I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
27



Saat sudah berada di dapan ruang UKS Nara menahan diri untuk tidak dulu mengetuk pintu dengan obrolan Lula dan Aditya yang tidak sengaja didengarnya.


"Apa ini maksudnya?"


Tanya Lula berada duduk diatas ranjang menatap Aditya dengan wajah pucat nya.


"Kenapa masih peduli?"


Lanjut Lula dengan pertanyaan nya.


Berada dengan kata kata yang selalu diucapkan dengan tenang nya.


"Gua ngga peduli sama lo, gua bersikap baik selayaknya karna itu keharusan. Siapapun yang ada di posisi lo gua juga akan melakukan hal yang sama"


Perjelas Aditya dalam tatapan nya yang tertunduk, seolah dibuat tidak mampu untuk menatap Lula.


"Terus, saat lo nglarang gua buat dibawa kerumah sakit? Apa itu?"


Kembali dengan pertanyaan nya yang lain, seolah Lula tengah mengintrogasi Aditya. Seolah keduanya sudah saling mengenal satu sama lain, bahkan lebih dari sekedar mengenal.


"Itu karna.."


Aditya terdiam tidak mampu melanjutkan ucapannya, seolah tertahan dalam mulutnya yang seolah menjadi kaku.


"Karna gua pecandu? Lo takut kalo nanti dokter tau gua pemake?"


Tebak Lula, seperti tau dengan apa yang berada dipikirkan Aditya sampai Aditya terdiam tidak dapat melanjutkan kata kata nya.


Aditya terdiam membolak balikan tatapan yang berada dalam tundukan nya itu, seolah membenarkan dengan apa yang Lula utarakan.


"Gua udah berhenti setahun ini, ya mungkin sisa sisanya masih ada ditubuh gua. Tapi gua cuman demam biasa dokter ngga akan tau kalo gua bekas pemake terkecuali dengan tes khusus"


Kembali menjelaskan kepada Aditya, menjadikan Aditya kali ini mengangkat tundukan nya dan menatap nya.


"Mm, gua udah brenti"


Lula mengangguki, kembali memperjelas.


Nara dibuat terkejud dengan apa yang didengar nya, Lula seorang pecandu dan Aditya bukan sekedar mengenal nya tapi tau banyak hal tentang Lula, ada hubungan apa sebenarnya mereka.


"Jadi apa setelah ini?"


Lanjut Lula kali ini bukan dengan penjelasan tapi dengan pernyataan nya.


"Mmm?"


Singkat Aditya yang tidak memahami nya.


"Setelah ini, kembali seperti semula yang sama sama mengabaikan atau..?"


Perjelas Lula dengan maksud dari pertanyaan nya, kata atau yang punya maksud yang dijadikan harapan untuk Lula untuk nya dan Aditya dapat kembali baik seperti semula.


Setelah berada menarik nafas dan menghembuskan, juga dengan dirinya yang dirasa sudah dapat mengendalikan dirinya dengan baik Nara menerobos masuk begitu saja kedalam ruang UKS.


"Dit, gua bawa makanan buat lo berdua"


Seru Nara meletakkan dua bungkusan yang dibawanya diatas ranjang di hadapan Lula.


Aditya menjadi terkejud dengan keberadaan Nara yang tiba tiba masuk.


"Lo baru dateng, atau udah dari tadi, Nara?"


Tanya Aditya memastikan.


"Apa sih dit pertanyaan lo ngga jelas deh, ya gua baru dateng lah gua baru aja dari luar sama Afka cari makanan"


Perjelas Nara dengan lues nya, sama seperti biasanya pandai untuk memainkan sebuah peran sekalipun itu harus menjadi pura pura bodoh dan tidak tau.


"Ah, sorry, gimana tugas?"


Dengan Aditya yang mengalihkan pembicaraan.


"Udah hampir selesai ko"


Jawab Nara sembari membukakan bungkus berisikan bubur ayam untuk Lula.


"Nara ngga ada duanya emang, udah cantik pinter pula"


Puji Aditya kembali tersenyum menjadikan nya seperti Aditya pada biasanya.


"Tugas nya ternyata ngga serumit yang gua kira jadi dalam sekali pertemuan udah bisa selesai"


Nara yang tersenyum dengan lebarnya.


"Ini gua udah beliin bubur buat lo, lo makan ya, setelah lo abisin buburnya lo bisa langsung pulang biar Aditya yang anter, tugas biar gua sama Afka yang nyelsain"


Lanjut Nara mengalihkan tatapannya dari Aditya kepada Lula, menyerocos panjang seperti memperdulikan Lula. Tapi memang pada dasarnya Nara mempedulikan banyak hal dalam hidup nya, karna itulah Nara.


"Kenapa seribet ini? Gua ngga minta kan"


Lula kembali dengan latah dan ekspresi judes yang selalu mengikut sertakan tatapan judes nya.


"Memberi ngga harus lebih dulu diminta kan, terserah mau di makan atau ngga, lagi pula gua nglakuin bukan karna lo tapi karna diri gua sendiri"


Pertegas Nara dengan senyum nya yang meluntur.


"Karna diri lo?"


Tanya Lula dengan kalimat yang berada di ucapkan Nara dan tidak dimengerti oleh nya.


"Disaat gua mau memperdulikan orang lain, dan gua malah bersikeras buat diem aja karna males berurusan dengan orang nya itu malah hanya akan bikin gua stres buat mikirin dengan apa yang lebih baik buat gua lakuin"


Crocos panjang Nara menjelaskan.


"Udah gua juga laper mau makan, udah ya dit gua tinggal"


Lanjut Nara kepada Aditya yang berada memperhatikan dengan kalimat nya yang memukau menjadikan Aditya tersenyum dengan lebarnya. Seperti menjadi senang dengan seseorang yang dapat menjawab setiap perkataan yang Lula katakan.


Seru Aditya dengan senyum lebarnya.


Nara membalas tersenyum lebar sebelum berlalu pergi.


Jadi seperti ini hal yang berada di ketahui Nara. Bahwa setiap orang memang memiliki rahasia, memiliki masa masa dimana seseorang akan menjadi terluka dan terpuruk sampai menangisi nya. Dan setiap orang punya caranya sendiri dengan seperti apa mengahadapi dan menutupi nya. Jika Nara menutupi dibalik senyum dan ceria nya ya karna itu lah Nara. Berbeda untuk Lula atau siapapun selain dirinya. Yang mungkin saja berada menjadi diam, dan sangat tertutup karna takut akan banyak hal nya, dan orang yang berada di sekitar nya.


Nara mengetahui apa yang seharusnya tidak di ketahui. Jika Lula tau dengan apa yang Nara sudah dengar, Lula akan berada di posisi takut dan khawatir sama seperti saat Lula mengetahui rahasianya.


Jadi ada baiknya jika Nara tetap diam seolah tidak tau dan tidak pernah mendengar itu semua.


Nara kembali ke perpustakaan dengan ketiganya yang belum memakan makanan nya hanya karna menunggu Nara.


"Kenapa belom pada di makan?"


Tanya Nara saat sudah berada duduk ditempat duduknya, memperhatikan ketiganya.


"Iya kita nungguin kamu Nara"


Jawab Brian yang sudah terbangun dari tidur nya, menjadi seperti sangat segar setelah dengan adanya makanan dihadapan nya.


"Mmm.. makasih"


Seru Nara dengan imut nya, tersenyum dengan lebarnya.


"Yaudah kita makan ya sekarang"


Seru Nara menjadikan yang lain nya mulai menyantap mie ayam yang semula panas sekarang sudah menjadi hangat atau bahkan hampir dingin karna terlalu lama dibiarkan.


Sedangkan Nara sebelum memakan makanan nya memejamkan matanya sekedar memanjatkan doa, atas makanan ini dan atas orang orang baik yang saat ini Tuhan dekat kan dengan nya sebagai teman teman untuk nya atau bahkan sahabat.


Setelah habis dengan makanan nya ke empat nya berseru seruan dengan bernyanyi, dan dengan Iqbal yang sembari memainkan gitarnya.


Iqbal mulai memetik senar gitar dan menciptakan nada nada yang indah dengan lirik yang mulai di nyanyikan nya.


"If you ever find yourself stuck in the middle of the sea


I'll sail the world to find you


If you ever find yourself lost in the dark and you can't see


I'll be the light to guide you


Find out what we're made of


When we are called to help our friends in need"


Sebuah lagu dari Bruno mars count on me.


Pada lirik berikutnya serentak Nara, Brian bahkan Afka ikut bernyanyi, ditambah lagi dengan Aditya yang tiba tiba kembali keperpustakaan dengan Lula yang mengikuti nya, menjadikan seruan semakin ramai. Suasana ditambah semakin ramai dengan Brian yang memainkan meja untuk dijadikan gendang untuk nya. Benar benar menyenangkan, satu dengan yang lain nya saling menikmati ini semua.


"You can count on me like 1, 2, 3


I'll be there


And I know when I need it


I can count on you like 4, 3, 2


You'll be there


'Cause that's what friends are supposed to do"


Setelah selesai menyanyikan lagu itu sontak semuanya menjadi tertawa terkecuali Lula yang hanya tersenyum memperhatikan nya.


"Ko lo disini Dit, Lula juga? Lo ngga anter Lula pulang?"


Tanya Nara setelah dengan tawanya yang mereda.


"Gua yang ngga mau balik"


Jawab Lula dengan cepat, menjadikan Aditya tidak memiliki kesempatan untuk menjawab nya.


"Kenapa? Emang lo ngga butuh istirahat"


"Lo khawatir sama gua"


Cetus Lula dengan Nara yang seolah mengkhawatirkan nya, dengan banyak hal yang sudah Nara lakukan hari ini kepada nya.


"Mmm"


Nara yang mengangguki dengan ekspresi nya yang menjadi serius.


"Gua khawatir sama lo"


Lanjut Nara seolah tulus dengan ucapan nya.


Lula dibuat terpaku menatap Nara dengan tatapan dan ucapan Nara kepadanya. Begitu pun dengan ke empat laki laki yang berada tajam memperhatikan keduanya.


"Lo berdua kaya temen deket yang lagi berantem deh"


Cetus Brian tersenyum dengan gumam nya.


"Gua juga mikir gitu"


Lanjut Iqbal menambahi nya.


Nara tersenyum dengan lebarnya, mengembalikan dirinya seperti sedia kala.


"Dia kan lagi sakit wajar dong kalo gua sebagai temen satu kelas dan satu kelompok nya khawatir"


Seru Nara dengan penjelasan nya. Setelah di kata menjadi seperti teman dekat menjadikan dirinya dan Lula merasa canggung, dan itu tidak menyenangkan.


Benar dengan Nara yang menjadi khawatir terlebih setelah tau dengan Lula seseorang yang mengejutkan dibalik pribadi nya yang pendiam dan tertutup, rasanya seperti Lula punya banyak hal keterlukaan yang juga ada ditutupi nya.


Berada kembali serius menyelesaikan tugas yang belum selesai dikerjakan.