HANDSOME GHOST

HANDSOME GHOST
Perkenalan



Perlahan, Maira membuka cover buku yang polos tanpa judul. Dia membuka lembaran demi lembaran dan dia melihat tulisan di halaman pertama dengan font bergaya kuno berwarna hitam kecoklatan.


"Bangkitkan Beni" dia membaca tulisan itu.


"Ini maksudnya apa sih? Kok nama Beni terus yang disebut?" tanyanya,


"Buku ini kecil tapi sungguh membuatku bingung" sambung Maira


Dia hanya membaca halaman pertamanya saja, yang hanya terdapat dua kata itu. Dia menutup buku itu dan kembali meletakkan buku itu ke dalam kotak dan memasukkannya ke laci.


***


Waktu menunjukkan jam 21.00, Maira beranjak dan langsung meluncur ke kasur. Ternyata membaca buku membuatnya mengantuk. Lalu dia memejamkan matanya dan tanpa sadar dia pun tertidur.


***


Malam berganti pagi, alarm berbunyi membangunkan tidurnya. Terlihat seseorang duduk disamping kasur.


"Hei" ucap dia.


"Astagaaa, siapa kamu? berani-beraninya kamu masuk ke kamarku tanpa izin" tanya Maira sambil mundur perlahan kebelakang ketakutan.


"Iii...bb" teriakanku terputus karena dia membekam mulu Maira.


"Hei, jangan takut, aku bukan orang jahat" ucapnya menenangkan Maira.


"Bagaimana bisa kamu masuk ke kamarku?"tanya Maira pada sosok tak dikenal itu.


"Ini kamarku, kata siapa kamarmu?" dia balik bertanya.


"Sepertinya aku pernah melihatmu,...ahhh kamu orang yang selalu muncul tiba tiba menakutiku dan mengikutiku kan?" tanya Maira panjang lebar.


"Iya, sebenernya aku bukan orang sih, tali bisa dibilang aku itu sejenis hantu" jawabnya tiba-tiba.


"Oh iya namaku Beni" sambungnya.


"Hahhh...ya ampun...jadi ini yang disebut-sebutin dibuku itu, masa sih hantu punya tampang kek gini?" ucap Maira dalam hati.


"Lalu, kenapa kamu selalu menakutiku?" tanya Maira.


"Bukan nakut nakutin sih, aku cuma penasaran aja sama orang yang menempati kamarku, aku gak suka yah kamu rubah-rubah kamarku jadi warna merah gini". terangnya Beni Si Hantu itu.


Setelah lama Maira berbincang dengan Beni, akhirnya dia tahu. Beni seumuran dengannya,17 tahun. Dulu Beni hidup dengan keluarganya yang percaya dan mempunyai kekuatan ilmu hitam. Ilmu hitam tersebut, sudah diwariskan turun temurun dari leluhur keluarga Beni. Tiba saatnya Beni menguasai kekuatan ilmu hitam. Ketika itu Beni menginjak usia 15 tahun. Ayah Beni memberikan kekuatan ilmu hitam itu padanya. Ayah Beni berpesan kepada Beni, bahwa kekuatan ini hanya digunakan dalam hal kejahatan, keserakahan, kekuasaan, dan kebencian. Mendengar hal itu, Beni membantah dan tidak menyetujui ayahnya. Beni ingin menggunakan kekuatan itu untuk kebaikan. Mendengar hal itu ayahnya marah dan murka padanya. Oleh karena itu, ia mengutuk anaknya sendiri. Beni harus dikurung di dalam lemari sampai ada seseorang yang membukakan kotak kecil dan membaca buku mantra yang terikat dengan kutukan pada Beni. Dan ketika itu pula Beni meninggal di dalam lemarinya sendiri. Dan karena perbuatannya itu, keluarganya meninggal secara bersamaan tanpa tahu apa sebabnya. Selain itu juga setelah Beni terbebas dari kutukan lemari itu, dia juga harus menyelesaikan misi untuk mengantarkan dia ke portal dimensi lain, dimana disitulah para hantu seharusnya tinggal. Dia hanya akan menemukan portal itu apabila Beni dan cintanya berhasil menyelesaikan misi pada buku itu.


Dan setelah Maira tahu tentang Beni, rasa takutku berkurang. Dia malah merasa kasihan pada Beni. Maira sekarang berteman akrab dengannya. Beni pun sama, dia adalah hantu pertama yang jadi temannya, Beni lumayan lucu.


Tanpa terasa Maira mengobrol dengannya cukup lama. Waktu menunjukkan pukul 09.00, beruntung hari ini hari Minggu.


***


Maira bangkit dari kasusnya pergi bergegas ke kamar mandi. Saat itu Beni pergi menghilang entah kemana.


Selesai mandi, seperti biasa Maira berdandan. Ketika dia bercermin, tiba-tiba Beni muncul secara tiba-tiba, dia menepuk bahu Maira dan membuatnya terkejut.


"Aaaaaaaa" teriak Maira.


"Biasa aja kali" ucapnya dengan santai.


"Aisss, kebiasaan, aku terkejutt tau" ketus Maira.


Hari demi hari, mereka berteman akrab. Maira tak menyangka akan berteman dengan sesosok hantu. Maira berniat memberitahukan kepada Nina.


***


Saat itu Maira dan Beni pergi ke rumah Nina. Saat sampai dirumah Nina, mereka mengetuk pintu, dan yang keluar adalah asisten rumah tangga.


"Siapa ya?" kata asisten rumah tangga itu.


"Saya temannya Nina, bi". Jawab Maira.


"Oh, maaf non, Non Ninanya lagi pergi sama ayahnya keluar" ucap asisten.


"Ohh, ya udah bi, kami pulang aja deh" Maira pamit pergi.


"Kamii???" herann.


"Ehh, maksudnya aku, bi. Permisi" Kata Maira tergesa gesa.


"Ya, maaf, aku lupa" ucap Maira.


Ya, dikarenakan Nina sedang pergi keluar, mereka pun pulang. Dalam perjalanan, mereka kehujanan. Tak jauh dari rumah Nina, mereka duduk di bangku taman, di bawah pohon untuk berteduh sejenak. Sekilas Maira terlihat duduk sendirian, tapi nyatanya dia duduk berdua dengan Beni. Mereka diam membusu. Tapi perlahan mereka mulai mengobrol.


"Hantu bisa kedinginan gak sih?" aku bertanya spontan.


"Ya, tergantung sih, kalo aku, disaat orang yang sedang bersamaku kedinginan, aku gak boleh kedinginan" Jawab Beni aneh.


"Lohh, kenapa emangnya, Ben?" tanyaku lagi.


"Iya, soalnya kalau aku kedinginan juga, siapa dong yang bisa membuatmu hangat?" Jawab Beni dengan senyumannya. Dan dia menutupi badanku dengan jaketnya.


"Ahahhaah, terimakasih, perhatian juga kamu ya" aku tertawa malu.


"Jangan GR dulu" ungkap Beni dengn sinis.


"Huhh dasar menyebalkan" gerutu Maira kesal.


Mereka sangat menikmati turunnya hujan kala itu. Sampai-sampai hujan reda tak mereka rasakan.


***


Mereka pun pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, kami mengobrol tertawa tawa riang hingga membuat Dona heran.


"Darimana kamu, Mai?" tanya ibu.


"Aku abis dari rumahnya Nina, bu" jawab Maira.


"Kamu ngomong sama siapa tadi?" tanya Dona lagi.


"Nggak kok, aku gak ngomong sama siapa siapa, aku cuma seneng aja hujan hujanan" jawab Maira.


"Kamu tuhh ya, liat badanmu basah kuyub, cepat mandi, air hangatnya udah ibu siapin" seru Dona.


"Iya deh bu, aku pergi ke atas dulu" kata Maira.


"Iya cepat, nanti turun ke bawah, kita makan malam"


"Oke siap bu"


***


Maira dan Beni naik ke atas, ke kamar. Maira pergi mandi, sedangkan Beni menunggunya. Setelah beberapa saat, Maira akhirnya keluar dari kamar mandi. Dia melihat ke sekitar kamar. Beni tak ada di kamarnya. Dia segera berganti baju, saat itu waktu menunjukkan jam 17.00. Maira memakai baju piyama merah dan ikat rambut merah. Saat sedang asyik bercermin, Beni tiba tiba muncul, dia selalu mengagetkan. Tapi setelah Maira lihat, dia memakai piyama juga, warnanya hitam, dan juga sandal rumah warna hitam. Kok bisa bisanya hantu pake piyama ya, pake sandal gituan segala lagi.


"Hei, kamu terlihat sangat jelek" Beni mengejek Maira.


"Apaan kamu, kok bisa-bisanya kamu selalu ngagetin" aku kaget dan memarahinya.


"Santai dong, gimana kita udah couple-an bajunya kan?" dia selalu menggodaku memang.


"Ihh, gak banget kamu, kamu seperti pria culun, beli dari mana baju tidur itu, dari pasar hantu ya? hahaha", aku menggoda balik.


"Bukanlah, aku punya banyak baju kek gini, tapi lain kali kamu kalo pakai baju jangan yang merah-merah lahh."


"Kenapa emang sii?"


"Pokonya jangan, sekarang aku bolehin dulu, tapi lain kali jangan"


"Terserah kamu deh, kita turun ke bawah yu, lapar nih" Dia mengajak Beni untuk makan malam bersama ayah dan ibunya di bawah.


"Ya udah" Beni pun ikut makan malam bersama Maira.


Hai, hai, hai aku kembali😘


Terimakasih buat readers yang masih setia membaca ceritaku😍


Coba menurut kalian bagus gak cerita kali ini?


Jangan lupa tinggalin jejak juga ya, like dan vote seperti biasanya ya😗


*Tetap semangat bacanya ya😗


Salam penulis*