I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
1



Keberadaan, begitu asing dengan kata itu. Sebuah kata yang menjadi sebuah harapan nyata untuk seseorang.


Satu, dua, tiga, beberapa atau banyak diantara mereka menginginkan satu tempat untuknya berada.


Keberadaan adalah dimana dan bagaimana seseorang ada dalam pijakannya. Entah karena suatu alasan atau takdir yang membawanya. Bukan sekedar ada tetapi ada untuk dapat di pandang, didengarkan dan menjadi berharga.


Seperti hal kecil yang sederhana, tampak tidak berarti apa-apa untuk banyak orang yang tidak memahaminya.


Akan tetapi keberadaan menjadi berarti untuk mereka yang sosoknya seperti hembusan angin yang terlewatkan begitu saja. Tidak banyak mata dan telinga yang menatap akan keberadaannya, tertinggal dan dibiarkan begitu saja.


Pijakan, satu tempat yang seharusnya untuk tinggal menjadi satu titik diantara banyak titik untuk berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, dari satu rasa kerasa yang lain, dari satu luka keluka yang lain.


SMA, sekolah menengah kejuruan. Tempat dimana remaja seharusnya bersuka ria menikmati canda tawa dan kebersamaan. Tetapi hal itu tidak terjadi untuk Nara Clarissa. Perempuan kelahiran Jakarta, 25 Juni 2000. Perempuan dengan kulit putih, dengan tinggi mencapai 1,68m. Memiliki rambut panjang bergelombang yang sedikit pirang, terlihat cantik dan sedikit kebule bulean.


Hari ini Senin tanggal 22 Juli 2019 adalah hari pertama Nara memasuki sekolah baru setelah kenaikan ke kelas 3. SMA Harlita adalah sekolah baru yang akan di tinggalinya selama satu tahun kedepan. Jauh berbeda sekolah barunya ini dengan sekolah sebelumnya. Sekolah yang baru akan dimasuki ini adalah sekolah suasta dengan fasilitas dan biaya yang sangat mahal baginya, jauh lebih mahal dibandingkan sekolah sebelumnya. Tapi biaya tidak lagi dipusingkannya karna semua sudah ditanggung seseorang dan terlebih dengan keadaan hidup yang tidak lagi sama.


Pukul 06:45 mobil Nara sudah sampai didepan sekolah dengan supir yang mengantarkannya, pak Arto.


"Sudah sampai non."


Jelas Pak Arto menoleh kepada Nara yang berada duduk di kursi belakang.


Tampak Nara terdiam bersandar dengan kepala yang dimiringkan ke posisi sebelah kiri.


"Kenapa diam saja? Apa lagi memperhatikan sekolah barunya?"


Gumam pak Arto terdiam dengan Nara yang tidak memberikan respon atau jawaban. Pak Arto kembali dengan pandangnya kedepan.


Sudah lebih dari 5 menit tetapi Nara masih terdiam belum ada pergerakan ataupun suara. Membuat pak Arto harus memperhatikan majikan muda yang merukan majikan barunya. Pak Arto kembali menoleh kepada Nara, memperhatikan juga dengan panggilan-panggilan sekedar untuk memastikan.


"Non?


Non Nara?


Non Nara tidak akan turun, bel masuk sebentar lagi berbunyi non.


Non Nara?"


"Uuuuuaaahhhhh..."


Nara menguap dengan lebarnya sembari menggeliat menarik tangan membenarkan posisinya.


"Non Nara tidur?"


Tanya pak Arto terheran, memperhatikan majikan mudanya dengan tatapan penuh.


"Mm, ketiduran pak, ngantuk."


Jelas Nara dalam mata yang masih menyipit, mengumpulkan serpihan kesadaran yang belum terkumpul penuh dalam dirinya.


"Udah sampe mana pak?"


Tanya Nara dengan polosnya.


"Sudah sampe hampir dari tadi di depan sekolah non."


Jelas Pak Arto dengan suara yang dibuat lebih kencang sekedar membuat Nara dapat mendengarnya dengan baik.


"Hah?"


Seru Nara terkejud menegakkan posisi duduknya dengan memperhatikan sekitar dari kaca mobil.


"Yah ko enggak dibangun sih pak?"


Seru Nara membuka tasnya dengan cepat, mengeluarkan tempat kecil dari dalam tas.


"Saya enggak tau kalo non tidur."


Jelas Pak Arto dengan datarnya.


"Duh.."


Gretu pelan Nara saat melihat jam tangannya 06:55 sedangkan bel masuk akan berbunyi pukul 07:10.


Sedangkan Nara masih begitu berantakan, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Kalo gitu saya tunggu di depan ya non."


Memperhatikan Nara yang tengah sibuk. Meninggalkan majikannya sendiri karna khawatir keberadaan dirinya menjadi tidak sopan dan dapat menggangu.


"Mm.."


Singkat Nara mengiyakan, tengah sibuk dengan BB cream yang di oles tipis di wajah mulusnya.


Pak Arto turun dari mobil membiarkan Nara dengan kesibukannya.


Bel masuk berbunyi banyak siswa bergegas cepat untuk masuk. Sedangkan Nara baru selesai dengan wajahnya dan dengan cepat menggerai dan menyisir rambut yang semula terkuncir berantakan. Nara memakai sepatu yang semula kakinya hanya mengenakan sendal jepit, mengingat tali sepatu dengan asal asalan. Nara mendorong pintu mobilnya dengan kuat sekedar untuk bergegas cepat.


"Enggak usah di jemput pak kalo saya enggak telfon."


Teriak Nara dengan langkah yang cepat meninggalkan pak Arto.


Pak Arto mengangguki, memperhatikan Nara yang berlari, menggelengkan kepalanya terheran dengan majikan baru yang tampak aneh yang baru kali pertama dijumpainya.


Nara menahan gerbang yang sudah hampir tertutup rapat dengan lengan tangannya.


"Jangan di tutup dulu pak, saya siswa baru jadi biarin saya masuk ya."


Minta Nara dengan tatapan polos dan senyum ramahnya.


"Hhhh.. Yaudah silahkan masuk lain kali jangan telat, masa siswa baru udah telat."


Gretu pak satpam dengan membukakan kembali pintu gerbang untuk Nara, dibuat luluh dengan senyuman Nara.


Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya, menjadi malu dengan gretu pak satpam kepadanya.


"Iya pak, makasih ya."


Beberapa atau banyak dari siswa melihat ke arah Nara dengan tatapan asing, tidak lama seperti sekedar memastikan keberadaan Nara sebagai siswa baru.


Tidak memperhatikan apa yang ada di depan karna terlalu sibuk dengan apa yang tengah di perhatikan sampai tidak tau jika tali sepatunya terlepas.


"Brakkk.."


Nara terjatuh dengan menginjak tali sepatunya sendiri, mendorong keberadaan seseorang yang berada dihadapannya.


"Hhhhh..."


Nara menghelai nafas dengan tubuhnya yang baru saja terjatuh, tapi anehnya Nara tidak merasakan sakit. Nara terdiam dalam tatapannya, dirasa hari pertamanya masuk sekolah sudah sangat menjengkelkan.


Saat kembali mengangkat pandangannya dilihat Nara tiga laki-laki tengah terpaku memperhatikan.


"A.."


Gretu seseorang yang sudah berada tergeletak dengan Nara yang berada menindihinya.


Nara bangun dari duduknya tersadar dengan posisinya yang tidak sakit saat terjatuh karna ada seseorang yang berada menjadi sanggaannya, didudukinya.


"Ah maaf maaf.."


Seru Nara yang sudah kembali bangun, memperhatikan seseorang yang berada tergeletak dengan posisi tengkurap.


"Gua enggak sengaja, lo enggak papa?"


Nara yang memperhatikan punggung dari seseorang yang belum memperlihatkan wajahnya.


"Aa.. Haisss.."


Gretu kesal dengan kesakitan, seseorang yang mulai bangun dari posisi tengkurap.


Nara sudah menyiapkan dan menata hatinya jika dirinya akan dimarahi atau bahkan dimaki-maki dengan kecerobohannya barusan.


Berada tiga orang yang sebelumnya sudah memperhatikan Nara sedari tadi. Nara menoleh menatapnya satu persatu.


"Cantiknya."


Seru salah seorang laki-laki dengan rambut gondrong dan bergelombang, tengah mengunyah permen karet. Memperhatikan Nara dengan tatapan penuhnya, Brian.


"Waw."


Seru seseorang yang lebih tinggi dibandingkan ketiga pria di sampingnya. Memperhatikan Nara dengan tersenyum di wajah yang cukup tampan dimilikinya, Aditya.


"Masyaallah."


Seru seseorang yang paling pendek diantara ketiganya juga paling manis diantara ketiganya, Iqbal.


Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya, sebelum kembali tertuju dengan rasa bersalah dengan seseorang yang tengah mengusap lengan tangannya yang terluka juga dengan seragamnya yang menjadi kotor.


"Sekali lagi gua minta maaf ya?"


Perjelas Nara dengan rasa bersalahnya, juga sekedar menarik perhatian seseorang itu untuk menatapnya.


Satu orang lagi berada memperlihatkan wajahnya dan menatap Nara dari empat laki-laki yang berada di hadapan Nara.


Seseorang dengan paras paling tampan diantara yang lainnya dan dengan bibir dan hidung yang tampak indah, Afka. Afka menarik tatapan dengan seseorang yang berada di hadapannya dengan kata maaf yang sudah didengarnya beberapa kali.


Dek... Tatapannya terpaku dengan Nara yang tersenyum tipis menatapnya.


Seseorang yang ikut terjatuh karna Nara yang tidak sengaja mendorongnya. Menatap dan memperhatikan Nara dengan tatapan tajam dengan ekspresi datar.


"Maaf."


Singkat Nara, tersenyum tipis dengan ekspresi yang tercampur rasa bersalah.


"Cabut ayo."


Singkat Afka setelah beberapa saat terpaku dengan tatapan yang saling terarahkan antara Nara dengannya. Mengarahkan ketiga lainnya untuk ikut pergi dengannya. Meninggalkan Nara dan membawa kembali tatapannya


Brian melambaikan tangan kepada Nara, tersenyum dengan gaya tengilnya.


Brian juga dengan yang lainnya ikut pergi membuntuti Afka.


Nara hanya tersenyum tipis sekedar menanggapinya.


Begitu pun dengan Aditya dan Iqbal yang ikut berlalu meninggalkan senyuman kepada Nara.


"Ko lo cuekin gitu sih? Dia kan enggak sengaja udah minta maaf juga."


Tanya Brian berada memperhatikan Afka dari samping dengan langkahnya yang bersamaan.


"Lo bilang kaya gini karna dia cantik kan?"


Seru Afka melirik Brian dengan langkahnya yang mulai menaiki tangga.


"Nah tuh lo tau kalo dia cantik, kenapa masih dicuekin?"


Tanya Brian semakin antusias membicarakan Nara.


"Kaya enggak tau gimana dinginnya Afka sama cewek."


Cetus Iqbal dengan polosnya, yang berada membuntuti Afka dan Brian dari belakang.


"Nah nih Iqbal aja ngerti, lo ngapa ribet sih Ian?"


Lanjut Aditya menyambar setelah dengan apa yang dikatakan Iqbal.


Sudah tau dengan baik bagaimana karakter Afka yang menjadi sangat tidak menyenangkan terhadap perempuan.


"Ah rese lo semua."


Kesal Brian dengan mempercepat langkahnya meninggalkan ketiga sahabatnya begitu saja.