
10
"Mas Yudi! Mending sekarang masuk"
Printah Pak Arto yang tiba tiba datang diantara Nara dan Yudi. Sedari tadi pak Arto sudah memperhatikan keduanya. Menjadi tidak dapat diam saja dengan karakter Yudi yang dikenalinya, terlebih dengan Nara majikan nya yang menjadi terpaku diam dengan kacaan dimatanya.
"Lo siapa? Brani berani nya ngusir gua"
Yudi menjadi tersinggung dengan kedatangan pak Arto yang memerintah nya begitu saja.
"Saya Arto supir nya non Nara"
Perjelas pak Arto mengenalkan dirinya.
"SUPIR! Hhheh"
Seru Yudi menjadi tertawa, seolah sesuatu yang lucu telah menggelitik nya.
"Lo ngga tau gua siapa? Ngga tau siapa yang gajih lo"
Yudi yang menjadi serius menatap pak Arto.
"Saya tau, mas Yudi anak nya pak Aron"
"Lo tau tapi lo masih kurang ngajar sama gua?"
"Iya karna majikan saya tetap non Nara"
"Hhhheeehhh.."
Tawa Yudi menjadi geram dengan Pak Arto yang terus saja menjawab dan membantah nya, menjadikan emosi nya mulai memanas.
Nara berdiri di depan pak Arto membelakangi nya, setelah dilihat kedua tangan Yudi yang sudah mengepal kuat siap meninju pak Arto.
"Minggir!"
Printah Yudi pelan kepada Nara dengan serius dan dengan emosi yang sudah terlihat jelas di wajahnya.
"Yudi udah, pak Arto mending bapak sekarang pergi"
Printah Nara, tidak ingin terjadi apa apa dengan pak Arto hanya karna ingin melindungi nya.
"Saya akan pergi setelah melihat non Nara masuk"
"Yudi udah sekarang kita masuk"
Nara menarik tangan Yudi untuk ikut masuk bersama dengan nya.
"Brak.."
Yudi yang menepis tangan Nara dari tangannya dan mendorong Nara dengan kencang.
Bergegas mendekatkan dirinya kepada pak Arto dan mencengkram kerah kemeja hitam yang pak Arto kenakan.
"Non Nara"
Seru pak Arto yang melihat Nara berada tergeletak dibawah tengah kesakitan.
"Sekali lagi lo bersikap kurang ngajar dan bahkan sampai berani berani nya nyinggung gua, gua ngga akan tinggal diem dan akan ngelakuin sesuatu yang nantinya akan lo sesalin"
Pertegas Yudi dengan kepalan tangan yang sudah terangkat sejajar dengan wajahnya, memberikan peringatan dengan cengkraman yang kuat dan tatapan tajam nya.
Satu mobil yang akan masuk kedalam sekolah pun tiba tiba berhenti dengan empat orang yang langsung turun dari mobil Afka, Brian, Aditya, dan Iqbal.
Keempat nya menghampiri Nara dengan cepat setelah dilihatnya Nara yang tergeletak dibawah tengah memegangi pergelangan tangannya.
"Lo ngapain?"
Tanya Adita yang langsung menghampiri Yudi yang tengah mencengkram kerah baju seseorang yang berada saat ini di hadapan nya.
"Nara lo ngga papa"
Tanya Brian ikut berjongkok memastikan keadaan Nara.
Nara tersenyum tipis menggelengkan kepalanya.
Afka dengan tiba tiba mengulurkan tangannya untuk membangun kan Nara.
Nara menatap sebuah uluran tangan yang saat ini berada dekat dilihat nya, dan kemudian membawa tatapan nya untuk berada dengan pemilik sebuah tangan yang saat ini berada di hadapan nya.
Nara meraih nya dengan tatapan yang terpaku menatap Afka.
"Makasih"
Ucap Nara tersenyum.
Nara yang kemudian membawa tatapan nya untuk berada menatap pak Arto dan Yudi.
"Ini bukan urusan lo semua ya, mending sekarang lo pada cabut deh"
Usir Yudi menatap satu persatu yang kemudian tatapan nya berhenti pada Aditya yang berdiri tidak jauh dari posisi nya.
"Gua cabut setelah lo lepasin tangan lo dari bapak ini"
Printah Adiya tersenyum dengan ramah nya, terlihat begitu berkarisma.
"Lo siapa berani berani nya nyuruh gua"
Yudi yang menjadi emosi akan keberadaan Aditya dengan sikap so se'enaknya kepada nya.
"Mmm, gua Aditya, masa lo ngga kenal. Kurang gaul banget lo"
Aditya yang menjadi tertawa dengan tengil nya.
"PENTING buat tau siapa lo"
Yudi dengan senyum sinis dan tatapan yang tidak kalah sinis nya.
"Hah berisik deh, lepasin aja sih, lama lo"
Aditya yang kemudian menarik paksa tangan Yudi dari kerah baju pak Arto.
"Non Nara ngga papa"
Tanya Pak Arto yang langsung menghampiri Nara.
"Saya ngga papa pak? Lain kali ngga usah peduliin Saya ya"
"Tapi non_"
Belum selesai dengan kata-kata nya Nara sudah lebih dulu memotong nya.
"Pak... Saya ngga mau bapak jadi terlibat masalah kaya gini"
Minta Nara untuk Pak Arto menuruti keinginan nya.
"Akan saya usahakan"
Pak Arto menyadari akan keberadaan nya sebagai supir, tidak punya hak dan kehendak atas apa yang menjadi keinginan nya pribadi. Pada dasarnya pribadi pak Arto adalah seseorang yang tidak ingin terlibat dalam urusan apalagi pertikaian orang lain. Hanya saja untuk Nara dirinya tidak dapat diam saja. Alasannya karna Nara terlalu bersikap baik, ramah dan memperlakukan nya dengan sangat hangat. Terlebih ada sesuatu yang dirasakan pak Arto setiap kali melihat sorot mata, senyuman dan lelahnya Nara saat tertidur di mobil, ada kesedihan dan keterpurukan didalam nya.
"Kalo gitu saya pamit pergi ya non"
Pamit pak Arto.
Nara tersenyum mengangguki nya.
Setelah beberapa langkah Pak Arto meninggalkan nya, Nara menyusul nya, sekedar menyampaikan dengan apa yang belum disampaikan nya.
"Bapak baik baik aja kan?"
Tanya Nara lebih dulu memastikan keadaan pak Arto yang tengah sibuk membenarkan kerah baju nya yang menjadi berantakan.
"Saya ngga papa ko non"
"Saya minta maaf ya pak, gara gara saya pak Arto jadi harus terlibat sama Yudi kaya gini"
Ucap Nara benar dengan rasa bersalah dan tidak enak nya.
Pak Arto menatap Nara dengan tersenyum hangat nya. Gadis cantik dihadapan nya benar benar berbeda dari semua majikan yang pernah pak Arto temui. Sekedar supir tetapi tetap saja dihargai dan dipedulikan keberadaan nya.
"Ngga papa ko non"
Nara tersenyum begitu hangat menatap pak Arto.
"Nara boleh minta tolong sama bapak?"
Dengan senyum lebar yang memudar.
"Silahkan non"
"Jangan bilang ke mama soal kejadian ini ya pak"
Minta Nara.
"Tapi kenapa non?"
"Ngga papa pak, Nara ngga mau kejadian ini dibesar besarin"
Pak Arto mengangguki, mengiyakan dengan apa yang di inginkan majikan nya.
Yudi mendorong Aditya dengan sangat kencang nya. Sekedar dorongan tidak akan membuat Aditya melunturkan kesabaran dan kedewasaan nya.
"Heh, jadi bener dari gosip yang gua denger kalo lo pembuat onar"
Seru Aditya dengan tengil nya.
"Bug.."
Satu tinjauan melayang kencang diwajah Aditya. Sudah sedari tadi emosi nya memanas, keberadaan Aditya dimanfaatkan Yudi sekedar untuk melampiaskan kekesalan nya.
"Uh sorry, udah gregetan dari tadi"
Aditya tersenyum mengangguki nya, dan....
"Bug.."
Aditya yang ikut mengayunkan tinjuan untuk berada mendarat di pipi Yudi dengan kencang nya.
"Yang kuat dong, apa perlu nih gua yang gantiin buat nonjok ini manusia"
Seru Brian yang ikut maju berdiri di samping Aditya, memperhatikan Yudi yang tengah kesakitan.
"Udah udah lo pada apaan sih"
Pisah Iqbal berdiri berada di tengah ketiganya.
Sedangkan Afka dengan ekspresi datar nya hanya diam memperhatikan perkelahian yang berada beberapa langkah di hadapan nya.
"Prittttt....."
Suara Pluit yang begitu melengking kencang menghentikan ketiganya, Aditya, Brian dan Yudi.
Dengan Pak Danu yang tiba tiba menghampiri ketiganya. Guru BK (Bimbingan Konseling), guru yang disegani banyak siswa karna caranya yang menyebalkan stiap menangani siswa siswa yang bermasalah.
"Sedang apa kalian disini? Berkelahi?"
Tanya Pak Danu tatap satu persatu sudah berada di antara ketiganya.
Afka mengangkat bahunya saat tatapan pak Danu berada menatap nya, yang mengartikan dirinya tidak tau apa apa.
Begitu pun dengan Iqbal yang menggeleng gelengkan kepala nya.
"Saya juga pak, ngga ikut ikutan"
Perjelas Iqbal.
"Kamu, Aditya, Brian, Yudi, ikut keruangan sekarang"
Printah pak Danu, menatap ketiganya.
"Siapa yang brantem pak, kita lagi bercanda aja ko"
Jelas Aditya, dengan merangkul Brian dan Yudi.
Yudi merengut kesal, menahan diri membiarkan Aditya untuk merangkul nya, meski sebenarnya keberadaan Aditya sangat membuat nya risih dan sangat tidak menyenangkan.
"Iya pak, bercanda"
Perjelas Yudi, tersenyum paksa.
"Lagian kata siapa kita brantem, kita kan anak baik baik"
Tanya Brian memastikan.
"Kamu pikir ini gerbang sekolah belum di tutup karna apa? Kalian mau coba coba bohongin saya? Terus muka kalian itu kenapa, blason apa gimana merah, memar gitu"
Setelah cukup lama bel masuk berbunyi, tetapi gerbang sekolah masih terbuka, karna pak satpam yang meninggalkan jagaan nya untuk melaporkan apa yang terjadi di depan gerbang sekolah.
"Anu gini loh, sebenernya saya ikut ikutan saya bermaksud buat misahin mereka berdua"
Jelas Brian tersenyum manis, melepaskan tangan Aditya yang berada merangkulnya.
"Apaan lo"
Sinis Aditya menatap Brian.
"Sudah, saya tunggu diruangan saya, tidak datang dalam 10 menit akan tau sendiri urusan nya seperti apa"
Pertegas Pak Danu, lebih dulu meninggalkan ketiganya dan yang lain nya.
Nara kembali berada menghampiri yang lain, setelah menyaksikan Pak Arto pergi.
"Kenapa?"
Tanya Nara memastikan, setelah dilihatnya pak Danu yang baru saja beranjak pergi.
"Mereka bertiga di panggil keruang BK"
Jelas Iqbal.
Yudi lebih dulu meninggalkan yang lain nya dengan menatap tajam Aditya dan Nara.
"Jeh...hhhe"
Aditya menghelai tawa dengan cara Yudi yang menatap nya.
"Sorry ya, gara gara gua deh lo berdua jadi kena masalah kaya gini"
Nara dengan ekspresi dan rasa bersalah, terlebih melihat sudut bibir Aditya yang terluka.
"Ngga papa Nara, emang udah tugas aku kan buat jagain kamu"
Brian tersenyum manis dengan gayanya.
"Adit lo ngga papa"
Tanya Nara memastikan dengan luka di sudut bibir Aditya.
"Ngga papa Ra, ini bukan apa apa ko"
Aditya tersenyum, selalu dengan tatapan yang begitu nyaman berada dilihat Nara.
"Udah buruan, 10 menit"
Afka mengingatkan kedua sahabatnya untuk cepat bergegas keruangan pak Danu sebelum masalah semakin runyam.