I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
32



Saat seseorang belum dengan kesadaran sepenuh nya dan dengan perasaan nya yang tengah lelah dan terluka maka dia akan melangkah dengan sendirinya untuk beranjak pergi atau bahkan berlari.


Berada menjadi sadar membuat seseorang harus tetap bertahan dan berada di tempat nya. Tidak menghiraukan banyak hal yang dirasakan atau keinginan yang pada akhirnya terabaikan.


Seperti sekarang ini yang tengah terjadi kepada Nara. Berlari keluar setelah terbangun dari tidur nya, tidur yang menghadirkan mimpi buruk sampai membuat nya hilang akal. Bagaimana mungkin seorang siswa baru dapat bersikap seenaknya seperti tadi, padahal sudah tau dirinya yang salah.


Nara berada duduk di kursi panjang di lorong didekat lapangan.


"Hhhhhh.."


Nara menghelai nafas dan memejamkan mata setelah sadar dengan apa yang barusan dilakukan nya.


Menyiapkan diri dan mental nya karna setelah ini akan ada cacian dan hukuman yang menanti nya.


Tengah berada memikirkan kejadian beberapa saat lalu di kelas Nara tiba tiba teringat dengan mimpi buruk yang dimimpikan nya, kematian.


Bu Ririn sudah memulai pengajaran nya setelah beberapa saat waktu nya habis sekedar menggerutu di depan kelas dengan di dengar dan di perhatikan siswa di kelas IPA 1. Ditengah materi yang di terangkan Afka berseru dengan mengangkat tangan kanan nya.


"Maaf bu"


"Iya Afka?"


Jawab bu Ririn setelah dilihat dengan Afka yang mengangkat tangan nya.


"Saya boleh ijin ke toilet"


Lanjut Afka dengan alasan nya mengangkat tangan.


"Silahkan"


Berada keluar bukan untuk ketoilet melainkan mencari keberadaan Nara saat ini. Setelah berada mencari di beberapa sudut akhirnya Afka menemukan Nara yang tengah duduk di kursi di lorong dekat lapangan dengan menyandarkan kepalanya di dinding perpustakaan.


Afka tidak menghampiri sekedar memastikan keberadaan nya, dan kemudian Afka berbalik pergi bukan untuk kembali ke kelas tapi untuk pergi ke kantin.


"Mie instan sama air mineral nya satu ya Bu"


Pesan Afka kepada ibu yang berada berjualan di salah satu warung di kantin.


Setelah dengan satu cup mie instan dan sebotol minuman Afka kembali ketempat Nara, kali ini bukan sekedar memperhatikan nya tapi menghampiri.


"Nih"


Sodor Afka dengan cup mie instan yang dibawakan nya.


Aera menoleh dengan seseorang yang sudah berada duduk di samping nya. melebarkan tatapan nya dengan keberadaan Afka dan dengan apa yang disodorkan kepada nya.


"Muka lo kenapa?"


Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan pertanyaan sebelumnya setiap kali berada melihat Nara dan menjadi sadar dengan pipi Nara yang memar dan lebam.


Nara tersenyum menggelengkan kepala.


"Ngga papa ko, cuman karna jatoh dari tempat tidur"


Perjelas Nara.


"Ini mie buat gua kan?"


Nara yang langsung meraih cup mie instan yang Afka sodorkan.


"Tapi luka nya_"


Belum selesai dengan ucapannya Afka diam menahan diri. Bagaimana pun ini bukan urusan nya, apa yang terjadi dengan Nara saat berada didalam rumah itu adalah urusan pribadi yang tidak dapat dicampuri nya sebagai orang asing atau sekedar teman satu kelas.


"Cerita nya panjang, tapi gua ngga papa ko"


Seru Nara dengan menguyah mie yang tengah dinikmati nya, tau dengan Afka yang akan mengatakan sesuatu namun terhenti karna Afka bukan pribadi yang ingin mencampuri terlalu dalam urusan orang lain.


Prasangka nya semakin kuat dan seolah menjadi benar dengan Nara yang tengah tidak baik baik saja, ada yang terjadi kepada nya. Bukan sekedar dengan apa yang Afka lihat tapi juga dengan apa yang dirasakan nya.


"Ko lo tau kalo gua lagi laper"


Menjadi sedikit aga aneh dengan Afka yang tiba tiba membawakan nya makan dan minum tepat disaat perut nya yang tengah lapar.


"Tadi pas lo tidur perut lo bunyi"


Nara tersenyum dengan lebarnya, menjadi malu dengan Afka yang mendengar suara perut nya yang lapar. Pagi tadi tidak begitu nafsu untuk sarapan.


Afka memperhatikan Nara yang tengah melahap makanan nya. Sengaja di belikan mie karna saat belajar kelompok kemarin Nara begitu menikmati mie ayam dengan sambal yang cukup banyak dicampurkan nya. Dengan itu Afka dapat menyimpulkan jika Nara suka dengan makanan mie dengan rasa yang pedas.


"Kenapa keluar gitu aja?"


Ingat dengan sikap Nara yang keluar begitu saja dari kelas.


Nara tejeda menahan diri untuk menghentikan makan nya saat ini sekedar untuk menoleh dan menatap Afka dengan tatapan yang berbeda.


"Apa tadi keliatan konyol banget ya?"


Afka mengangguki dengan wajah datar nya.


Mengembalikan posisi wajah nya dengan mengunyah pelan sembari berfikir akan tingkah konyol nya itu.


"Kira kira hukuman nya apa ya?"


Tanya Nara memikirkan hukuman apa yang sekira nya akan didapat, dengan begitu dirinya tidak akan terlalu terkejut.


Afka hanya merespon pertanyaan Nara dengan kedua bahu yang dinaikan bersamaan dengan sesaat, mengartikan dirinya tidak tau.


"Hhhh..."


Nara meminum air mineral yang juga dibawakan Afka, membantu makanan yang baru saja dimakan nya untuk segera sampai pada organ pencerna dengan begitu Nara tetap akan menjadi langsing.


"Mimpi akan kematian itu berarti seseorang yang mati dalam mimpi akan berumur panjang kan?"


Tanya Nara terngiang hanya karna sebuah mimpi. Banyak mimpi mimpi yang berada terjadi dalam tidurnya, entah tidur yang singkat atau tidur panjang seharian. Aneh nya ini kali pertama Nara memimpikan seseorang yang mati atau meninggal. Seseorang yang berada dikenali nya. Karna orang itu adalah orang yang di ketahui dan dikenali nya itu yang membuat nya merasa was was dan terus menjadi kepikiran, takut dengan mimpi itu yang dapat berubah menjadi nyata.


"Beberapa mimpi yang sama memiliki arti yang berbeda. Itu yang Omah pernah bilang, jadi gua ngga tau"


Perjelas Afka dengan ekspresi yang sering kali berada diperlihatkan nya, datar. Padahal saat tertawa dan tersenyum ketampanan nya terlihat menjadi berkali-kali lipat. Mungkin Afka tidak menyadari akan itu, sampai dirinya memilih untuk terlihat datar dan kaku. Lagi pula tersenyum dan tertawa memang menjadi melelahkan untuk sebagian orang, seperti Nara misalnya.


"Kenapa?"


Tanya Afka dengan Nara yang menjadi diam seperti tengah memikirkan sesuatu.


"Gua memimpikan, kematian seseorang"


"Siapa orang dalam mimpi itu?"


"Seseorang yang gua harap mimpi itu bener sekedar bunga tidur, dan ngga akan pernah menjadi kenyataan"


Afka mengangguki, dalam hati berharap apa yang diharapkan Nara dikabulkan, dan apa yang ditakuti nya tidak akan menjadi kenyataan.


"Lo kenapa masih disini? Ngga mau balik ke kelas? Atau mau nemenin gua biar bisa dihukum sama sama"


Nara tersenyum meledek Afka dengan percaya dirinya dengan Afka yang akan menemani nya.


"Ini juga mau balik! Gua punya prinsip buat ngga campurin urusan orang dimana urusan itu malah bikin gua susah dan kena masalah"


Ketus Afka bangun dari duduknya, menjadi bergelagat aneh setelah dengan gurauan Nara kepada nya.


"His, yaudah. Makasih ya buat makanan dan minuman nya"


Seru Nara tersenyum dengan lebarnya.


Afka tersenyum tipis dengan senyuman yang berada dimiringkan di satu sudut bibirnya.


Kembali ke kelas dan meninggalkan Nara.


Nara terpaku diam duduk sendirian, menikmati sunyi diantara tempat yang ramai. Angin yang berhembus dengan sering kali mengenai nya.


Bel pergantian pelajaran pun berbunyi, setelah sudah menjadi sangat bosan menunggu satu jam lebih hanya dengan duduk dan memperhatikan hamparan lapangan yang kosong.


Berada masuk kedalam kelas setelah dengan bu Ririn yang keluar dari kelas.


"Nara muka kamu kenapa? Ko lebam gitu sih, ya ampun"


Seru Brian menjadi berlebihan setelah dengan keberadaan Nara dan dengan pipi lebam yang dilihat nya.


Begitu pun Aditya yang bangun dari duduk dan menghampiri Nara ikut memastikan dengan wajah Nara yang lebam dan luka.


"Nara lo habis ditamparin?"


Mengenali dengan luka yang berada di pipi Nara menjadikan Aditya berseru begitu saja.


Afka melebarkan tatapan dan menatap Nara dengan tajam setelah dengan seruan Aditya yang didengar nya.


"Di tampar?"


Gumam Afka menjadi penasaran dengan yang sebenarnya terjadi kepada Nara sampai wajah nya menjadi lebam seperti sekarang ini.


Begitupun dengan Nara melebarkan tatapan setelah dengan Aditya yang tau dengan kenapa wajah nya lebam.


"Bener di tampar Nara? Ko bisa? Siapa yang tampar? Kamu bilang sama aku sekarang"


Lanjut Brian menjadi geram dengan apa yang terjadi kepada Nara. Menjadi tidak suka perempuan yang di sukai nya menjadi terluka seperti sekarang ini.


Nara tersenyum lebar dengan deretan gigi yang diperlihatkan nya.


"Sebenarnya ketampar sendiri, karna mimpi buruk terus kebawa beneran gitu"


Jelas Nara dengan alasan yang sama dengan alasan yang di jelaskan kepada mbo Minah saat pagi tadi menanyakan hal yang sama.


Afka tau dengan Nara yang tengah berbohong, terlihat jelas dari tatapan nya.


Terlebih dengan penjelasan yang berbeda dari penjelasan yang sebelumnya dikatakan.


" Ya ampun Nara aku kira kamu kenapa napa, aku udah kesel aja. Lain kali jangan sampe mimpi buruk lagi ya"


Brian dengan kata-kata manis dan ucapan nya yang selalu begitu lembut setiap kali berbicara kepada Nara.


"Pkk"


Pukul Aditya dikepala Brian seperti biasa, karna begitu muak dan menjijikkan setiap kali mendengar Brian berbicara dengan kata kata dan bahasa yang begitu alay, membuat nya sakit perut dan mual setiap kali mendengar nya.


"Biasa aja kenapa sih"


Sentak Aditya kepada Brian.


"Sakit!"


Balas Brian menyentak Aditya dengan menginjak keras kaki Aditya.


"Aw, sialan"


Nara menghelai tawa, menutupi dirinya yang merasa tidak nyaman sudah membohongi banyak orang hanya karna keadaan nya saat ini.


Ketulusan, dengan uraian senyum cantik di wajah nya, tapi kali ini berada dengan tatapan sendu dan ada kebohongan didalam nya. Sebenarnya apa yang tengah terjadi kepada Nara? Pertanyaan yang tengah berseru ramai dalam batin Afka saat ini. Seandainya bukan kemampuan memahami tatapan seseorang yang dimiliki nya tapi kemampuan mendengarkan isi hati seseorang, dengan begitu Afka akan tau semua nya tanpa perlu berprasangka dan menerka nerka seperti sekarang ini.