
Cinta dan obsesi dua hal yang berbeda yang dimiliki Aron sampai akhirnya melukai Kyra.
Berada sampai dirumah keduanya turun dengan Aron yang menarik lengan Kyra dengan sangat kasar.
Tidak lama setelah dengan keduanya turun, mobil Afka juga sampai di depan gerbang rumah Nara.
"Makasih udah mau anter gua pulang"
Ucap Nara setelah berada turun, memperhatikan Afka dari kaca mobil yang dibukanya.
Afka mengangguki dengan ekspresi datar diwajahnya.
"Kalo gitu gua duluan"
"Hati hati, Afka"
Tersenyum begitu manis dengan melambaikan tangannya sebentar.
Baru akan melangkah masuk kedalam rumah, Nara menahan diri memperhatikan Kyra dan Aron yang tengah berhadapan, dengan Aron yang terlihat sangat marah. Nara membulatkan tatapan nya setelah melihat wajah Kyra yang terluka.
"Apa susah nya sih buat nurutin perkataan aku hah? Ngga susah kan"
Seru Aron dengan suara kasar nya yang keras, berada dengan emosi yang tengah meluap luap.
"Ini bukan masalah susah atau ngga nya. Tapi aku ngga bisa tahan dan diem aja sama apa yang aku denger, sama semua hal gila yang kamu lakuin"
Berada merasa kotor tidak menutup sedikit pun hati nurani Kyra jika itu sudah menyangkut dengan pembantaian, nyawa seseorang yang dilenyapkan. Seperti lampu yang dipendamkan begitu saja seolah tidak menjadi berarti apa apa.
"Pkkkk.."
Tamparan Aron kembali melayang kencang dipipi Kyra yang sudah menjadi memar dan terluka.
Aron yang kemudian mencengkram kedua pipi Kyra dengan satu tangan nya.
"Kamu masih ngebantah aku hah?"
Kyra melebarkan tatapannya setelah dilihat dengan Nara yang saat ini tengah berada memperhatikan dirinya.
Nara melangkah maju namun terhenti dengan Kyra yang menggeleng gelengkan kepala nya dengan begitu pelan, hanya dapat dipahami oleh Nara.
Kyra memberikan tanda untuk Nara agar tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga nya. Kyra hanya tidak ingin terjadi hal buruk atau sesuatu yang tidak di inginkan terjadi kepada Nara. Karna Kyra tau seperti apa Aron ini.
Nara hanya dapat diam mengikuti apa yang menjadi keinginan Kyra. Berada terbujur kaku dengan kedua tangan yang sudah mengepal kencang, dengan rasa geram yang sudah begitu dirasakan dan hanya dapat ditahan nya.
"Mmm, iya, baik aku akan patuh dan nurutin semua permintaan kamu"
Lanjut Kyra menjadi pasrah, dirinya sadar terus bersikeras dengan permintaan nya itu hanya akan melukai dirinya sendiri dan bahkan dapat melukai Nara.
"Kenapa ngga kaya gini dari tadi sih sayang? Kenapa harus buat aku meluap emosi kaya gini ?"
Aron yang melepaskan tangan nya dari pipi Kyra, dan kemudian membelai wajah dan menyentuh luka juga memar di wajah Kyra.
"Maafin aku ya, harus bikin kamu jadi terluka kaya gini"
Seru Aron yang kemudian mencium kening Kyra.
Berada terhisak dalam tangisan yang berada ditahan nya, hanya mengangguki dengan setiap perkataan yang Aron ucapkan.
Layak nya binatang peliharaan, tidak berguna tapi sipemilik masih terlalu mencintai untuk melepaskan atau membuang nya. Jadi tidak heran ketika sang pemilik terkadang memperlakukan nya dengan sangat kasar bahkan sampai melukai nya, tapi setelah itu kembali disayang sayang lagi.
"Kamu Istirahat ya sayang, akan langsung aku transfer buat kamu ngobatin luka dan mengembalikan wajah cantik kamu itu oke"
Seru Aron dengan mengusap kepala Kyra Sebelu beranjak pergi.
Nara menepi, berada bersembunyi di samping, agar keberadaan nya tidak dilihat Aron.
Berada masuk menghampiri Kyra setelah dengan Aron yang melaju pergi.
Kyra menatap Nara yang tengah menghampiri nya dengan tatapan sendu yang tengah menahan banyak nya air mata, dan ekspresi tersenyum agar terlihat dengan tegarnya.
"Apa ini ma?"
Tanya Nara dengan menyentuh lebam dan sedikit darah di sudut bibir Kyra.
Kyra menoleh, agar Nara melepaskan tangan dari wajahnya yang dirasakan begitu sakit dan perih.
"Bukan apa apa?"
"Bukan apa apa mama bilang? Ini bukan apa apa?"
Nara yang berada melebarkan kedua matanya, agar genangan di mata tidak menjadi jatuh.
"Kamu masuk kamar, mama juga mau istirahat"
Seru Kyra mengalihkan, agar Nara tidak ikut meluap dengan kemarahan setelah dengan apa yang dilihat nya.
"Sampai kapan ma? Sampai kapan mama harus menutupi ini semua? Apa dengan ini mama masih ngga mau cerita sama Nara?"
Seru Nara dengan geram nya. Berada menghampiri dan meraih kedua tangan Kyra untuk berada di kedua pipinya.
"Setidaknya mama itu harus berbagi setiap hal yang mama punya, setiap hal yang mama rasa"
"Tampar dan pukul Nara ma! Buat Nara ikut merasakan rasa sakitnya! Dengan begitu Nara tetap akan menahan diri dengan apa yang pria ******** itu lakukan!"
Terseru kencang dengan air mata yang sudah mulai berjatuhan.
"Prkkk...prkkk.."
Tertampar Nara di pipi yang sama dengan tampan dua kali. Setelah menuruti dengan apa yang diminta Nara tanpa berbasa basi. Kyra menjadi gemetar hebat, dengan tangisan nya yang tertumpah setelah berada susah payah di tahan nya.
Jika tidak dengan di tampar Nara masih berseru kencang dengan banyak ucapan dan rasa kesal nya. Jika tidak dituruti untuk menampar Nara, Kyra khawatir Nara benar akan membalas Aron setelah dengan apa yang dilakukan kepadanya.
"Maaf, maafin mama Nara. Hhhh..."
Berbalik dan bergegas membawa tangan dan tubuhnya yang gemetar.
Nara terpaku tertunduk memegangi pipinya yang begitu panas menjadi perih dengan tamparan Kyra. Jadi seperti ini rasanya, sakit nya, lantas bagaimana Kyra mengahadapi itu semua yang terjadi bukan sekali dua kali. Menjadi sangat hancur setelah tau dengan rasanya, rasa sakit yang padahal belum seberapa dengan yang Kyra dapatkan.
Krya terluka atas upaya nya sampai bersedia untuk berada sejauh ini dan di tempat ini bersama Aron ******** yang sudah melukai dan membuat nya seperti hidup di neraka.
Bukan sekedar fisik nya yang terluka tapi juga hati nya.
Apa arti nya hidup mewah dan serba berkecukupan seperti sekarang ini jika harus terus melihat Kyra terluka dan menderita seperti sekarang ini.
Nara berada masuk kedalam kamar dan menjatuhkan tubuhnya tergelemprak duduk di atas lantai. Dengan tatapan kosong dan pipi nya yang memar.
Dalam tatapan kosong yang menjatuhkan banyak air mata dari dada yang begitu sesak.
Semula berada berjalan di daratan dengan serpihan benda tajam yang harus di injak setiap kali ingin melangkah. Tapi sekarang sudah berada di istanah yang megah tapi terisi dengan banyak air, yang perlahan menenggelamkan dan menjadikan nya sesak dan bahkan mulai mati secara perlahan.
Ada saat saat dimana keinginan yang tergapai menjadi di miliki malah menjadi penyesalan, yang seharusnya tidak di terpikirkan, tidak di inginkan, dan tidak di usakan sampai akhirnya memiliki.
Harta, uang, rumah mewah, fasilitas serba ada, itu semua beberapa saat yang lalu adalah mimpi dan harap yang ingin Kyra dan Nara miliki. Tapi setelah dengan semua yang didapatkan, kedunya malah ingin terlepas dan menjauh setelah tau dengan konsekuensi yang harus diterima.
Karna memang pada dasarnya setiap hal memiliki konsekuensi sendiri.
Kyra berada duduk di atas tempat tidurnya, menangis hebat dengan memegangi dadanya.
Setiap kali berada jatuh dengan air mata, berada tumpah rasa sakit dan keterlukaan yang semakin dirasakan.
Tidak ada yang disesali dengan apa yang sudah dilakukan nya sampai berada sejauh ini, selama kehidupan nya dengan Nara tercukupi. Setidaknya Kyra akan bertahan sampai Nara dapat menyelesaikan sekolahnya sampai di perguruan tinggi. Setelah nya Kyra dan Nara dapat melepaskan diri dari ini semua, dan memulai hidup baru.
Tidak menjadi masalah dengan dirinya yang hancur berantakan sekalipun,selagi Nara baik baik saja.
"Maafin mama Nara, kita hanya butuh bertahan dengan semua ini sebentar lagi"
Gumam Kyra dalam suara serak sesegukan nya