HANDSOME GHOST

HANDSOME GHOST
Diculik Penyihir Tua



Beberapa saat setelah mereka memakan buah itu, mereka merasakan pusing, penglihatan kabur dan meraka pun tergeletak jatuh pingsan. Mereka pingsan sangat lama. Beberapa jam kemudian, mereka bangun dari pingsan. Pada saat mereka sadar, ternyata mereka berdua telah berada di dalam jeruji kayu besar.


***


"Aduh, ada dimana kita?" Nina bangun dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Iya nihh, siapa yang udah bawa kita kesini?" ucap Maira dengan suara serak juga.


Setelah itu, mereka melihat ada seorang pria tergeletak di pojok jeruji. Mereka berdua melangkah diam-diam menuju pria itu.


"Ssttt, diam kamu, kita cari tahu siapa dia" ungkap Maira berbisik.


"Kamu ngapain sih, gimana kalo orang itu jahat, aku takut" ungkap Nina Si Gembul itu.


"Udah, ikutin aja aku" ucap Maira cepat.


Mereka sudah mulai dekat dengan pria itu. Mereka sama sekali tidak mengenalinya, lagipula dia berbaring membelakangi mereka. Lalu mereka menepuk punggungnya, dan membalikan badannya. Kemudian setelah itu,


"Apa, what?!" seru Nina dengan wajah terkejut.


"Beniiiiii" seru mereka berdua berbarengan sambil sesekali bertatap-tatapan.


Ternyata pria itu adalah Beni. Lalu mereka berdua bertanya pada Beni, "Kamu kemana aja, kenapa kamu bisa ada disini, Ben? Apa yang terjadi?" tanya Maira khawatir, "Iya kamu membuat kami bingung dan khawatir" sambung Nina.


***


Lalu Beni menjelaskan,


"Pagi itu, saat kalian masih tidur, perutku bunyi, aku lapar, jadi aku pergi ke sekeliling hutan untuk mencari makanan, dan tak lama kemudian aku menemukan pohon yang berbuah lebat, buahnya seperti apel, jadi aku memetiknya dari pohon itu lalu aku memakannya, setelah itu aku tiba-tiba merasa pusing, dan aku pun jatuh pingsan, saat itu aku gak tau apa yang terjadi padaku, aku tiba-tiba berada di dalam jeruji kayu ini, dan setelah bangun dari pingsanku aku baru menyadari, aku memikirkan kalian berdua, aku bingung kalian ada dimana😢" jelasnya panjang lebar sambil memegang tangan Maira.


"Ais, sudah-sudah, kamu jangan panik gitu, kami juga sama loh, setelah memakan buah itu kami jatuh pingsan dan membuat kami terbawa ke tempat ini" jelas Maira sambil menenangkan Beni.


"Tapi yang aku pikirkan, siapa yang nyulik kita ke tempat ini? misterius sekali, ada yang aneh, aku takut nih" gumam Nina Si Penakut itu.


"Iya, kamu tau gak siapa yang nyulik kita ke tempat ini?" tanya Maira pada Beni.


"Aku juga gak tau, tapi coba liat deh di sana" ucap Beni sambil menunjuk ke luar jeruji.


"Ini kan di gua, liat tempatnya seperti dapur, tapi bukan buat memasak, dan juga dipenuhi abu-abu hitam, ini sepertinya tempat meracik ramuan" ungkapnya lagi.


"Ini seperti tempat penyihir, deh" terka Maira.


"Apa what?! penyihirrr? ya ampunn, ya ammpunnn, aku takutttt" dia mengeluarkan lagi kata-katanya itu.


Maira ngakak dengernya, "Biasa aja kali, Na" ucap Maira sambil menahan tawa.


"Iya, bener apa yang dikatakan kamu, Mai. Sepertinya ini tempat penyihir, lihat saja di sudut pintu itu ada sapu lidi bergagang, itu kan yang biasanya digunakan penyihir buat terbang?" ungkap Beni sambil menunjuk ke arah sapu itu berada.


"Iya emang bener sih, tapi mana penyihirnya, dari tadi aku gak lihat" ungkap Nina menyepelekan.


"Hei gembul, kalo penyihir datang, baru tau rasa kau" ledek Beni yang selalu ketus pada Nina. Haha dasar Benii.


"Astagaaa, kau ini, punya masalah apa denganku?" ketus Nina balik, sambil melirik Beni, judes.


"Hei, kalian berdua, sudah-sudah, dengar itu, aku mendengar ada suara kaki melangkah dari luar pintu" pinta Maira mengheningkan.


"Sepertinya, dia datang" Beni memperingatkan.


***


"Cekettttt" seseorang membukakan pintu. Dari pintu itu, muncullah seseorang dengan badan tingginya, berjubah berwarna hitam, juga mengenakan topi kerucut berwarna hitam pula. Dia seorang pria yang sudah cukup tua, kisaran orang berkepala lima kayaknya, dia berjenggot panjang, juga berkumis panjang melengking. Dari tampilannya saja, sudah membuat takut. Kami bertiga duduk diam membisu. Lalu Si Penyihir itu memandang ke arah mereka bertiga.


"Wahahhahaha, rupanya kalian sudah bangun ya" ungkap Si Penyihir dengan suaranya yang menggelegar.


Mereka memandang ke arahnya, lalu mereka diam lagi. Sebenernya waktu itu mereka sangat lemas dan ketakutan. Tapi Beni memberanikan dirinya berteguran dengan Si Penyihir itu.


"Hei, siapa kau? kenapa kau membawa kami ke tempat seperti ini? Apa salah kami padamu?" ucap Beni dengan lantangnya. Dia menunjukkan keberaniannya waktu itu. Nina juga nimrung, memberanikan dirinya.


"Hei, kau, kakek, kau itu udah tua, harusnya kakek jangan menyusahkan orang, kakek-kakek yang lain sadar akan usianya, lahh kakek ini malah buat yang aneh-aneh" ungkap Nina gak jelas, dia serius tapi kok ngakak ya. Saat itu Maira hanya diam, bungkam seribu bahasa.


"Diammmm, berhenti bicara." bentak kakek penyihir itu.


"Kalian tidak tau apa salah kalian? Kalian ingat, kalian sudah memetik buah beronku yang beracun tanpa seizinku, hahahaha" ungkap dia dengan suara nyaring. Mendengar hal itu, mereka diam lagi. Mereka berpikir dan menyesal telah memakan buah yang katanya bernama buah beron.


***


Setelah itu, mereka merasa lapar. Tetapi kemudian, Si Kakek Penyihir membawa makanan untuk mereka.


"Tuh, makan pisang-pisang itu" ucap Si Kakek sambil menyodorkan piring dengan sedikit dilempar.


"Apa kau akan meracuni kami lagi?" ungkap Beni merasa tak percaya.


"Terserah kalian mau dimakan atau tidak" sahut Si Kakek. Lalu dia pergi meninggalkan jeruji tempat mereka dikurung.


"Aiss, apa yang kalian pikirkan, tunggu apa lagi, ayo kita makan, pasti kalian lapar juga kan?" ungkap Nina sambil mengambil sebuah pisang.


"Ya udah deh, ayo kita makan, Ben, aku lapar juga nih" ajak Maira sambil mengambil dua buah pisang, satu untuknya dan satunya lagi diberikan pada Beni. Lalu mereka membuka sebelah-sebelah kulit pisangnya, lalu memakannya perlahan diiringi rasa ragu. Setelah mereka memakannya, tidak terjadi reaksi apapun. Mereka sadar buah pisang ini tak diracuni oleh Si Kakek Penyihir, kemudian mereka memakan semua pisang yang ada dipiring sampai ludes.


Setelah perut mereka terisi, mereka kekenyangan. Mereka duduk bersandar dengan kaki selonjoran. Sementara Si Kakek Penyihir itu berada di ruangan lain, sepertinya dia sedang meracik ramuan-ramuan magic-nya.


"Kita gak bisa lama-lama disini, kita harus mencari jalan keluar dari sini" ungkap Beni tiba-tiba sambil menepuk-nepuk perutnya.


"Iya, tapi bagaimana caranya, Ben? tanya Maira pada Beni.


"Iya kita harus cepat-cepat keluar dari sini, kalau tidak, bisa-bisa kita dijadikan bahan-bahan untuk membuat ramuannya, ya ammpunn, ya ampunnn" ungkap Nina dengan tingkahnya yang rempong.


"Hei rempong, bisa diam gak? ini kita juga lagi mikirin" ketus Beni.


Pada saat itu, mereka berpikir keras untuk bisa keluar dari tempat ini.


Hai, hai, hai aku kembali lagi😘


Terimakasih buat readers yang masih setia membaca ceritaku😍


Coba menurut kalian bagus gak cerita kali ini?


Jangan lupa tinggalin jejak juga ya, like dan vote seperti biasanya ya😗


*Tetap semangat bacanya ya😗


Salam hangat author*>_<