HANDSOME GHOST

HANDSOME GHOST
Terjebak di Hutan



Mereka masuk menuju halaman Nina yang terhampar rumput hijau luas, tertanam tanaman yang hijau dan berbunga, mereka dibuatnya terpesona melihat ke ke sekeliling halaman. Setelah itu, mereka masuk ke dalam rumah Nina, karena pintunya terbuka, jadi mereka langsung masuk dan menyeru-nyeru Nina.


"Na, Ninaaaa, hallo, Na, Ninaaaa" panggil Maira,dengan tangan diletakkan di atas pinggang, sambil melihat-lihat sekeliling rumah.


Kemudian seorang wanita turun dari atas, menuruni tangga yang terlentang panjang.


"Eh, Maira, dari kapan kamu disini?" Sapa Oliv


"Belum lama kok, tante" jawab Maira.


"Ayo, silahkan duduk, tante panggilin dulu Ninanya, ya" Katanya.


Tak lama, Nina pun turun ke bawah menemuinya.


"Eh Mai, udah lama ya?" kata Nina.


"Iya ih, kamu lama banget, dipanggil-panggil dari tadi gak muncul" jawab Maira.


"Ya maaf, hehe, ngomong-ngomong ada apa nih?" tanya Nina sambil tersenyum-senyum.


"Iya nih, aku mau ngomong, tapi aku gak tau kamu bakalan percaya atau nggak" gumam Maira sambil mengerungkan mata.


"Emangnya ada apa sih?" tanyanya penasaran.


Nina bertanya pada Maira dengan rasa penasarannya. Tanpa menunggu lama dia pun bercerita pada Maira.


"Sebenernya aku punya temen baru, Namanya Beni" gumam Maira.


"Apa masalahnya denganku?" tanyanya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Masalahnya dia itu tinggal di kamarku, dan dia itu bukan manusia mungkin dia itu sesosok makhluk halus seperti hantu gitu deh" ucapnya berterus terang padanya.


"Ahhh yang bener kamu, zaman sekarang mana ada hantu-hantuan kayak gitu" ucapnya, dia tidak mempercayai Maira.


"Tuh kan, apa aku bilang, kamu gak bakalan percaya" kata Maira sambik menepok jidat.


"Berarti ini beneran dong, kalo bener, mana temanmu itu?" Tanya dia.


" Ini nihh, Beni lagi duduk di samping aku" Maira menunjukkan pada Nina.


"Mana sih? Aku gak liat, kamu kan gak lagi sama dia" Dia terheran-heran.


"Ya iya lah kamu gak bakalan liat, dia kan hantu" jelas Maira.


"Ya terus gimanmna caranya biar aku bisa liat dia?" Dia mulai penasaran.


Nina ternyata penasaran dengan Beni. Lalu Maira mengeluarkan buku kecil itu dari tasnya. Lalu dia menyuruh Nina untuk memegang buku itu. Dia sempat berpikir bahwa dengan memegang buku itulah dia bisa ngeliat Beni. Dan pada saat itu, Nina ragu dan takut untuk memegangnya. Lelah aku membujuknya untuk dia bisa memegang buku itu.


"Katanya kamu mau kenalan sama Beni, jangan takut gitu dong" rayu Maira padanya.


Setelah Maira berkata begitu, akhirnya dia mau memegangnya. Dengan perlahan-lahan dia menggapai buku itu. Bahkan dia sambil merem saking takutnya, mungkin. Akhirnya buku itu sudah terpegang olehnya. Lalu Dia membuka matanya.


"Astagaaaa, astagaaaaa, astagaaaa, makhkuk apa ini?" Dia kagetttt, Maira ngakakk mendengar hal itu.


"Hai, Nina" sapa Beni untuk Nina.


Setelah itu, dia sembunyi di belakang Maira. Dia menarik-narik baju Maira. Saat itu dia sangat rempong ketakutan.


"Aduh, Mai, kok bisa kamu berteman sama hantu, gak ada takut-takutnya ya kamu, liat tuh dia mukanya pucat gitu, bajunya juga hitam-hitam semua" dia ngomong begitu sambil mendorongnya.


"Kamu percaya kan? Nahh, ini yang namanya Beni, temanku" ucap Maira.


Akhirnya, Nina percaya padanya. Setelah itu, Maira mengatakan apa tujuannya mengenalkan Nina pada Beni. Maira meminta bantuan padanya agar dia dan aku dapat membantu Beni untuk kembali ke tempat asalnya, ke dimensi hantu. Setelah mendengar hal itu, Nina pun akhirnya mengangguk.


***


Lalu mereka pun pergi keluar, menuju rumah Maira. Mereka naik mobil Nina, mobil sedan berwarna merah. Maira dan Nina duduk di depan, sementara Beni duduk di belakang. Suasana di dalam mobil, hening. Memang Beni tak banyak ngomong, sementara Nina juga terdiam karena dia masih tak bisa beradaptasi dengan hantu, dan Maira juga ikut diam karena mereka juga terdiam. Kemudian, mereka pun sampai di rumah Maira. Mereka pun cepat-cepat masuk ke dalam rumah karena waktu itu hari sudah gelap. Sesampainya di rumah, mereka berjalan dengan melangkah perlahan-lahan, karena keluarganya sudah pada tidur. Mereka menaiki tangga, lalu masuk ke kamar Maira.


***


“Ehemm” Maira berdehem batuk-batukkan.


Dia memejamkan mata, lalu membuka lagi. Dan dia memulai percakapannya.


“Baik, semuanya, sudah siap?”


“Siap buat apa ini?” tanya Nina.


“Diam kau” bentak Beni.


“Ya ammpun, ya ampunn, bantu aku Mai, aku takutt” ucap Nina takut.


“Kamu sih, gak ngerti, ini kita mau mulai diskusinya” jawab Maira kesal.


“Baik, kita mulai dari mana, Ben?” tanya Maira lagi.


“Kamu juga sama aja sama Nina” ketus dia.


“Hehe, ya udah, seriuss deh” ucap Maira.


Mereka pun mulai berdiskusi. Mereka berdiskusi bagaimana caranya untuk membantu Beni kembali ke dunia asalnya. Lalu Beni memaparkan. Untuk menolongnya, mereka harus masuk terlebih dahulu ke dalam lemari, tempat Beni dikutuk. Setelah itu mereka pun masuk ke dalam lemari.


***


Di dalam lemari mereka berdesak desakkan, sempit, dan sedikit pengap. Lalu Beni menyuruh Maira dan Nina untuk memejamkan mata. Mereka pun memejamkan mata, sementara Beni membacakan sesuatu. Pada saat itu, Maira merasa pusing dan rasanya bergetar seperti ada gempa. Namun, setelah beberapa lama, mereka sampai di sebuah hutan yang gelap, dengan banyak berdiri pohon yang tua dan rontok, tidak berdaun, di sana sangat gelap sekali, ditambah lagi iringan burung hantu yang membuat suasana menjadi semakin seram. Maira dan Nina sama-sama berada di belakang Beni sambil menarik bajunya. Mereka berdua ketakutan.


“Ben, kita ada dimana?” tanya Maira.


“Ini tempat menuju dunia hantu, ini baru awal, perjalanan kita masih panjang” jelas Beni.


“Ya ampun, ya ampun, aku takut banget, serem banget tempatnya” celoteh Nina.


Mereka kelelahan dan masih syok dan juga takut. Lalu mereka beristirahat di bawah pohon tua. Mereka bertiga di sana bersandar. Mereka memandangu ke sekeliling hutan. Beni menyuruh Maira dan Nina untuk tidur karena ini sudah larut. Mereka akan melanjutkan misi ini besok. Mereka pun tertidur, beralaskan daun-daun kering dan berbantalkan jaket masing-masing.


***


Keesokan paginya, saat Maira terbangun, dia tidak melihat Beni di dekatnya. Lalu, Nina yang masih tertidur ngorok dibangunkan. Tapi sangat sulit untuk membangunkannya, Maira mendorong-dorong dan menarik baju Nina, setelah itu dia terbangun.


“Kenapa kau membangunkanku?” tanyanya dengan wajah layunya.


“Ini sudah pagi, liat Beni gak ada” tunjuk Maira ke arah tempat Beni.


“Ais, kemana pula hantu itu?” jawabnya sambil menguap.


“Ayo kita cari dia” ajak Mairapadanya.


“Ini masih pagi, dan aku juga lapar, kita cari makan dulu” dia menolak ajakkan Maira.


Berhubung perutnya juga lapar, jadi mereka berdua mencari makanan di hutan ini. mereka mencari makanan mengelilingi hutan, dan akhirnya mereka menemukan sebuah pohon yang berbuah lebat berwarna merah, seperti apel tetapi lebih bulat. Lalu, Nina memanjat pohon itu dan memetik 4 buah. Mereka masing-masing mendapat 2 bagian. Kemudian mereka pun memakannya dengan sangat lahap. Karena saat itu mereka benar-benar kelaparan.


Hai, hai, hai aku kembali lagi😘


Terimakasih buat readers yang masih setia membaca ceritaku😍


Coba menurut kalian bagus gak cerita kali ini?


Jangan lupa tinggalin jejak juga ya, like dan vote seperti biasanya ya😗


*Tetap semangat bacanya ya😗


Penulis kesepian*