarang FIM"


Seru Brian tersenyum, menjadikan nya kali ini benar menjadi laki laki dewasa yang normal.


"FIM?"


Seru bebarengan Aditya dan Iqbal.


"Mmm, FIM artinya Five Members"


Brian mengangguki, menjelaskan dengan arti FIM itu sendiri.


Sontak ke empat nya membulatkan mata, tersenyum dengan apa yang Brian ciptakan.


"Unik sih"


Seru Iqbal berkomentar.


"Mm unik, kaya yang bikin"


Lanjut Afka tersenyum dengan yang lain nya.


"Bagus sih"


Kali ini Aditya dengan pendapat nya.


"Makasih ya, kalian udah ngebiarin gua jadi salah satu bagian dari kalian"


Nara yang berseru, tersenyum dengan haru.


"Iya Nara, jadi sekarang kalo ada apa cerita sama kita"


Seru Aditya tersenyum dengan hangat nya.


Nara tersenyum mengangguki nya.


Afka ikut tersenyum menatap Nara dengan kebersamaan nya kali ini.


"Udah haru nya,gua laper nih"


Cetus Afka dengan senyum yang masih berada di perlihatkan nya, menarik tangan nya dari tangan yang lain nya.


"Prkkk.."


Sesuatu terdengar pecah dengan cukup kencang.


Menjadikan Nara dan ke empat lain nya juga siswa yang berada di kantin terarahkan kepada suara yang terdengar.


Terlihat Nara dengan baju nya yang basah tertumpahkan segelas jus, dengan gelas yang sudah pecah berserakan.


"Punya mata?"


Tanya Lula dengan ekspresi datar dan tatapan tajam.


"Maaf maaf, beneran ngga sengaja. Akan gua ganti rugi semua nya"


Seseorang yang berada menumpahkan minuman kepada Lula menatap dengan rasa bersalah, dan berniat akan mengganti rugi dengan kesalahan nya.


"Dengan maaf, baju gua bisa balik ke semula?"


Suasana semakin memperkeruh dengan tegang nya. Lula dengan judes nya menjawab permintaan maaf itu.


Tangan nya meraih ke meja yang berada botol botol minuman yang tertata, meraih satu botol air mineral dibuka nya dan ditumpahkan begitu saja di atas kepala seseorang di hadapan nya. Tidak akan tinggal diam setelah dirinya di permalukan dan dibuat seperti ini.


Sontak orang-orang yang berada memenuhi kantin dibuat tercengang kaget dengan apa yang Lula lakukan.


"Ooo, jadi ini alasan kenapa Aditya nglarang Nara buat akrab sama Lula"


Seru Brian masih berada memperhatikan keributan yang berada beberapa jarak dari mejanya.


Sedangkan Aditya terpaku diam memperhatikan Lula dengan serius dan tatapan yang berbeda.


"Untung nya cuman air biasa. Lain kali kali punya mata di pake"


Cetus Nara yang masih dengan ekspresi nya yang sama, menatap tajam seseorang yang saat ini berada tertunduk di perhatikan banyak orang.


"Dia yang bayar"


Seru Lula kepada pemilik warung yang tadi satu botol minuman di ambil nya begitu saja. Saat akan berlalu pergi tatapan nya dipertemukan dengan Nara yang kemudian menatap Aditya dan setelah nya berlalu pergi.