I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
28



"Gua balik duluan ya, harus bantu bude jaga warung, bentar lagi jam jam nya warung bakal rame banget"


Seru Iqbal setelah mengembalikan buku buku yang semula di baca nya.


"Gua juga ya, rasanya badan gua kaya gretek gretek gitu deh seharian duduk"


Lanjut Brian dengan menggeliat menarik tangan nya ke samping. Sampai satu tangan nya mengenai Aditya yang tengah duduk di samping nya.


"Kena gua monyet"


Cetus Aditya mendorong tangan Brian untuk jauh dari wajahnya.


"Seharian tidur aja lo! Gretek gretek, otak lo itu mah gretek"


Lanjut Aditya tersenyum dengan gumam nya.


Aditya kembali menjadikan Brian merasa kesal dan jengkel kepadanya.


"Bacot, udah ayo bal. Nara aku sebenarnya ngga mau ninggalin kamu cuman.."


Brian yang mengalihkan tatapannya dari Aditya untuk berada menatap Nara dan tersenyum dengan manisnya.


"Iya ngga papa lo berdua balik aja lagi ini juga kan bukan tugas lo berdua"


Lanjut Nara dengan Brian yang belum menyelesaikan kalimatnya.


"Khmm..khmm.."


Lula yang menjadi batuk namun seperti ditahan nya.


Nara menuliskan sebuah tulisan di dalam buku nya.


"Lula makin pucet, lo anter balik aja dit takut kenapa napa"


Tulisan yang kemudian digeserkan Nara kepada Aditya yang berada duduk dihadapan nya.


Setelah berada membacanya Aditya mengangguki dan menoleh menatap Lula dengan wajah pucat nya.


"Gua anter balik"


Lula diam dengan menggelengkan kepalanya.


"Gua juga udah mau balik lagi, lo mau disini aja"


Seru Nara menambahi, menjadikan Lula agar mau pulang.


Lula meraih tas nya dan bangun dari duduknya.


"Yaudah, kalo gitu gua duluan"


Lula yang kemudian berbalik membelakangi Nara.


"Makasih buat yang tadi"


Lanjut Lula berada dengan posisi membelakangi Nara, dan bergegas pergi.


"Gua duluan ya, Afka gua tinggal ya"


Lanjut Aditya bergegas cepat mengikuti Nara.


Afka hanya mengangguki nya.


"Terus tugas nya?"


Lanjut Afka kepada Nara, setelah tersisa keduanya diruang perpustakaan dengan matahari yang mulai tenggelam.


"Iya kita yang kerjain, ini udah tinggal dikit lagi ko"


Jelas Nara sembari mengotak ngatik tugas yang sudah menjadi catatan yang cukup panjang dalam laptop nya.


Afka yang kemudian memperhatikan sekitar tersadar dengan keberadaan nya yang hanya tersisa keberadaan nya yang berdua dengan Nara, menjadikan Afka tiba tiba mengedip ngedipkan kedua matanya dengan rasa canggung yang tiba tiba dirasakan nya.


Nara yang tiba tiba menjadikan posisi nya berada menghadap Afka dengan jarak yang lebih dekat.


"Menurut lo buat tulisan nya bagusan dengan ukuran segini atau yang mana?"


Tanya Nara dengan mengarahkan layar laptop untuk diperlihatkan kepada Afka.


"Hah?"


Seru Afka dengan canggung akan keduanya yang menjadi begitu dekat, dengan degup jantung yang tiba tiba Afka rasakan detakan nya sangat tidak normal.


"Lo kenapa?"


Tanya Nara dengan Afka yang diam dan seperti orang bingung.


"Bagusan begitu udah"


Cetus Afka dengan asal asalan.


"Mm, menurut gua juga bagus ini jadi rapih"


Seru Nara sebelum kembali ke posisi nya.


Sekitar 20 menit akhirnya tugas menjadi selesai dan sudah rapih, tinggal besok pagi dikirimkan kepada Bu Anita.


Nara menoleh kepada jam dinding, pukul 06:15. Nara membereskan buku buku yang berada sangat berserakan diatas meja, dengan dibantu oleh Afka.


Nara dan Afka sama sama mengembalikan tumpukan buku ketempat nya semula. Setelah habis dengan buku yang dikembalikan ditempat nya, Nara teralihkan pada rak buku yang berada berisi dengan novel novel dan cerpen.


Afka kembali saat disadari keberadaan Nara tidak berada di belakang nya.


Dilihat Afka keberadaan Nara yang tengah memperhatikan sesuatu. Afka yang menghampiri berdiri di belakang Nara, ikut menatap dimana tatapan Nara berada.


Hembusan nafas berada dirasakan mengenai rambut nya, dengan harum nya pafum yang Nara kenali milik siapa, Afka yang tengah berada dibelakang nya. Tidak perlu menengok atau sekedar memastikan nya Nara sudah tau jika itu Afka.


"Ini kali kedua keperpustakaan, tapi baru tau ada novel sebanyak dan semenarik ini disini"


Seru Nara akan keberadaan nya yang terdiam memperhatikan banyak nya Novel yang berderet tertata begitu rapih.


"Emang nya lo suka baca Novel?"


Tanya Afka dengan Nara yang berada memperhatikan novel itu dengan kagum nya.


Nara berbalik menghadap Afka menjadikan keduanya berada begitu dekat. Nara yang kemudian tersenyum dengan lebarnya, menggelengkan kepala.


"Cuman kagum aja"


Afka melebarkan tatapannya setelah dengan apa yang Nara katakan.


Tidak di mengerti lagi dengan tingkah Nara yang selalu saja membuat nya kagum atau terheran tidak memahami, seperti sekarang ini.


Degupan dirasakan kembali tidak normal, dug dug,, bunyi nya begitu jelas dengan cepat. Semua kembali dirasakan nya setelah Afka tersadar dengan Nara yang berada di hadapan nya dengan jarak sejengkal yang memisahkan keduanya, begitu dekat.


Nara melebarkan senyum nya saat disadari Afka yang menjadi canggung di hadapan nya. Nara berada diam membiarkan dirinya berada dengan Afka yang menjadi begitu dekat, sekedar menjadikan Nara dapat melihat indahnya kedua mata Afka dari dekat nya.


"Gua kira karna lo suka baca novel"


Kata Afka dengan glagat canggung nya.


"Karna dengan ini, gua jadi bisa deket kaya sekarang ini sama lo"


Gumam Nara tersenyum dengan lebarnya.


Menjadi diam, terpaku dan menjeda sesaat akan Nara yang tersenyum begitu cantik di hadapan nya, dan dapat dilihat dan di nikmati nya dengan sangat dekat.


Berada dengan Afka yang menatap nya dengan serius menjadikan Nara saat ini yang merasakan canggung dengan degupan jantung yang kencang, seolah berbalik dirasakan nya saat ini. Tidak tahan dengan degupan yang seolah akan meledak Nara beranjak membuang tatapan nya dari Afka dan pergi.


Afka menjadi tersenyum dengan lebarnya setelah melihat Nara yang sebelum nya membuat nya canggung kali ini Nara yang terlihat dengan canggung nya.


Keduanya Nara dan Afka menyusuri lorong-lorong yang sudah begitu sepi menjadikan langkahan kaki keduanya terdengar dengan baik.


"Aditya dan Lula itu mantan pacar?"


Tanya Nara yang sebelumnya berada dengan ragu ragu diantara ingin menanyakan nya atau tidak. Tapi Nara bersikeras dengan rasa penasaran nya, memberanikan diri untuk menanyakan nya. 


Langkah nya terhenti setelah dengan pertanyaan yang Nara pertanyakan.


Menjadikan keterkejutan dirasakan Afka.


"Lo tanya ini karna udah tau?"


Nara menggelengkan kepalanya.


"Jadi bener dia mantan pacar"


Afka melebarkan tatapannya dengan Nara yang ternyata bertanya karna belum tau, bodoh nya kalimat nya menjadi seperti jawaban untuk Nara.


"Mmm..."


Afka yang berfikir dengan seperti apa yang akan dikatakan nya.


"Ngga papa, ngga harus di jelesin lebih lanjut. Anggep aja gua masih ngga tau apa apa. Maaf ya udah bikin lo ngrasa ngga nyaman kaya gini"


Seru Nara tersenyum dengan tatapan yang selalu tersorot hangat dan menenangkan.


Setiap kali berada untuk tetap bungkam aneh nya Afka menjadi tidak bisa jika sudah Nara yang bertanya. Jadi benar dengan yang Omah katakan akan ketulusan yang Nara miliki. Mungkin karna ketulusan itu yang menjadikan Afka selalu ingin berbagi, dan bercerita. Jauh dari pribadi Afka yang sebenarnya, kaku dan tertutup, tapi tidak setelah bertemu dan menjadi akrab dengan Nara, karna Afka mempercayai nya.


"Iya mereka berdua sempet pacaran, sampe akhirnya setahun terakhir mereka putus, dan memutuskan buat ngga kenal satu sama lain"


Jelas Afka menjelaskan nya.


"Putus, dan memutuskan untuk tidak mengenal satu sama lain"


Gumam Nara kembali mengatakan beberapa kata yang sebelumnya Afka ucapkan.


Sedangkan Afka hanya mengangguki nya.


Ada yang berada dipikirkan Nara sampai menjadikan nya tertawa.


Afka memperhatikan dengan tidak memahami dengan Nara yang menjadi tertawa.


"Ada yang lucu?"


Tanya Afka memastikan.


Nara mengangguki dengan tawa yang mulai mereda.


"Aneh aja, orang udah kenal tapi di minta buat ngga kenal satu sama lain. Itu permintaan ngga masuk akal menurut gua"


Tersisa uraian senyum di wajah cantik nya.


"Ngga tau masalah apa yang ada diantara mereka, tapi menurut gua itu permintaan dan kesepakatan yang ngga masuk akal dan malah hanya menyakiti satu sama lain. Saat seseorang berada mengenal nya dengan sangat baik tiba-tiba diminta untuk tidak lagi mengenal nya, apa sebenarnya itu artinya? Rasanya gua menyalahkan akan itu semua. Hanya memikirkan dengan sesal, kenangan dan rindu yang seolah menjadi terabaikan diantara keduanya"


Crocos Nara dengan kalimat panjang nya, bibir nya tersenyum tapi tidak dengan kedua mata yang tersorot serius dengan tajam nya.


Lagi dan lagi, apa ini? Afka kembali dibuat kagum hanya sekedar Nara yang mengkritik dengan keputusan orang lain. Jika orang lain pasti sudah beranggapan jika Nara mencampuri urusan orang lain. Tapi tidak dengan Afka, Afka malah dibuat kagum menjadikan Nara seolah punya perasaan dan pemahaman yang dalam akan perasaan seseorang.