
Beberapa malam menjadi menyenangkan untuk mereka yang dapat terlelap dan beristirahat.
Tetapi untuk beberapa yang lain nya malam menjadi tidak menyenangkan, lelah juga membosankan. Diantara hening dengan banyak jiwa yang terlelap beberapa yang lain nya seperti Nara malah terjaga sibuk memikirkan perasaan yang terluka dan sibuk dengan seperti apa lukanya dapat di tata.
Diantara kasur yang begitu empuk, dan slimut yang menutupi Nara dengan hangatnya, kenyamanan berada melengkapi nya tetapi tetap saja Nara masih terjaga.
Melihat diantara awang awang semua yang terpaparkan menjadi nyata.
Sesekali atau bahkan sering kali diantara sunyi nya malam pertanyaan pertanyaan konyol tercipta.
"Kenapa Tuhan menjadikan semua yang rumit berada bersamaan menjadi sakit dan teramat sakit"
"Kenapa Tuhan membuat aku melewati ini semua"
"Kenapa ini, kenapa itu dan kenapa"
Semua batin Nara yang seketika berada dipenuhi pertanyaan kepada Tuhan.
Malam menjadi begitu singkat untuk mereka yang terlelap, tetapi menjadi begitu panjang untuk mereka yang terjaga sepanjang malam.
Setelah sibuk menggonta-ganti posisi tidur nya memiringkan posisi nya ke kanan, kekiri, terpaku lurus, dengan slimut yang menutupinya, dan setelah nya dibuka setelah dirasa ngap.
Nara memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurnya, meraih sebungkus rokok dari saku sweater nya.
Dan mencari keberadaan beberapa korek yang seingat Nara diletakkan di laci meja nya.
Setelah dengan satu korek yang didapat nya Nara mengantongi nya dalam saku baju tidurnya, sebungkus rokok dan korek.
Nara pergi kedapur membuat secangkir kopi tanpa ditambahi gula atau susu Nara langsung menyeduh mengaduk nya, mengirup aroma khas dari kopi hitam yang nikmat. Tanpa ditambahi gula atau susu Nara langsung membawa secangkir kopi nya untuk ikut keluar duduk di depan teras rumahnya.
Angin dirasa asing berada saat ini memeluk atau sekedar mengenai Nara, dingin dan hampa.
"Hhhhhh...."
Nara menghelai nafas panjang entah dengan rasa dingin yang menusuk nya atau rasa sesak yang berada di dadanya.
Nara menarik sebatang rokok dari dalam bungkus nya, dan menyalakan nya.
"Uwhhhh.."
Udara dingin menjadi beraroma kopi dengan asap rokok yang semerbak.
Diantara sibuk nya menghisap rokok dan melepaskan asap nya, mata nya menjadi berkaca-kaca. Padahal pikiran nya sedang berada biasa saja, tidak dengan sesuatu yang menonjol yang tengah dipikirkan nya. Hanya saja untuk beberapa kali perasaan nya memang menjadi sensitif tanpa alasan dan penjelasan, terlanjur dengan rasa sakit yang sudah biasa mengacak perasaan nya.
Setelah habis dengan sebatang rokok yang dihisap nya, Nara meminum kopi hitam yang sudah menjadi hangat.
Nara memejamkan matanya begitu saat kopi nya berada mengenai lidah nya, benar banar pahit dirasakan.
Nara tidak menyukai rasanya, tetapi Nara sudah dengan sering kali membuat dan menikmati nya. Untuk Nara secangkir kopi pahit adalah pelarian, pelampiasan dan gambaran.
Pelarian, untuk semua yang berada nyata dan dirasakan takbir masih membuat Nara untuk tetap berada dititik nya, untuk tetap berada di tempat. Nara hanya dapat berlari dalam rasanya dalam kendali batin dan pikiran nya bukan berlari dari kenyataan.
Berada beralih membalikkan, meredam perasaan dan keterlukaan, Nara memerlukan sesuatu untuk dapat melampiaskan. Sekedar untuk melonggarkan atau bahkan melepaskan rasa sesak dan pengap.
Dengan secangkir kopi Nara mengerti seperti apa rasa pahit yang sangat tidak enak dan sangat tidak ingin dinikmati nya.
Jika nanti, suatu saat, suatu waktu, dan suatu hari Nara dapat memaparkan, menjelaskan dan menceritakan semua dengan baik dan seksama untuk apa yang terjadi, dialami dan dirasakannya akan seperti apa seseorang itu mendengarkan nya, menanggapi nya.
Masih menjadi angan, manjadi harapan akan itu, akan waktu itu, akan kesempatan itu dan akan seseorang yang nantinya memang diperuntuk untuk mendengarkan dan memberi kekuatan untuk nya.
Jangan biarkan keadaan,takdir dan rasa seperti ini berada sampai akhir untuk Nara.
Malam semakin dingin, dan waktu pun semakin mendekati pagi tetapi Nara masih begitu nyaman berada di halaman teras dengan rambut nya yang tergulung ditemani rokok dan kopi pahit.
Mendengakan sedikit kepalanya keatas Nara disajikan hamparan langit yang terang dengan cahaya bulan di tambahi dengan titik titik yang indah dari bintang.
Nara tidak menyadari akan dirinya yang sering kali lupa dengan perasaan kacaunya setelah sesuatu yang indah berada dinikmati, seperti sekarang ini.
Nara mengurai senyum dari bibir pink nya dan dari sudut sudut matanya, tulus menjadi ceria untuk saat ini.
"Uuuuaaaaahhhh"
Nara menguap dengan lebarnya ditutupi dengan satu tangan nya.
Setelah cukup lama dengan leher nya yang dirasa menjadi pegal terlalu lama mendengak keatas. Dengan rasa ngantuk yang mulai dirasakan nya Nara beranjak bangun kembali memasukan rokok dan korek dalam kantong baju nya dan membawa cangkir kosong dengan sisaan serbuk kopi yang mengendap dalam cangkir.
Nara meminum segelas air putih sekedar untuk menghilangkan rasa kopi dan rokok yang sebelumnya masih dirasakan nya.
Setelah dengan tubuhnya yang kembali berbaring di atas tempat tidur Nara menoleh melihat jam dinding, pukul 03:20. Nara menarik slimut sampai menutupi setengah badan nya, dan mulai memejamkan matanya.
Setelah beberapa saat mencoba untuk tenang dengan mata yang terpejam Nara masih tidak dapat tertidur, padahal jika dirasakan sudah begitu mengantuk.
Mungkin ada pengaruh dari secangkir kopi yang belum lama diminumnya.
"Huh..."
Helai pelan Nara menjadi kesal.
Nara pasrah membiarkan tubuhnya dan matanya yang terus menolak untuk tertidur, sampai terpejam dan tertidur dengan sendirinya.
Nara berada membawa kedua tatapan nya diantara langit langit kamarnya yang diterangi cahaya yang redup.
Diantara langit langit kamar nya, tiba tiba sosok Afka tergambarkan, membuat Nara mengurai senyum membayangkan nya. Begitu pun dengan sosok ketiga laki laki yang lain nya, Brian, Aditya dan Iqbal. Sosok mereka dan kebersamaan nya di hari pertama bersama mereka benar-benar menyenangkan. Membayangkan dan mengingat nya saja sudah dapat membuat Nara menuang tawa.
Setelah satu persatu hal demi hal bergantian berada di antara langit langit kamar sekedar untuk dibayangkan atau difikirkan Nara, membuat waktu menjadi begitu cepat.
Nara menoleh kembali kepada jam dinding, pukul 04:50.
Nara melebarkan tatapannya menjadi terkejud dan panik karna sudah hampir pagi dirinya belum juga tertidur. Nara tidak ingin terus kesiangan dan tertidur di kelas seperti sebelumnya.
"Gimana coba, udah jam segini aja lagi"
Gretu kesal Nara yang langsung menarik slimut sampai menutupi seluruh tubuhnya sampai menutup wajahnya.