I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
15



Rumah mewah, fasilitas serba ada, semua hal yang Nara suka. Tapi anehnya dengan semua yang dimiliki tidak menjadikan Nara merasa puas dan bahagia.


Berada menjadi bosan dirumah Nara memutuskan untuk keluar. Mengenakan celana cukup pendek yang tertutup dengan sweater panjang nya berwarna merah marun. Nara keluar kamar dengan dua tangan yang berada di dalam saku sweater dan dengan topi dari sweater yang menongkropi kepalanya.


Berada di depan setelah menutup pintu, Nara melihat keberadaan pak Arto yang baru saja keluar dari garasi mobil.


"Pak Arto jam segini belom pulang?"


Tanya Nara menghampiri pak Arto.


"Sudah non, tapi saya kesini lagi karna ternyata dompet saya tertinggal dalam Mobil"


Jelas Pak Arto selalu dengan posisi sigap nya jika sudah berada berhadapan dengan Nara, majikan yang menurut nya perlu untuk dihormati.


"Non Nara sendiri jam segini mau kemana? Perlu saya antar?"


Lanjut Pak Arto menanyai keberadaan Nara yang baru saja keluar dari rumah.


"Saya cuman mau jalan jalan aja pak, cari udara segar"


Jawab Nara dengan tersenyum.


"Udah malam non biar saya temani ya, saya antar"


Lanjut Pak Arto menawari dirinya untuk menemani Nara, tidak menyenangkan jika akan terjadi satu hal yang tidak diinginkan.


Lagi pula tugas nya sebagai supir memang menemani dan mengantarkan majikan nyw pergi.


"Yaudah kalo gitu pak Arto bisa temenin saya"


Lanjut Nara mengangguki, mengiyakan, tersenyum dengan lebarnya.


"Berenti di depan ya pak"


Tunjuk Nara setelah beberapa saat melaju, jari telunjuknya berada disisi kanan pada sebuah cafe mewah yang tampak menarik dari kejauhan Nara memperhatikan nya.


Nara turun dengan membuka pintu nya sendiri, mendului pak Arto yang sudah bergegas turun akan membukakan pintu untuknya.


"Non kenapa tidak membiarkan saya membukakan pintu nya"


Tanya pak Arto memastikan, dengan Nara yang membuka pintu mobil nya sendiri tanpa menunggu dibukakan lebih dulu.


"Kayanya lebih nyaman buat buka sendiri deh pak, jadi buat seterusnya pak Arto ngga perlu lagi bukain pintu mobil buat Nara, terkecuali kalo Nara lagi sama Mama dan Ayah"


Lanjut Nara menjelaskan.


"Tapi ini kan tugas saya non"


"Tugas pak Arto juga kan harus sesuai dengan keinginan saya"


Rasanya seperti tengah berkata senak nya, tapi harus dengan kalimat seperti ini untuk Pak Arto mengiyakan nya.


Pak Arto mengangguki nya, patuh dengan setiap aturan atau keinginan majikan nya.


"Baik non"


Nara melaju melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam cafe tapi baru beberapa melangkah, langkah nya kembali terhenti dan menoleh kepada pak Arto.


"Pak Arto ngapain?"


Tanya Pak Arto yang masih diam berada di tempat nya.


"Iya non?"


Seru pak Arto menatap Nara, tidak memahami maksud dari pertanyaan nya.


"Kenapa diem aja, ayo masuk?"


Lanjut Nara, alasan kenapa dirinya mau di antar pak Arto karna ingin ditemani minum kopi oleh nya. Meski tampak kaku tapi di balik dari apa yang dilihat, pak Arto sosok yang dapat untuk diajak berbicara. Terlebih dengan apa yang hari ini pak Arto lakukan untuk nya, membuat dirinya harus terlibat dengan Yudi. Sekedar kopi diharap Nara dapat menebus sedikit rasa berterimakasih dan rasa bersalah nya.


"Ikut masuk kedalam sama non?"


Tanya pak Arto, memastikan masih belum memahami dengan majikan nya saat ini.


"Iya, pak Arto Nara minta buat anter Nara ya biar pak Arto juga bisa temenin Nara minum kopi"


Perjelas Nara.


"Ngga non, saya tunggu di mobil aja"


Tolak pak Arto. Pikir nya akan sangat tidak sopan berada satu meja dan menikmati kopi bersama dengan majikan nya.


"Pak Arto, ini perintah!"


Pertegas Nara agar pak Arto mau untuk masuk bersamanya.


"Baik non"


Dengan alasan apa lagi dirinya dapat menolak, jika sudah dengan kata perintah yang diperjelaskan.


Baru akan masuk kedalam cafe seseorang menyeru memanggil namnya.


"Nara"


Seru Brian menghampiri Nara.


"Brian"


Dengan keberadaan Brian yang sudah berada di hadapan nya, Nara melepaskan topi sweater yang menongkropnya.


"Nara lo ngapain disini?"


Tanya Brian, dengan antusias dan dengan mulut nya yang tengah mengunyah permen karet.


"Gua mau minum kopi sama pak Arto, lo sendiri?"


"Gua mau ketemu yang lain disini"


"Afak,Aditya dan Iqbal?"


"Iya lah siapa lagi kalo bukan mereka. Udah yuk masuk sama sama aja"


Ajak Brian.


Nara mengangguki tersenyum manis kepada nya.


"Ayo pak"


Ajak Nara tidak melupakan keberadaan pak Arto.


Pak Arto masuk membuntuti majikan nya yang berjalan berdampingan dengan teman nya.


"Woy"


Teriak Brian dari belakang diantara Afka dan Aditya yang duduk bersebelahan.


Afka memiringkan wajahnya sembari memegangi kuping nya yang menjadi berdengung dengan suara Brian.


"Apaan sih lo begitu"


"Emang *****, kaya bagus aja suaranya teriak teriakan"


Lanjut Aditya menambahi ocehan nya.


"Yaela gitu aja pada sewot, bercanda kali"


Brian yang ikut menjadi jengkel dengan ocehan keduanya.


"Eh Nara"


Seru Iqbal setelah mengalihkan pandangannya dari ketiga teman nya.


Yang lain nya Afka dan Aditya menoleh, dengan Aditya yang mendorong Brian untuk tidak berdiri dan menghalangi pandangan nya.


"Hey"


Sapa Nara tersenyum, dengan ke empat laki laki yang saat ini sudah berada menatap nya.


"Hey"


Bersamaan Iqbal dan Aditya menjawab sapaan Nara.


"Nara gabung aja sini sama kita"


Lanjut Iqbal menawari Nara untuk berada duduk di satu meja bersama dengan yang lain nya.


Aditya dan Brian pun mengangguki nya, setuju untuk Nara berada gabung dengan yang lain nya.


"Emang nya ngga papa kalo gua gabung?"


Tanya Nara memastikan sekali lagi.


"Ngga papa dong, malah makin rame makin seru"


Ucap Aditya.


"Oke"


Lanjut Nara tersenyum mengangguki.


"Saya tunggu di mobil ya non"


Lanjut Pak Arto, rasanya akan lebih baik kalo dirinya berada menunggu di dalam mobil, untuk memberikan kebebasan anak anak muda bersenang-senang.


"Jangan dong pak"


Minta Nara, sudah meminta pak Arto mengantar dan mengajak nya minum kopi, tapi malah dibiarkan menunggu didalam mobil, akan sangat tidak enak dirasakan nya.


Nada dering telfon masuk dari hp pak Arto yang berada di saku nya berbunyi.


"Maaf non akan saya non aktifkan"


Pak Arto meriah Hp dari dalam saku nya.


"Ngga usah, di angkat aja"


"Ngga non ngga papa"


"Pak"


Seru Nara untuk Pak Arto menuruti perintah nya.


"Sebentar ya non"


Pak Arto beranjak menjauh beberapa langkah sekedar untuk mengangkat telfon nya.


"Duduk"


Ajak Brian merangkul Nara.


"His, tangan tangan"


Seru Iqbal menarik tangan Brian dari pundak Nara.


Nara tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


Sudah berada duduk di meja persegi panjang dengan tiga kursi yang saling berhadapan dengan lima kursi yang sudah di duduki, Afka berada duduk disamping Aditya dan Brian, Nara duduk di samping Iqbal. Menyisakan satu kursi yang nantinya akan diduduki pak Arto.


"Mmmm, begini non"


Setelah pak Arto kembali menghadap Nara, dengan gelagat nya yang kebingungan.


"Kenapa pak ngomong aja?"


Lanjut Nara yang memahami glagat pak Arto yang ragu dan kebingungan.


"Sebenernya saya tadi ambil dompet saya karna saya harus bawa anak saya kerumah sakit"


Jelas Pak Arto terpaksa berbicara, mengingat dengan kondisi anak nya saat ini.


Nara melebarkan tatapan nya, menjadi terkejud.


"Pak Arto kenapa ngga bilang dari awal!"


Sentak Nara menjadi kesal.


"Maaf non"


"Yaudah pak Arto bisa pulang sekarang"


"Tapi non, non Nara nanti pulang nya bagaimana"


Satu sisi mengkhawatirkan kondisi anak nya, satu sisi mengkhawatirkan majikan nya, juga dengan tanggung jawabnya.


"Saya bisa naik taksi, pak Arto bisa pergi sekarang"


Lanjut Nara tersenyum tipis, menjadikan pak Arto untuk tidak menjadi canggung dengan perasaan tidak enak nya.


"Nara, biar saya yang anter, bapak bisa pergi sekarang"


Lanjut Afka seolah mengerti dengan karakter pak Arto yang memiliki tanggung jawab yang besar, menjadikan nya bingung dengan tanggung jawab dan kondisi anak nya. Sampai Afka ikut turut berbicara.


Menjadikan ketiga sahabatnya saat ini menoleh menatap nya.


"Terimakasih, kalo gitu saya pergi iya non, ini kunci mobil nya"


Pak Arto tersenyum tipis menatap Afka dan mengalihkan nya untuk menatap Nara, akan meletakkan kunci mobil di meja di hadapan Nara.


"Pak Arto bawa aja mobilnya"


"Non?"


Seru pak Arto menatap Nara, batin nya menjadi sangat beruntung menemukan majikan sebaik dan sepengertian Nara.


Nara tersenyum manis mengangguki nya.