I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
24



Langit malam yang gelap dan hitam terlihat jauh dari pandangan sampai seolah mustahil tergapai. Malam yang selalu menciptakan sepi dan sunyi.


Waktu dimana seseorang berada terkurung dalam rasa, mimpi buruk dan takdir nyata hidupnya.


Berada setidak nyaman inikah merasakan semua rasa seorang diri.


Nara yang berada berdiri didepan jendela yang terbuka, menatap gelap nya langit dan dingin nya angin yang memeluk.


Dengan hangan yang menjadikan tatapan nya menjadi sendu dan pikiran juga hati yang dirasakan lebih berat dan melelahkan.


Terpaku sendiri untuk kesekian kali hanya dengan sebatang rokok yang menyala yang tengah Nara hisap dan di nikmati.


Tidak menjadi jalan keluar atau mengurangi masalah yang ada, hanya saja sebatang rokok dirasa menjadi pelampiasan dan perumpama akan rasa dan diri nya.


Semula manis dan perlahan menjadi pahit, semula panjang dan perlahan menjadi habis, dengan asap abu abu yang semerbak berterbangan mengelilingi atau hilang terbawa angin.


Keberadaan Nara serupa dengan seperti itu.


Menyedihkan, adakalanya seperti sekarang ini sering terjadi. Dalam diam tetesan air mata berjatuhan tanpa adanya penjelasan.


Sesak seperti ingin meledak, seperti itu rasanya beban beban yang berada disimpan atau bahkan tertahan dalam batin nya.


Terluka, jangan lagi ditanya, sudah habis babakbelur tanpa ada satu orang pun yang tau dan mampu mengobati nya.


Setelah menghabiskan sebatang rokok yang semula di hisapnya Nara membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur memirngkan posisinya memeluk erat guling dan menangis dengan derasnya.


Setelah habis dengan tangisan nya Nara bangun dari tempat tidur dan pergi ke luar entahlah untuk apa dirasakan bosan dengan pengap berada dikamar dengan perasaan seperti ini.


Langkah Nara mengarahkannya pergi ke dapur, setelah disadari haus dirasakan Nara setelah banyaknya air mata yang berjatuhan. Melewati kamar Kyra dengan pintu yang tidak tertutup sempurna. Nara menghentikan langkahnya saat Nara melihat Kyra yang tengah duduk di atas tempat tidur.


Setelah diperhatikan, Kyra berada duduk dengan tangisan nya.


"Mama?"


Seru Nara pelan menghampiri Kyra, menerobos masuk begitu saja.


Kyra mengusap air mata dan jejak jejak nya setelah didengar suara yang dikenali memanggil nya.


"Nara"


Balas Seru Kyra dengan menoleh menatap Nara.


"Mama nangis? Kenapa ma?"


Tanya Nara memastikan, menjadi sangat tidak baik baik saja setelah melihat Kyra berada menangis di kamar nya yang redup. Lampu di kamar Kyra sudah dimatikan, sengaja membuka pintu agar cahaya dari luar berada masuk kekamar nya.


Kyra tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.


"Ngga papa, kamu kenapa belom tidur?"


Kyra yang tetap menutupi, dan bahkan mengalihkan pembicaraan.


"Nara ngga bisa tidur"


Jawab Nara, membiarkan kali ini Kyra dengan pilihan nya, jika tetap ingin menutupi itu artinya Kyra belum dapat berbicara. Lagi pula jika Kyra menjadi terbuka dan bercerita dengan semua yang berada dirasakan nya, Nara takut dan khawatir tidak dapat menghadapi nya tidak dapat menangani nya, dan malah hanya akan ikur terpuruk dan terluka.


"Yaudah mama mau istirahat"


Jelas Kyra yang mengartikan Nara untuk pergi dari kamarnya.


Nara mengangguki, memahami arti nya. Segera keluar dan menutup rapat pintu nya.


Belum beranjak masih berdiri didepan kamar Kyra, didepan pintu yang tertutup.


Dalam tundukan nya Nara kembali menuang air mata dan merasakan sesak dada setelah dengan apa yang dilihat nya.


Kyra juga berada di pijakan dimana dia terluka, menderita dan semua dibungkam nya seorang diri.


Untuk beberapa hal Nara memahami alasan Kyra menjadi seperti sekarang ini, menjadi terluka.


Berada disatu ikatan pernikahan tanpa cinta bukan lah hal yang mudah dan menyenangkan. Pernikahan tanpa cinta itu seperti dituntut untuk bertahan di satu tempat asing, tidak tau dimana dan tidak tau dengan hal hal apa yang berada didalam nya, entah hal indah atau malah sebaliknya. Juga dituntut untuk memberikan apa yang selayaknya ada untuk diberikan atas dasar cinta.


Terlebih Aron adalah pribadi keras yang tempramen dengan tidak sengaja untuk beberapa kali Nara tau dengan pertengkaran keduanya sampai Aron memaki Kyra dengan kata dan cacian yang tidak seharusnya di ucapkan.


Alasan Kyra bertahan di pijakan nya seperti ini adalah Nara putri satu satunya.


Saat Nara berada duduk di bangku kelas 3 SMP tanpa kendali Nara memaki Kyra.


"Nara malu ma, dengan pekerjaan mama seperti ini. Andai setiap anak bisa memilih dengan rahim siapa dia ingin dilahirkan mungkin Nara tidak akan menjadi semenderita ini"


Itu adalah kalimat yang Nara ucapkan saat memergoki Kyra bergandengan dengan pria hidung belang di depan sebuah diskotik.


Apapun alasannya, jalan yang semula berada di pijak Kyra adalah jalan yang salah. Pantas jika Nara menjadi marah dan terluka, semua kalimat kasar yang diucapkan nya tidak tulus berada mewakili perasaan yang sebenarnya.


Nara beruntung memiliki mama seperti Kyra yang bersedia melakukan apapun demi dirinya, hanya saja Nara tidak ingin melihat Kyra harus seperti itu hanya untuk dirinya. Bukan Kyra yang dibencinya saat itu dan bahkan sampai saat ini, tapi dirinya sendiri yang dibenci nya, karna dirinya adalah alasan Kyra melakukan itu semua.


Dan saat ini seolah karma berada turun didapati Nara menjadi hina dan kotor atas apa yang seharusnya masih berada dijaga selayaknya hal yang berharga malah sudah berada di renggut dan nikmati manusia seperti Yudi dan Aron.


Nara bergegas pergi kedapur dengan tangisan yang semakin meluap hebat menjadikan sesegukan dengan hisakan tangis yang tidak kuasa di tahan nya.


Berada duduk mengelemprakan dirinya di lantai dengan bersandar di laci di pojokan dapur Nara menangis dengan hebat nya.


Jika setiap orang berada dengan masalah nya masing masing akan kah masalah mereka serumit dan semenyakitkan masalah yang dihadapi Nara dan Kyra.


Seperti menggapai sebuah harap dengan menyusuri jalanan yang di penuhi serpihan duri dan pecahan kaca yang terus tertancap dan melukai.


Habis dengan tangisan lelah dengan sesegukan, perlahan Nara mulai hilang kesadaran terpejam tidur begitu saja melupakan kesedihan nya, dan tidak memperdulikan dimana keberadaan nya saat ini.


Setelah pagi datang, Mbo Minah tidak perlu dibuat naik darah untuk membangunkan majikan mudanya karna ini hari Minggu, lega dirasakan nya.


Saat berada di dapur untuk membuat sarapan mbo Minah bukan lagi dibuat naik darah tapi terkejut, rasanya seperti jantung nya akan copot.


"Astagfirullah ya Allah ampun deh non Nara bener bener, copot hampir ini jantung"


Teriak Mbo Minah jejingkrakan memegangi dadanya setelah dilihat Nara yang berada terpejam di pojok dapur dengan rambut yang tergerai menutupi sebagian wajahnya.


"Uaahhhhhhh..."


"Ealah belom aja masuk itu nyamuk"


Gretu mbo Minah memperhatikan Nara dengan mulut nya yang terbuka dengan lebar nya.


"Non, ngapain tidur disini"


Seru mbo Minah menghampiri Nara yang tengah mengumpulkan serpihan kesadaran nya.


"Apaan sih mbo, pagi pagi ngga jelas"


Gretu Nara tidak memahami nya.


"Non ngga tau tidur dimana sekarang"


Tanya mbo Minah memastikan.


Nara kembali menguap dengan mata menyipit nya, tertahan dengan posisi ternganganya setelah melihat sekitar.


"Dapur"


Seru Nara mengenali tempat keberadaan nya sekarang.


"Nah tuh non tau, ngapain tidur disini?"


Nara tercengir malu.


"Ketiduran mbo, kembung semalem jadi duduk sebentar eh ketiduran disini deh"


Jelas Nara.


Mbo Minah bangun lebih dulu dan membantu Nara untuk bangun.


"Non Nara ada ada aja, Yaudah lanjut istirahat dikamar ya non, Mbo mau masak"


Nara tersenyum mengangguki nya.


"Kalo gitu Nara pergi ke kamar ya"


Mbo Minah tersenyum menggelengkan kepalanya, memperhatikan Nara yang beranjak pergi.


"Kemaren disofa ruang tamu, sekarang didapur, besok tau tau udah di genteng aja kali ya"


Gumam Mbo Minah menjadi tertawa dengan tingkah Nara yang aneh.


Nara berada dikamar dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Baru beberapa saat memejamkan mata Hp yang berada di letakan di meja berbunyi notif pesan masuk.


Nara meraih dan membacanya, satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.


✉+62***********


"Buat tugas gimana?"


Anda


"Tugas apa? Ini siapa?"


Balas Nara mengirim balasan.


+63***********


"Afka! Tugas Ipa!"


Nara tersenyum melebarkan tatapannya, setelah tau dengan siapa pemilik nomor tidak dikenal ini.


Anda


"Jangan gentak gentak gitu dong"


Seolah seperti digentak dengan tanda seru setelah kata kata dari balasan Afka, tapi menjadi tersenyum membalas nya.


Melihat balasan Nara menjadikan Afka tersenyum memiringkan bibir nya disalah satu sudutnya.


"Jadi kapan belajar nya?"


Tanya Afka mengalihkan.


Nara teridam, memikirkan sejenak kapan waktu yang tepat untuk memulai pembelajaran kelompok.


"Gimana kalo hari ini jam 10 kita selesaiin tugas nya hari ini jadi kita cuman perlu satu kali kerja kelompok biar ngga kelamaan"


Lanjut Nara setelah memikirkan nya beberapa saat, dengan waktu yang tepat untuk belajar kelompok.


"Dimana?"


Balas Afka dengan singkat nya.


"Di perpustakaan sekolah"


"Lo perlu di jemput?"


Afka yang ragu ragu dengan balasan nya kali ini, menahan nya sekedar untuk memikirkan nya lebih dulu.


"Lo bisa jemput gua, pak Arto masih dirumah sakit soal nya"


Lanjut Nara.


Lebih dulu didapati pesan masuk seperti mewakili akan keraguannya, seolah Nara tau dengan dirinya. Menjadikan Afka kembali tersenyum.


"Mmm, gua jemput"


Balas Afka dengan singkat nya, meski sebenarnya membalas pesan singkat itu menjadikan nya tersenyum senyum.