
Entah apa yang menjadikan Nara kali ini sibuk sekedar dengan pakaian yang akan dikenakan nya untuk belajar kelompok.
Setelah dipakai nya baju sabrina top dan rok mini nya Nara berdiri didepan cermin.
"Tampil cantik itu buat diri sendiri, buat kepercayaan diri, bukan buat orang lain"
Gumam Nara sembari membenarkan pakaian nya, seolah tengah menyatakan sesuatu untuk mempertegas pada dirinya sendiri. Ditambahi sneakers putih benar benar menjadikan Nara sempurna.
Nara pergi turun dengan tas ransel yang berada di kaitkan di satu bahu nya.
"Mau kemana non?"
Tanya mbo Minah yang tengah menyapu.
"Mau kerja kelompok mbo, mama mana?"
Jawab Nara sekaligus mencari keberadaan Kyra.
"Ibu pergi non sama Tuan, belum lama tadi dijemput"
Jelas Mbo Minah.
"Pergi kemana"
"Ibu ngga bilang apa apa non"
Nara terdiam sesaat menebak kemana Aron mengajak Kyra pergi, dengan perasaan khawatir yang dirasakan nya.
"Tin..tin..
Afka yang sampai dan segera membunyikan klakson mobil nya, memberitahu keberadaan nya kepada Nara.
"Nara pergi kerja kelompok ya mbo, nanti kalo mama pulang mbo kabarin Nara diem diem aja tapi, oke"
Minta Nara sebelum beranjak pergi
"Baik non"
"Kalo gitu Nara pergi ya"
Lanjut Nara beranjak pergi, dengan cepat nya.
Afka memperhatikan Nara, kali ini Nara tampak cantik dan sempurna. Terlebih dengan senyum manis yang berada diperlihatkan Nara, menambahi kesempurnaan nya.
"Kanapa diem aja, gua cantik ya?"
Seru Nara dengan Afka yang terpaku diam memperhatikan nya.
"Apaan,cantik gimana? Biasa aja lagi"
Cetus Afka dengan glagat nya.
Menginjak gas dan melaju dengan kencang nya.
Nara tersenyum melebarkan tatapannya.
"Aneh dasar"
Cetus Nara kepada Afka.
Setelah sampai Nara dan Afka turun dari mobil menyusuri lorong lorong kelas yang begitu hening dan sepi.
Sesampai nya di perpustakaan didapati beberapa orang yang tengah sibuk dengan perbincangan nya, Aditya, Iqbal, dan Brian.
"Hai"
Seru Nara dengan sapaan nya menjadikan beberapa orang itu serentak menoleh menatap dan dibuat terpukau dengan Nara yang selalu cantik, tapi kali ini aura nya seolah terpancar keluar menjadikan kecantikan nya berkali-kali lipat.
"Wow"
Seru Aditya memperhatikan nya.
Brian dengan tatapan penuh nya yang tajam beranjak bangun dari duduknya menghampiri Nara.
"Kenapa bisa secantik ini sih"
Begitu pun dengan Iqbal yang terpaku mengagumi kecantikan nya.
Sementara Nara berada tersenyum tersipu malu dengan ketiga nya yang memperhatikan dan memujinya.
"Kenapa lo disini, Iqbal juga"
Cetus Afka mengalihkan, menjadi tidak nyaman dengan yang lain nya menatap Nara dan memperhatikan dengan perasaan kagum.
"Apaan sih? Pertanyaan lo ngga nyenengin banget"
Gretu kesal Brian dengan pertanyaan Afka.
"Gua nanya, tugas kelompok kan ini, lo ngga ngerjain tugas lo"
Perjelas Afka, menarik kursi nya untuk duduk, di ikuti dengan Nara.
"Ah itu mah biarin aja kelompok gua, gua tinggal terima beresnya aja, bette lagian ngga sama lo pada"
Lanjut Brian dengan bibir manyun nya.
"Heleh, bette karna ngga bisa bareng Nara aja lu tengik"
Cetus Aditya dengan mendorong kepala Brian seperti biasa, menjadikan Brian tertunduk seketika.
"Ah recet aja"
Gretu kesal Brian menatap tajam Aditya.
"Kalo gua kan ngga ada tugas tugasan jadi bebas kalo gua mau disini"
Lanjut Iqbal seolah memaparkan keberadaan nya yang memiliki kebebasan.
"Iya Iqbal kalo lo mah ngga papa, ngebantu lah kalo dia"
Cetus Aditya tidak ada hentinya meledek dan membuat Brian jengkel kepada nya.
Lula datang tanpa salam, sapaan atau sekedar basa basi, benar benar datang begitu saja dan langsung duduk begitu saja dengan wajah pucat nya di samping Afka dengan beberapa jarak yang menjeda nya.
Aditya yang semula sibuk dengan tawanya setelah puas menjadikan Brian jengkel kepadanya diam seketika dengan tatapan seriusnya yang terarahkan kepada Lula.
Berada memperhatikan keberadaan Lula dengan wajah pucat nya. Sebenarnya Nara ingin sekedar menanyakan keadaan Lula dengan wajah pucat nya, tapi Nara mengurungkan niatnya tau dengan semenjengkelkan apa Lula.
"Nah udah kumpul semua kan, kita mulai sekarang aja ya"
Seru Nara menjadikan yang lain nya serius mendengarkan nya.
"Yang lain siapain materi nya, biar gua cari buku buku yang diperluin "
Lanjut Nara meletakkan tasnya, setelah berada bangun dari duduknya Nara dibuat bergegas cepat setelah melihat Lula yang mulai memejamkan matanya kehilangan kesadaran akan terjatuh kebelakang dengan posisi duduknya . Dengan cepat Nara berada menahan Nara agar tidak jatuh terbalik dari duduk nya, dari kursi panjang tanpa sanggaan.
Sontak semua nya menjadi terkejud, terutama Aditya yang langsung bangun dan berada menggantikan Nara untuk menahan Lula dan segera menurunkan nya untuk berada berbaring dalam pangkuan nya.
"Lula, Lula bangun Lula"
Aditya dengan panik dan kekhawatiran yang diperlihatkan dengan sangat jelas.
Menepuk-nepuk pelan pipi Lula.
Detak jantung yang seolah berada berdetak dengan lebih lambat akan rasa terkejud dan kekhawatiran yang dirasakan nya saat ini.
Nara, Brian dan Iqbal berada memperhatikan mengerumuni Lula yang tidak sadarkan diri diatas pengakuan Aditya. Dibuat terkejud akan Lula yang tiba tiba jatuh pingsan, tapi di lain sisi menjadi terheran dengan keberadaan Aditya yang sangat mengkhawatirkan Lula saat ini.
Sedangkan Afka berada memperhatikan dengan tenang nya, solah sudah tau dengan apa yang terjadi antara Aditya dan Lula.
"Bawa kerumah sakit aja sekarang"
Seru Iqbal diantara yang lain yang masih berada terkejud dengan keadaan saat ini.
"Iya, bawa ke mobil gua sekarang"
Lanjut Brian menambahi.
"Ngga,ngga, jangan kerumah sakit"
Sontak Aditya dengan aneh nya.
Kesal Brian dengan Aditya yang malah bersikap aneh dengan panik nya.
"Kalo gua bilang ngga ya ngga! Lo ngerti ngga sih!"
Gentak Aditya kepada Brian.
"Lo ini kenapa sih aneh banget deh!"
"Kenapa? apa yang _"
Gantakan Aditya tertahan dengan Afka yang berada menahan nya memegangi pundak nya.
Afka pun berada menatap Brian dan Iqbal dengan tatapan penuh maksud sembari menggelengkan kepalanya pelan. Mengartikan untuk keduanya diam saja dan tidak memperkeruh suasana.
Sedangkan Nara berada tidak mengerti dan memahami dengan Aditya dan dengan situasi yang memanas.
"Yaudah kalo gitu kita bawa ke UKS aja sekarang"
Lanjut Nara, setelah melihat keberadaan Lula yang begitu pucat dan tidak mungkin dibiarkan lebih lama terbaring dilantai yang dingin.
Dengan cepat nya Aditya membopong Lula dan bergegas membawanya ke UKS.
"Afka?"
Seru Brian saat berada menyisakan dirinya, Afka dan Iqbal.
Afka menghentikan langkahnya yang akan mengikuti Aditya dan Nara, menoleh menatap Brian.
"Aditya kenapa? Kenapa sampe sentimen gitu cuman karna Lula pingsan"
Gretu Brian kesal, masih tidak terima dengan Aditya yang menggentak nya.
"Buat sekarang ngertiin aja, nanti gua jelasin"
Minta Afka sebelum bergegas menuju ruang UKS.
"Udah ngga usah dibawa perasaan gitu, lo tau sendirikan Aditya sekali nya kebawa suasana kaya gimana"
Lanjut Iqbal menenangkan Brian yang masih begitu kesal.
"Ini cuman karna Lula bal, ngga masuk akal tau ngga"
Brian masih dengan gretuan yang berada keluar diucapkan nya, mewakili kekesalan yang dirasakan nya.
"Kan Afka bilang nanti dia bakal ngejelasin, udah jangan kesel kesel gitu ada Nara kan"
Lanjut Iqbal menjadikan Nara sebagai senjata untuk menenangkan Brian dan meredakan kekesalan nya.
"Hhhhhh..."
Brian menghelai nafas, menahan dirinya dan mengikuti yang lain untuk pergi ke ruang UKS.
Aditya membaringkan Lula diatas ranjang. Menatap Lula dengan tatapan yang sangat berbeda dari tatapan Aditya sebelumnya, ada kesedihan, kekhawatiran didalam nya.
"Badan nya panas banget"
Seru Nara setelah memegang kening Lula.
"Biar gua siapin kompresan, lo bantu cariin minyak kayu putih ya"
Minta Nara berbagi tugas dengan Aditya.
Aditya mengangguki segera bergegas mencarikan minyak kayu putih seperti dengan yang Nara perintahkan.
Begitupun Nara bergegas mencari handuk dan mengisikan air hangat dari dispenser kedalam wadah. Setelah terisi cukup dengan air hangat Nara membawa nya ke ranjang dan segera mengompres Lula.
Afka, Brian dan Iqbal baru berada sampai diruang UKS.
"Lo semua tunggu depan dulu ya"
Minta Nara kepada ke empat laki laki di hadapan nya saat ini.
"Gua mau disini, Nara"
Perjelas Aditya menolak nya
"Baru juga sampe udah disuruh keluar aja"
Gretu Afka menambahi.
"Terserah kalo masih mau disini, gua mau buka bajunya Lula dan ngloesin ini minyak kaya putih"
Perjelas Nara dengan senyum nya, bermaksud meledek dengan Afka dan Aditya yang bersikeras tetap ingin diruang UKS.
"His Nara, udah ayo keluar"
Lanjut Iqbal mendorong yang lain nya untuk keluar.
"Khm.. gua bisa sendiri Iqbal"
Afka dengan canggung nya.
Nara pun menjadi tertawa dengan tingkah ke empat nya.
Setelah pintunya tertutup Nara membuka baju dibagian perut Lula, sekedar ingin mengoleskan minyak kayu putih.
Baru akan mengoleskan nya Lula menutup kembali perut nya.
"Lo mau ngapain?"
Tanya Lula dengan lemasnya, setelah menarik kembali bajunya untuk menutupi perut nya.
"Lo udah sadar? Gua mau olesin minyak kayu putih, biar lo ngrasa anget"
Perjelas Nara selalu dengan tatapan hangat dan senyum ramah nya.
"Ngga perlu"
Singkat Lula melepaskan kain yang berada di keningnya, yang Nara letakan untuk mengompres nya, dan mencoba untuk bangun.
"Jangan bangun dulu, kondisi lo bener bener ngga baik, seharusnya lo di bawa kerumah sakit tapi Aditya ngga ngebolehin"
"Aditya?"
Seru Lula dengan nama Aditya yang menjadikan titik perhatian dengan kata kata yang Nara ucapkan.
"Mm, Aditya yang satu kelompok sama kita. Dia yang bawa lo ke UKS setelah ngelarang lo buat di bawa ke rumah sakit"
Lanjut Nara menjelaskan detail nya dengan polosnya.
Lula terpaku diam setelah dengan apa yang Nara jelaskan kepada nya.
"Biar gua panggil yang lain dulu ya"
Lanjut Nara meletakkan minyak kayu putih dimeja dan akan bergegas keluar memanggil yang lain nya.
"Ngga usah"
Seru Lula menahan Nara dengan memegangi tangan nya.
"Biar gua istirahat dulu ya"
Lanjut Lula dengan permintaan nya.
Nara tersenyum mengangguki.
"Kalo gitu lo istirahat, gua sama yang lain tinggal ke perpustakaan buat ngerjain tugas, nanti gua kesini lagi"
Lula mengangguki, memperhatikan Nara yang keluar dan kembali menutup pintu.
"Nara, gimana?"
Tanya Aditya yang langsung menghampiri Nara.
"Lula udah sadar tapi dia tidur, jadi biarin dia istirahat dulu ya. Kita lanjut ngerjain tugas, nanti kita balik kesini"
Aditya mengangguki, memperhatikan pintu UKS yang tertutup sebelum melaju pergi dengan yang lain nya.