I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
16



Berada dengan waktu yang kembali mempertemukan Nara dengan keempat laki laki yang telah menjadi tempat kesenangan nya setelah kurang dari satu Minggu terakhir.


Setiap kali berada menjadi bagian dari keempat nya, berada diantara nya menjadikan Nara menikmati hidup dengan apa yang sebelumnya belum pernah dirasakan.


Seolah tidak lagi peduli, tidak lagi ingin tau dengan seperti apa mereka menatap dan menggangap keberadaan nya.


Entah sama dengan yang sebelumnya, hanya karna paras dan fisik yang sempurna, atau dengan cara yang berbeda, Nara tidak lagi memikirkan nya. Yang jelas Nara menikmati ini dan Nara menyukai nya.


Dimana keberadaan nya benar ditatap adanya, bicaranya didengar dan benar di pahami dan dimengerti.


Berbicara, bercanda, tertawa, benar benar kebersamaan yang menyenangkan.


"Nara, lo udah ada pacar?"


Tanya Brian di tengah candaan menoleh menatap Nara, menjadikan tawa yang semula ramai seketika mereda tertuju menatap Nara.


Nara melebarkan tatapan nya, ikut menatap satu persatu dari ke empat tatapan yang saat ini berada menatap nya.


Nara tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, mengartikan dirinya belum memiliki pacar.


Yang lain menjadi ramai dan tersenyum, tetapi tidak untuk Afka yang malah menatap Nara dengan ekspresi dan tatapan yang menjadi berbeda.


Ada yang berada saat ini dipikirkan Afka, korek dan sebungkus rokok yang dibeli Nara beberapa hari yang lalu saat kedua nya dengan tidak sengaja berpapasan di minimarket, semua yang dibeli Nara bukan lah untuk pacar nya, tapi sesuai dengan prasangka nya jika itu semua benar untuk Nara sendiri. Terlebih saat itu, saat Afka mengembalikan korek yang Nara jatuhkan, Nara tampak panik dan bingung saat tau Afka yang mengembalikan nya.


Begitu pun untuk Nara saat berada tersenyum dan menatap satu persatu di antara yang lain nya, tatapan nya berhenti cukup lama kepada Afka dengan senyum Nara yang menjadi memudar setelah dilihat Nara Afka yang menjadi berbeda. Nara melupakan sesuatu, beberapa hari yang lalu saat dirinya bertabrakan dengan Afka di minimarket. Dengan jelas Afka melihat barang belanjaan nya, dari situ mungkin saja Afka beranggapan jika itu semua dibeli Nara untuk pacar nya. Lantas setelah dengan tau Nara tidak memiliki pacar, apa yang berada dipikirkan Afka saat ini tentang dirinya dan tentang apa yang dibelinya saat itu.


"Kalo gitu mau ngga jadi pacar aku?"


Seru Brian menjadikan ketiga sahabatnya kembali menatap nya, kali ini dengan tatapan nya yang lebar.


Bahkan Aditya yang tengah menikmati minuman nya pun sampai tersedak.


"Khoo..khooo..Khoo... ngga waras lu ya"


Cetus Aditya setelah membaik dari minuman yang sebelum nya seperti akan keluar dari hidung.


Nara pun mengembalikan tatapan dan dirinya untuk kembali menikmati suasana saat ini dengan mengesampingkan Afka juga prasangka nya.


Kembali tersenyum, mengerutkan dahinya menatap Brian yang kembali dengan tingkah dan bicara nya yang tidak terduga. Aneh nya Nara tidak menjadi marah atau bahkan menanggapi nya dengan serius. Sekalipun benar menjadi serius Nara malah menjadi terhibur, karna dalam pandangan nya Brian adalah pria lucu, yang menyenangkan dan terlalu jujur akan banyak hal.


"Ngga waras apa nya? Emang salah apa kan gua cuman tanya?"


Jawab Brian dengan menatap tajam Aditya.


"Iya karna pertanyaan itu lo jadi salah"


Lanjut Iqbal menambahi, menjelaskan dimana letak kesalahan dengan pertanyaan yang Brian pertanyakan.


"Nah tuh Iqbal aja ngerti, bloon jangan keseringan apa"


Jelas Aditya tersenyum meledek Brian.


Brian menjadi kesal dengan dirinya yang seolah dipermalukan di hadapan Nara. Memilih untuk mengabaikan Aditya dengan celotehan nya. 


"Jadi gimana? Mau ngga?"


Lanjut Brian menatap Nara.


Nara tersenyum menyipitkan matanya dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Nah tuh, Nara orang normal berarti"


Lanjut Aditya menjadi begitu antusias dengan tingkah Brian kali ini, menjadikannya nya bersemangat untuk meledek dan memperlakukan Brian.


Afka sering kali ikut menjadi tertawa dengan hal hal lucu yang berada di lakukan sahabat sahabat nya.


"Ngaco aja lagian"


Cetus Afka dengan senyuman nya, sebelum membuang tatapan nya dari Brian dan menikmati minuman nya.


"Emang selera nya Nara yang gimana sih?"


Kali ini Iqbal dengan pertanyaan nya, menjadikan ketiga sahabatnya menatap Iqbal yang kemudian mengalihkan nya untuk memperhatikan Nara dan menunggu jawabannya.


Nara kembali dibuat melebarkan tatapannya dengan pertanyaan pertanyaan yang didapat untuk nya.


"Mmmm, yang pasti dia kenal gua, dan dia tau dengan seperti apa gua sebenarnya, selebihnya dia sayang dan terima gua apa adanya"


Jawab Nara tersenyum dengan kedua matanya yang menjadi serius.


Afka dapat melihat dan tau dengan tatapan Nara yang menjadi serius, yang menjadikan Afka tau Nara yang mengatakan itu semua dengan perasaan dan kejujuran nya.


"Simple dong kalo gitu"


Seru Aditya setelah memperhatikan dan mendengarkan dengan seperti apa laki laki yang Nara inginkan untuk menjadi pacarnya.


"Tergantung"


Cetus Afka, menjadikan ke empat yang lain nya berada memperhatikan nya saat ini.


Sedangkan tatan Afka berada untuk membalas tatapan Nara yang menatap nya.


"Maksud nya?"


Lanjut Aditya yang tidak memahami maksud perkataan Afka.


Afka yang semula duduk dengan menyenderkan pundak nya kali ini dibuat tegak dan berada meletakkan tangan nya di atas meja, membuat nya lebih dekat memperhatikan Nara.


"Tergantung dengan seperti apa sebenarnya"


Tutur Afka dengan tersenyum manis, tidak ingin menjadikan sindiran nya ini membuat suasana menegang dan menjadikan Nara merasa terpojok tidak nyaman hanya dengan pendapat dan pikir nya.


Sedangkan untuk Brian dan Aditya yang tidak memahami maksudnya hanya mengangguki seolah memahami meski sebenarnya tidak.


Berbeda untuk Iqbal yang menjadi ikut berfikir dengan apa yang Azka katakan.


"Lanjut next time lagi deh pembahasan nya udah malem nih, gua harus cabut sebelum bokap sampai dirumah"


Seru Aditya setelah menghabiskan minuman nya, dan mengenakan jaket yang semula tersampir pada kursi nya.


"Mmm, gua juga harus pulang bantuin bude tutup warung kasian kalo sendirian"


Sambung Iqbal mengangguki.


"Yaudah balik, gua biar anter Nara pulang"


Brian yang sudah terpaku tersenyum memperhatikan Nara.


"Nara ayo, gua anter balik"


Afka bangun dari duduknya menenteng jaket, dan mengajak Nara untuk segera bergegas.


Yang lain nya menjadi tertawa dengan Brian yang dibuat terabaikan akan Afka yang menyelak nya.


"Afkaaa, rese banget sih lo"


Gretu kesal Brian.


"Apaan lo? Tanya aja ama orang nya dia mau balik ama gua apa ama lo"


Seru Afka tersenyum menahan tawa dengan gretuan Brian kepada nya.


"Gua balik sama Afka aja ya, ngga papa kan"


Suasana kembali pecah dengan tawa, kali ini Nara yang langsung menjawab tanpa membiarkan Brian untuk lebih dulu bertanya.


"His, Yaudah Nara hati hati ya"


Seru Brian sebelum mendului pergi lebih dulu dari yang lain nya.


Membawa perasaan kesal nya.


Nara keluar membuntuti Afka, menuju dan sudah berada di hadapan satu mobil hitam dengan dua pintu yang terlihat begitu elegan, Nara dibuat terpukau melihat nya.


"Afka ini mobil, lo?"


Tanya Nara memastikan, yang diketahui nya mobil mobil seperti ini tidak akan di dapat dengan harga yang murah.


"Gua pinjem, buruan masuk"


Seru Afka dengan jawab nya yang datar.


Nara mengangguki dan segera masuk kedalam mobil. Setelah berada di dalam mobil Nara duduk bersebelahan dengan Afka menjadikan nya canggung dengan rasa penasaran akan apa yang saat ini berada di pikiran Afka mengenai dirinya. Nara memahami itu, memahami Afka yang memiliki prasangka akan dirinya dari cara Afka menatap nya. Benar benar hening, Nara yang diam begitu pun Afka, suasana canggung yang tidak nyaman dirasakan Nara.


Hanya dibutuhkan beberapa saat untuk keduanya sampai di depan gerbang rumah Nara, dengan jarak yang memang tidak begitu jauh dari cafe kerumah Nara.


"Ini rumah lo?"


Tanya Afka memastikan, dengan rumah mewah yang cukup besar yang saat ini dilihat nya.


"Mmm"


Nara mengangguki nya.


Afka kembali menoleh menatap Nara, dengan Nara yang masih berada duduk setelah sampai.


"Lo ngga mau turun?"


Tanya Afka memastikan, dilihat nya Nara yang tampak bingung dan ragu dalam tatapan nya yang tertunduk.


"Mmm, gua boleh tanya sesuatu?"


Nara yang mengangkat pandangan nya dan menatap Afka.


"Tanya apa?"


Seru Afka mempersilahkan Nara dengan pertanyaan nya.


"Gua penasaran apa yang ada di pikiran lo soal gua"


Seru Nara dengan pertanyaan yang di pertanyakan nya.


"Kenapa lo bisa punya pertanyaan itu?"


Afka memastikan.


"Karna cara lo menatap gua beda"


Dengan sorot mata Nara yang kembali berbeda, menjadi lebih serius.


"Ada keraguan, ada perasaan yang bilang kalo lo punya kebohongan, entah apa itu. Itu yang ada di pikiran gua, pertanyaan soal seperti apa lo sebenernya"


Tutur Afka menjelaskan singkat dengan seperti apa Nara berasa dalam pandangan dan pikiran nya.


Nara menjadi tersenyum lebar menatap Afka.


"Dari awal lo emang beda, lo menatap seseorang dengan cara yang beda. Semoga dengan seperti apa nanti gua, gua masih bisa jadi salah satu bagian dari kalian. Kalo gitu gua turun ya, thank"


Ada yang tidak menyenangkan tetapi dirasa menjadi lega. Ada juga khawatiran tapi Nara tetap merasa bersyukur.


Sedangkan Afka, dibuat menjadi penasaran dengan seperti apa Nara sebenarnya. Pribadi yang jarang memusingkan orang sekitar, kali ini dibuat pusing memikirkan orang baru yang tiba tiba berada masuk dalam persahabatan nya.