I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
33



Seperti istirahat pada biasanya, saat bel istirahat tim FIM sudah berada ikut meramaikan kantin. Lengkap dengan kelimanya, dan dengan makanan yang sudah berada di hadapan nya masing masing.


Menikmati makan siang dengan canda dan tawa di antara empat laki laki yang saat ini berada di hadapan dan di sampingnya menjadikan luka pada fisik dan hatinya mereda, bahkan rasa sakitnya seperti tidak lagi dirasakan nya.


"Drtttt.. drtttt..."


Hp yang berada diletakkan Nara di atas meja bergetar dengan telfon masuk.


Nara meraih didapati pak Arto yang menelfon nya.


"Bentar ya"


Seru Nara kepada ke empat yang lain nya. Bangun dari tampak duduk dan menjauh beberapa langkah agar candaan ke empat nya tidak terdengar menutupi suara pak Arto yang akan didengar nya.


"Hallo pak?"


Seru Nara setelah telfon diangkat nya.


"Hallo non, maaf ganggu sebentar, ini boneka nya sudah saya belikan. Seperti permintaan non ukuran yang besar dan setelah dibeli langsung menelfon non Nara"


"Kalo gitu pak Arto bisa langsung kasih orang nya aja ya"


"Baik non, kalo gitu saya harus kasih ke siapa ya?"


"Ke anak pak Arto yang baru keluar dari rumah sakit"


"Putri saya non?"


"Iya pak"


"Tapi non_"


"Pak Arto itu hadiah saya buat anak bapak ko bukan buat pak Arto. Jadi pak Arto ngga boleh nolak"


"Terimakasih banyak ya non"


Terluluh akan kebaikan dan perhatian Nara kepadanya. Majikan yang begitu baik dan memperdulikan keberadaan nya. Menjadikan nyata akan dirinya, tidak seperti pada sebelumnya hanya di anggap bagaikan kuda yang harus mengantar kesana kesini tanpa di perdulikan bahkan di ajak berbicara pun sangat jarang. Tapi berbeda dengan Nara. Satu keberuntungan dapat bertemu dan bekerja bersama dengan nya.


Nara tersenyum dengan lebarnya. Ikut merasa senang setiap kali dirinya memberikan sesuatu kepada orang lain.


"Sama sama pak, salam ya buat anak pa Arto"


"Baik non, sekali lagi terimakasih non"


Afka melihat itu, melihat Nara yang berada tersenyum meski hanya berbicara dengan supir nya. Nara memang unik dan berbeda dari yang lain nya.


Saat akan kembali ketempat duduk Nara terpaku melihat keberadaan Lula dengan nampan yang dibawakan nya tengah mencari tempat duduk diantara semua tempat yang sudah penuh terisi.


Nara menghampiri Lula dengan di perhatikan ke empat teman nya dengan Nara yang tiba tiba berlalu menjauh pergi.


"Gabung sama kita aja"


Lula menggelengkan kepalanya.


"Ngga usah"


"Terus lo mau makan dimana, semua tempat udah penuh"


Lula yang kembali memutar tatapan nya mencari sela dimana dirinya dapat duduk selain harus berada duduk bersama Nara dan yang lain nya, terlebih ada keberadaan Aditya.


"Ngga ada kan"


Seru Nara setelah membiarkan Lula kembali memutar tatapan nya mencari tempat.


"Udah ayo"


Tarik Nara dengan pelan pada tangan Lula yang tengah menahan nampan berikan semangkuk bakso dan segelas es teh.


"Lula gabung sama kita ngga papa kan"


Tanya Nara lebih dulu saat kembali ke meja nya dengan bersama Lula.


"Ngga papa dong"


Seru Iqbal.


"Mmm gabung aja"


Lanjut Brian menambahi.


Sedangkan Aditya berada diam dengan tatapan dan ekspresi yang berbeda menatap Lula terlebih dengan keberadaan nya yang sudah ada di hadapan nya.


Begitu pun Afka yang semula menatap Lula sesaat, kemudian tatapan nya dialihkan sekedar memperhatikan Aditya dengan tatapan nya kepada Lula.


"Gimana Dit, Afka? Ngga papa kan Lula gabung disini"


Tanya Nara kepada Aditya dan Afka yang malah diam tidak menjawab.


Afka sekedar mengangguki.


"Mm"


Aditya pun sama sekedar mengangguki dengan canggung nya.


Nara tersenyum lebar, menarik nampan yang dibawa Lula untuk diletakkan di atas meja.


"Duduk"


Lanjut Nara memerintah, kepada Lula yang masih berdiri.


"Gimana keadaan lo sekarang?"


Tanya Nara kepada Lula yang berada duduk di samping nya, sembari dengan mulut nya yang tengah sibuk mengunyah mia ayam.


Lula menoleh dengan tatapan dan ekspresi yang selalu datar di perlihatkan.


"Baik baik aja"


Nara tersenyum mengangguki nya.


"Bagus deh"


"Eh iya tugas kelompok kita juga udah selesai ya guys, udah di setor ke Bu Anita. Sabtu kan acara nya, nah kata Bu Anita kita perlu bagi tugas buat bawa kelengkapan dan peralatan karna akan di adakan kemping juga selama 3 hari"


Lanjut Nara menjelaskan mengenai tugas juga dengan acara di alam terbuka hari Sabtu di Minggu ini.


"Bakal seru banget nih kayanya, tapi sayang ngga bisa satu kelompok sama kamu"


Tersenyum Brian dengan ekspresi yang berubah menjadi cemberut setelah di kata kata terakhir nya. Seolah tidak menjadi satu kelompok dengan Nara adalah hal yang menjengkelkan bagi nya.


"Pasti seru, pengin ikut deh. Tapi gua kan anak bahasa"


Lanjut Iqbal menjadi tidak bersemangat dengan ke empat teman nya yang akan bersenang-senang tanpa dirinya.


"Lo ikut aja, bilang aja ke Bu Anita kalo lo mau bantuin disana. Pasti dibolehin terlebih kalo lo ngga ada kesibukan apa apa"


Seru Afka menyarankan, agar Iqbal berada gabung ikut bersama nya dan dengan yang lain juga.


"Gua ngga ada tugas atau kesibukan apa apa ko, lo bantu ngomong ya sama Bu Anita"


Minta Iqbal dengan wajah polos nya.


Sedangkan Lula hanya sekedar mendengarkan dengan sibuk nya memakan makanan nya. Lain untuk Aditya yang terlewatkan semua obrolan dari yang lain nya yang masuk dan didengar, kembali terhembus keluar. Karna tatapan dan keseriusan yang tengah berada untuk menatap dan memperhatikan seseorang, Lula.


Saat jam terakhir berakhir dan bel pulang pun berbunyi serentak ramai keceriaan dan kesenangan yang dirasakan para siswa. Menjadi berhamburan keluar dari kelas nya masing masing. Seperti burung burung yang semula berada tersangkar saat dibuka kandang nya menjadi begitu senang dengan kepakan sayap, dan pergi terbang dengan bebas nya, lega.


Tersisa Nara di kelas sendirian, setelah selesai menjalankan hukuman yang bu Ririn berikan, menata tumpukan buku di perpustakaan yang begitu banyak nya.


Seseorang dari luar tiba tiba menutup pintu dan menguncinya. Seseorang yang bukan lain adalah Yudi. Saat sebelumnya akan pulang di dapati keberadaan ke empat laki laki yang biasanya bersama Nara kali ini tidak didapati Nara bersama mereka.


Yudi pun memastikan keberadaan Nara, saat tau Nara berada di kelas seorang diri menjadikan kesempatan untuk nya membalas setelah apa yang beberapa hari yang lalu Nara dan Afka lakukan kepadanya.


"Ini belum seberapa"


Seru Yudi setelah selesai mengunci pintu, tersenyum sinis dengan tatapan tajam.


Nara menoleh saat pintu tiba-tiba tertutup begitu saja. Melebarkan tatapan nya, menjadi terkejud setelah sadar ada seseorang yang menguncikan nya.


Nara berlari mengogrek gagang pintu dan berusaha membuka nya.


Menggedor pintu depan kencang.


"Buka! Buka tolong! Gua kekunci didalam!"


  Mengalihkan tatapannya kepada jendela dan berlari membuka jendela. Tapi sayangnya setiap jendela diamankan dengan pagar besi. Nara hanya melihat keberadaan Yudi yang tersenyum dan menjauh pergi.


"YUDI! YUDI BUKA PINTU NYA!"


Teriak Nara mengerahkan suara kencang nya.


"Hhhhh.. "


Helai Nara sekedar menjadikan dada yang sesak karna emosi nya barusan mereda dan melega.


"Orang itu bener bener"


Gumam Nara dengan jengkel nya.


Nara kembali beranjak ketempat duduk untuk mengambil Hp dari dalam tas nya.


"Yah pake acara mati lagi, gimana sekarang?"


Gretu Nara bingung dengan panik nya. Berada terkurung di dalam kelas nya sendirian dengan Hp nya yang mati tanpa adanya casan.


Setelah diam dengan bingung nya, Nara membawa tas nya dan duduk di dekat jendela berharap akan ada petugas pembersih sekolah atau pak satpam.


Sudah hampir gelap belum juga ada seseorang yang datang. Rasanya sudah sangat lelah, mengantuk karna hanya tidur sebentar hari ini, terlebih dengan perut nya yang menjadi sangat lapar.


Bangun berpegangan pada pagar jendela dengan menyandarkan kepala, menjadi pasrah. Sekalipun harus menginap seorang diri di sini.


Dalam tubuhnya yang sudah menjadi lemas tatapan Nara menjadi kosong akan hal yang saat ini tengah dipikirkan dengan hati nya yang ikut bergumam.


Ditempat ini sepi, dan begitu hening, memang sedikit menakutkan tapi Nara merasa baik baik saja ditempat ini, lebih tepat untuk hati dan perasaan nya.


Berada di tempat yang membuat nya benar sendiri. Tidak perlu berbicara, tidak perlu berekspresi, tidak perlu di tuntut ini dan itu. Tidak perlu merasakan keterlukaan, dan takdir hidup nya yang begitu melelahkan.


Ditempat ini Nara dapat menjadi diri yang sebenarnya, meski tidak ada satu pun yang tau dan melihat dengan ini, dengan sosok Nara yang sebenarnya.


"Apa mama saat ini sadar Nara belom pulang? Atau sadar tapi malah mengabaikan"


Gumam Nara bertanya tanya dengan prasangka mana yang benar.


Entah apa yang salah sampai menjadikan banyak hal buruk yang menggambarkan sosok mama di mata dan dipikiran nya. Mungkin karna ketertutupan satu sama lain, menjadikan keduanya tidak mengenal satu sama lain.


Untuk Nara, setiap kali ingin mengerti dan memahami Kyra akan ada saja yang malah menjadikan nya kecewa dan Kyra yang terlihat menjadi egois dalam padangan nya.