
Sekeras apapun untuk menghindari, menghapus dan berlari pergi dari perasaan ini, rasanya sangat lah sulit.
Meski sudah bersikeras untuk membenci nya, tapi perasaan ini masih saja sama.
Seharusnya pertemuan itu tidak pernah ada, cinta dan hubungan itu tidak seharusnya ada, dengan begitu Lula bisa menjalani hidup nya yang sudah terlampau kacau dengan semestinya tanpa perlu melibatkan sesal akan kehilangan atau rindu yang selalu berada menusuki nya dengan sangat tajam.
"Aditya"
Seru Lula dalam air mata yang mulai berjatuhan.
Lula menghelai nafas sembari memejamkan matanya. Ada keberadaan seseorang bersama nya dengan kisah yang sempat ada yang kembali berada dalam ingatan nya, didalam matanya yang saat ini berada terpejam.
"Oke kita mulai ya"
Seru Nara dihadapan empat laki laki di hadapan nya saat ini, meski hanya Afka dan Brian yang memperhatikan nya. Selebihnya untuk Aditya tatapan nya berada memperhatikan Nara tapi tidak untuk telinga dan pikiran nya yang berada tertuju akan Lula. Sedangkan Iqbal dia sibuk membaca beberapa buku yang berisikan tentang musik, kunci gitar, nada dan semacamnya.
"Jadi tugas yang di maksud dialam terbuka adalah penanaman seratus pohon di air dan sertus pohon di darat. Nah setiap kelompok harus menentukan dengan jenis bibit pohon apa yang nantinya akan di tanam di air dan di darat. Setelah ditentukan dan sesuai dengan unsur unsur nya. Baru kita pelajari dari bibit itu sendiri, keunggulan dan manfaatnya"
Perjelas Nara dengan tugas yang bu Anita berikan.
Setelah sibuk ber jam jam mengenali jenis jenis bibit pohon, menyesuaikan dengan unsur unsur yang diperlukan untuk menyesuaikan dengan tugas yang diberikan menjadikan Nara merasakan perut kosong dengan cacing cacing didalamnya yang bersorak ramai meminta Nara untuk mengisi perut nya dengan makanan.
"Kita istirahat dulu ya, gua laper deh"
Seru Nara kepada Afka dan Aditya.
Menoleh memperhatikan Iqbal yang masih sibuk dengan buku yang dibacanya, sedangkan Brian terlelap tidur diatas sanggaan kedua lengan tangan nya.
"Yaudah"
Seru Afka dengan menutup buku buku nya.
"Gua ketoilet dulu ya"
Lanjut Aditya langsung bangun dari duduknya dan bergegas pergi, yang sebenarnya bukan benar untuk ketoilet.
Nara dan Afka bangun dari duduknya secara bersamaan saling menatap satu sama lain untuk beberapa saat menjadikan Nara tersenyum dengan lebarnya sedangkan Afka tersenyum dengan memiringkan disatu sudutnya.
"Mau kemana?"
Tanya Iqbal setelah menutup bukunya dan melihat Nara dan Afka yang sudah bangun dari duduknya.
"Kita mau makan, yuk ikut sekalian"
Jawab Nara sekaligus mengajak Iqbal untuk ikut.
"Gua nitip aja boleh"
Seru Iqbal ingin menerapkan dalam permainan gitar nya setelah selesai dengan apa yang dipelajari nya.
"Boleh dong, lo mau makan apa?"
"Terserah, samain aja sama kaya lo"
"Kalo Brian?"
"Brian apa aja"
Seru Afka yang menjawab nya.
"Brian mah apa aja dimakan, Nara"
Lanjut Iqbal dengan tawanya.
Nara memperhatikan Brian yang terlelap tidur dengan mulut nya yang ternganga, menjadi tertawa melihat nya. Sedang tidurpun masih saja ada hal yang menjadikan nya tampak konyol dan lucu.
"Udah selesai kerja kelompok nya?"
Tanya pak satpam dengan Nara dan Afka yang akan keluar.
"Belom selesai pak? Pak satpam jaga sendiri?"
Jawab Nara sembari menanyai dengan pak satpam yang berada seorang diri.
"Seharusnya berdua neng tapi yang satunya lagi sakit, jadi bapak sendiri deh"
Jelas Pak satpam.
"Yaudah kita cari makan dulu ya pak, pak satpam udah makan?"
Lanjut Nara sebelum beranjak pergi.
"Belom neng"
Seru pak satpam dengan cengiran giginya.
Nara tersenyum mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompet yang berada di bawanya.
"Bukan apa apa pak, jangan tersinggung juga, anggap aja ini ucapan makasih Nara karna pak satpam udah bukain ruang perpustakaan buat Nara sama yang lain nya belajar, terus pak satpam kan belom makan sedangkan pak satpam harus punya tenaga ekstra karna harus jaga sekolah sendirian"
Perjelas Nara dengan menyodorkan uang seratus ribuan itu kepada pak satpam, bertutur panjang lebar lebih dulu karna Nara tidak ingin niat baik nya malah menjadikan ketersinggungan untuk pak satpam ataupun Afka yang sekedar memperhatikan nya.
Afka tersenyum tipis memperhatikan Nara, ada saja hal yang selalu menjadikan Nara tampak mengagumkan.
"Aduh neng bapak kan cuman gantiin penjaga sekolah aja buat bukain pintu, itu bukan apa apa ko"
Perjelas Pak satpam, ragu ragu diantara ingin meraih nya tapi dirasakan tidak enak kepada Nara.
"Pak satpam udah ambil aja, kelamaan nanti Nara bisa mati kelaperan ini"
Gretu Nara dengan senyum nya, memperjelas sodoran nya.
"Makasih ya neng"
Nara tersenyum mengangguki.
"Kalo gitu Nara cari makan dulu ya pak, pak satpam juga jangan lupa beli makan nya"
Seru Nara sebelum beranjak pergi.
Nara tersadar dengan Afka yang terus memperhatikan nya.
"Gua bukan bermaksud cari perhatian lo, gua kasih itu karna gua pernah tau gimana rasanya menjadi lelah dan merasakan perut kosong karna lapar dan rasanya benar-benar ngga enak"
Perjelas Nara tidak ingin apa yang dilakukan barusan disalah artikan oleh Afka.
Benar adanya dengan Nara yang tau bagaimana rasanya menjadi lelah dengan perut kosong kelaparan. Dirasakan nya saat berada dimasa lalu nya. Masa dimana uang sangat lah sulit didapatkan untuk nya, saat dimana Nara mulai berfikir bahwa uang adalah segalanya.
"Tau dari mana kalo gua mikir kaya gitu?"
Tanya Afka dengan gumam Nara akan perkiraan tentang dirinya.
Nara menghentikan langkahnya sekedar menghadap Afka dan menjadikan ekspresi dan tatapan nya serius.
"Karna gua ngga tau apa pikiran lo, gua ngga mau ada hal jelek tentang diri gua dipikiran lo, sekalipun itu bener adanya. Entah lah tapi aneh nya gua ngga mau keberadaan gua berada celah dipikirkan lo, gua hanya mau menjadi sempurna"
Berada tersenyum setelah menyelesaikan ucapan nya, sebelum berbalik dan kembali melaju dengan langkahnya.
Afka terpaku diam memahami semua kata kata yang Nara ucapkan tapi tidak dapat memahami dengan maksudnya.
"Apa, apa barusan, hhhh... kenapa rasanya seperti mengungkapkan perasaan"
Gretu Nara dalam langkah dan didalam hatinya. Merasa jengkel dengan apa yang baru saja dikatakan nya.
Berada dengan banyak nya jajaran makanan dengan bermacam-macam, yang jarak nya tidak begitu jauh dari sekolah hanya perlu berjalan kaki kurang lebih 7 menit.
Nara menuju gerobak bubur ayam dan segera memesan satu untuk dibungkus.
"Buat siapa?"
Tanya Afka memastikan.
"Lula, dia lagi sakit pasti mulut nya akan ngga enak buat makan makanan selain bubur"
Seru Nara menjelaskan, saat berada memikirkan ingin makan apa tiba tiba keberadaan Lula yang tengah terbaring sakit langsung berada dipikirkan nya.
"Lo mau makan apa?"
Tanya Afka dengan makanan apa yang Nara inginkan.
"Gua mau makan mie ayam, lo sendiri?"
"Samain aja kalo gitu"
Nara tersenyum dengan lebarnya setelah dengan Afka yang ingin menyamai dengan makanan yang Nara inginkan.
"Kenapa? Gua juga karna lagi mau mie ayam aja, bukan karna ngikutin lo"
Gretu Afka menjadi bergelagap aneh dengan Nara yang tersenyum lebar kepadanya.
"Emang siapa yang bilang kalo lo ngikutin gua?"
Tanya Nara, tau dengan pertanyaan nya ini malah akan menjadikan Afka semakin tidak nyaman, tapi itu lah tujuan nya.
"Ya senyum lo begitu, siapa juga yang ngga salah paham"
"Aneh dasar"
Tersenyum Nara menahan tawanya. Afka yang beberapa kali menjadi aneh dan gugup, dipikir Nara itu karna dirinya.
"Brian, Iqbal dan Aditya mereka suka apa?"
Tanya Nara setelah dengan bubur ayam yang selesai dibelinya.
"Samain aja mie ayam, mereka suka ko"
Lanjut Afka tau cukup baik dengan apa apa yang disukai dan tidak disukai oleh ketiga sahabatnya.
Setelah dengan lima mie ayam dan satu bubur ayam Nara dan Afka kembali kesekolah.
Nara meletakkan beberapa bungkus yang dibawanya, selebihnya Afka yang membawakan semua dengan kantong yang cukup berat berisikan botol botol minuman.
"Biar gua aja ya yang anter punya Lula sama Aditya"
Seru Nara setelah dengan bungkusan berisikan bubur ayam dan satu bungkus mie ayam serta dua botol minuman, siap untuk diantarkan diruang UKS.
"Mau gua temenin?"
Tawar Afka, memastikan nya lebih dulu.
Nara tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Biar gua aja sendiri, lo bisa bukain dan siapin punya gua"
Lanjut Nara tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya.
"His, malah jadi nyuruh"
Gretu Afka dengan senyum yang berada dimiringkan disatu sudut bibirnya.