I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
31



Bersahabat dengan malam yang gelap dan hening. Terjaga sepanjang malam dengan batin yang selalu terluka dan kali ini juga dengan fisik nya yang ikut menjadi terluka. Seperti keberadaan yang terpenjara dalam rasa dan keadaan yang ada. Dimana Nara, Kyra hanya dapat utuh menjadi dirinya sendiri saat berada sendiri dalam sepi. Seperti sekarang ini akan keduanya yang sama sama terjaga memikirkan perkara yang sama, dan rasa sakit yang sama. Terbaring diatas tempat tidur dengan tetesan air mata yang berada jatuh mengenai telinga nya.


Saat berada dalam pijakan kali ini, bersinggah ditempat ini menjadikan setiap waktu yang ada dan berlalu hanya dipenuhi dengan rasa sakit dan keterlukaan. Satu sama lain menjadi bertolak belakang menutupi ini dan itu yang dirasakan masing masing, Nara dan Kyra.


Gurau tawa dan keceriaan akan keduanya seolah sudah menjadi asing, tidak pernah ada lagi diantara keduanya.


Tersisa canggung dengan upaya untuk memberikan satu sama lain, meski tidak menjadikan keduanya mengerti, hanya malah menjadikan keduanya salah paham satu sama lain.


Malam yang panjang mengantarkan pagi untuk kembali, seperti biasa dengan rutinitas nya Nara bangun dan bersiap. Karna tidak tidur sama sekali Nara tidak perlu menunggu Mbo Minah untuk membangunkan dan meneriaki nya.


Kali ini sudah dengan pakaian yang rapih, dan sepatu yang dikenakan, hanya wajah dan rambut yang belum di makeup dan di tata. Nara bergegas keluar dari kamar dengan tas yang sudah di bawanya.


Hanya didapati mbo Minah yang tengah menyiapkan sarapan di meja makan.


"Non mau langsung sarapan? Biar mbo langsung ambilin?"


Tanya mbo Minah setelah Nara menghampiri di meja makan nya.


Kyra yang baru keluar kamar, dan akan ke meja makan tertahan dan menghentikan langkahnya setelah didapati keberadaan Nara di meja makan. Sekedar memperhatikan Nara dengan kejadian semalam yang kembali teringat, bahkan belum dapat dilupakan nya. Membayang kan seperti apa rasa sakit yang Nara dapatkan dari apa yang semalam disaksikan nya.


"Aduh neng Nara, itu mukanya kenapa memar begitu"


Lanjut Mbo Minah setelah sadar dengan pipi kiri Aera yang lebam kebiruan bekas tamparan Kyra semalam.


Nara tersenyum memegangi pipinya.


"Ah ini ngga kenapa napa ko mbo?"


"Ngga kenapa napa tapi kenapa bisa jadi kaya gini? Gimana ceritanya non?"


"Jadi Nara mimpi buruk mbo, dalam mimpi itu Nara tertampar. Dan ngga sangka berada jadi nyata tamparan itu dan rasa sakitnya"


Menjelaskan dengan perumpamaan dengan kata kata yang dirangkai nya.


Tersenyum dengan deretan gigi yang diperlihatkan tapi tatapan nya menjadi terlihat sangat berbeda.


Terkaca setelah mendengar penjelasan Nara yang Kyra pahami maksudnya.


"Nglindur itu non namanya, jadi kebawa beneran mbo juga suka gitu. Lagi mimpi meluk brondong tau tau nya guling yang lagi dipeluk"


Lanjut Mbo Minah ikut bergumam dengan cerita nya, dengan ciri khas dari dirinya yang tampak lucu.


"Mbo bisa aja, pak Arto udah ada didepan kan mbo?"


"Udah dari tadi non"


"Yaudah kalo gitu Nara berangkat ya"


"Masih cukup ko non waktunya buat non Nara sarapan dulu"


Mbo Minah setelah menengok pada jam dinding.


Nara tersenyum menggelengkan kepala.


"Ngga deh mbo, Nara buru buru soal nya. Nara berangkat sekarang ya"


Pamit Nara yang kemudian bergegas keluar. Didapati pak Arto dengan mobil yang sudah terparkir di teras depan rumah.


"Pagi non Nara"


Sapa pak Arto dengan sikap nya yang selalu siap dan sigap.


"Pagi pak"


Jawab Nara dengan senyum lebarnya.


"Wajah non Nara kenapa?"


Setelah menyadari dengan wajah Nara yang lebam dan memar.


Nara tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Ngga papa pak. Anak pak Arto gimana udah sembuh?"


Tanya Nara mengalihkan, tapi benar dengan rasa ingin tau akan kondisi anak pak Arto saat ini.


"Sudah dirumah non, lebih baik sekarang. Maaf karna sudah ijin tidak masuk non"


"Ngga papa ko pak, bagus deh kalo anak bapak udah baik baik aja"


"Iya non, Non Nara ingin berangkat sekarang"


"Iya pak berangkat sekarang ya"


Pak Arto meraih pegangan pada pintu mobil untuk membukakan pintunya.


Nara berada menahan pintu mobil yang akan pak Arto buka.


"Saya buka sendiri pak"


Seru Nara tersenyum dengan ramah nya.


"Maaf non"


Seru pak Arto yang kemudian melepaskan tangan nya dari pegangan pintu.


Pak Arto lupa dengan permintaan Nara yang ingin membuka pintu mobilnya sendiri, terkecuali jika tengah bersama Kyra dan Aron. Karna jika tengah bersama keduanya semua harus berada di tata dan di kendalikan dengan baik bagai seorang putri. Putri yang tersiksa dengan dunia dan di dalam istana nya sendiri.


Aera melebarkan senyuman yang kemudian berada masuk kedalam mobil.


Didalam mobil Nara berada menyandarkan kepala dan memejamkan mata.


"Non Nara akan tidur?"


Tanya pak Arto setelah memperhatikan Nara dari kaca depan. Niat nya jika Nara tertidur saat sampai nanti pak Arto akan langsung membangun nya, jadi di pastikan nya lebih dulu.


"Ngga pak"


Seru Nara yang kemudian membuka pejaman mata dan menegakan sandaran nya. Meraih tempat kecil dalam tas yang selalu dibawa, yang berisikan makeup nya. Nara memakeup wajah yang sebenarnya sudah cantik tanpa makeup sekali pun tapi tanpa makeup wajah nya menjadi terlihat pucat terlebih dengan kantung mata yang sedikit lebih berisi karna Nara yang belum tidur sama sekali.


"Anak bapak umur berapa, laki laki atau perempuan?"


Tanya Nara ditengah kesibukan nya mempercantik wajahnya.


"Perempuan non, berusia 8 tahun"


"Pak Arto saya boleh minta tolong ngga, saya mau beliin hadiah buat seseorang tapi ngga sempet sama waktu nya, jadi pak Arto bisa tolong beliin ngga?"


Minta Nara setelah mobilnya sampai dan terparkir di samping gerbang sekolah.


"Bisa tentu non, mau saya belikan apa?"


"Beliin boneka yang ukuran besar ya pak"


Nara dengan menyodorkan uang 400 ribu kepada pak Arto. Boneka besar yang rencananya akan diberikan Nara kepada anak pak Arto yang baru sembuh dari sakitnya. Nara hanya ingin memberi hal kecil yang dapat menciptakan kesenangan bahkan kebahagiaan untuk orang lain.


"Baik non"


"Udah dapet boneka nya, pak Arto telfon saya"


"Baik Non.


Nara tersenyum lebar yang kemudian langsung turun.


Pak Arto menggelengkan kepala nya pelan, setelah sebelumnya melihat wajah Nara yang memar dan terluka, terlebih dengan Nara yang berangkat lebih pagi dari biasanya, bahkan sekolah masih terlihat sepi.


Seru pak satpam dengan keberadaan Nara yang saat ini berada di hadapan nya.


Nara tersenyum dengan lebarnya.


"Nara ada tugas yang belum selesai pak"


Jelas Nara dengan alasan nya, menjadi berbohong.


"Muka neng Nara ngga papa?"


Tanya pak satpam, setelah melihat wajah Nara yang memar dan terluka.


Nara semakin melebarkan senyumnya, meski jika tersenyum dengan sangat lebar seperti sekarang menjadikan pipinya dirasa lebih sakit.


"Ngga papa ko, kalo gitu Nara masuk dulu ya pak"


Seru Nara yang kemudian meninggalkan pak satpam.


Melewati lorong-lorong kelas yang masih begitu sepi, hanya didapati penjaga sekolah dan beberapa siswa yang tengah melakukan jadwal piket.


Sesampainya di kelas Nara duduk di tempat duduknya dan meletakkan kepalanya di atas meja dan memejamkan matanya, dalam pejaman Nara tidak tersadar menjatuhkan setetes air mata. Nara mengusap nya dengan cepat dan membiarkan pejaman nya untuk menjadikan terlelap tidur.


Beberapa saat sebelum bel sekolah berbunyi ke ketiga laki laki bagian dari FIM Five Members nama dari Brian akan tim nya. Afka, Aditya dan Brian masuk dengan candaan nya yang ramai. Hening seketika setelah dilihat nya Nara yang tertidur memperlihatkan wajah cantiknya.


"Hhhh..."


Helai Brian terpukau akan kecantikan yang meluluhkan hati nya.


"Lagi tidur aja secantik ini"


Puji Brian dengan wajah Nara, terlebih wajah nya yang menjadi sangat imut saat tengah tertidur seperti sekarang ini.


"Mm, cantik banget"


Lanjut Aditya mengangguki, menambahi pujian akan Nara.


Sedangkan Afka diam dengan senyum tipis yang berada terurai tanpa di sadari nya.


"Nara emang cantik"


Gumam Afka ikut berseru dalam hati nya menambahi pujian akan Nara.


Melebarkan tatapan nya setelah tersadar akan gumam nya barusan.


"Anak orang lagi tidur jangan di liatin kaya gitu"


Seru Afka yang kemudian mendorong Aditya dan Brian untuk kembali ketempat duduknya masing-masing.


"Lo apaan sih Afka, ganggu kesenangan orang aja"


Cetus Brian menjadi kesal dengan Afka yang menggangu dirinya yang tengah menikmati akan kedua mata yang memandangi Nara.


"Iya nih"


Seru Aditya menambahi.


"Kalo Nara tau pasti dia jadi ngga nyaman, emang nya lo mau tidur nya dia ke ganggu"


Seru Afka dengan alasan nya. Meski sebenarnya tingkah nya barusan karna Afka menjadi tidak nyaman dengan Brian dan Aditya yang memperhatikan Nara seperti itu.


"Iya sih"


Seru Brian yang kemudian kembali ketempat duduk, di ikuti dengan Aditya.


Begitu dengan Afka yang ikut duduk di tempat duduknya dengan memperhatikan punggung Nara yang tertutup dengan rambut Nara yang tergerai panjang.


Afka melebarkan tatapan nya setelah mendengar suara perut Nara yang berbunyi, seperti perut kosong yang meminta di isi.


"Hhhe.."


Afka menghelai tawa, menggelengkan kepala dengan Nara dan hal yang selalu saja dilakukan atau memang dimiliki nya, tampak unik dan lucu.


Bel sekolah berbunyi, tidak lama setelah nya Bu Ririn masuk.


Afka bergegas membangunkan Nara dengan menyentuh punggung Nara beberapa kali, tapi Nara masih saja tertidur dengan pulas nya.


"Selamat pagi semua"


Seru Bu Ririn dengan sapaan nya.


"Pagi Bu"


Jawab serentak siswa Ipa 1


Dengan memperhatikan satu persatu siswa yang berada di kelas dan tatapan nya terhenti kepada Nara yang masih berada menyandarkan kepalanya di atas meja.


Sedangkan Afka masih berusaha membangunkan Nara.


"Nara.. Nara bangun Nara"


Seru Afka dengan suara pelan.


"Kenapa?"


Tanya Aditya dengan Afka yang begitu sibuk.


Afka hanya menunjuk ke arah Nara dengan pertanyaan yang Aditya tanyakan.


Aditya yang memahami, Nara masih berada terlelap tidur sedangkan bu Ririn sudah menatap Nara dengan tajam nya.


Bu Ririn yang kemudian menghampiri Nara dan melebarkan tatapannya setelah dilihat Nara yang tengah terlelap tidur.


"Wah anak ini benar-benar"


Seru Bu Ririn dengan geram nya.


"Tok..tok.."


Bu Ririn yang kemudian mengetuk meja Nara.


"Hello..."


Nara membuka mata setelah suara suara didengar nya. Keberadaan bu Ririn yang saat ini dilihat nya.


Nara mengangkat kepalanya dengan tenang meski dengan keberadaan Bu Ririn di hadapan nya saat ini.


"Kamu ya, anak baru berani berani nya tidur di jam pelajaran saya, bukan sekali dua kali lagi"


"Maaf bu, kalo gitu saya keluar sekarang. Permisi"


Jawab Nara yang kemudian bangun dari duduknya dan pergi keluar.


Bu Anita melebarkan tatapan nya, menjadi terkejud tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Nara.


"Anak itu bener bener, belom juga disuruh keluar.


Begitu pun untuk Afka dan yang lain nya, tidak memahami dengan sikap Nara kali ini.


Nara berada bangun dan memutuskan untuk langsung keluar tanpa lebih dulu menunggu bu Ririn meneriaki nya, terlebih dengan perasaan nya yang kurang baik.


Afka berprasangka jika Nara tengah tidak baik baik saja.