I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
12



"Gua ketoilet sebentar ya"


Seru Nara bangun dari duduk nya menyisakan bakso yang belum habis di makan.


"Perlu aku anterin"


Seru Brian ikut bangun dari duduknya.


Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Ngga perlu, bisa sendiri ko"


Nara dengan menggelengkan kepalanya.


"Ah gitu ya, kalo gitu silahkan, hati hati ya"


Brian yang kembali duduk, masih menatap dan memperhatikan Nara.


Bkkk...


Pukul Aditya kepada Brian lebih tepatnya pada kepala Brian. Tidak terlalu kencang, setidaknya sampai membuat Brian tertunduk karna pukulan nya.


"Lebay banget!"


Cetus Aditya kembali sibuk dengan makanan nya.


Brian menoleh menatap tajam dengan kesal nya kepada Aditya.


"Sabar ngga boleh emosian"


Lanjut Iqbal menasihati Brian.


"Hhhe.."


Nara menjadi tertawa menyaksikan nya.


"Kalo gitu gua duluan ya"


Pamit Nara beranjak pergi ke toilet.


Baru akan masuk kedalam toilet seseorang menarik pundak nya dengan kasar.


"Yudi!"


Seru Nara akan keberadaan seseorang yang sebelumnya berada membuat kegaduhan, menjadikan kedua temen nya akhirnya mendapatkan hukuman.


"Kenapa?"


Seru Yudi setelah membawa Nara berada di tahan nya di tembok depan kamar mandi. Dengan Yudi yang menakan kedua lengan Nara dengan kencang nya.


"Yudi lepasin! Lo apa apaan sih? Ngga puas udah bikin masalah? Udah bikin tangan gua sampe luka kaya gini"


Seru Nara dengan tatapan tajamnya, mencoba untuk terlepas dari pegangan Yudi.


"Ada hubungan apa lo sama mereka?"


Tanya Yudi. Mereka yang dimaksud nya adalah Afka dan yang lain nya.


"Mereka temen temen gua"


Jelas Nara.


"Temen?"


Seru Yudi kembali mengucapkan satu kata yang sebelumnya Nara katakan.


Seseorang berambut ikal, yang berada satu kelas dengan Nara, perempuan yang berada menjadikan Nara menatapnya dengan tatapan yang berbeda kali pertama Nara masuk kelas. Dia menghentikan langkahnya saat akan ketoilet, dengan keberadaan Yudi dan Nara yang tengah berdiri berhadapan begitu dekat dengan Yudi yang mencengkram lengan Nara dengan kuat.


Terdiam memperhatikan keduanya dengan begitu acuh, hanya saja menjadi penasaran dengan apa yang terjadi di antara keduanya, dengan Yudi seseorang yang dikenal di sekolah sebagai cowok brengsek dan kurang ngajar.


"Gua ngga suka lo bertemen sama mereka!"


Tegas Yudi kepada Nara.


"Itu bukan urusan lo dengan siapa gua mau bertemen itu urusan gua! Lo ngga ada hak apa apa buat ngatur ngatur!"


Perjelas Nara dengan Yudi yang tidak memiliki hak apapun yang menyangkut nya, hak apapun atas hidup nya.


"Setelah dengan tubuh lo yang menjadi milik gua, apa gua masih ngga punya hak apa apa atas lo"


Dengan Yudi yang melepaskan satu cengkraman nya dari lengan Nara untuk membelai rambut dan pipi Nara dengan begitu lembut nya.


"YUDI!!"


Gentak Nara dengan emosi nya.


Sedangkan keberadaan perempuan berambut ikal, hanya diam mendengarkan tanpa menjadi terkejud atau menjadikan ekspresi nya berbeda setelah dengan apa yang didengarkan nya.


"Lo ngga liat muka gua memar gara gara mereka"


"Itu karna kesalahan lo sendiri!"


"Gua punya hak penuh atas lo, intinya gua ngga mau liat lo sama mereka lagi"


"Hah? hak penuh lo bilang?"


"Yaa, tubuh lo, fasilitas yang lo punya sekarang, dan masih banyak lain nya"


Yudi tersenyum sinis memperlihat jelas pribadi brengsek yang dimiliki nya.


"Stop.."


Seru Nara dengan sesak yang tiba tiba dirasakan menjadikan bibirnya gemetar.


"Ada yang salah sama apa yang gua bilang barusan? Engga kan"


"YUDI UDAH CUKUP!!"


Tegas Nara mendorong Yudi untuk melepaskan nya, dan berada jauh dari nya.


Setelah dengan Yudi yang tidak lagi berada di hadapan nya, tidak lagi menghalangi pandangan nya Nara terpaku, kaku, begitu lemas dengan keberadaan perempuan berambut ikal yang juga satu kelas dengan nya.


Melihat Nara dengan tatapan tajam nya menjadikan Yudi menoleh mengikuti dengan apa yang tengah Nara perhatian dengan tatapan dan ekspresi yang menjadi begitu berbeda.


"Ups... Sorry.. "


Seru Yudi ikut menatap seseorang yang saat ini berada dekat dari posisi nya.


"Bisa minggir? Gua mau ke toilet"


Seru perempuan ikal itu dengan datar nya.


"Silahkan"


Dengan Yudi yang menyingkir memberikan jalan keluar untuk perempuan ikal itu masuk ketoilet.


Nara mendorong dada Yudi dengan kencang nya.


"Lo bener bener keterlaluan tau ngga!"


Seru Nara dengan kesal nya, berbalik untuk ikut masuk kedalam toilet tapi tangan nya di tarik Yudi untuk kembali menahan Nara.


"Inget ya, gua ngga suka lo bertemen sama mereka"


Tegas Yudi sekali lagi.


"LO GILA TAU NGGA!!"


Gentak Nara dengan menarik paksa tangan nya untuk terlepas dari genggaman Yudi.


Berbalik masuk menyusul perempuan berambut ikal.


"Hey"


Seru lirih Nara dengan keberadaan perempuan ikal yang tengah mencuci tangan nya.


Perempuan itu berbalik menatap Nara dengan ekspresi datar nya.


Nara menjadi gemetar dan panik, dengan apa yang mungkin saja sudah didengar oleh perempuan di hadapan nya saat ini.


"Apa lo denger semua?"


Tanya Nara memastikan, dengan bibirnya yang gemetar saat mengucapkan nya.


"Mmm.."


Singkat perempuan itu mengiyakan.


Nara menjadi semakin sesak, lemas dan gemetar dengan perempuan di hadapan nya yang mendengarkan apa yang Yudi katakan. Itu artinya aib yang ditutup rapat dan mencoba untuk dilupakan nya malah harus di ketahui oleh orang lain, orang asing yang bahkan Nara tidak mengetahui namanya.


"Apa boleh gua minta lo buat lupain semua yang udah lo denger, dan semua yang udah lo tau"


Dengan Nara yang menjadikan kedua matanya berkaca-kaca.


"Anggap aja lo ngga denger apapun, pliss.."


"Tanpa lo minta gua juga akan melakukan itu, ngga penting buat gua"


Jawab perempuan itu masih dengan datar nya, manatap Nara dengan tatapan dingin nya.


"Itu artinya lo ngga akan bilang siapa pun kan sama semua yang udah lo denger?"


Lanjut Nara kembali memastikan, takut jika apa yang diketahui perempuan di hadapan nya akan tersebar luas di sekolah baru nya ini.


"Ngga ada waktu buat ngelakuin itu, dan waktu gua jadi terbuang gitu aja karna lo sekarang"


Seru perempuan ikal yang berada di hadapan Nara yang kemudian beranjak pergi melewati Nara begitu saja.


"Hhhhhh..."


Nara menghelai nafas sesak dengan menjatuhkan tubuhnya.


"Jadi harus seperti apa setelah ini?"


Tanya Nara dalam batin nya.


Mimpi buruk yang mencoba untuk diabaikan bahkan dilupakan nya malah menjadikan senjata yang sering kali melukai nya, mengancam nya, membuat nya takut dan tertekan. Lantas dengan ini, setelah dengan orang lain yang tau dengan mimpi buruk yang benar nyata adanya. Harus seperti apa Nara menghadapi nya, bahkan jika sampai satu sekolah tau dengan itu. Ketakutan yang berada saat ini menjadikan Nara pucat, gemetar dengan sudut sudut kedua matanya yang menjadi berkaca.


Empat orang yang baru akan kembali kekelas menghentikan langkahnya dengan keberadaan Nara yang duduk melamun di lorong kelas, setelah pergi dengan alasan kotoilet dan tidak kunjung kembali.


"Nara?"


Seru Aditya.


Nara terdiam masih terpaku dalam lamunan nya.


Aditya menoleh melirik Afka yang berada berdiri di samping nya.


"Nara"


Seru Afka mengulangi nya.


"APAAN SIH YUD...."


Tegas Nara dengan suara yang dikira nya adalah Yudi yang kembali mengganggu nya. Menjadi begitu terkejud setelah dengan empat laki laki yang berada saat ini di hadapan nya.


"Hhhhh.."


Nara menghelai nafas, bangun dari duduknya berada dengan canggung nya.


"Lo semua, gua kira siapa?"


Nara yang memaksakan bibirnya untuk tersenyum.


"Lo diganggu Yudi lagi?"


Tanya Aditya memastikan, dengan Nara yang bertingkah menjadi aneh dan ketakutan.


"Hah? Engga, ngga ko ngga"


Perjelas Nara tersenyum.


"Nara jangan bohongin kita"


Lanjut Brian menatap Nara dengan aneh nya.


"Beneran ko, ngga papa, baik baik aja. Tadi gua ngga balik ke kantin karna perut gua aga mules"


Nara memperlihatkan deretan giginya, memperjelas senyuman nya, meyakinkan ke empat teman nya jika Nara benar baik baik saja. Seperti dengan yang sudah sudah, Nara kembali menutupi keterlukaan yang ada menjadikan dunia melihat nya selalu baik baik saja.


"Kamu sih, makan sambel nya ngga kira kira. Nih aku buat kamu"


Brian menyodorkan satu botol minuman yang dibawanya. Selalu dengan cara bicaranya yang dilebih-lebihkan, menjadikan ketiga teman yang lain nya menjadi ilfil setiap kali mendengar nya.


"Mm, buat gua"


Tanya Nara sembari meraih sebotol minuman yang Brian sodorkan kepada nya.


"Iya buat kamu, Afka sih yang ngingetin kalo kamu belom minum habis makan tadi"


Nara memalingkan tatapan nya kepada Afka, tersenyum dengan manis nya.


"Afka, Makasih ya"


Afka mengangguki dengan ekspresi datar nya.


"Yaudah masuk kelas ayo"


Ajak Iqbal.


"Iya iya yang udah mau buru buru belajar"


Jawab Aditya dengan merangkul Iqbal yang jika Iqbal berada berdiri di depan Aditya tinggi nya sedagu Aditya.


Menjadikan Aditya begitu suka merangkul nya.


Nara berjalan berada di belakang, dengan Afka yang mengawal nya berada paling belakang di antara yang lain nya.


Afka memperhatikan Nara yang terdiam, dalam tatapan nya yang berada tertunduk dengan tatapan kosong nya.


Menjadi paham dan tau dengan Nara yang telah terjadi sesuatu, ada yang tiba baik baik saja.


Dengan tidak memperhatikan langkah nya, sibuk dengan ketakutan yang dipikirkan nya menjadikan Nara tersandung langkahnya sendiri.


Dengan cepat Afka menarik tangan Nara untuk berada di tahan nya.


Tiga yang lain nya sudah berada jauh di depan, meninggalkan Afka yang berada saat ini tengah memegangi tangan nya Nara.


"Afka"


Seru Nara setelah membenarkan posisi nya, menoleh menatap Afka.


"Jalan nya jangan meleng"


Seru Afka mengingatkan.


"Mmm"


Nara tersenyum tipis mengangguki nya.


Nara kembali berbalik melanjutkan langkahnya. Setelah dengan beberapa langkah Nara kembali berhenti dan kembali berbalik menatap Afka.


"Kenapa?"


Seru Afka dengan keberadaan Nara yang saat ini berada dihadapan dan menatap nya.


Dilihat Afka Nara dengan ekspresi yang kembali berbeda, tampak aneh dan terlihat begitu canggung.


"Mau ngomong apa?"


Tanya Afka sekali lagi dengan Nara yang masih kebingungan untuk berbicara.


"Mmmm.. gua, boleh tanya sesuatu?"


Seru Nara dengan canggung.


"Apa?"


Afka mengangguki nya.


"Perempuan berambut ikal yang juga satu kelas sama kita, hari pas pertama gua masuk kelas dia sempet nyeletuk gitu. Lo tau dia siapa?"


"Lula. Kenapa?"


"Lula, Mmm lo tau dia gimana orang nya?"


Lanjut Nara masih mencoba memastikan banyak hal nya.


Afka menatap Nara dengan tatapan berbeda, ada prasangka diantara tatapan nya, menerka dengan apa yang sekira nya terjadi sampai Nara menjadi penasaran akan sosok Lula.


"Dia cuek, pendiem, dan punya tempramen yang buruk"


"Apa dia suka ngrusuin urusan orang gitu"


"Nara?"


Seru Afka.


"Mmmm?"


"Lo beneran baik baik aja?"


Tanya Afka kembali memastikan.


"Baik baik aja ko, gua cuman mau tau aja. Udah yuk masuk kelas"


Dengan Nara yang berbalik begitu saja meninggalkan Afka. Menanyakan banyak pertanyaan kepada Afka sosok pribadi yang kaku, seperti nya salah dilakukan Nara.