
Dari yang sudah sudah Nara belajar, terlalu menonjolkan keberadaan nya hanya akan banyak mata menatap kepadanya. Bukan menatap akan adanya dirinya tapi menatap dan memperhatikan dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Pribadi yang ramah dan ceria memiliki sisi tempramen yang ketika sudah meluap akan meledak ledak dengan hebatnya. Nara menekan dalam agar tempramen nya tidak perlu di perlihatkan disekolah barunya ini.
Ada satu masa dengan beberapa hal yang terjadi didalam nya. Masa yang mengacak-ngacak pribadi dan karakter Nara yang sebenarnya. Saat dimana orang-orang yang berada seharusnya menjaga dan menyayangi Nara semua terjadi malah sebaliknya. Nara disakiti dibuat terluka bahkan sampai membekas menjadi trauma.
Nara harus dengan sering kali menjadi pribadi dengan karakter yang bukan diri yang sebenarnya.
"Sorry bro lo Afka sama yang lain di tunggu di kantor"
Dengan satu siswa laki laki yang menghampiri meja yang diduduki Afka dan yang lain nya, menyampaikan pesan dari guru.
"Kita berempat?"
Tanya Aditya memastikan.
"Iya lo berempat, udah ya gua cabut"
"Oke thanks ya bro"
Aditya dengan keakraban dan kedewasaan yang terpapar terlihat oleh Nara.
"Baju lo pada, benerin"
Perintah Iqbal dengan penampilan yang paling tertata rapih dan bersih.
Memperhatikan ketiga sahabatnya yang lebih dulu bangun dari duduknya.
Memperlihatkan Afka dan Aditya dengan seragam yang dikeluarkan tanpa dasi ataupun gesper. Sama halnya dengan Brian terlebih dengan kancing baju paling atas yang seharusnya di kancingi malah terbuka untuk memperlihatkan keseksian nya.
Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya dengan keberadaan empat orang yang selalu saja memiliki atau bahkan menciptakan hal hal unik, tidak biasa dan bahkan menyenangkan.
"Aku tinggal dulu ya"
Pamit Brian setelah selesai merapihkan seragam nya.
"Mmmm"
Nara mengangguki dengan tersenyum lebar menatap Brian yang terus bersikap manis kepada nya.
"Duluan ya Ra"
Lanjut Aditya.
"Udah sana kaya mau pada lama aja"
Usir Nara dengan keberadaan mereka ber empat yang masih berada di hadapan nya.
"Hey"
Sapa seseorang yang tiba tiba duduk di samping Nara dengan merangkul nya dengan sangat dekat, sampai nafas nya dapat dirasakan terhembus di pipi Nara.
Nara menoleh menatap keberadaan seseorang yang saat ini wajah nya berada sangat dekat dengan nya.
Dengan rasa terkejut tapi Nara tidak mendorong, menampar atau berbuat kasar lain nya, seperti kebanyakan perempuan yang diganggu dan merasa di perlukan dengan tidak pantas. Nara bersikap tenang dan biasa saja dengan degupan jantung yang masih dirasa terkejud akan seseorang yang tidak asing untuk nya.
"Yudi!"
Seru Nara dengan tatapan penuh nya.
Beberapa diantara siswa yang berada di kantin menyaksikan seseorang bernama Yudi dengan Nara yang duduk sangat dekat, dengan Yudi yang merangkul dan memaparkan wajahnya berada sangat dekat dengan Nara.
"Gua kira siswa bae bae, murahan juga"
"Cakep sih tapi sayang di rangkul sama sembarangan orang mau aja"
"Ais baru mau gua yang deketin udah di duluin aja"
Beberapa gunjingan dari mereka yang memperhatikan keberadaan Nara dan Yudi.
"Mmm, gimana seneng kan liat gua?"
Tanya Yudi dengan senyum di wajah nya, cukup tampan tapi terlihat jelas akan pribadi kurang ngajar nya. Sangat tidak sopan, dan suka seenaknya, seperti itu lah Nara mengenal Yudi.
"Lo ngapain disini?"
Tanya Nara mengalihkan, dengan rasa penasaran dan tidak paham akan keberadaan Yudi saat ini.
"Gua? Ya gua sekolah disini lah Nara"
Nara terpaku diam membuang tatapan nya dari Yudi dengan apa yang baru saja di katakan nya, Nara melepaskan paksa tangan Yudi dari pundak nya dan menggeser beberapa jarak agar tidak begitu dekat dengan nya.
"Maksud nya?"
Tanya Nara tidak memahami, bagaimana bisa Nara berada di tempat dimana Yudi juga bersekolah disekolah ini.
"Ko Maksudnya sih? Iya nyokap sama bokap mindahin lo kesekolah tempat gua sekolah, biar kita bisa sama sama terus"
Dek...
Nara menelan ludah dengan spontan nya.
Ada yang menjadi terkejut dan sangat tidak menyenangkan diketahui dan dirasakan nya ini. Bagaimana mungkin Nara berada di satu sekolah dengan seseorang yang dibencinya. Yudi, yang merupakan Kaka tiri, anak dari ayah tiri Nara saat ini. Dia laki laki gila dan berengsek yang pernah di kenali nya. Bagaimana tidak beberapa kali Yudi datang kerumah bukan sekedar untuk bertemu dengan orang tua nya, Melain kan mencari kesempatan untuk mendekati Nara lebih gila nya berniat untuk menidurinya.
"Seneng kan lo? Jadi bisa deket kita"
Yudi dengan kembali merangkul Nara.
"Yudiii!!!!"
Gretu Nara dengan menepis tangan Yudi.
"Kenapa sih? Malu? Santai aja mereka ngga ada yang berani sama gua"
Jelas Yudi dengan Nara yang menipis nya.
"Yudi!"
Panggil seseorang dari jauh kepada Yudi.
Yudi menoleh sekedar memastikan nya.
"Buruan udah ditungguin sama yang lain"
Lanjut seseorang itu setelah Yudi berada memperhatikan nya.
"Iya bentar"
Lanjut Yudi yang mengembalikan tatapan nya kepada Nara.
Pamit Yudi tersenyum mengedipkan satu mata dengan mencolek dagu Nara dengan jemari nya.
Nara mengelek pelan dengan menolehkan kepalanya.
Nara terpaku diam merasakan ada yang menjadi sesak dan kembali terluka saat ini. Bagaimana mungkin mama membiarkan nya bersekolah dengan seseorang yang jelas jelas mamanya tau Nara membenci nya. Tidak disadari matanya menjadi berkaca kaca.
Tidak lama setelah Yudi pergi Iqbal kembali seorang diri, menghampiri Nara untuk berada di tempat duduknya semula.
"Nara?"
Panggil Iqbal dengan Nara yang terdiam melamun dengan tatapan berkaca nya.
"Ra?"
Seru Iqbal lebih keras sekedar menyadarkan Nara.
"Hah?"
Nara menoleh dengan suara yang memanggil nya.
"Iqbal?"
Dengan keberadaan Iqbal yang sudah disadari Nara.
"Lo kenapa?"
Menatap Nara yang menjadi berbeda dengan tatapan nya yang menggenang air mata.
Nara tersenyum menggelengkan kepalanya.
"Kenapa apanya? Gua ngga papa"
Jelas Nara menutupi.
"Mata lo berair"
Perjelas Iqbal.
"Ah ini gua makan bakso naro sambel nya kebanyakan"
Dengan Nara yang menyuapkan bakso dan memakan nya.
"Mau tuker sama bakso gua"
Tawar Iqbal yang mempercayai penjelasan Nara.
Nara merekah senyum dengan lebarnya.
"Ngga perlu bal ini enak ko, gua suka"
"Beneran"
"Mmm bener"
Tidak ada yang dapat menandingi kuat dan tangguh nya Nara. Seseorang yang dapat mengalihkan semua rasa tidak baik nya dengan sekejap untuk berada di perlihatkan kepada dunia dan seisinya senyum manis, keceriaan dan baik baiknya Nara. Bahkan untuk beberapa rasa sakit, untuk beberapa hal menjadi terlupakan oleh Nara yang terhanyut dalam peran nya yang selau baik baik saja. Nara tidak mengerti harus bersyukur atau malah marah, dimana rasa sakit, kesedihan, keterlukaan bisa terabaikan dan terlupakan dengan mudahnya. Tapi dengan begitu semua hanya akan menjadi kumpulan dalam benak nya, entah lah masih terlalu banyak perasaan asing yang berada tidak dipahami nya.
"Eh iya ko lo ngga satu kelas sama yang lain nya?"
Tanya Nara sudah kembali dengan dirinya seperti sebelumnya.
"Gua beda jurusan sama lo semua, gua ambil jurusan bahasa Indonesia?"
Jelas Iqbal sembari meminum es teh nya.
"Ah gitu"
"Lagi gua juga ngga akan cocok sama anak IPA satu"
Lanjut Iqbal.
"Kenapa emang?"
"Orang-orang nya begitu, nanti juga lo tau sendiri"
"Hhhhe"
Nara menghelai tawa dengan apa yang Iqbal ceritakan.
"Jadi lo aga pemilih juga ya dalam berteman"
Lanjut Nara.
"Ya emang seharusnya kaya gitu kan, biar kita ngga terjerumus sama orang orang yang salah"
Iqbal dengan bijak dan polosnya
"Terus kenapa lo bisa temenan sama Brian dan Aditya yang bisa dibilang aga sedikit bertolak belakang sama kepribadian lo"
Lanjut Nara menahan tawa, semakin berada menikmati keseruan bercerita dengan Iqbal.
"Karna ada beberapa hal yang pernah terjadi sampai gua tau mereka gitu gitu orang orang baik, bahkan gua bersyukur bisa punya mereka"
Jelas Iqbal dengan serius nya dalam senyuman manis di perlihatkan, sekedar menggambarkan betapa bersyukurnya Iqbal memiliki ketiga sahabatnya.
"Terus kalo gua?"
Tanya Nara, dirasakan Iqbal punya feeling yang baik untuk memahami seseorang.
"Mmm karna lo cantik"
Seru Iqbal tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Mmm?"
Aera melebarkan tatapannya dengan jawaban Iqbal.
"Hhhhe.."
Iqbal tertawa dengan reaksi Nara yang tampak terkejut.
"Bercanda ko Ra, bukan sekedar karna lo cantik tapi karna gua ngerasa lo orang baik"
Tersentuh dalam dengan apa yang dikatakan Iqbal tentang nya.
"Semoga gua emang orang baik ya"
Bukan kah pada dasarnya semua orang baik? Terlahir dengan polos nya dan dengan sucinya. Semua berubah karna situasi, keadaan dan tempat bersama orang orang yang berada menjadikan rumah untuk nya tinggal dan berada.