I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
14



"Makasih Ya, Afka"


Seru Nara setelah Afka selesai menata tumpukan buku pada rak buku, setelah sebelumnya membantu Nara membawakan nya.


Afka menatap Nara dengan mengangguki nya.


"Lo mau langsung pulang?"


Tanya Nara, berjalan berdampingan dengan langkah yang sama.


"Tunggu yang lain selesai"


Jawab Afka.


"Gimana kalo kita bantuin aja"


Seru Nara dengan inisiatif nya. Kedua temen nya terkena hukuman juga karna dirinya, akan sangat tidak pantas jika Nara pergi pulang lebih dulu meninggalkan yang lain nya.


"Tangan lo?"


Tanya Afka memperhatikan pergelangan tangan Nara.


"Bersih bersih kan ngga perlu pake tangan dua"


Jawab Nara tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya.


"Hhhehe.."


Afka menghelai tawa dengan jawaban Nara.


"Gua kira lo ngga akan ketawa kalo bukan karna temen temen lo"


Ucap Nara setelah dilihat nya Afka yang menghelai tawa dihadapan nya.


Setelah dengan apa yang diucapkan Nara menjadikan Afka kembali dengan ekspresi datar nya.


"Gua juga kan normal, apa salah nya gua ketawa kalo ada hal lucu"


Ketus Afka.


"Berarti gua lucu dong?"


Nara tersenyum, menjadikan tatapan nya berbeda menatap Afka saat ini.


Afka dengan ekspresi datar, ikut mempertemukan tatapannya dengan Nara sebelum Afka berlalu meninggalkan nya.


Nara tersenyum menggelengkan kepalanya, sebelum membuntuti nya.


Seperti benar menjadi hidup, merasakan dan mengekspresikan banyak hal yang menjadi tulus. Nara merasakan itu disaat dirinya berada bersama ke empat nya atau salah satu dari teman teman baru nya, karna Nara merasa lebih merasakan kenyamanan dan kesenangan saat bersama mereka. Meski untuk terus menjadi ceria adalah kewajiban entah dengan perasaan seperti apapun yang tengah dirasakan nya, dengan luka yang terkadang masih berada di bawa nya kemana mana.


"Hey, gimana udah selesai? Ada yang bisa gua bantu?"


Seru Nara setelah berada masuk kedalam toilet dengan ketiga orang yang tengah sibuk, menyikati lantai kamar mandi.


"Gua kira lo udah balik habis naro buku"


Seru Aditya menatap Nara.


"Gimana bisa gua balik duluan, kalo lo pada kena hukuman gara gara gua. Iqbal aja bantuin lo berdua masa gua ngga"


Seru Nara tersenyum menatap Aditya.


Begitu pun Aditya yang tersenyum memperlihatkan deretan giginya, sembari mengangguki ucapan Nara.


"Kalo gitu, lo bantu siram siramin air nya aja, tangan lo juga lagi sakit kan yang satunya"


Lanjut Aditya dengan apa yang sekira nya dapat Nara kerjakan mengingat dengan satu tangan Nara yang terluka.


Nara tersenyum mengangguki, meraih selang dan beranjak untuk menyalakan nya.


"Dit ini kan toilet cowo, lagi juga kan tangan nya Nara masih sakit"


Lanjut Iqbal, menjadikan Nara menghentikan langkahnya dan kembali menatap yang lain nya.


"Mmm, ngga ada yang lagi buang air kecil atau lagi pake kamar mandi nya kan?"


Dengan Nara yang menjadi canggung, ingat dengan keberadaan nya di toilet laki laki.


"Tetep aja Nara, nanti kalo ada yang liat takut nya mereka jadi punya pikiran yang ngga ngga "


"Ah, gitu yah"


Nara tersenyum canggung dengan mengangguki pelan.


Yang lain nya, Afka, Aditya dan Brian menjadi tertawa dengan Iqbal, dengan perilaku dan karakter nya yang patuh dan begitu monoton.


"Apaan sih lo bal"


Cetus Afka dengan tawanya yang mereda.


"Kan cuman antisipasi aja, emang nya salah?"


"Oke oke, Nara lo tunggu depan aja ya ngga papa"


Lanjut Aditya menyuruh Nara, ada baik nya memang menuruti perkataan Iqbal, terlebih mengingat dengan Nara yang perempuan sendirian.


"Yaudah kalo gitu gua tunggu depan ya"


Lanjut Nara tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya.


Tidak menjadi tersinggung sama sekali dengan apa yang Iqbal katakan, malah menjadi senang dengan keberadaan nya yang dipedulikan dan bahkan sampai menuturkan alasan nya.


"Kita bentar lagi selesai ko"


Lanjut Brian yang semula hanya diam memperhatikan.


"Nara ngga papa kan, ngga ada maksud gimana gimana ko"


Jelas Iqbal dengan rasa tidak enak nya, seolah sudah mengusir keberadaan Nara. Tapi benar dengan Iqbal yang memikirkan demi kebaikan Nara sendiri.


Nara tersenyum lebar dengan mengangguki nya.


"Iya ngga papa ko bal, gua tunggu depan ya, sekalian gua beliin lo semua minuman dulu"


Ke empat nya tersenyum mengangguki nya.


"Hhhhh..."


Helai Brian dengan hembusan nya.


"Adem banget kalo liat Nara senyum kaya gitu"


Seru Brian memperhatikan Nara yang berlalu pergi.


"Mmm, cantik"


Sambung Iqbal ikut memperhatikan Nara yang baru saja pergi, menyisakan bayang bayang nya.


Aditya memiringkan kepalanya untuk menatap Iqbal dengan lebih dekat, terpaku memperhatikan nya.


Setelah dengan Iqbal yang memuji Nara dengan kata cantik. Sebelumnya Iqbal hanya pria kaku yang tidak begitu menatap dengan keberadaan perempuan entah secantik apapun dalam pandangan nya. Tapi lain untuk kali ini dengan cara Iqbal menatap Nara, dirasakan menjadi berbeda, pikir Aditya.


"Kenapa?"


Tanya Iqbal dengan apa yang dilakukan Aditya saat ini.


Aditya membenarkan kepalanya, tersenyum dengan menggeleng gelengkan kepala.


"Aneh, gua rasa dia punya banyak hal dari pribadi yang kita liat sekarang"


Seru Afka ikut menambahi, dengan caranya memandang Nara.


"Aneh gimana maksud lo?"


Tanya Aditya memastikan, dengan di perhatikan yang lain nya.


Afka menatap satu persatu dari ketiga sahabatnya sebelum Afka mengangkat kedua bahunya.


"Entah"


Singkat Afka.


Gretu Brian menjadi tidak senang dengan Nara yang dikata aneh oleh Afka.


"Udah buruan kelarin, ngap gua lama lama di toilet"


Seru Aditya, menjadikan obrolan mengenai Nara terhenti.


Nara bergegas pergi kekantin. Sesampainya di kantin langkah nya menjadi lebih pelan dengan tatapan nya yang berada memperhatikan perempuan berambut ikal yang biasa dipanggil Lula.


Lula yang berada duduk seorang diri tengah sibuk memainkan hp nya dengan sebotol minuman yang berada diletakkan di depan nya.


Menyadari dengan seseorang yang saat ini berada tidak jauh dari pandangan nya tengah memperhatikan nya, Nara.


Setelah beberapa saat mempertemukan tatapannya dengan Lula, Nara membuang tatapan nya dan segera bergegas mengambil 5 minuman dari dalam kulkas dan segera membayarnya.


Saat minuman nya tengah di bungkus Nara menyempatkan untuk kembali menoleh dengan keberadaan Lula, tapi saat berada kembali menoleh Lula sudah tidak berada di tempat sebelumnya.


Nara membawa tatapan nya mencari keberadaan Lula, tapi tidak juga didapati keberadaan nya.


Saat mengembalikan posisi nya untuk mengambil bungkusan nya, Nara dibuat terkejud dengan keberadaan Lula yang berdiri di samping nya.


"Kenapa?"


Seru Lula dengan singkat nya.


"Apanya?"


Jawab Nara masih menjadi canggung dengan rasa terkejud nya, tidak memahami dengan pertanyaan singkat yang Lula tanyakan.


"Lo? Kenapa ngliatin gua terus?"


Lula dengan maksudnya, selalu dengan ekspresi datar nya.


"Hah?"


Seru Nara melebarkan tatapannya dengan maksud pertanyaan Lula.


"Kurang jelas pertanyaan gua?"


Tatap tajam Lula kepada Nara.


"Mmm, cara gua ngeliatin orang emang kaya gini"


Balas Nara.


"Lo tertarik sama gua setelah dengan apa yang gua tau soal lo"


Lula dengan blak blakan nya, tidak menghiraukan apapun termasuk perasaan Nara.


Nara menjadi kaku terdiam dengan Lula dan pertanyaan nya yang menjadi sesak dirasakan nya.


Nara membawa kantong plastik berisikan botol botol minuman yang sudah selesai dibungkus. Menarik tangan Lula untuk berada ikut dengan nya, keluar dari kantin.


"Bukan nya gua udah minta lo buat lupain semua, terus kenapa lo masih bahas itu"


Lanjut Nara setelah melepaskan tangan Lula dari pegangan nya.


"Emang nya gua mengiyakan?"


"Bukan nya tadi lo bilang _"


Belum selesai dengan kalimat nya Lula sudah lebih dulu memotong kalimat Nara.


"Tapi bukan berarti gua mengiyakan nya kan"


Perjelas Lula.


"Sekedar kasih tau, gua ngga nyaman dengan cara lo merhatiin gua"


Lanjut Lula sebelum berlalu pergi meninggalkan Nara.


"Hhhh..."


Helai Nara menghembuskan.


Tertunduk dalam pandangan nya, merasakan perasaan tidak nyaman yang kembali dirasakan dengan keberadaan Lula dan dengan Lula yang mengetahui rahasia nya. Lantas harus bagaimana Nara menahan diri, akan ketakutan dan dengan ketakutan itu yang menjadikan emosi nya memanas.


Mengingat dengan yang lain nya yang berada saat ini menunggu Nara dan minuman yang dibelinya Nara menyadarkan dirinya dan kembali bergegas.


"Kirain mampir ketoilet dulu"


Seru Aditya tersenyum meledek Nara, sudah berada duduk di lorong kelas dengan ketiga yang lain nya.


"His"


Seru Brian mendorongkan bahu nya kedapa lengan Aditya.


Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Mmm tadi ngobrol sebentar sama Lula"


Jelas Nara dengan menyodorkan satu persatu botol minuman yang berada dalam kantong plastik yang dibawanya kepada keempat teman nya.


"Lula?"


Seru Aditya melebarkan tatapannya.


"Mmmm"


Nara mengangguki nya.


"Lo tau siapa Lula? Tau gimana orang nya?"


Lanjut Aditya lebih lanjut dengan pertanyaan nya. Sedangkan yang lain nya diam mendengarkan sembari menikmati minuman nya.


"Mmm, tau, sedikit"


Nara masih terpaku mendengarkan, menjawab pertanyaan Aditya seperti seseorang yang tengah mengintrogasi dirinya.


"Dia satu kelas dan akan satu kelompok sama kita kan, kata Afka dia juga aga pendiem"


Lanjut Nara dengan apa yang sekira nya di ketahui mengenai Lula.


"Jangan coba buat menjadi akrab sama dia, lagi pula juga dia ngga akan gampang buat dibuat akrab"


Lanjut Aditya menjadi serius ekspresi yang diperlihatkan nya.


"Kenapa?"


Tanya Nara memastikan, dengan alasan Aditya mengingatkan nya untuk Nara tidak mendekati Lula.


"Kaya nya lo tau banyak soal Lula"


Cetus Afka setelah dilihatnya Aditya menjadi sedikit berbeda.


Iqbal dan Brian yang sedari tadi mendengarkan pun mengangguki dengan apa yang Afka katakan, mengiyakan dengan pikiran nya yang sama dengan Afka dengan Aditya yang terlihat mengenal baik sosok Lula. Yang bahkan teman teman yang lain nya mengenal Lula sekedar namanya saja dan sebagai teman satu kelasnya.


"Iya gua tau sekedar dari omongan orang aja, lo tau kan temen gua banyak"


Lanjut Aditya menenggak minuman nya.


"Oooohh"


Yang lain nya menjadi percaya dengan jawaban Aditya tapi tidak dengan Afka yang selalu punya pandangan dan pemikiran yang berbeda dari pada yang lain nya. Afka lebih menatap tajam melihat dan memahami dengan baik dengan perasaan nya untuk melihat dan mengenal seseorang, atau sekedar memahami seseorang yang berada di hadapan nya.


"Udah ayo balik"


Lanjut Aditya bangun dari duduknya, melaju lebih dulu meninggalkan yang lain nya. Menyisakan Afka dan Nara yang berada memperhatikan Aditya yang menjadi sedikit lebih berbeda.


Nara terdiam menjadikan Lula berada saat ini memenuhi pikiran nya terlebih dengan Aditya dengan kata katanya.


"Lo ngga balik?"


Tanya Afka menatap Nara yang terdiam.


"Ini mau balik, yuk"


Nara kembali tersenyum menatap Afka dan berjalan berdampingan menyusul yang lain nya.