
Meski mengesampingkan rencana bukan berarti Nara tidak memiliki sesuatu yang menjadi pacuan untuknya.
Harapan dan luka. Keinginan yang menjadi harap yang didambakan menjadi nyata menarik Nara.
Luka, rasa sakit yang berada di rasakan menjadikan Nara belajar dan menjadi lebih kuat, meski sering kali dibuat patah dan terpuruk.
Seceria saat ini semudah senyum dan tawa yang ada dan diperlihatkannya tidak menutup hari yang kamarin yang terjadi meninggalkan luka dan ketakutan sampai saat ini. Berada terlihat tegar dalam batin yang teriris berantakan. Jika dunia dan sekitar tidak dapat memahami, tidak dapat memberikan tempat, jalan satu satunya hanya diam untuk tetap merasa baik-baik saja dan mencoba belajar dan membenahinya. Jika Tuhan mengijinkan luka untuk sembuh maka akan sembuh dengan caranya sendiri.
Nara dan Afka menghampiri ketiga laki-laki yang sudah duduk di meja yang berada di tengah-tengah diantara meja yang sudah terisi penuh dengan siswa-siswi yang sibukĀ makan siang atau sekedar berkumpul.
Sepanjang langkahnya banyak mata yang menatap dan memperhatikan keberadaan Nara. Terlebih dengan Nara yang berada berjalan berdampingan dengan Afka, laki-laki tampan yang dijadikan idaman banyak siswa perempuan di sekolah.
"Siswa baru?"
"Siapa yang jalan di samping Afka?"
"Cantik itu cewek, siapa?"
"Wah berani-beraninya dia deket sama ayang bep gua!"
Gunjingan yang terjadi di antara beberapa kerumunan siswa yang memperhatikan Nara.
"Hai?"
Sapa Nara sudah berada di hadapan meja tiga laki-laki dengan dua laki-laki yang sudah di kenali, Aditya dan Brian.
"Hai Nara."
Seru Brian begitu ramah dan manis,bangun dari duduknya sekedar untuk memberi sambutan.
Nara tersenyum menatap Brian dan dua lainnya.
"Cantik ya."
Seru salah seorang yang berada duduk di samping Aditya, Iqbal.
"Makasih, lo juga, manis."
Balas Nara, senyum yang merekah lebih lebar setelah didapati pujian untuknya.
"Iqbal."
Seru Iqbal dengan mengulurkan tangannya kepada Nara.
"Ah iya, Nara."
Nara setelah berada menjabat tangan Iqbal.
Iqbal terpaku memandangi Nara dengan cantiknya, membiarkan tangannya terpaku lama memegangi Nara.
Nara tersenyum melebarkan tatapannya menatap Iqbal yang terus memperhatikannya.
"HAIS TANGANNYA! Kenalan aja lama banget!"
Sentak Brian menarik tangan Iqbal untuk melepaskan tangannya dari Nara.
"Astaghfirullah, maaf ya Nara."
Iqbal yang menjadi terkejud menyadari dirinya yang seperti hilang separuh kesadaran akan beradaan Nara.
"Idep cewe juga lu bal."
Gurau Aditya dengan cetusannya. Kali pertama didapati Iqbal dengan tatapan berbeda terhadap seorang perempuan.
"Gini-gini juga kan normal."
Jelas Iqbal, dengan sesekali masih melirik Nara.
5 orang itu duduk di satu meja yang sama dengan dua kursi panjang yang saling berhadapan.
Nara duduk di samping Brian berhadapan dengan Afka yang bersebelahan dengan Iqbal dan Aditya.
Afka melepas tawa dengan obrolan sahabat-sahabatnya. Begitu pun Nara yang ikut merekah senyum memperlihatkan deretan giginya, memperhatikan orang-orang asing yang menjadi sangat menyenangkan.
"Nara mau makan apa? Biar gua yang pesenin?"
Tanya Brian menoleh kepada Nara.
Nara kembali tersenyum dengan lebarnya. Entah pribadi yang humoris atau jiwa yang sedikit aga berbeda dari pada yang lain nya. Yang jelas Brian benar benar menggugah ceria untuk Nara.
"Gua ikut yang lain aja deh."
"Mau bakso ya a Brian."
Minta Aditya dengan nada bicaranya yang dibuat manja dan malah terdengar menjijikkan, bermaksud untuk meledek Brian.
"Gua mau bakso paket komplit."
Afka dengan deretan gigi yang diperlihatkan, memaparkan ketampanan yang menjadi berkali kali lipat.
"Gua juga ya Brian mau bakso kaya Afka, paket komplit."
Lanjut Iqbal tersenyum manis dengan polosnya.
"Hais.."
Gretu kesal Brian.
"Kalo gitu gua juga mau bakso deh, tapi jangan dipakein bihunnya."
Lanjut Nara dengan pesanannya.
Brian tersenyum mengangguki dengan permintaan Nara.
"Kalo gitu tunggu ya gua pesenin dulu."
"Jangan lupa pesenan kita."
Ucap Aditya mengingatkan.
Brian menatap tajam ketiga sahabatnya dengan tersenyum paksa penuh kejengkelan yang dirasakan.
"Sialan awas lo pada ya."
Dalam batin yang memanas menahan luapan kemarahannya.
Brian bangun dari duduknya memaparkan senyum paksa dalam wajahnya, dengan rasa jengkel karna ketiga sahabatnya dapat memperalatnya.
Setelah Brian berlalu menjauh untuk memesan makanan ketiga sahabatnya, Afka,Aditya dan Brian menjadi tertawa dengan ramainya begitu pun dengan Nara yang ikut tertawa memahami kelucuan yang tengah terjadi.
"Tapi kasian tau sih Brian, enggak papa emang nya?"
Tanya Iqbal dengan rasa iba memperlihatkan ekspresi polos diwajahnya.
"Enggak papa, dia emang sekali kali perlu diginiin."
Jelas Aditya sembari merangkul Iqbal yang berada duduk di sisi kirinya.
"Tapi emang pribadi Brian ini penuh antusias gini ya?"
Tanya Nara dengan tawa yang merada setelah tertawa ikut dengan yang lainnya.
"Mmm ngga juga, penuh antusias hanya sama perempuan-perempuan cantik kaya lo gini."
Jelas Aditya tersenyum menatap Nara.
Begitu pun dengan dua lainnya, Afka dan Iqbal yang menjadi memperhatikan Nara setelah Aditya memaparkan jelas bagaimana Nara dengan cantiknya.
Nara menjadi canggung menyadari tiga tatapan laki-laki di hadapannya tertuju kepadanya.
Nara tersenyum menatap satu persatu.
Jika setiap orang berada menatap keberadaannya dan memperhatikan dirinya bukan semata-mata karna parasnya yang cantik, bukan karna kesan dari fisik yang sempurna semua akan jauh lebih baik dirasakan Nara. Karna ketulusan berada utuh untuk waktu yang lama, sedangkan menyukai dibuat kagum dengan apa yang dilihat dan dinikmati akan sirna dan hilang seiring waktu karna bosan. Sama seperti pada biasanya, orang orang yang berada menjadikan keberadaan Nara terlihat, dan dibuat terlalu mencolok tapi setelahnya keberadaannya kembali buram bahkan tidak terlihat sama sekali.
Setelah sibuk memesan pesanan sahabat-sahabatnya Brian kembali kemejanya dengan dua nampan yang di paksakan untuk dibawanya sekaligus.
"Prkk.."
Brian yang meletakan nampan berisikan mangkok mangkok bakso dengan kasarnya, tidak berhati-hati, untung saja tidak sampai tertumpah.
Semua tatapan tertuju kepada Brian dengan tawa yang ditahannya.
"Bisa pelan-pelan enggak masnya?"
Ucap Aditya dengan candaannya untuk menjadikan Brian semakin memanas.
Brian menoleh tertuju menatap Aditya dengan tajamnya.
"Gua tumpahin nih ya pesenan lo."
"Enggak malu diliatin Nara?"
Lanjut Afka sekedar ikut menggurau Brian namun tatapannya malah berada tertahan kepada Nara dalam waktu yang tidak sebentar.
Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya kepada Afka sebelum mengalihkannya untuk menatap Brian.
Brian menoleh kepada Nara menahan kekesalannya dan tersenyum manis kepada Nara.
"Biar gua yang ambilin minumannya."
Lanjut Nara bangun dari duduknya bebarengan dengan Afka yang juga ingin mengambil minuman.
"Biar gua aja."
Seru Afka yang langsung bergegas mengambil satu nampan yang berisikan 5 es teh.
Nara tersenyum mengangguki dan kembali duduk.
Kelima orang saat ini berada di satu meja menikmati pesanannya dengan sering kali tawa berada pecah didalamnya, benar-benar meriah dan menyenangkan.
Terlintas dalam benak Nara untuk berada lebih dekat mengenal satu persatu dari empat orang-orang yang saat ini berada mengelilinginya.
Hari ini hari pertama untuk Nara, Nara memiliki kesan yang unik dan menyenangkan berkat mereka berempat. Nara berharap keberadaannya untuk dekat dengan mereka bukan sekedar hari ini, bukan sekedar karna mereka mengasihani Nara sebagai siswa baru yang mungkin akan kesepian dan bukan sekedar karna kagum akan paras dan fisik yang Nara miliki tapi semua ada karna naluri mereka sendiri.