I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
3



Terluluh kalah dalam rasa bersalah. Mengingat kedua lengan tangan Afka, seseorang yang terluka karna dirinya membuat Nara terus memikirkan dengan rasa bersalah.


Nara selalu menjalani hidup dengan mengesampingkan rencana semua yang terjadi dibuat begitu saja dan seringkali memberi kejutan. Dengan ini seringkali pribadi dan kecerobohannya melukai diri sendiri atau orang disekelilingnya. Bukan tanpa alasan, menjadikan rencana untuk pacuan kedepan hanya akan membuat lelah, pikir Nara.


Rencana, Nara tidak menyukai akan satu kata itu. Untuk Nara adanya rencana akan banyak menciptakan upaya, usaha yang melelahkan. Terlebih lagi jika dibuat patah dengan upaya yang menjadi sia-sia. Patah yang pada akhirnya akan meninggalkan luka.


Nara menyukai diri dan pribadinya saat ini. Biar semua yang terjadi ada sebagai kejutan untuknya. Kecerobohan, lalai dan kesalahan biar terjadi sesuka takdir mengaturnya. Nara akan membenahi, mengobati, dan meminta maaf nantinya, dan semua akan kembali baik.


Bel istirahat berbunyi belum lama bu Anita meninggalkan kelas, Nara sudah bangun dari duduknya dan berlari keluar.


"Sorry, boleh tau ruang UKS dimana?"


Tanya Nara menghentikan salah seorang siswa yang tengah berjalan dengan arah yang berlawanan darinya.


"UKS? Lurus aja belok kanan ruangannya sebelah kiri."


Jelas seseorang menunjukan jari telunjuknya dengan menjelaskan.


Nara tersenyum dengan lebarnya,  memang selalu menampakkan keramahan dalam sorot mata dan senyuman. Entah kepada orang dekat atau orang asing yang baru dijumpainya.


"Makasih."


Seru Nara sebelum kembali berlari dengan arahan yang sudah ditunjuk seseorang kepadanya.


"Permisi bu saya boleh pinjem kotak P3K?"


Tanya Nara setelah menyelonong masuk kedalam ruang UKS.


"Silahkan, ada di laci."


Tunjuk petugas UKS kepada sebuah laci di dekat bangsal.


Nara tersenyum mengangguki, mengambil cepat kotak P3K dari dalam laci.


"Kalo gitu saya pinjam ya bu, nanti akan saya kembalikan."


Pamit Nara sudah dengan kotak P3K yang dibawanya.


Nara bergegas untuk kembali ke kelas.


Langkahnya terhenti dengan dua laki-laki yang berpapasan dengannya.


"Temen lo yang satunya lagi mana?"


Tanya Nara kepada dua laki-laki yang saat ini sudah berada di hadapannya, Aditya dan Brian.


"Siapa? Afka maksudnya?"


Tanya Aditya memastikan.


"Namanya Afka, iya yang satu kelas juga sama kita."


Tersenyum Nara, perjelas dengan seseorang yang dimaksudnya.


"Afka masih dikelas."


Jelas Aditya kepada Nara.


Nara tersenyum mengangguki.


"Eh iya gua belom kenalan sama lo berdua."


Dengan Nara yang mengulurkan tangannya, tersenyum begitu ramah.


Aditya yang akan lebih dulu meraih tangan Nara namun ditepis Brian untuknya meraih lebih dulu untuk berada menggenggam tangan Nara dengan kedua tangannya.


"Gua Brian, pria tampan dan paling keren di sekolah ini."


Jelas Brian menatap tajam dengan senyuman di wajahnya, selalu dengan gaya tengil terlebih dengan permen karet yang tengah di kunyahnya melengkapi sosok ketengilannya. Memang tampan dan cukup keren dengan tampilan juga dengan wajah yang dimiliki.


Nara melebarkan tatapan tersenyum memperlihatkan deretan giginya. Dirasa lucu dengan sosok dan karakter Brian. Dilihat Nara Brian punya banyak kepercayaan diri yang berbeda.


"Ah iya Brian, salam kenal ya."


Nara mengangguki dengan berusaha melepaskan tangannya yang digenggam erat oleh kedua tangan Brian.


"WOY GANTIAN!"


Teriak Aditya tepat di telinga Brian.


Spontan Brian melepaskan kedua tangannya untuk memegangi telinga yang dirasa berdengung kesakitan dengan suara Aditya yang melentang kencang di telinganya.


"Gua Aditya."


Lanjut Aditya meraih tangan Nara dengan tersenyum ramah memperlihatkan karisma dewasa dari caranya menatap Nara juga dari caranya tersenyum.


"Aku Nara, salam kenal ya Aditya."


Nara ikut tersenyum dengan ramah.


Keduanya terpaku saling memperhatikan dengan tangan yang masih saling mengaitkan, Nara dan Aditya.


"Prkkkkk..."


Tertunduk kepala Aditya dengan Brian yang memukul kepala bagian belakang.Membuat Aditya tertunduk dan melepaskan tangan Nara.


Aditya menoleh, menatap tajam Brian.


"Lo duluan kan."


Cetus Brian menjelaskan, dibuat ketakutan dengan tatapan tajam Aditya saat ini.


"Apa?"


Lanjut Brian dengan Aditya yang malah diam memperhatikannya.


Nara tertawa menyaksikan keduanya.


"Kalo gitu gua duluan ya, Aditya, Brian."


Pamit Nara dengan menyebut nama keduanya.


"Lo enggak mau ke kantin? Bareng aja."


Tawar Aditya kembali memperhatikan Nara dalam sorot matanya yang semula.


"Ayo gabung sama kita, biar gua yang tlaktir."


Sambung Brian.


Nara kembali tersenyum memperlihatkan deretan giginya dengan tawaran keduanya.


"Kalian duluan aja gua mau balik ke kelas dulu."


"Kalo gitu gua duluan ya."


Pamit Nara kembali dengan langkahnya untuk kembali ke kelas.


Sesampainya di kelas, Nara menghampiri Afka yang sudah dengan langkahnya untuk keluar kelas.


"Afka?"


Panggil Nara dengan beberapa jarak Afka yang melewati tanpa menatap keberadaannya.


Afka berbalik menatap Nara tanpa ekspresi.


"Tau nama gua dari mana?"


Tanya Afka dengan Nara yang memanggil namanya.


"Dari Aditya."


Jelas Nara masih terpaku menikmati matanya yang dirasa tenang saat memperhatikan ketampanan Afka.


Afka berbalik akan meninggalkan Nara, namun langkahnya terhenti dengan Nara yang menarik tangannya.


"Jangan pergi dulu."


Afka memperhatikan tangannya yang berada di genggam Nara.


"Sorry, enggak bermaksud apa-apa."


Dengan Nara yang langsung melepaskan tangan Afka dari genggamannya.


Setelah tangannya dilepas Afka mengalihkan pandangannya untuk menatap Nara.


"Biar gua obatin lengan tangan lo ya."


Dengan Nara yang tersenyum,  memperlihatkan kotak P3K yang dibawanya.


"Enggak usah biar nanti gua obatin sendiri."


Afka tanpa ekspresi.


"Harus diobatin sekarang, kalo nanti takutnya makin parah. Gua cuman mau bertanggung jawab atas kesalahan gua."


Minta Nara, membujuk Afka.


Nara beranjak untuk menarik kursi tidak jauh dari posisi keduanya berhadapan.


"Duduk."


Perintah Nara.


"Apa perlu gua pegang tangan lo, narik lo biar lo mau duduk?"


Nara mengarahkan kursi dengan sodoran wajahnya mengartikan Afka untuk duduk.


"Hhhh ...."


Afka menghelai nafas, beranjak duduk dengan kursi yang sudah di persiapkan.


Perempuan aneh begitu ceria berada saat ini duduk berhadapan dengan jarak yang begitu dekat dengannya.


Nara memperhatikan Afka dengan tatapan penuh, melebarkan senyumannya dengan Afka yang terus memperhatikannya.


"Tangan lo."


Minta Nara.


Afka mengulurkan lengan kanannya untuk dibersihkan dan di obati oleh Nara.


"Gua minta maaf ya soal kejadian tadi pagi dan bikin lo luka kaya gini."


Nara ditengah kesibukannya membersikan lengan Afka yang terluka.


Nara mengangkat pandangan dengan Afka yang hanya diam tidak menjawab.


"Lo masih enggak mau maafin gua? Setelah gua udah minta maaf berkali-kali dan sekarang ngobatin luka lo?"


Tanya Nara memastikan.


"Emangnya penting maaf gua?"


Apa berartinya maaf dari orang asing. Afka mempertanyakan itu dengan Nara yang sampai seperti sekarang ini.


"Penting, apa yang saat ini gua lakuin bukan semata mata buat dapetin maaf lo aja, tapi juga buat diri gua sendiri. Kesalahan adalah cacat buat gua, jadi tanpa maaf cacat itu enggak akan tertutup."


Afka dibuat terpaku kaku dengan apa yang diutarakan Nara dalam senyum tipis yang mengikutinya.


"Mm, gua maafin"


Afka mengangguk dengan lontaran maaf yang diberinya.


Nara melebarkan senyuman, terlihat menjadi lebih ceria sekedar maaf yang didapatkannya dari Afka.


Kembali tertunduk untuk memberikan plester menutupi luka Afka setelah dibersihkan dan di obati.


"Lain kali hati-hati."


Seru Afka memperhatikan Nara yang masih tertunduk dalam lukanya.


"Coba kalo lo luka dihari pertama lo masuk sekolah."


Lanjut Afka kembali dengan ucapannya. Akan kesalahan yang menjadi cacat, kata-kata seolah memberikan sentuhan hangat dihatinya. Membuat Afka memberi tatapan berbeda kepada Nara.


"Mm, semua berkat lo, makasih dan maaf."


Nara tersenyum menatap Afka.


Nara yang kemudian mengulurkan tangannya dalam senyuman lebarnya.


"Buat apa?"


Tanya Afka memastikan dengan sodoran tangan Nara kepadanya.


"Kita kan belom kenalan."


Jelas Nara.


"Kan udah tau nama gua."


"Tapi bukan dari pemilik namanya."


"Hhhh..."


Afka kembali menghelai, dengan senyum yang ikut merekah kali ini diperlihatkannya. Mengulurkan tangan untuk dikaitkan dengan tangan Nara.


"Nara."


Seru Nara menyebut namanya, memperkenalkan dirinya kepada Afka.


"Afka."


Lanjut Afka masih dengan senyum tipisnya.


Keduanya terpaku, manahan tangannya satu sama lain untuk saling menggenggam dalam beberapa saat.


"Kruk.. Krukkk.."


Terdengar kruyukan perut kosong, setelah dengan cukup lama Nara menahan rasa laparnya.


Membuat tangan kedunya sama sama terlepas.


"Lo laper?"


Tanya Afka. Bukan sekedar senyum yang terurai tapi kali ini tawa yang diperlihatkannya.


"Mm."


Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya dengan sedikit rasa malu.


"Terkesan menjadi bodoh dan memalukan."


Batin Nara dalam senyumnya.


"Pagi enggak sempet sarapan soalnya."


Jelas Nara.


"Yaudah mau ikut gua sama yang lain makan di kantin?"


Tawar Afka dengan senyum yang mereda.


"Boleh emangnya?"


Nara yang balik bertanya memastikan dengan senang.


"Mm."


Afka yang mengangguki.


Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya dan mengangguki, mengiyakan tawaran Afka.