HANDSOME GHOST

HANDSOME GHOST
Dihantui



Ketika itu Maira duduk di kelas 12, dia pindah sekolah ke Jakarta. Ayahnya pindah tugas dari Bandung. Mereka pun harus mencari rumah untuk ditempati. Seiring berjalannya waktu mereka menemukan rumah untuk mereka tempati. Rumahnya yang cukup besar dan indah, rindang di kelilingi pepohonan. Tetapi rumah itu terlihat tak terurus, selain itu juga warna catnya serba hitam.


“Ayah apa gak ada lagi rumahnya yang lebih bagus? Ini kok rumah seram yah, warnanya juga aku gak suka”. Ketus Maira.


“Cuma rumah ini yang dekat dengan tempat kerja Ayah. Sudah ayo masuk”. Ucap Steve.


“Aku gak suka yah, nanti pokoknya kamarku harus warna merah”. Ucap Maira kesal.


“Iya nanti ayah cari tukangnya, buat cat kamar kamu”. Kata Steve menenangkan anaknya.


***


Saat Maira masuk ke rumah, semua sisi rumah itu terlihat memyeramkan juga serba hitam. “Ini aneh” ucapnya dalam hati. Lalu Maira langsung pergi ke atas untuk memilih kamar. Maira melihat sebuah kamar yang cukup luas dan menghadap ke kolam renang. Maira masuk ke kamar itu, dan langsung membereskan pakaiannya kemudian memasukkannya ke lemari.


Tetapi tiba-tiba, Maira merasa ada seseorang di kamar itu, dia melihat seseorang dibalik lemari pakaiannya. Dia terlihat takut, lalu Maira pergi meninggalkan kamar itu. Maira tidak berani mengatakan ini pada Dona dan Steve, orang tuanya. Lalu Maira kembali ke kamar.


“Ahh, mungkin itu hanya perasaanku saja” ucap Maira menenangkan diri.


Selain pindah rumah, Maira juga pindah sekolah. Sekarang Maira bersekolah di SMA Favorit di Jakarta. Sekolahnya tak jauh dari rumah barunya. Jadi tak perlu susah payah terburu-buru. Di sekolah itu dia punya teman baru, namanya Nina dan sekarang dia menjadi teman sebangku Maira.


***


Siang itu mentari sedang terik-teriknya, Maira pulang sekolah bersama Nina, jalan kaki. Mereka berdua kelelahan, karena mata pelajaran tadi adalah olah raga, mereka harus berlari 10× mengelilingi lapangan. Mereka ingin ingin cepat-cepat sampai ke rumah.


“Cape yah” keluh Maira.


“Iya nih, capek pake banget” kata Nina.


Sesampainya di pertigaan jalan, mereka berpisah. Memang, rumah merek berbeda arah.


“Dahh” seru Maira.


“Dadahh” sahut Nina.


Ketika Maira berjalan di jalanan yang sepi, dia merasa ada seseorang yang mengikutinya dari belakang. “Srrrrekkk”, dia langsung menoleh ke belakang, tetapi tidak ada apa-apa. Lalu dia meneruskan kembali perjalanannya dengan cepat.


***


Sesampainya di rumah,


“Mmhhaaahh, hh, hahh”


“Kamu kenapa ngos-ngosan gitu?” tanya Dona.


“Tadi ada seseorang yang misterius mengikuti aku, bu” jawab Maira.


“Ahh kamu, makanya hati-hati, harus cepat cepat pulang jangan kemana mana dulu” kata Dona suudzon.


“Nggak kemana mana kok, itu sebabnya aku ngos-ngosann, aku lari cape banget”. Jawab Maira dengan cepat.


“Ya udah, sana ganti baju, nanti kita makan siang, ibu udah masak nihh” Ucap Dona sambil memperlihatkan makanan kesukaan Maira, sup ayam.


“Wahh...oke deh, aku ganti baju dulu" jawab Maira dengan semangat.


Dia langsung naik ke atas, ke kamarnya. Lalu dia menggantung pakaiannya dan menggantinya dengan baju warna merah dari lemarinya. Dia memang suka warna merah. Semua sudut kamarnya sudah di cat warna merah. Baginya merah itu manis dan membahagiakan.


Lalu Maira turun ke bawah, bergabung dengan orang tuanya untuk makan siang. Maira duduk disamping Dina. Mereka menikmati masakan Dona yang lezat. Baginya, setiap hari masakan Dona selalu lezat dan tidak ada duanya. Dia makan dengan lahapnya.


***


“Pelan-pelan dong makannya” Steve menegur anaknya.


“Ini enak banget yah, pas banget aku lagi lapar”. Jawab Maira sambil makan, dengan mulut penuh terisi nasi.


“Awass nanti keselek, loh” Ucap Steve mengingatkan.


“Ibu udah selesai makannya, kamu tolong beresin meja makannya, ya” Ucap Dona sambil menyodorkan piringnya.


Lalu Maira membereskan meja makan, dan membawa piring-piringnya ke dapur. Ketika dia merapikan piring-piring, dia kembali merasakan ada seseorang di belakangnya. Perlahan dia menoleh ke belakang dan ternyata ada seseorang di dekat pintu dapur. Dia mendekati pintu itu, lalu dia terkejut. Yang ditemuinya itu sosok yang pernah dilihatnya waktu itu di lemari kamarnya. Dia terlihat seperti seorang lelaki, badannya tinggi, pakaiannya serba hitam, wajahnya layu seperti orang meninggal.


“Siapa kau? Kenapa kau selalu mengikutiku? Apakah kau hantu?” tanya Maira dengan rasa takut.


Saat itu Maira penasaran,


“Siapa dia? Kenapa dia selalu mengikutiku?” tanyanya dalam hati.


Tiba-tiba Dona datang,


“kamu lagi ngapain disana?” tanya Dona heran.


Maira gak berani bilang sama Dona.


“Nggg...nnggak lagi ngapa-ngapain kok, Bu” jawab Maira tegang.


“Sudah beresinnya?” Dona bertanya.


“Sudah” ucap Maira.


“Ya sudah, kamu boleh pergi” Tutur Dona.


***


Setelah itu Maira pergi ke kamarnya, dia terduduk di kursi kecil berwarna merah. Lalu seperti biasa bercermin di meja rias memandangi wajahnya. Dia mengikat rambutnya seperti ekor kuda dengan ikat rambut berwarna merah. Setelah itu, Maira membanting badannya ke kasur berwarna merahnya yang empuk. Dia terlelap tidur di atas kasur. Di dalam tidurnya Maira bermimpi.


Maira bermimpi bertemu dengan seorang pria yang misterius itu. Di dalam mimpi pria itu mendekatinya dengan wajah garang.


“Jangan cat kamarku dengan warna merah, aku gak suka, ini membuatku tak nyaman” seru dia dengan nada tinggi dalam mimpi.


Seketika Maira terbangun, dia berkeringat dan dadanya berdebar kencang.


“Dia itu siapa sih? Apa maksudnya jangan cat kamarnya dengan warna merah?” Dia bicara sendiri keheranan.


***


Maira duduk di luar di kursi merahnya di balkon, sambil memandangi kolam. Maira masih kepikiran soal mimpi tadi. Rasa takut bercampur bingung terus mengganggu pikirannya. Terdengar suara di dalam kamar, dia terkejut sekaligus penasaran. Lalu Maira masuk ke dalam kamar mencari sumber suara itu.


Dia mendengar suara itu berasal dari laci meja riasnya. Laci itu bergoyang-goyang. Maira mendekati laci itu, lalu dia membuka laci itu. Di dalam laci itu terdapat kotak tua yang terbuat dari besi, kotor dan usang. Lalu dia mengambil lap untuk membersihkan kotak itu. Kini kotak itu terlihat mengkilap dan kinclong. Tetapi entah kemana kuncinya. Maira sudah mencari kuncinya kemana-mana, tapi dia tak kunjung menemukannya. Di sisi kotak itu tertulis “Beni Aryo Nugroho”.


“Be-ni-Ar-yo-Nug-ro-ho" Maira mengeja.


“Ini kotak apa sih? Siapa Beni Aryo Nugroho itu?”


“Cekkkket”


“Ehh, kok kotaknya ke buka sendiri sih, membuatku kaget saja” ungkap Maira kaget.


Di dalam kotak itu terdapat buku kecil, usang dan tua.


“Tampaknya buku ini menyeramkan juga” pikirnya.


Maira mengambil buku itu. Tetapi belum membuka buku itu. Dia hanya memandangi buku itu. Buku itu berwarna putih kecoklatan, mungkin karena bukunya tua.


“Kok aku merinding gini, ya?” ucapnya sambil mengelus leher bagian belakang.


“Baca jangan ya? Aku takut, tapi aku penasaran juga sih” ucapku pada diri sendiri.


Sambil terus memegang buku itu, dia tak henti-hentinya mondar-mandir dan dadanya berdegup kencang. Akhirnya setelah melawan rasa ragunya, dia membuka dan mulai membaca buku itu.


Hai, hai, hai😍


Kenalin aku penulis novel amatir nih😁


Ini novel pertamaku nih😊


Terimakasih untuk readers yang telah berkenan membaca ceritaku🤗


Mohon dimaklumi ya, kalo ada penulisan yang salah dikit-dikit gakpapa ya😂


Oke, jangan lupa tinggalin jejak ya, like dan vote, kasih nilai juga ya😘


Penulis kesepian