HANDSOME GHOST

HANDSOME GHOST
Rencana Awal



Maira dan Beni turun ke bawah. Mereka bergabung untuk makan malam bersama orangtuanya. Malam ini Maira sedikit canggung. Maira dengan sengaja menyiapkan kursi makan untuk Beni. Dina dan Steve pun memandanginya dengan heran. Saat itu Beni hanya melihat mereka makan, dia belum bisa makan kalo Steve dan Dina masih berada di ruang makan. Jika Beni ikut makan, semua pasti akan terkejut, ketakutan, bahkan pingsan.


Maira bersama orang tuanya menikmati makan malam itu. Sementara Beni hanya memandanginya yang sedang lahap-lahapnya memakan sup ayam. Sesekali Maira pun memandanginya, namun Beni memalingkan wajah saat dibalas pandang oleh Maira.


Ketika itu, Steve dan Dona telah selesai makan. Inilah kesempatan Maira untuk leluasa bersama Beni. Ketika itu makanan Maira belum juga habis dan Beni terus memandangi Maira. Dia kembali memalingkan wajahnya. Dia heran kepada Beni. Beni terus saja diam meletakkan tangannya di bawah dagunya.


"Kamu lapar?" tanya Maira..


"Hantu gak makan nasi" jawab dia dengan nada sedih.


"Terus, makan apa dong, makan batu dan kayu?" canda Maira.


"Hantu makan darah" jawabnya membuat Maira takut.


" Kamu jangan bercanda ya, kamu membuatku takut" Maira ketakutan saat itu.


" Memang,..... itu sebabnya aku melarangmu memakai pakaian berwarna merah,..... itulah sesuatu yang membuatku terangsang ingin memakanmu, selama ini aku mencoba menahan nafsuku" jawabnya seram, padahal dia hanya mengarang.


"Beneran nih, terus kamu mau makan aku?" tanya Maira meyakinkan.


"Aku tidak akan memakan orang yang sudah membebaskanku" jawabannya membuat Maira lega.


"Kau membuat nafsu makanku hilang" Maira berhenti makan.


" Ya, maaf" Jawab Si Polos itu.


***


Setelah itu, mereka naik ke atas, memasuki kamar. Memang, mereka sudah sangat akrab, mereka kini sangat dekat. Di dalam kamar, seperti biasa Maira duduk di kursi rias, dan Beni berada di markasnya, lemari baju. Setiap malam Maira memang selalu memandangi wajahnya di cermin. Saat itu, Dia sedang asyik mendadani rambutnya, tiba-tiba dia teringat waktu itu, saat dia membuka buku kecil di laci yang berisi kutukan Beni itu. Sesaat dia berpikir, lalu membuka lacinya dan Maira membuka kotaknya, lalu Maira mengambil buku itu. Waktu itu Maira baru membuka halaman pertama, karena saat itu sosok Beni muncul mengejutkanku. Buku itu Maira pegang dan dipandanginya. Lalu Maira mengetuk lemari.


"Tok...tok...tok"


"Ben, ini buku kecil yang mengurungmu kan?" Tanyanya dari luar.


Seketika itu juga Beni muncul tiba-tiba dihadapannya.


"Coba lihat" ucap Beni sambil merebut buku itu.


"Iya, ini buku terkutuk itu" jawab dia dengan wajah kusut.


" Aku baru membaca halaman pertamanya saja loh, aku belum sempet baca halaman seterusnya" gumam Maira.


" Mai, maukah kamu membantuku?" Tanyanya pada Maira.


"Bantu apa?" Maira bertanya balik.


"Waktu itukan aku sudah cerita, kalau aku kena kutukan, aku udah jdi hantu, aku udah mati, aku harus kembali ke dunia hantu, dan aku harus melewati fortal antara dunia manusia dan hantu, dan itu adalah sesuatu hal yang sulit" Jawabnya panjang lebar.


" Aduh, gimana ya? Aku gak bisa bantu kamu, Ben. Aku sadar aku dan kamu itu beda. Aku takut nantinya akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan" Ungkapnya dengan nada rendah.


" Tolong lahh, bantu aku Mai, aku gak mau keluyuran teruss di dunia manusia, rasanya jasadku disana gak tenang, Mai" Jawab dia dengan meyakinkan Maira.


Mendengar hal itu, Maira diam. Ketika itu dia berpikir untuk membantu atau tidak. Jika tak membantu, mana rasa empatinya, pikirnya.. Setelah berpikir lama, akhirnya Maira berniat untuk membantu Beni.


"Baiklah, aku akan membantumu" Ucap Maira dengan penuh keyakinan.


"Benarkah? Aku akan sangat berterimakasih padamu, Mai" Ucapnya, matanya berkaca-kaca.


"Iya" ucap Beni murung.


"Kita lakukan misi ini besok" kata Maira semangat.


"Semangat ya" Dia nyengir.


***


Waktu, sudah larut, Mairahendak pergi tidur. Ketika Maira tertidur, Beni berbisik padany, entah apa itu.


Saat itu Maira gak tau, antara sadar dan gak sadar. Maira hanya mendengar sedikit dan itupun remang-remang.


Sementara, malam itu Beni masih ada di luar. Dia sedang merenung. Dia bingung, antara harus kembali atau tidak, karena kalau kembali, dia pasti akan melalui perjalanan yang cukup sulit, dan jika dia tetap ada disini jasadnya disana tidak akan tenang dan lama-kelamaan dia akan menjadi iblis. Dia berpikir sangat panjang.


***


Matahari terbit di ujung timur, dengan cahaya yang menyoroti dibalik jendela membuatnya terbangun menggeliat merasakan segarnya pagi. Maira terduduk diam, seketika dia menguap, lalu kembali menguap, menengok keseluruh sudut kamar, kemudian berdiri mengambil handuk dan melangkahkan kaki ke kamar mandi. Setelah selesai mandi, dipakaikannya bajunya ke tubuhnya itu, lalu dikeringkan rambutnya dengan hairdryer. Setelah itu menuju ke meja riasnya, kemudian dia menyisir rambut panjangnya, lalu mengikat rambutnya dengan bentuk kuncir kuda lesu, dan menghias hias wajahnya dengan peralatan make up sederhana, yang justru terlihat sangat canti bagi Maira.


Ketika Dia asyik berdandan, ternyata diam-diam Beni memandangi dari tadi. Dia membuatnya kaget. Namun, dia hanya tersenyum, nyengir, dan cengengesan.


"Udah rapi aja, mau kemana nih? Ucap Beni sinis.


"Eh, aku mau ke rumah Nina, mau ikut gak?" Maira mengajaknya untuk pergi ke rumah temannya, Nina.


"Jadi gak ngebantunya?" tanya dia, mengingatkan.


"Ya, jadi ini juga, kita gak bisa melakukan ini secara sendiri, kita juga masih butuh bantuan dari yang lain kan?" Maira menerangkan.


"Baiklah, aku ikut aja, tapi kamu beneran gak apa-apa kan membantuku?" tanya dia


"Iya gak apa-apa, aku tulus" jawab Maira serius.


Setelah itu, Maira mengambil kotak tua yang berisikan buku kutukan Beni itu dari laci. Lalu memasukkannya ke dalam tas gendongnya. Dan merek berdua pun turun ke bawah, lalu berpamitan untuk pergi ke rumah Nina. Mereka pergi dengan manual, jalan kaki. Saat dijalan, mereka melihat ada tukang es krim. Kemudian Beni ingin membeli es krim itu. Lalu dia pergi menuju tukang es krim itu. Dia menyamar sebagai seorang manusia, laki-laki berambut gondrong. Maira dibuat geli oleh penyamaran Beni. Lalu Beni pun mendapatkannya, dia membeli 2 es krim. Seketika dia kembali seperti semula. Dia memberi Maira es krim rasa stroberry, sementara dia rasa vanila. Mereka memakan es krim sambil berjalan menuju rumah Nina. Beni memakan es krim dengan lahap sekali. Tampaknya dia baru pertama kali memakan es krim. Memang, di dunia hantu mana ada tukang es krim, ya kan?


***


Tak terasa mereka pun telah sampai di halaman depan rumah Nina. Kami mengetuk pintu gerbang rumah Nina yang cukup tinggi. Dan tiba-tiba pintu gerbang terbuka, seseorang telah membukakannya, seorang satpam bertubuh ramping, berkulit gelap yang membukanya.


"Siang, Pak. Ninanya ada?"


" Ada. Silahkan masuk" jawabnya. Ternyata satpamnya gak rese.


"Terimakasih, Pak" ucap Maira yang mencoba bersikap ramah.


Hai, hai, hai aku kembali😘


Terimakasih buat readers yang masih setia membaca ceritaku😍


Coba menurut kalian bagus gak cerita kali ini?


Jangan lupa tinggalin jejak juga ya, like dan vote seperti biasanya ya😗


*Tetap semangat bacanya ya😗


Penulis kesepian*