I Hope, My Existance Is Real

I Hope, My Existance Is Real
6



Langkah nya untuk pulang kerumah menjadi tergesa gesa dengan rasa jengkel yang berada di tahan nya.


Sampai dirumah Nara masuk tanpa mengucap salam dan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Menerobos masuk begitu saja menghampiri sesosok perempuan cantik yang tengah sibuk berbicara dengan seseorang melalui telfon nya, Kyra.


"Mah"


Panggil Nara tanpa senyum dan ceria seperti pada biasanya, hanya ekspresi datar dan jengkel yang saat ini Nara perlihatkan.


"Sebentar"


Jelas mama dari pengucapan bibirnya tanpa suara. Berpindah dan menjauh dari Nara.


Nara membuang tatapan nya dari Mama yang menjauh sebelum akhirnya Nara berbalik berlalu begitu saja dengan membawa ekspresi tidak menyenangkan nya.


Berada di kamar dengan menjatuhkan tubuhnya di antara kasur yang begitu empuk.


Ada yang dirasa Nara begitu melelahkan tapi terlalu rumit untuk dijelaskan.


Yang jelas Nara selalu berharap setiap hari yang lelah berlalu dengan cepat, terus seperti itu.


Kebahagiaan, keceriaan dirasakan Nara hanya sebuah kepura puraan.


Biarlah dunia tempat nya berada hanya tau Nara baik baik saja, setidaknya dengan begitu sedikit lebih baik, tidak perlu di tertawai dan menjadi lebih sakit lagi.


Hembusan angin yang menerobos masuk diantara celah celah jendela menyentuh Nara menjadikan sejuk dirasakan nya.


Nara yang kemudian bangun untuk mengganti baju dan kembali keluar dari kamar dengan dompet dan kotak kecil berwarna silver yang dikantongi dalam saku sweater nya.


"Kenapa?"


Tanya Mama mengehentikan langkah Nara.


Nara menghentikan langkahnya, menatap mama dengan datar sebelum akhirnya Nara duduk menunggu mama untuk ikut duduk bersama nya.


"Mama tau kan aku sama Yudi gimana? Kenapa harus satu sekolah sih ma?"


Gretu Nara dengan dirinya yang masih berada di tahan dan di kendalikan.


"Apa salahnya? Kalian kan sodara, jadi kalo kalian deket bukan nya makin akrab lebih baik"


Jelas Mama mencoba memberi pemahaman untuk Nara.


"Mah..."


Gretu Nara, ada yang berada lagi dan lagi menjadi sesak dalam benak yang terkubur tanpa dapat di ucapkan.


"Harus gimana Nara jelasin mah, Yudi itu cowo brengsek apa jadinya kalo Nara terus terusan deket sama dia"


Gumam Nara dalam hati.


Ada yang kembali menjadi bungkam. Rasa ingin mencurahkan kembali terkalahkan akan keadaan. Entah Nara yang tidak mengerti harus dengan seperti apa menjelaskan atau karna banyak keraguan dan ketakutan yang berada di terka terka.


"Terserah mah, Nara mau keluar"


Pamit Nara menjadi acuh,  yang kemudian bangun dari duduknya, bergegas untuk keluar.


Langkah nya terhenti akan sosok pria tidak terlalu tinggi, berkulit sedikit gelap dengan jelana jins dan jaket kulit nya, Aron.


Nara menghentikan langkahnya, tersenyum dan memberi sapaan.


"Ayah"


Sapa Nara dengan sebutan Ayah akan pria yang saat ini berada di hadapan nya.


Bibirnya tersenyum, tampak selalu cantik, hangat dan ceria, meski sebenarnya batin nya terluka.


Setiap kali kedua matanya berada menatap keberadaan Aron yang merupakan ayah tirinya sesak dalam batin Nara dirasa sakit menjadi berkali kali lipat. Bagaimana tidak keberadaan nya melengkapi akan kehancuran yang sudah ada, terlebih lagi dengan Aron yang dengan sengaja memberikan luka kepada Nara.


Hari itu sejak kali pertama Nara berada tinggal dalam satu rumah bersama Mama dan dua anggota barunya Aron dan Yudi. Semula hanya Yudi yang bersikap kurang ngajar dan se'enak nya tetapi seiring waktu Aron pun ikut berulah. Mendekati Nara, dan mulai berani menyentuh nya dengan hasrat dan menciptakan keinginan yang seharusnya tidak boleh berada diantara hubungan ayah dan anak, meski hanya berstatus tiri.


Dan di satu malam tepat di usia Nara ke 18 tahun di waktu yang bersamaan Aron dan Yudi merenggut apa yang seharusnya menjadi berarti untuk Nara, keperawanan.


Menjadi begitu hancur dan tampak menjijikkan nya Nara saat itu, tapi dengan bodohnya Nara memutuskan untuk melupakan dan mengabaikan seolah tidak pernah terjadi apa apa. Semua berada bungkam dalam diam dan dalam rasa sakit semua karna uang. Jika bukan karna Aron mama dan Nara tidak akan mendapatkan kehidupan serba berkecukupan seperti sekarang ini.


Lantas bagaimana mungkin Nara dapat baik baik saja berada dua tahun ini bersama dengan orang orang yang melukai nya.


Nara mengalihkan tatapannya kepada mama.


Ada yang dibiarkan ada yang disadari Nara, akan sebuah pengorbanan.


Pernikahan mama dengan Aron adalah pernikahan mama yang ke empat, pernikahan yang sebelumnya selalu berakhir dengan perceraian. Mama tergila dan terobsesi akan uang dan harta. Jauh sebelum bertemu dengan Aron mama adalah perempuan malam, semua terjadi bukan atas keinginan nya tapi karna tuntutan hidupnya.


Nara memilih tetap diam agar semua baik baik saja, rumah tangga mama dan Ayah tirinya. Dengan begitu mama dan Nara tetap dapat hidup dengan nyaman dan dengan kemewahan.


Dan bersyukur lah selama satu tahun terakhir Nara hanya tinggal dengan Mama, sedangkan Aron dan Yudi tinggal cukup jauh dari nya.


Berada menatap Aron lebih lama hanya akan membuat jantung nya meledak kesakitan dengan nafas yang begitu sesak seolah tertahan.


"Nara keluar dulu ya Yah"


Pamit Nara tersenyum dengan ramah nya sebelum kembali melaju.


"Nara"


Seru Aron menghentikan langkah Nara.


"Hhhhh..."


Helai nafas Nara dengan pelan.


"Nih buat kamu"


Sodor Aron dengan segepok uang.


Yang sebelumnya berada dikeluarkan dari dalam saku celana nya sebelah kiri.


"Buat apa?"


Tanya Nara memperhatikan segepok uang yang disodorkan kepada nya.


"Buat jajan"


Jelas Aron, dengan kembali memperjelas sodoran tangan nya.


Nara tersenyum dengan mata nya yang menjadi menyipit berbeda.


"Makasih, yah"


Nara meraih uang dari tangan Aron.


"Kalo gitu Nara pergi ya"


Nara yang kembali berbalik dan mempercepat langkahnya untuk benar-benar pergi dari tempat yang hampir membunuh batin nya. Memasukan uang kedalam saku sweater dengan kedua tangan yang berada tinggal dalam sakunya. Nara berlari kencang sekedar mencari lelah, mencari kesibukan untuk mengalihkan pikiran dengan perasaan nya yang menjadi begitu kacau. 


Sudah menjadi lelah dengan nafas yang menjadi tidak beraturan Nara berhenti mencengkram erat kedua tangan nya yang berada di dalam saku sweater nya dengan memejamkan erat kedua matanya.


"Ghhhhhhhhhhhh..."


Nara membuka pejaman matanya yang menjadikan kedua mata Nara berkaca-kaca.


Nara terpaku diam untuk beberapa saat sebelum kembali melanjutkan langkahnya. Nara kembali berlari dan berhenti pada satu minimarket, sebelum masuk kedalam minimarket Nara lebih dulu menungkrupkan topi yang berada pada sweater nya, dan masuk dengan kepala yang sedikit ditundukkan.  Didalam minimarket Nara bergegas mengambil dua kaleng minuman bersoda dengan sedikit kadar alkohol didalam nya, dan mengambil satu bungkus rokok dan membawanya kebagian kasir.


Petugas kasir sudah menatap Nara dengan tatapan yang berbeda setelah Nara meletakan apa yang sebelumnya di ambil.


"Ah ini buat pacar saya"


Jelas Nara memahami tatapan seseorang yang berada di hadapan nya saat ini.


Petugas kasir pun tersenyum tipis mengangguki nya dan segera membungkus pesanan Nara.


"87.000 total nya"


Sebut petugas kasir dengan harga yang harus dibayar Nara.


Nara menyodorkan uang seratus ribuan.


"Ambil aja kembalian nya"


Seru Nara yang kemudian berbalik dan bergegas dengan cepat.


"Brkkk"


Dengan topi dari sweater juga dengan Nara yang sedikit tertunduk membuat Nara tidak memperhatikan apa yang berada di depan nya, hanya sibuk dengan langkah dan bergegas nya yang cepat.  Sampai Nara dengan tidak sengaja menabrak seseorang yang baru akan masuk kedalam minimarket.


"Sorry sorry"


Seru Nara yang kemudian memunguti


barang belanjaan Nara yang berserakan keluar dari kantong plastik.


Seseorang itu ikut membantu Nara untuk memasukkan belanjaan Nara kembali kedalam kantong plastik.


"Nara"


Seru seseorang yang saat ini berada berjongkok dihadapan nya, memanggil namanya.


Nara menoleh dengan belanjaan yang sudah kembali tertata dalam kantong plastik, seperti semula.


"Afka"


Balas Nara dengan keberadaan Afka yang saat ini berada di hadapan nya, seseorang yang dengan tidak sengaja Nara tabrak.


Nara menjadi terkejud saat ingat dengan Afka yang sudah melihat barang barang yang dibelinya.


"Gua duluan ya, dititipin buat beli ini soal nya"


Jelas Nara dengan tergesa-gesa yang kemudian berbalik begitu saja meninggalkan Afka.


"Nara ini punya_"


Afka memungut kotak kecil yang terjatuh dari saku sweater Nara, saat Afka meraih nya didapati sebuah korek yang saat ini berada di pegang nya.


Afka diam dengan beberapa hal yang tiba tiba menjadi terheran dan tidak habis pikir, ada prasangka tiba tiba akan Nara.


Beberapa rasa lelah, patah, dan kecewa memang sesekali memerlukan sesuatu sekedar untuk mengalihkan atau bahkan melampiaskan nya. Karna sesungguhnya tidak ada orang yang dapat baik baik saja dalam bungkam nya yang menyimpan banyak luka dan ketidak baik baiknya.


Meski bersikeras dengan pilihan untuk diam dan menjadi baik baik saja, luka tetap lah luka yang perlu sesekali untuk di obati atau setidaknya diredam rasa sakit nya.