
Setelah itu, tiba-tiba Maira ingat kalo dia membawa buku kecil tua, buku kutukan Beni itu. Lalu dia menunjukkannya pada Beni.
"O iya Ben, aku bawa buku kecil itu loh, mungkin ada petunjuk dari buku itu" ungkap Maira pada Beni.
"Iya, benar juga kamu, coba mana biar aku liat" ucap Beni sambil mengasongkan tangannya.
"Iya, sebentar, sebentar, ini dia nih" ucap Maira sambil mengasongkan bukunya.
Beni pun membuka lembaran-lembaran bukunya. "Kamu udah nyampe mana bacanya?" tanya Beni pada Maira.
"Eh, hehe, aku baru aja baca halaman ke-1😁" jawab Maira tersipu malu.
"Oh, aku kira kamu udah baca dari jauh-jauh halaman" ungkap Beni sembari menutupi mulut dengan tangannya.
"Hahahah, kamu males baca kah, Mai?😂" ledek Nina Si Gembul itu.
"Bukan males ih, cuman waktu itu aku baru pertama kali nemu buku misterius ini, jadi aku masih ragu, ditambah lagi pas baca halaman pertama itu tiba-tiba muncul kamu, Ben, boro-boro ngelanjutin ke halaman selanjutnya, aku syok berat😣" ketus Maira panjang lebar.
"Iya, sudahlah, aku ngerti, kita baca sama-sama halaman-halaman selanjutnya, ok?" ungkap Beni menenangkan suasana.
Beni pun membuka halaman ke-2 dan mereka pun membaca isi di halaman tersebut. Tulisan ini ditujukan pada Beni, karena ini merupakan kutukan untuknya.
"Jika kau menemukan orang yang akan membantumu, maka kalian akan menghadapi segala rintangan yang amat sulit, akan ada saatnya dimana kalian menempati hutan yang telah ribuan tahun dikutuk, disanalah kalian akan bertemu dengan penyihir tua. Jika kalian sudah terkurung olehnya, maka kalian akan sulit menemukan jalan keluarnya. Hanya ada satu cara, kelemahannya adalah kekuatannya itu sendiri" mereka membacanya dengan suara pelan.
Setelah selesai membacakan tulisan itu,
"Ini benar-benar sudah terjadi pada kita" ungkap Beni.
"Tapi apa maksud dari kutipan kelemahannya adalah kekuatannya sendiri?" tanya Maira bingung sambil menggelengkan kepada.
"Mungkin kekuatan penyihir itu lemah, jadi kita bisa dengan mudah mengalahkannya" ucap Nina.
"Bukan itu maksudnya, mungkin maksudnya adalah Si Penyihir akan kalah oleh kekuatannya sendiri, jadi kita harus membuat Si Penyihir tua itu terkena oleh sihirnya sendiri, bukan begitu, Mai?" tanya Beni meminta persetujuan Maira.
"Iya mungkin, kita coba aja dulu, aku juga gak terlalu faham dengan kata-kata yang ada di buku itu" jelas Maira pada Beni.
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Nina.
"Hmmm, apa ya?" pikir Beni.
Setelah merek berpikir lama, mereka memutuskan untuk kabur. Mereka melihat kunci jeruji itu di pinggang Si Penyihir, tergantung pada ikat pinggangnya. Mereka berniat untuk mengambilnya dengan cara berpura-pura ribut agar Si Penyihir datang ke jeruji tempat mereka dikurung. Aksi itu pun benar-benar dilakukan.
"Heiiiii Beni, cepat ke sinikan makanan itu, aku juga lapar, jangan kau makan sendirian lah, bagi-bagi lah sama aku" teriak Nina memperebutkan makanan, dengan tingkah konyolnya, dia sampai tak tahan menahan tawa dengan tingkahnya itu😅
"Mana boleh, ini punyaku semua, tak akan ku bagi sama kau, aku nak makan semua ini sendirian, aku lapar sangat, tak rela aku bagi makanan nii sama kau" Teriak Beni juga dengan tingkah konyolnya. Mereka berdua berbicara jadi seperti bahasa Melayu gitu ya, Maira ngakak dengernya. Setelah itu Maira pun ikut berpura-pura seperti mereka berdua.
"Heiii kalian, berisik sangat kalian nii, aku nak makan pun tak tenang dengar kalian ribut-ribut kek gitu, sini ke sinikan makanan itu" ungkap Maira dengan menirukan bahasa Melayu, meskipun dia gak tau bahasa Melayu, tetapi mendadak bisa, meskipun itu sebenernya salah😂
Kemudian, mereka bertiga memperebutkan makanan yang ada di piring, mereka menarik-narik piring itu.
Tak lama kemudian Si Penyihir datang. Dia terusik karena mendengar suara ribut dari kami.
"Heeeeiii kalian, ada apa ribut-ribut? kalian membuatku tak tenang, kalian ingin mati hahh?" bentak Si Penyihir, matanya belotot seperti mau berojol keluar.
"Yes akhirnya Si Penyihir ke sini juga" bisik Nina padahal dia ketakutan.
"Kami nak beberapa makanan lagi, bisakah kau membawakannya untuk kami? kami rasa makanan nii tak cukup untuk kami bertiga" ungkap Beni.
Lalu Si Penyihir pergi ke belakang, kemudian tiba-tiba ia kembali. Dia membuka pintu jeruji dan masuk sambil membawa sepiring makanan untuk mereka bertiga. Dia menyodorkan makanan sambil dilempar. Dalam hati Maira sangat marah, dia tak terima dengan perlakuan Si Penyihir tua itu.
Seketika penyihir berbalik keluar dari jeruji, dari belakang Beni dengan sigapnya membawa kayu memukul Si Penyihir. Seketika penyihir pun tergeletak jatuh tak sadarkan diri. Lalu Maira dan Nina mengambil tali yang terlilit di atas jeruji. Lalu mereka melilitnya ke tangan dan kaki penyihir. Setelah itu mereka meninggalkan penyihir, lalu mengunci jeruji itu.
Sementara Beni sibuk mengobrak-abrik lemari buku penyihir. Dia mencari buku mantra kematian untuk penyihir. Setelah menemukan buku mantra itu, Beni membacakan mantranya untuk penyihir, "Simmm-simmmm bangggg dukkk" seketika itu pula Si Penyihir terbakar lalu api menyebar ke seluruh ruangan. Mereka pun berhasil melarikan diri dan keluar dari rumah Si Penyihir tua itu.
"Hahhhh, mhahhh, hahh, aku capek" ungkap Nina sembari ngos-ngosan.
"Iya, akhirnya kita bisa keluar dari rumah Si Kakek Tua itu" ucap Maira lega.
Mereka bertiga menyaksikan rumah Si Penyihir yang habis terbakar. Tiba-tiba mereka melihat sapu Si Penyihir yang masih utuh tergeletak di depan pintu yang hampir terbakar. Kemudian Beni mengambilnya.
"Kamu pasti capek kan?" tanya Beni pada Maira.
"Lumayan menguras keringat, Ben" ungkap Maira sambil mengelap keringat di kening.
"Heiii, aku pun sama cape, kenapa pula aku tak ditanya begitu?" ungkap Nina konyol.
"Heiii kau, acara pura-puranya udah selesai gak perlu akting pakai bahasa gituan lagi" sahut Beni.
"Sudah kalian berdua, ayo kita naik ke sapu itu, kita selesaikan misi selanjutnya" ajak Maira sambil melerai mereka berdua.
Mereka bertiga pun naik sapu terbang Si Penyihir. Beni memimpin di depan, Maira di tengah, sementara Nina di belakang. Mereka sangat menikmati udara di langit. Mereka melaju sangat cepat sehingga membuat Maira takut terjatuh, otimatis dong dia memeluk Beni dari belakang. Dia memeluknya dengan sangat erat. Pelukannya terasa nyaman, membuatnya tak ingin melepasnya. Sementara Beni senyum-senyum sendiri merasakan pelukannya, dia terlihat sangat senang, tapi dia gengsi mengakuinya "Hei, Mai amankan tanganmu dari tubuhku, kau membuatku tak nyaman" ungkap Beni yang sama sekali tak membuatnya melepaskan pelukannya, dia tetap memeluknya. Dan coba bayangkan dari belakang Nina Si Rempong itu menarik-narik baju Maira sampai hampir lepas, Maira sangat kesal padanya. Tetapi Maira dan Nina merasa sangat senang, ini pertama kalinya mereka terbang melayang bebas bersama awan di udara. Saking bahagianya, dia dan Nina tertawa riang sambil berteriak-teriak seperti orang gila😂
Hai, hai, hai aku kembali lagi😘
Jangab bosan-bosan ya kalian, hehe
Terimakasih buat readers yang masih setia membaca ceritaku😍
Coba menurut kalian bagus gak cerita kali ini?
Jangan lupa tinggalin jejak juga ya, like dan vote seperti biasanya ya😗
*Tetap semangat bacanya ya😗
Penulis halu*