I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
7



Menutupi untuk berada tetap tertutup.


Sesekali bahkan menjadi sering kali Nara bermimpi menjadi utuh sempurna. Setidaknya menjadi benar dengan apa yang sering kali diperlihatkan kepada banyak orang, ceria dan baik baik saja.


Sampai dengan hari ini tidak satu orang pun yang mendengar kan atau setidaknya dapat memahami Nara. Karna Nara sendiri selalu menutup rapat apa yang menjadi cacat untuk dirinya sendiri.


Cacat yang ada selalu menciptakan ketakutan untuk Nara.


Langkah Nara membawa Nara berada berhenti disatu warung kopi yang berada di sebuah gang yang cukup jauh dengan jalanan dan keramaian.


"Bude"


Sapa Nara dengan ceria nya menghampiri sesosok perempuan yang tengah menata gorengan di atas nampan, Bude An pemilik warung.


"Neng Nara"


Sapa balik bude An kepada Nara dengan ikut tersenyum.


"Atas kosong ngga bude?"


Tanya Nara. Atas yang di maksud Nara adalah atap dari warung kopi bude An yang sering kali Nara jadikan sebagai tempat menyendiri. Karna atap dari warung bude An selalu kosong, sekedar digunakan untuk menjemur makanan atau kerupuk kerupuk yang biasa bude An buat.


"Kosong ko neng, neng kalo mau pake pake aja"


Jelas bude An yang langsung memahami niat Nara.


Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Bude paham aja, kalo gitu Nara naik ya"


Bude An tersenyum mengangguki.


Nara menaiki tangga yang terbuat dari kayu.


"Krkttt..krkttt.."


Beberapa pijakan tangga yang di injak Nara menjadi berbunyi.


Nara duduk beralaskan kardus dengan menyenderkan punggungnya pada tembok ruangan, satu ruangan berada di atap warung bude An. Hanya gudang, jelas bude An saat itu.


Nara mengeluarkan belanjaan dari kantong plastik yang dibawanya.


Merogo mencari keberadaan korek kecil yang semula di masukan nya dalam saku sweater nya.


Tetapi setelah dirogoh nya dengan baik Nara tidak juga menemukan korek nya. Sampai Nara mengeluarkan dompet dan segepok uang untuk memastikan kalo saja korek yang dibawanya terselip. Tetapi tetap saja tidak ada.


"Apa jatoh ya"


Gumam Nara menebak dengan korek nya yang dipikir sudah terjatuh.


Nara terdiam memikirkan kemungkinan dimana korek nya terjatuh.


"Hah, ngga"


Nara dengan menggeleng gelengkan kepala nya saat tiba tiba berfikir jika koreknya terjatuh saat Nara dengan tidak sengaja menabrak Afka.


"Kalo pun jatoh pas tabrakan tadi, ngga mungkin Afka yang nemuin kan"


Gretu Nara menjadi panik sendiri.


"Hhhhh..."


Helai Nara menjadi penat sendiri.


Nara menarik sebatang rokok dari bungkus nya, dan dibawa Nara turun sebatang rokok yang sudah berada terhimpit diantara jari telunjuk dan jari tengah nya.


"Bude Nara pinjem korek dong"


Minta Nara menghampiri Bude An.


Bude An langsung mengambilkan nya dan menyodorkan nya kepada Nara.


"Biasanya bawa sendiri"


Nara langsung meletakkan sebatang rokok yang dibawanya untuk berada di bibirnya dan segera mengenakan ujung rokok dengan korek yang sudah di nyalakan nya. Ditahan beberapa saat ujung rokok dan korek yang menyala sekedar Nara menghisap nya sampai menjadikan rokok nya terbakar sempurna.


"Uwhhhh..."


Nara melepaskan asap yang sudah berada penuh dari mulutnya.


"Tadi bawa bude, cuman kayak nya jatoh deh"


Jelas Nara dengan mengembalikan korek nya kepada Bude.


"Nara naik lagi ya, Makasih bude korek nya"


Bude meraih nya, memperhatikan Nara yang kembali pergi ke atas dengan menggeleng gelengkan kepala nya.


Bukan karna terheran dengan apa yang Nara lakukan, hanya saja menjadi kasihan dengan Nara yang dirasakan bude tidak baik baik saja.


Gadis cantik dengan banyak uang yang dimiliki tapi menjadi sesosok seseorang yang terluka dan kesepian. Bude memahami nya karna Nara sudah cukup lama menjadikan warung nya sebagai tempat persinggahan nya. Sesekali dengan rokok yang tengah dihisap nya bude memergoki Nara tengah menangis terisak-isak.


"Assalamualaikum, Bude"


Seru seseorang menghampiri Bude yang tengah memperhatikan Nara yang baru saja meninggalkan nya.


"Walaikum salam, eh Iqbal"


Balas Bude begitu ramah.


Nara menghentikan langkahnya yang tengah menaiki tangga setelah didengar nya suara yang tidak asing terlebih dengan sebutan bude dengan nama seseorang.


"Iqbal"


Gumam Nara pelan, dengan suara yang dirasa sama persis dengan suara Iqbal.


"Cuman mirip atau_"


"Hhhh..."


Nara yang membiarkan nya dan kembali naik mengabaikan.


Nara kembali duduk, membuka salah satu kaleng minuman yang dibelinya dan menengguk sampai menghabiskan dari setengah nya.


Nara kembali menghisap rokok nya dengan diam dan hening nya saat ini, menjadikan matanya berkaca-kaca.


"Uwhhh..."


Dengan asap rokok yang dihembuskan Nara, air matanya mulai ikut berjatuhan.


Sering kali dengan rokok yang tengah dinikmati nya kedua matanya ikut di pejamkan, sekedar membuat dirinya, batinnya menjadi lebih tenang.


Meredam, melampiaskan hanya dengan ini Nara meluapkan nya.


Seiring waktu luka dan rasa sakit yang ada semakin dirasa semakin dalam.


Dengan rokok yang hampir habis di hisapnya Nara menundukan kepalanya dengan disangga satu lengan nya di antara kedua lutut kakinya.


Dalam tundukan nya setelah beberapa saat Nara menjatuhkan rokok yang semula berada di pegang nya.


Menyilangkan tangan nya untuk Nara dapat mencengkramnya dengan erat. Nara terisak isak dengan tangisan nya yang begitu deras. Semua gambaran dari kejadian kejadian yang melukai nya sering kali datang dan menjadi nyata sama seperti sekarang ini.


Cukup lama Nara tenggelam dalam tundukan dan tangisan nya, setelah kembali mengangkat kepalanya hidung mancung Nara menjadi merah dengan kedua mata Nara yang ikut menjadi merah terlihat sedikit sembab.


Nara yang kemudian membuka satu kaleng minuman yang lain nya dan menengguk sekaligus sampai habis.


Nara kembali mengeluarkan sebatang rokok dan menyalakan dari rokok yang tergeletak menyisakan bara yang masih menyala.


"Uwhhhh.."


Tiup Nara dengan asap asap rokok yang berada dihisap dan dilepaskan nya.


Tenang dan menjadi sedikit lega.


Seperti sebuah ponsel yang telah terisi daya, kembali dapat berfungsi.


Hari berikutnya menanti, bahkan sekedar untuk satu detik kedepan saat ini juga sudah berada menunggu Nara.


Nara bertekad untuk menjalaninya seperti hari hari sebelumnya, kuat dan ceria.


Biarlah dengan seperti apa masalalu yang berada dalam ingatan Nara, tetapi jangan menjadi luka juga apa yang nantinya menjadi masa depan untuk Nara.


Setelah dengan rokok ketiga yang dihisap nya, Nara menatap segepok uang yang berserakan dibawah yang semula didapat Nara dari Aron yang memberikan nya.


Dua tahun yang lalu Nara begitu mencintai uang diantara kehidupan yang sulit yang sebelumnya dijalani nya bersama Mama.


Dan hari ini Nara mendapatkan apa yang sebelumnya dicintai dan di ingin inginkan.


Tapi Nara masih tidak baik baik saja.


Adakalanya sesuatu yang sangat kita butuhkan terkesan kita mencintai nya, tetapi menginginkan dan mencintai adalah dua hal yang berbeda.


Uang adalah hal yang Nara butuhkan yang Nara inginkan,  bukan sesuatu yang Nara cinta.


Nara membereskan uang, dompet dan bungkus rokok nya untuk kembali masuk kedalam dua saku sweater nya.


Nara turun duduk dekat dengan Bude An yang tengah sibuk di balik meja panjang yang menjadi batasan antara bagian luar dan dapurnya.


"Bude, Nara mau teh anget manis nya satu ya"


Pesan Nara dengan senyum ceria nya, masih menyisakan hidung dan matanya yang memerah.


"Sebentar ya bude buatin dulu"


Bede An yang langsung membuatkan pesanan Nara.


"Masih sepi bude"


Tanya Nara dengan menyomot satu gorengan yang berada di nampan di hadapan nya.


"Iya neng, tau sendiri jam segini mah emang sepi, rame kan paling kalo anak anak bolos sekolah sama malem kalo pada nongkrong"


Jelas Bude An dengan meletakkan segelas teh hangat di hadapan Nara.


Nara memang lebih suka datang di jam jam menjelang sore seperti ini, karna warung bude An masih sepi. Jika jam jam sekolah banyak anak anak yang berada memenuhi warung bude An sekedar untuk bolos sekolah. Dan malam nya akan jauh lebih penuh dan begitu ramai dengan anak anak yang sekedar berkunjung untuk jajan atau datang karna warung bude An adalah markas nya.


Setelah di habisi satu gorengan dimakan nya, Nara meminum habis teh hangat yang sudah berada di hadapan nya.


Menghabiskan dua kaleng minuman bersoda dengan kadar alkohol didalam nya membuat perut nya seperti berbusa dan rasanya seperti tidak nyaman.


"Jadi berapa bude?"


Tanya Nara setelah meletakkan gelas kosong kepada tempat nya semula.


"Teh hangat sama gorengan satu, jadi lima ribu neng"


Jelas Bude dengan harga yang harus Nara bayar.


Nara memberikan uang lima puluh ribuan kepada Bude An.


"Yang kecilan ngga ada neng"


Tanya Bude An setelah dengan uang lima puluh ribuan di pegang nya.


"Ngga usah di kembaliin bude"


"Orang lima ribu gimana jadi lima puluh?"


Tanya Bude An tidak memahami nya.


"Buat besok besok lagi kalo Nara jajan"


Jelas Nara, yang sebenernya memberikan uang lima puluh ribuan untuk membayar atap yang sering Nara gunakan.


"Kalo gitu Nara pergi dulu ya De"


Lanjut Nara pamit sebelum pergi.


"Hati hati ya neng"


"Nara"


Seru Iqbal yang baru keluar dan menatap Nara yang baru saja menjauh pergi. 


Nara sudah lebih dulu menjauh tidak mendengar suara Iqbal yang menyerukan namanya.


"Iqbal kenal sama neng Nara?"


Tanya Bude An yang menjadi terarahkan kepada Iqbal yang saat ini berada di hadapan nya.


"Siswa baru di sekolah Iqbal bude, dia ngapain kesini?"


Lanjut Iqbal menanyakan keberadaan Nara.


"Iya kesini mau jajan"


Jelas Bude An.


"Tapi tadi pas Iqbal masuk dia ngga ada"


Terheran dengan kapan Nara datang, sampai Iqbal tidak melihat keberadaan nya.


"Iqbal ngga lama masuk, neng Nara dateng"


Jelas Bude an berbohong. Meski tau Iqbal seseorang yang dapat di percaya, tapi tetap saja kebiasaan Nara adalah urusan Nara, jadi bude An tidak punya hak untuk memberitahukan nya.


Bude An yang kemudian kembali dengan kesibukan nya.