
Setelah mereka selesai makan bakso, Nina berpamitan pulang. Dia sudah ditelpon ibunya. Ibunya menyuruhnya pulang karena ini sudah hampir malam. Maira dan Beni pun ditinggalkannya. Kini Maira dan Beni duduk berdua di bangku tukang bakso. Entah mengapa mereka saling terdiam satu sama lain. Suasana menjadi canggung. Beni melirik Maira, lalu berpaling. Setelah itu, Maira juga melirik Beni, lalu berpaling. Begitulah mereka, diam-diam terlarut dalam ketertarikan. Suasana sudah mulai gelap, hawa makin dingin, tiba-tiba Maira menggigil kedinginan. Beni yang melihatnya bingung. Beni ingin membuatnya nyaman. Lalu ia pun melepas jaketnya, lalu mengibaskannya, setelah itu dipakaikannya jaket itu ke tubuh Maira. Maira yang diperlakukan seperti itu olehnya, memalingkan wajah, sehingga wajahnya berubah kemerahan. Beni yang melihat itu, tersenyum kecil, dadanya berdegup kencang gak karuan. Mereka tidak pernah tahu perasaan yang mereka rasakan itu mulai merekah dari waktu ke waktu.
"Emmm, Mai, masih dingin gak?" tanya Beni dingin.
"Lumayan, sekarang jauh lebih hangat" ucap Maira membuat Beni tersenyum.
"Kalo masih dingin biar gue peluk aja nih" Beni tersenyum nakal.
"Eh, eh, apaan sih lu Ben, udah kok udah anget kok sekarang" ketus Maira.
"Bwahahaha" Beni tertawa puas.
"Gue bercanda, Mai, ngapain tuh muka lu merah kayak cabe gitu" sambung Beni sambil menunjuk ke arah pipi Maira yang memang sudah memerah.
"Ehh, nggak ihh apaan sih lu" Maira mengelak malu-malu.
"Lu lucu juga ya" ledek Beni sambil tertawa.
Mereka cukup lama berbincang bercanda gurau, tanpa terasa hujan sudah mulai reda. Mereka pun hendak beranjak pulang. Mereka berdua menunggu taxi yang lewat namun tak satupun taxi muncul. Karena saat itu sudah hampir larut jadi ya sulit untuk menemukan taxi. Setelah cukup lama tak kunjung mendapatkan taxi satu pun, Beni pun memejamkan mata sambil menggerakkan tangannya dan seketika itu pula motormatic muncul dihadapan mereka.
"Eh, eh kok bisa sih Ben?" tanya Maira terhera-heran.
"Ya bisalah, apa sih yang gue gak bisa" ucap Beni songong.
"Kalo gitu kenapa gak dari tadi sih, kan jadi lama kita nunggunya" ucap Maira dengan ketus dan wajah memelas.
"Ya maaf, gue baru kepikiran, Mai" jawab Beni nyengir.
"Ya udah buruan udah larut nih, nanti ibu marah deh" mengingatkan Beni.
"Ya udah yok naik" perintah Beni.
Waktu menunjukkan jam 22.34. Memang tadi mereka cukup lama menunggu hujan reda. Mereka pun pulang menggunakan motor Beni. Beni menyetir dengan sangat cepat. Sehingga membuat Maira memeluknya dari belakang. Membuat jantung Beni berdetak kencang lagi gak karuan. Maira yang merasakan detak jantung Beni yang semakin bergemuruh tak kuasa menahan senyumnya.
"Woy Ben apa kabar jantung lu? Kok dag dig dug kencang gitu siih?" Goda Maira dengan senyum nakalnya.
"A..apaan sih lu, udah lahh gue lagi fokus nih ganggu aja lu" Beni mengeles perkataan Maira.
*Ah iya ya kenapa jantungku berdegup apalagi sampai sekencang tadi? kan aku ini hantu mana ada hantu punya jantung apalagi sampai berdegup sekencang tadi* batin Beni.
Tak butuh waktu lama, mereka pun sampai di rumah. Beni yang sudah bisa terlihat sekarang dia kembali menjadi tak terlihat. Setelah itu mereka masuk ke dalam rumah. Mereka mendapati rumah yang sedang sepi dan gelap. Mungkin Dona dan Steve sudah tidur. Mereka pun naik ke atas, dan masuk ke kamar Maira.
"Ahh capek juga ya!" keluh Maira.
"Ya udah gihh, sana mandi dulu, nanti tidur" ucap Beni.
"Yaudah, gue mandi dulu, kamu gak mandi apa?" tanya maira sambil menatap Beni dan mengernyitkan dahinya.
"Yaelah, mana ada hantu mandi, Mai" ucap Beni mengingatkan.
"O iya gue lupa, Ben" ucap Maira nyengir.
"Yaudah sanaa mandi" Usir Beni.
Maira pun pergi ke kamar mandi. Setelah 30 menit, dia pun keluar. Maira hanya mengenakan handuk dengan rambut yang terurai basah. Sementara Beni tengah duduk santai sedang membaca buku di kursi. Dia ternganga melihat Maira yang baru saja keluar dari kamar mandi. Sesekali dia mencuri pandangannya kepada Maira. Maira terkejut melihat Beni yang masih saja duduk. Dia mengira Beni sudah pergi ke alamnya.
"Woyy... Ben, napa loo masih ada disini sih?" tanya Maira sambil menyilangkan tangan di bahunya.
"Sana lu pergi ihhh, gue mau pake baju" usir Maira sambil mendorong Beni.
Beni pun berdiri hendak pergi. Namun bukannya pergi, Beni malah maju ke hadapan Maira. Beni teruss maju dan Maira terus mundurr ke belakang sampai-sampai mentok di sudut tembok. Sekarang mereka semakin dekat dengan badan yang saling berhadapan. Maira hanya diam keheranan. *ini apa-apaan si, kok gue gak berontak* batin Maira.
Tiba-tiba Beni mendekatkan wajahnya pada Maira. Mereka saling bertatapan. Suasana panas, wajah Maira pun seketika memerah. Jantungnya berdetak gak karuan. Beni yang melihatnya pun tersenyum. Kemudian Beni mulai mendekatkan bibirnya. Semakin dekat, semakin dekat, dan... ahh hampir saja. Maira yang menyadari hal itu akan terjadi pun langsung berontak. Seketika menghancurkan suasana yang panas menjadi canggung.
"Bennnnn, ngapain sii ahh?" ucap Maira marah.
"Ehh, ma...maafin gue, Mai" ucap Beni terbata-bata.
"Dasarr lu nyari kesempatan dalam kesempitan kann" ungkap Maira sambil tangan di pinggang.
"Lu jangan asal nuduh dong, awass tuh anduknya mau lepas, nanti gue liat lohh" goda Beni dengan senyum devilnya.
"Aaaaaa Beni, sanaaa cepatt pergi" usir Maira sambil membenarkan handuknya dan hendak memukul Beni. Karena takut kena pukulan, Beni pun menghilang.
"Huuh dasar hantu bobrokkk" gerutu Maira kesal.
"Ehh, ehh jantung gue amankan? Huhh kenapa sihh gue?" Maira ngomong sendiri sambil ngipas-ngipas wajahnya.
Maira pun cepat-cepat memakai baju yang diambil dari lemarinya. Setelah itu, dia merebahkan badannya di kasur. Maira tidak langsung tidur tetapi ia menatap ke langit-langit atas, dia masih memikirkan kejadian bersama Beni tadi. Dia pun senyum-senyum sendiri, guling sana guling sini dan menepuk-nepuk kasur kegirangan. Sayangnya dia masih belum menyadari perasaan apa yang ia sedang rasakan.
"Ahh, gue kenapa sihh?"
"Gue gak bisa tidurr nih"
"Gara-gara Beni nih gue jadi gini"
"Kok gue tiba-tiba kepikiran ama si Hantuu bobrok itu ya"
"Tapi dipikir-pikir lucu juga tuhh orang"
"Ehh dia kan hantu mana bisa disebut orang"
"Jhahaha, Beni, Beni"
Maira terus saja berbicara. Dia senyum-senyum sendiri gak jelas. Tanpa sadar dia pun ketiduran.
***Hallo para readers tercinta.
Aku comeback, nih.
Maafin ya aku jarang update.
Sibuk aku tuh.
Makasih yang buat kalian yang masih suka baca ceritaku😘
Jangan lupa ya untuk selalu tinggalin jejak
Like, comment, dan vote juga😢
Love-love buat readersku.
Author halu😗***