
"Oke jadwal kapan penyerahan hasil belajar kelompok sudah ibu share di email ya, kalian bisa langsung cek dan tentukan kapan waktu untuk kelompok masing-masing mulai pembelajaran, kalian mengerti?"
Perjelas Bu Anita setelah bel pulang sekolah berbunyi sebelum meninggalkan kelas.
"Mengerti Bu"
Seru beberapa siswa di kelas yang menjawab nya.
Bu Anita berada meninggalkan kelas, begitu pun dengan siswa siswi IPA 1 yang langsung berhamburan keluar kelas.
Nara masih berasa duduk memeriksa email yang sudah berada masuk di email nya.
"Tugas pertama di setor Senin, berarti ada dua hari buat ngerjain. Jadi kapan mau mulai ngerjain nya"
Tanya Nara kepada Aditya dan Afka.
"Minggu aja, gimana?"
Lanjut Aditya menyarankan.
"Ajak Lula sekalian buat nentuin kapan nya"
Seru Nara, ingat dengan Lula yang juga bagian dari kelompok nya.
"Lo pada aja yang atur, gua ngikut"
Cetus Lula setelah mendengar ucapan Nara. Berada menatap dengan tatapan yang tidak disadari berada bertemu dengan Aditya dengan sekejap, sebelum Lula berlalu pergi.
Afka ikut memperhatikan keduanya saat Lula berada menatap Aditya, seolah tau dengan arti dari tatapan keduanya.
"Kalo gitu kita bahas digrup aja, nanti biar gua yang buat grup nya"
Afka dan Aditya mengangguki nya, menurut dengan apa yang Nara putuskan. Karna percaya dengan Nara yang dapat menangani nya, juga dengan keduanya yang tidak ingin sibuk memikirkan nya.
"Kalo gitu gua duluan ya"
Nara yang bangun dari duduknya sudah dengan tas yang di bahu nya.
"Lo ngga mau bareng?"
Tanya Afka dengan Nara yang berpamitan akan lebih dulu pergi.
Nara tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
"Gua balik sendiri aja, makasih ya tumpangan nya tadi pagi"
"Kalo gitu bareng gua, sama Brian aja"
Lanjut Aditya menawari Nara.
"Iya biar aku anter ya"
Lanjut Brian menambahi, mengajak Nara untuk pulang dengan nya.
Nara tersenyum kembali menggelengkan kepalanya.
"Next time aja ya"
"Yah Nara, kalo gitu kamu hati hati ya"
Brian yang kembali dibuat kecewa dengan penolakan yang selalu didapat nya. Tapi Brian tidak menjadi menyerah, karna setelah berada bertemu Nara pribadi playboy nya hilang seketika. Pandangan dan rasanya seolah berada tertuju kepada Nara.
"Kalo gitu gua duluan ya"
Pamit Nara sebelum melangkah meninggalkan yang lain nya.
Berada meninggalkan sekolah, berada berjalan disisi jalanana dengan pepohonan yang berderet memanjang sampai jauh di pertigaan di depan.
Dedaunan kering berjatuhan dengan angin kencang yang menerpa nya. Cuaca setelah grimis menjadikan suasana sangat sejuk dan dingin, karna angin kali ini berada lebih kencang dari biasanya. Angin angin kencang yang berada memeluk Nara dalam langkah nya, menjadikan rambut nya berada terangkat dan lebih terurai bergoyang goyang.
Dalam langkah nya yang pelan, pijakan demi pijakan berada dengan kepala dan hati yang saat ini kembali berada dengan hal yang memenuhi nya.
"Satu hari nanti aku ingin benar-benar beranjak, bukan sekedar dari tempat ke tempat yang lain. Tapi beranjak beralih pergi, untuk dapat memilih dengan tempat yang ingin aku tinggali, dengan takdir yang ingin aku jalani. Karna ini semua sudah sangat membuat aku lelah dan terluka. Adakalanya aku ingin berada menjadi orang lain, menjadi remaja seusia aku yang bisa menikmati harmonis nya sebuah keluarga dan bahagia dengan masa masa SMA"
Dalam langkah nya yang terjeda, batin nya begumam akan pengakuan atas apa yang di inginkan nya, menjadikan Nara berada tertunduk dalam tangisannya.
Dengan jarak yang tidak begitu jauh Afka yang membawa mobil nya tiba tiba menepi dan memelankan mobil setelah dilihat Afka Nara yang berada menangis dipinggir jalan yang sepi dalam tundukan nya.
"Jadi alasan kenapa mau balik sendiri karna ini"
Seru Afka setelah menghentikan mobilnya, memperhatikan Nara dengan sorot mata yang kembali berbeda.
Lula yang melewati jalanan yang sama dengan jalanan yang Nara lewati, menghentikan langkahnya dengan keberadaan Nara di hadapan nya saat ini. Nara yang berada tertunduk, menangis dengan dedaunan yang berada berjatuhan di rambutnya.
"Bahkan, dedaunan pun ada memeluk nya"
Gumam Lula dalam hatinya.
Takdir dan keterpurukan yang sama menyakitkan dengan yang dihadapi rasanya juga di hadapi Nara sampai membuat Lula melihat Nara dengan keadaan seperti sekarang ini, dengan tangisan. Tapi dirasa berbeda dengan Nara yang dikelilingi orang-orang yang berseru dan mendengarkan nya bahkan memeluk nya. Seperti ke empat laki laki yang saat ini Nara miliki, dan seperti dedaunan yang berjatuhan seolah ingin berada memeluk Nara. Berbeda dengan dirinya, duka, luka dan keterpurukan dirasakan seorang diri dalam sepi.
Saat Afka ingin berada menghampiri Nara tetapi diurungkan niatnya dengan keberadaan Lula yang baru disadari nya.
"Apa lo selalu nangis kaya gini"
Cetus Lula menghampiri Nara.
Nara yang tau dengan suara siapa yang baru saja berbicara membuat nya memalingkan wajah sekedar untuk menghapus air mata dengan jejak-jejak nya.
"Lula"
Tersenyum Nara setelah dengan Lula yang saat ini berada di hadapan nya.
Lula hanya terpaku diam memperhatikan Nara yang saat ini berada tersenyum dengan mata merah kepadanya.
"Kenapa?"
Tanya Nara memastikan, dengan keberadaan Lula yang hanya diam dengan tatapan yang berada menatap nya.
"Kenapa buat lo bisa semudah ini tersenyum, setelah apa yang lo rasain"
Gumam Lula dalam hatinya.
Lula membuang tatapan nya dari Nara, meninggalkan Nara begitu saja.
Nara memperhatikan Lula yang berlalu meninggalkan nya.
"Gua emang selalu nangis kaya gini, kali ini karna rasanya udah bener bener cape buat gua"
Gumam Nara pelan menjawab akan pertanyaan Lula sebelumnya.
"Tin..tin.."
Afka yang membunyikan klakson mobil nya setelah berada di samping Nara.
"Afka"
Seru Nara setelah dilihatnya Afka didalam mobil nya.
"Kata mau naik taksi?"
Tanya Afka kepada Nara.
Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya, seperti seseorang yang terpergok tengah berbohong.
Printah Afka untuk Nara masuk, dan diantarkan nya.
Nara tersenyum mengangguki, bergegas masuk kedalam mobil Afka.
"Langsung gua anter balik ya, gua harus ke satu tempat soal nya"
Seru Afka dengan pandangan nya yang tertuju fokus pada jalanan.
"Mau kemana emang?"
Tanya Nara memperhatikan Afka.
"Nemuin Omah gua"
Jelas Afka.
"Gua boleh ikut?"
Tanya Nara lebih dulu dengan keinginan nya.
Afka menoleh ikut menatap Nara, mempertemukan tatapan keduanya.
"Ikut gua?"
"Mm"
Nara tersenyum mengangguki nya.
"Itu juga kalo lo ngebolehin. Gua males kalo jam segini dirumah, pasti masih ada bokap nya Yudi"
Seru Nara dengan senyum nya yang meluntur akan nama dan sosok Yudi dan Aron yang berada di sebut dan dipirnya.
"Yaudah"
Singkat Afka.
"Yaudah apa?"
Tanya Nara memastikan dengan singkat nya jawaban Afka.
"Yaudah kalo lo mau ikut"
Perjelas Afka kembali menoleh menatap Nara.
"Makasih,Afka"
Tersenyum Nara dengan lebarnya.
Afka menatap sesaat uraian senyum lebar Nara dengan cantik nya.
Afka berhenti di depan sebuah toko roti.
"Ayo"
Ajak Afka kepada Nara setelah memarkirkan mobilnya.
Nara tersenyum mengangguki, membuntuti Afka turun dan masuk kedalam toko roti.
"Lo mau yang mana?"
Tanya Afka setelah berada di depan etalase dengan macam roti yang tertata didalam nya.
"Lo kesini karna tau gua laper?"
Tanya Nara dengan pedenya, tersenyum senang dengan yang di lakukan Afka kepada nya.
"Nara.. gua kesini karna mau beli roti kesukaan omah gua, dan beberapa kali juga gua denger perut lo bunyi gua tawarin aja sekalian, kalo lo mau kalo ngga yaudah"
Perjelas Afka dengan detail nya, dan dengan datar ekspresi nya.
"His jujur banget sih"
Gretu Nara dengan cemberut nya.
Kali pertama melihat Nara yang tampak lucu dengan ekspresi cemberut nya, menjadikan Afka menghelai tawa melihat nya.
"Hhhe.."
"Yaudah, gua mau yang ini, ini, ini sama ini juga"
Tunjuk Nara dengan banyak nya macam macam roti yang ingin di makan nya"
"Yaudah bungkusin itu semua, sama yang biasa ya"
Lanjut Afka setelah nya berada tersenyum memperlihatkan Nara.
Nara ikut tersenyum membalas nya, menjadi merasa senang dengan hal hal dan kebersamaan nya bersama Afka.
"Nih lo abisin semua nya"
Afka yang menyerahkan satu kantong berisikan roti roti yang semula ditunjuki nya.
"Hah sebanyak ini"
Nara melebarkan tatapannya dengan sekantong penuh roti yang berada saat ini di pangku nya.
"Mm, makan abisin"
Afka kembali dibuat tersenyum dengan ekspresi Nara kali ini.
"Hhhh.."
Helai Nara dengan sesak nya.
Nara membuka satu bungkus roti, dan menyuapi nya kepada Afka.
"Mmm"
Afka melebarkan tatapan nya setelah dengan tangan Nara yang sudah berada di didepan bibir nya, menyodorkan secuil roti kepada nya.
"Lo juga makan lah, katanya suruh abis"
Seru Nara dengan keberadaan tangan nya yang siap menyuapi roti kepada Afka.
Dengan canggung nya Afka membuka mulut nya, membiarkan Nara untuk menyuapinya.
Kemudian Nara baru ikut memakan nya.
"Mmm enak loh ini, lembut dan manis nya pas"
Ujar Nara setelah dengan roti yang di makan nya.
Afka mengangguki sembari mengunyah roti di mulut nya.
"Omah juga bilang gitu"
Nara kembali menyodorkan suapan kedua, dan kali ini entah apa yang membuat kedua matanya berada terpaku memperhatikan Afka dengan dalam nya, sesaat keduanya berada saling memperhatikan.
Perasaan itu ada karna dua orang yang berada dekat dan menjadi terbiasa bersama.
Entah lah Nara hanya menganggap ini sekedar perasaan aneh yang biasa.