I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
11



Kali pertama dengan orang orang yang berada memperdulikan Nara.


Menjadi tameng dengan apa yang melukai nya. Membangun kan saat keberadaan Nara berada jatuh terluka. Menanyakan dan memastikan keadaan nya disaat saat seperti ini.


Apa keberadaan mereka yang memperlakukan Nara seperti sekarang ini sekedar ada karna simpati, berbuat baik selayak nya kewajiban manusia.


Atau benar akan ketulusan yang ada, dengan Nara sebagai alasan nya sendiri.


Nara berterimakasih untuk itu.


Tapi dalam batin nya, jika semua yang ada sekedar simpati Nara enggan untuk kembali di pedulikan seperti sekarang ini.


Bukan tidak menyukai nya, bukan pula karna tidak membutuhkan nya. Hanya saja Nara tidak ingin sampai pada akhirnya menjadi bergantung akan keberadaan dan keperdulian yang orang lain berikan, sekedar simpati yang menggaris bawahi.


Dengan diantar Afka Nara pergi menuju ruang UKS dengan pergelangan tangan kirinya yang terluka, terkilir saat terjatuh tadi.


"Gua minta maaf ya, karna gua, lo sama temen temen lo jadi repot dan kena masalah"


Seru Nara yang berada berjalan dibelakang Afka membuntuti nya.


"Dan ini kali keduanya"


Balas Afka menghentikan langkahnya, berbalik memperhatikan Nara. Memperjelas ini bukan kali pertama Nara membuat Afka dengan yang lain nya terlibat hal yang tidak menyenangkan.


"Mmm, gua minta maaf"


Nara dengan ekspresi bersalah, mengangguki pelan dengan apa yang diperjelas Afka kepada nya.


"Temen temen gua nglakuin ini bukan karna lo, tapi buat diri mereka sendiri. Mereka ngga akan diam aja liat Yudi kaya barusan"


Nara menjadi tersenyum dengan apa yang kali ini Afka jelaskan kepada nya.


Bukan dengan simpati, bukan juga dengan alasan dirinya, Afka dan mereka semua berada memperdulikan nya. Semua yang dilakukan adalah untuk dirinya dan karna dirinya sendiri.


"Terus kenapa tadi lo diem aja"


Tanya Nara memperhatikan Afka. Ingat dengan Afka yang hanya diam dan memperhatikan.


"Gua ngga suka mencampuri urusan orang lain yang nantinya ngebuat diri gua berada diantara masalah"


Jelas Afka menjelaskan dengan seperti apa dirinya.


"Mmmmmm"


Nara mengangguki dengan menarik kedua sudut bibirnya, tanpa memperlihatkan senyuman nya.


"Kenapa? Egois ya gua"


Nara tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Realistis. beberapa orang juga akan melakukan hal yang sama seperti apa yang lo lakuin"


Afka terpaku diam untuk beberapa saat kedua matanya menjadi tidak berkedip menatap akan keberadaan dan sosok Nara yang saat ini berada di hadapan nya. Aneh nya dibuat terpukau sekedar Nara yang tampak menjadi dewasa setelah memahami dengan pribadi yang kebanyakan orang akan menganggap itu egois. Tetapi Nara tidak, Nara menatap dan memahami nya dengan cara yang berbeda.


"Afka?"


Panggil Nara dengan Afka yang dilihat nya menjadi diam terpaku menatap nya.


"Mmm?"


Seru Afka menjadi membulatkan tatapan nya.


"Jadi nganter gua ke UKS?"


Tanya Nara memastikan.


"Jadi"


Dengan Afka yang langsung berbalik, melangkah mendului Nara.


Saat berada di UKS dengan Nara yang tengah di periksa pergelangan tangannya Afka terus saja menatap dan memperhatikan Nara.


"Ini hanya terkilir sedikit, setelah di kompres dan di berikan salep pereda nyeri akan segera membaik dengan sendirinya"


Perjelas Dokter setelah selesai mengompres dan memberikan salep pada pergelangan tangan kiri Nara.


"Kalo gitu saya siapkan perban nya dulu ya, untuk menjaga pergelangan tangan kamu supaya tidak melakukan banyak pergerakan"


Lanjut Dokter bangun dari duduknya untuk meraih perban dan alat lain nya.


"Ngga perlu di perban dok, biar kaya gini aja ya. Akan saya pastikan pergelangan tangan saya tidak akan melakukan banyak pergerakan"


Minta Nara untuk membiarkan tangan nya tanpa perban, dengan begitu mama tidak perlu tau dengan apa yang di alami Nara hari ini.


"Jika tidak di perban, dan melakukan banyak pergerakan dapat memperparah loh"


Perjelas Dokter dengan konsekuensi yang dapat terjadi jika Nara tetap bersikeras tidak ingin memperban pergelangan tangan nya terluka.


"Bener dok, akan saya pastikan pergelangan tangan saya tidak akan melakukan banyak pergerakan"


Nara yang tetap dengan keinginan nya.


"Ya sudah kalo gitu"


Afka keluar lebih dulu dari ruang UKS dengan Nara yang mengikuti nya.


Afka berbalik disadari dengan Nara yang menghentikan langkahnya.


"Lo ngga mau balik ke kelas"


Tanya Afka dengan Nara yang diam.


"Tunggu sampe temen temen lo keluar dari ruang BK ya, baru kita masuk kelas"


Minta Nara khawatir memikirkan Aditya dan Brian.


"Yaudah kita keruang BK sekarang"


Sesampainya di depan BK Nara dan Afka duduk menunggu kedua sahabatnya keluar.


"Punya lo kan"


Dengan Afka yang tiba tiba menyodorkan sebuah korek silver berukuran kecil.


Nara menjadi terkejud melebarkan tatapannya dengan korek milik nya yang berada saat ini disodorkan Afka kepada nya.


"Hah?"


Seru Nara menjadi bergelagap bingung.


"Punya lo kan?"


Perjelas Afka dengan pertanyaan nya yang kembali di ucapkan.


"Mmm, punya gua"


Nara mengangguki, pasrah dengan apapun pemikiran Afka atau bahkan dengan apapun yang nantinya akan diketahui nya.


"Waktu itu jatoh dari saku sweater lo"


Perjelas Afka setelah Nara meraih korek dari tangan nya.


"Iya kemaren gua ngga sengaja ngejatohin ini"


Balas Nara menjadi tidak bersemangat.


"Udah gitu doang"


Tanya Nara dengan Afka yang kembali diam memperhatikan pintu ruang BK yang masih tertutup rapat.


"Emang lo ngejatohin apa lagi"


Tanya Afka memastikan.


"Ngga, maksud gua lo ngga nanya atau mastiin sesuatu soal ini"


Perjelas Nara dengan Maksudnya, dengan korek yang sudah berada di pegang nya yang kembali di perlihatkan Nara kepada Afka. Pikirnya, Afka akan menanyakan akan perkara korek yang ditemui terlebih setelah tau korek itu milik Nara.


Afka menggelengkan kepalanya, dengan ekspresi yang sering kali terlihat datar.


"Emang harus gua tanya?"


Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya dengan menggelengkan kepalanya.


"Ngga juga sih"


Tidak lama kemudian Aditya, Brian, Iqbal dan Yudi keluar dari ruang BK secara bersamaan. Dengan Yudi yang tiba tiba menyelak dan menabrak lengan Aditya dan Brian begitu saja.


"Ngga ada otak banget sih"


Cetus Brian dengan jengkel nya.


"Udah apa"


Seru Iqbal.


Yudi berjalan mundur menatap satu persatu dari 5 orang yang berada belum jauh dari hadapannya. Manatap tajam sebelum Yudi berbalik untuk benar benar pergi lebih dulu.


"Dihukum?"


Tanya Afka memastikan.


"Mereka berdua disuruh bersihin toilet pulang sekolah nanti"


Jelas Iqbal yang menjelaskan.


Afka tersenyum dan menghelai tawa.


"Kenapa lo"


Tanya Aditya dengan Afka yang menjadi tersenyum begitu saja.


"Iqbal udah kaya wali murid yang baru aja nganterin dua anak nya sekolah"


Jelas Afka kembali merekah tawa.


"Monyet banget lo"


Gretu Aditya ikut tertawa dengan Iqbal dan Brian yang ikut tertawa.


"Sorry ya sekali lagi, gara gara gua lo semua kena hukuman"


Sesal Nara dengan rasa bersalah nya.


"Apaan sih Nara, bukan karna kamu ko, aku lakuin ini emang tulus"


Jelas Brian berpindah tempat untuk menjadi berada di samping Nara.


"Ngga Papa, siapapun orang yang berada di posisi lo kita pasti akan nglakuin hal yang sama ko"


Lanjut Aditya tersenyum ramah menatap Nara.


"Makasih ya, gua seneng deh bisa ketemu sama orang orang kaya kalian"


Nara yang kemudian menatap satu persatu dari empat orang yang saat ini berada begitu dekat dengan nya.


Rasanya begitu bersyukur menjadi ada diantara mereka, orang orang baik yang menyenangkan. Menjadikan keberadaan Nara selayaknya seseorang yang mendapatkan persinggahan untuk benar benar ada merasakan kenyamanan.


"Kruk krukkk"


Dengan tiba tiba suara perut Nara berbunyi di dengar empat laki laki, Afka, Aditya,Brian dan Iqbal. Ke empat nya tersenyum menahan tawa.


Nara tersenyum, memperlihatkan deretan giginya dengan menyipit kan matanya, dengan rasa malu yang benar-benar dirasakan nya.


"Nara lo laper?"


Tanya Aditya tersenyum memperlihatkan Nara.


"Mmm, gua lupa buat sarapan soal nya"


Jelas Nara masih tersenyum dengan lebarnya.


"Gimana kalo makan bakso di kantin"


Lanjut Brian dengan saran nya.


"Kan kita harus balik ke kelas"


Lanjut Iqbal dengan polos nya.


"Jam pertama udah mulai dari tadi, nanggung kalo masuk sekarang"


Lanjut Afka menambahi, setuju untuk lebih dulu pergi kekantin.


"Gimana Ra?"


Lanjut Aditya memastikan keputusan Nara.


"Lo semua ikut, gua juga ikut dong"


Lanjut Nara dengan antusias dan ceria nya.


"Udah ayo"


Ajak Adita merangkul Iqbal.


"Jangan serius mulu apa bal, tegang nanti hidup lo"


Cetus Afka kembali membuat ke empat yang lain nya menjadi tertawa.


"Lu pada emang dasar ya"


Balas Iqbal mencetus dengan senyuman nya kepada empat sahabatnya.


"Dasar tampan, gua banget itu"


Brian dengan membenarkan kerah bajunya, dengan tengil, sibuk mengunyah permen karet nya.


Berada di antara ke empat nya, dengan obrolan, candaan dan tawa yang tidak beraturan tapi begitu menyenangkan.


Nara benar benar dibuat menikmati ini semua.


Sekedar dua hari waktu yang masih begitu singkat untuk keberadaan nya berada di antara ke empat nya tidak menjadikan Nara seperti orang asing.


Ke empat laki laki ini tau dengan baik bagaimana memperlakukan Nara dengan cara yang akrab dan hangat.


Nara pun ingin tau dengan baik satu persatu dengan seperti apa mereka semua.